Qiraati Hadlir di Jagad Maya

referensi metode ilmu baca al-Quran

Jihad Menurut Kitab Fathul Muin

Jakarta (GP-Ansor): Jihad, kata yang oleh sebagian orang diidentikkan dengan perang melawan non muslim sehingga kata ini sudah identik dengan arti kekerasan dan merusak, meskipun makna sebenarnya tidaklah begitu. Kalau dilihat dari makna jihad yang terungkap dalam kitab Fathul Muin, salah satu kitab kuning yang menjadi rujukan di kalangan pesantren, makna jihad sangat luas, termasuk pembelaan terhadap non-Muslim.

Ketua PBNU KH Said Agil Siradj dalam sebuah acara di gedung PBNU baru-baru ini menjelaskan, terdapat empat kategori jihad seperti yang dijelaskan dalam kitab Fathul Muin tersebut.

Jihad pada tingkatan pertama adalah mengajak umat untuk beriman kepada Allah dengan iman yang rasional dan argumentatif sehingga merupakan iman yang berkualitas, bukan iman hanya karena keturunan saja. Pada tahap kedua, jihad adalah menjalankan perintah syariat agama seperti menjalankan sholat lima waktu, puasa, membayar zakat dan kewajiban agama lainnya.

Selanjutnya, baru pada tataran ketiga, kalau umat Islam diganggu, boleh melaksanakan perang. Hal inilah yang dilakukan oleh KH Hasyim Asy’ari yang mengeluarkan resolusi jihad untuk mengusir penjajah dari Surabaya.

Pada tahapan selanjutnya, jihad adalah memberikan perlindungan kepada setiap warga masyarakat, muslim atau non muslim, yang memiliki kepribadian baik. Perlindungan tersebut mencakup pemberian makan, pakaian, tempat tinggal, termasuk kesehatan.

“Jika kita bisa membangun masyarakat seperti ini, kita sudah ummatan wasathon, umat yang beradab, ngga usah menyebut diri sebagai umat Islam, sebaliknya kalau tidak bisa menjalankan perintah itu, ya ummatan jahiliyyatan,” katanya.

Sayangnya, meskipun sudah benar secara syariat, banyak umat Islam yang belum beranjak dari peradaban jahiliyah dengan mengutamakan tindakan-tindakan kekerasan seperti yang terjadi di Afganistan, Pakistan dan negara lainnya.

Resolusi Jihad

Terkait dengan Jihad, Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Surabaya, menggagas pembangunan monumen”Resolusi Jihad”. Ketua PCNU Surabaya, KH Saiful Chalim, belum lama ini, mengungkapkan, keberadaan monumen tersebut sangat penting. Sebab, terdapat kaitan erat antara Bung Tomo dengan fatwa “Resolusi Jihad” yang dikeluarkan Rais Akbar NU Hadratus Syeikh KH Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945.

Gus Saeful, begitu panggilan akrabnya mengaku khawatir lantaran banyak masyarakat yang mulai melupakan peranan ulama dalam merebut kemerdekaan. Bahkan, peran ulama terkesan mulai diabaikan baik dalam buku sejarah maupun dalam pemaparan-pemaparan para ahli sejarah.

Menurutnya, pada hampir setiap peringatan Hari Pahlawan (10 November), peran ulama hampir tidak pernah disinggung, baik dalam acara-acara formal seperti upacara bendera dan lain-lain.

Wakil Rais PCNU Surabaya, KH Imam Ghazali Said, mengatakan, untuk membangkitkan semangat dan membuktikan adanya peran ulama, maka pembangunan monumen tersebut sangat diperlukan. Pasalnya, ujar dia, banyak hal yang perlu diungkap berkaitan keluarnya Resolusi Jihad.

“Banyak yang perlu diterangkan, dan monumen itu nantinya menggambarkan bagaimana resolusi tersebut bisa keluar. Sebab, masyarakat, umumnya mereka yang muda, hampir tidak memahami adanya peran Resolusi Jihad dari seorang Kiai besar dalam merebut kemerdekaan,” terangnya.

Resolusi Jihad merupakan hasil pertemuan ribuan kiai dan santri se-Jawa dan Madura yang dipimpin KH Hasyim Asy’ari di Surabaya pada 21-22 Oktober 1945. Isinya, antara lain, mempertahankan Kemerdekaan RI 17 Agustus 1945 yang diproklamasikan Soekarno-Hatta.

Resolusi Jihad merupakan fatwa tentang kewajiban perang melawan kaum imperialis, dan membentuk laskar perang. Para sejarahwan mengakui pengaruh besar Resolusi Jihad dalam perlawanan. Dua pekan kemudian, tepatnya 10 November 1945, meletuslah perang antara pasukan Inggris dengan masyarakat pribumi selama tiga pekan. Peristiwa itu dianggap sebagai perang terbesar sepanjang sejarah Nusantara, yang kemudian diabadikan sebagai Hari Pahlawan.

Dalam perkembangan selanjutnya, NU menyelenggarakan Muktamar ke-16 di Purwokerto, Jawa Tengah, pada 26-29 Maret 1946. NU kembali mencetuskan “Resolusi Jihad” yang mewajibkan tiap umat Islam untuk bertempur mempertahankan kemerdekaan Indonesia.(nuo)

Filed under: Hukum, , , , , ,

Pasang Iklan Anda di sini

RSS catatan Kang Jalal

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS Kumpulan humor “Gus Dur”

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS TASAWUF

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS HASANAH

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

  • 92,398 hits

SPONSORSHIP

Bersama Menjaga al-Quran Dengan Qiraati

Ngaji Online

Quranic Explorer (online)

Sebab Turun Ayat (kajian Online)

Tafsir Al-Mizan (Sayid Muh. Husain Taba-Tabai)

DOKUMENT

SILATURRAHIM

free counters

weblogs
Please do not change this code for a perfect fonctionality of your counter weblogs
clock

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: