Qiraati Hadlir di Jagad Maya

referensi metode ilmu baca al-Quran

Nafsu (dari al-Hikam)

“Nafsu cenderung meraih keleluasaan (al-Basth), sebagai bagiannya dengan munculnya rasa senang, sedangkan nafsu tidak memiliki bagian dalam keterhimpitan (al-Qabdl).”

Itulah kelanjutan dari pilihan kaum ‘arifun yang lebih senang pada nuansa keterhimpitan, disebabkan sirnanya bagian-bagian konsumsi nafsu di sana. Dalam kitab Lathaiful Minan dikatakan, “Keleluasaan sering mentergelincirkan kaki para tokoh Sufi, dan karenanya mereka sangat hati-hati, sedangkan pada keterhimpitan itu lebih dekat dengan keselamatan, karena ia berada dalam Genggaman lahi, dan Allah Maha Meliputi di dalamnya. Basth atau keleluasaan adalah kenyataan yang keluar dari sang waktu Sufi, sementara Al-Qabdl merupakan kenyataan yang layak di negeri dunia ini. Negeri dunia adalah tempatnya menjalankan tugas, memikul beban, dalam ketidakpastiannya, dan negeri dimana para Sufi berjuang untuk berselaras dengan kewajiban Ilahi.”
Para Sufi menjelaskan, “Keterhimpitan adalah bagi arwah, sedang al-Basth adalah keleluasaan arwah. Qobdl adalah Hak Allah diperuntukkan darimu, sedangkan al-Basth adalah hakmu dariNya. Hak Allah tentu harus lebih diutamakan dibanding hakmu dariNya.
Instrumen-instrumen Qobdl dan Basth ini kembali pada soal pemberian dan halangan akan harapan pemberian itu sendiri, sehingga Ibnu Athaillah melanjutkan:
“Terkadang Allah memberikan anugerah kepadamu, padahal Dia sedang menghalangimu. Terkadang Allah menghalangi harapanmu, padahal sesungguhnya Allah memberikan anugerah padamu”.

Kadang Allah memberikan anugerah berbeda dengan cover dan bungkusnya. Kelihatannya jelek covernya, tapi dalamnya ada mutiara, begitu juga kadang bungkusnya indah dan mulia, tapi dalamnya kehinaan. Kita tidak boleh terjebak oleh itu semua.

Jika bungkusnya jelek, jangan susah dan gelisah, begitu juga jika bungkusnya bagus jangan tiba-tiba bergembira. Semua harus dipandang bahwa baik pemberian maupun halangan, sama-sama dari Allah Ta’ala. Jangan keduanya membuat kita terbelenggu lalu lupa pada Allah Ta’ala.

Menurut seorang Sufi, “Apa pun yang menyibukkan dirimu dari Allah Ta’ala, berupa pekerjaan duniawi harta, keluarga, anak-anak, maka hal itu mengundang kecaman dari Allah Ta’ala.”
Karena itu Ibnu Athaillah melanjutkan:

“Kalau anda dibukakan pintu kefahaman jiwa, maka keterhalangan cita-cita anda hakikatnya adalah pemberian.”
Karena halangan itu pun hakikatnya juga pemberian dan anugerah dari Allah, dan sekaligus menjadi nikimat manakala keterhalangan itu justru menyambungkan hatimu dengan Allah, dan memutuskan hatimu dari makhluk Allah.

Disiniliah kuncinya Ridlo, sebagaimana dikatakan Syeikh Abdul Wahid bin Zaid, “Ridlo itu pintu Allah teragung dan tempat istirahatnya para ahli ibadah serta syurga dunia.”
(dari http://www.sufinews.com)

Filed under: Tasawuf, , , , ,

Pasang Iklan Anda di sini

RSS catatan Kang Jalal

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS Kumpulan humor “Gus Dur”

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS TASAWUF

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS HASANAH

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

  • 128,698 hits

SPONSORSHIP

Bersama Menjaga al-Quran Dengan Qiraati

Ngaji Online

Quranic Explorer (online)

Sebab Turun Ayat (kajian Online)

Tafsir Al-Mizan (Sayid Muh. Husain Taba-Tabai)

DOKUMENT

SILATURRAHIM

free counters

weblogs
Please do not change this code for a perfect fonctionality of your counter weblogs
clock

%d blogger menyukai ini: