Qiraati Hadlir di Jagad Maya

referensi metode ilmu baca al-Quran

Adab Membaca al-Quran (1)

gambar blogBagi kaum Muslimin, membaca al-Qur’an secara baik dan benar mempunyai nilai keagamaan yang tinggi. Itulah sebabnya mengapa al-Qur’an sebagai Kitab Suci yang dibaca mempunyai peran sentral dalam kehidupan kaum Muslimin. Tetapi sisi ritual dari al-Qur’an ini belum mendapatkan perhatian serius dari para sarjana.
Dibandingkan dengan bidang lain dalam ruang lingkup kajian-kajian al-Qur’an seperti tafsir atau bahkan Qiraáh (dalam pengertian ragam bacaan), ilmu tajwid (ilmu membaca al-Quran) kurang mendapatkan respon positif dari para sarjana. Alasan utama mengapa bidang ini cukup terlantar adalah karena pembahasan mengenai tajwid terutama didasarkan pada konteks sebagaimana dipraktekkan oleh kaum Muslimin sehari-hari, dan bukan dari penelitian atas teks-teks mengenainya. Pembahasan mengenainya lebih fokus pada sisi praktisnya. Sebab tajwid adalah masalah bagaimana mengucapkan ayat-ayat al-Qur’an secara benar, masalah fonetik, masalah pelaksanaan ibadah ritual yang sangat erat berkaitan dengan kesalehan seorang muslim. Tafsir atau Qiraáh dapat dipelajari kapan saja. Tetapi tidak demikian dengan tajwid. Seseorang yang ingin sungguh-sungguh memahaminya, harus pergi meneliti ke lapangan dan harus duduk berguru dihadapan ustadz/ah yang mengajarinya. Teks-teks yang tersedia mengenai tajwid ini tak dapat sepenuhnya dipahami kecuali jika kita memperhatikan bagaimana teks-teks itu ditafsirkan dan dipraktekkan secara benar, yang hanya dapat dilakukan oleh seorang muqri’, yakni seorang yang secara mendalam telah meresapi tradisi hidup pengajaran subjek itu secara lisan dan telah memperhatikan penguasaannya atasnya dalam suatu babak ujian yang berat dan pengalaman yang panjang.
Saya menjadi begitu terkesan oleh perjuangan ustadz Dahlan Zarkasyi (ustadz Dahlan) dalam upayanya menegakkan pelafadzan huruf-huruf al-Qur’an pada lisan anak-anak yang dimulai dari guru-guru pengajarnya. Dimana subjek satu-satunya yang diajarkan adalah bagaimana mengucapkan dan menyampaikan ayat-ayat al-Qur’an secara baik dan benar, tanpa bersibuk-sibuk dengan masalah penafsiran atas ayat-ayat Kitab Suci itu.
Dalam perjalanannya sekarang, ustadz Dahlan telah menciptakan sebuah karya monumental, membuat buku panduan belajar al-Qur’an yang jika kita perhatikan, beliau benar-benar telah melakukan lompatan luar biasa setelah berabad-abad para sarjana Muslim belajar membaca al-Qur’an dengan metodologi al-Baghdadi.[i] Sistem pengajaran ala Baghdadiyah ini membutuhkan waktu yang relatif cukup lama, tetapi penghafalan surat-surat pendek al-Qur’an khususnya juz Ámma terlihat berhasil dicapai.
Lantaran berbagai kelemahannya, belakangan sistem pengajaran ini disempurnakan dengan diintroduksinya metode baru yang dikenal sebagai Qiraati. Metode ini ditunjang dengan sejumlah modul pengajaran memperkenalkan cara cepat baca al-Qur’an dengan stratifikasi tertentu (dari anak-anak sampai dewasa). Dalam sistem ini anak didik diharuskan menyelesaikan terlebih dahulu modul tersebut sebelum menginjak tingkat tadarus atau pembacaan aktual al-Qurán. Santri juga diharuskan melewati proses tashih sebelum dia diperkenankan mengajar. Proses ini harus dilakukan secara terus-menerus mengingat belajar membaca al-Qurán erat hubungannya dengan pembiasaan (habitual).[ii]
Kesadaran akan pembacaan Kitab Suci dengan baik dan benar oleh Ustadz Dahlan begitu beliau tekankan pada anak didiknya dengan tanpa menanggalkan image bahwa belajar al-Qurán bukanlah hal yang sulit. Dr. Frederick M. Denny dalam penelitiannya tentang “Adab Membaca al-Qur’an: Teks dan Konteks” di Mesir mengatakan: ”Karena itu adalah sebuah kewajiban, kemampuan itu akan membantu saya untuk menjadi seorang yang lebih baik, meningkatkan ibadah saya, dan mengatur kehidupan saya dalam irama yang seimbang dan harmonis dalam mengabdi kepada Allah SWT. Mengajarkan kepada anak-anak saya dan merasa adalah kewajiban para orang tua untuk sebisa-bisanya mengajarkan kepada mereka bagaimana membaca Kitab Suci secara baik dan benar.[iii] Praktek-praktek tersebut (membaca al-Qurán dengan baik dan benar, dari adabnya sampai dengan aturan-aturan teknis lainnya “Ilmu Tajwid”) begitu dipandang penting karena sudah berabad-abad telah menjadi indikator kualitas kesalehan seorang Muslim, maka praktek-praktek itu juga merupakan sebuah subjek yang harus mendapatkan perhatian dan penelitian serius bagi seseorang yang ingin memahami peran al-Qur’an dalam kehidupan kaum Muslim.
Namun kajian atas al-Qurán di Barat terasa semakin menganaktirikan sisi ritual dari peran al-Qurán ini. Kelihatan bahwa kesarjanaan Barat, yang kebanyakan dijalankan oleh mereka berlatarbelakang agama Yahudi dan Kristen, hingga tingkat tertentu telah memaksakan pandangan mereka sendiri tentang kitab suci ke dalam pendekatan mereka terhadap al-Qurán, dengan memberikan penekanan pada masalah-masalah penafsiran, kesejarahan dan filologis al-Qurán. Tetapi al-Qurán tidaklah seperti Bibel. Selain sebagai sumber pengetahuan Islam tentang ajaran-ajaran Tuhan kepada manusia, Kitab Suci itu juga merupakan medium kontak ritual antara manusia dengan Tuhan dalam satu cara pandang yang betul-betul melebihi pemanfaatan orang-orang Yahudi atau Kristen terhadap Kitab Suci mereka. Maka, agar pandangan tentang al-Qurán menjadi adil dan seimbang, dibutuhkan perhatian atas al-Qurán sebagai Kitab Suci yang dibaca di samping sebagai kitab suci yang ditafsirkan. Tulisan ini akan lebih banyak membahas sisi terlupakan selama berabad-abad dari “etika” (adab) membaca al-Qur’an, dan aturan-aturan teknis yang melingkupinya, dengan keyakinan bahwa obyek ini dapat selebih mungkin didekati meskipun masih terdapat kesulitan standarisasi kefashihan. Diharapkan pula dalam pembahasan ini akan dapat meningkatkan apresiasi orang terhadap al-Qur’an sebagai Kitab Suci yang dibaca.
Metode Nabi Muhammad saw. Mengajarkan al-Qur’an
Al-Qurán saat diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. secara berangsur-angsur, oleh Nabi diajarkan kembali pada sahabat-sahabatnya. Sebagian menghafalnya tanpa mencatat, sebagian pula menghafal dan mencatatnya. Nabi Muhammad saw. dalam konteks ini telah memilih beberapa sahabatnya sebagai sekretaris pribadi untuk mencatat setiap ayat ataupun surat dari al-Qur’an yang telah diturunkan pada beliau. Di antara para sahabat yang biasa menuliskan wahyu adalah empat Khalifah pertama, Mu’awiyah, Ubay bin Ka’ab, Zayd bin Tsabit, Abdullah bin Mas’ud, Abu Musa al-Asy’ari dan lain-lain. Syaikh Abdullah az-Zanjani, salah satu sarjana Syi’ah terkemuka abad 20, bahkan menyebut 34 nama sahabat Nabi yang ditugaskan mencatat wahyu.[iv] Hal ini dilakukan agar teks-teks al-Qur’an tidak bercampur dengan teks-teks lain. Dalam suatu riwayat disebutkan bahwa Nabi memerintahkan para sekretarisnya menempatkan bagian al-Qur’an yang baru diwahyukan pada posisi tertentu.
Diriwayatkan oleh Ibnu Abbas dari Ustman bin Affan bahwa apabila diturunkan pada Nabi suatu Wahyu, ia memanggil sekretaris untuk menuliskannya, kemudian bersabda, “Letakkanlah ayat ini dalam surat yang menyebutkan begini atau begitu”.[v]
Nabi juga mengajarkan al-Qur’an dengan proses persilangan, yakni setelah Nabi membacakannya kemudian disimak atau sebaliknya sahabat datang kepada Nabi dan menyimakkan hafalan atau catatannya tentang Wahyu.[vi] Dalam satu riwayat Anas bin Malik menceritakan,
“Suatu saat Nabi berkata pada Ubay, ‘sungguh Allah SWT telah memerintahkan kepadaku agar aku membacakannya dihadapanmu, Ubay kembali bertanya pada Nabi, “benarkah Allah telah menyebutkan namaku, Nabi menjawab, “iya, Allah telah menyebutkan namamu di hadapanku”. Ubaypun menangis terharu.[vii]
Allah SWT dalam beberapa kasus memperingatkan Nabi mengenai penerimaannya terhadap al-Qurán, di antaranya adalah menghindari nafsu atau keinginan cepat bisa, menyimak terlebih dahulu kemudian mempraktekkannya (dengan disertai penjelasan-penjelasan tertentu ‘tauqifi’)[viii] dan penempaan kualitas spiritual serta membacanya dengan tartil.[ix] Empat metode yang diajarkan Allah SWT. secara langsung ini kemudian dipraktekkan oleh Nabi pada sahabat-sahabatnya.
Nabi Muhammad saw. bersabda: “Belajar al-Qurán-lah dari empat orang, yakni Abdullah Ibnu Masúd, Salim bin Ma’qil, Muádz, dan Ubay bin Kaáb”. [x]
Empat sahabat yang telah direkomendasikan Nabi tersebut dalam beberapa catatan sejarah memang memiliki kemampuan lebih dibandingkan dengan yang lain. Misalnya Ubay bin Ka’ab adalah seorang Anshar dari Banu Najjar. Ia merupakan salah seorang yang mengkhususkan diri dalam mengumpulkan wahyu. Dalam beberapa hal, otoritasnya tentang masalah-masalah al-Qur’an bahkan lebih besar dari Ibnu Mas’ud. Selain itu ia juga dikenal sebagai sayyid al-Qurra’ (pemimpin para pelafal/penghafal al-Qur’an).[xi] Contoh kedua misalnya Ibnu Mas’ud, ia merupakan salah satu otoritas terbesar dalam al-Qur’an. Hubungannya yang intim dengan Nabi memungkinkannya mempelajari sekitar 70 surat langsung dari mulut Nabi. Riwayat mengungkapkan bahwa ia merupakan salah seorang yang pertama kali membaca bagian-bagian al-Qur’an dengan suara lantang dan terbuka di Makkah, meskipun banyak tantangan dari orang Quraisy.[xii]
Empat sahabat tersebut disamping memiliki kelengkapan data al-Quran juga kompetensinya dalam hal teknis, meskipun pada masa ini, problem qira’ah (pola baca) lebih mendominasi dibandingkan dengan masalah kefashihan atau teknis (tajwid). Imam Suyuti mengomentari bahwa hal ini disebabkan karena para sahabat memiliki tingkat kefashihan yang cukup, selain itu al-Qur’an diturunkan dengan bahasa mereka.[xiii] Namun demikian, dalam hal teknis Nabi tidak pernah melewatkan nasihat-nasihat (stimulasi) terhadap sahabat-sahabatnya. Sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majjah berbunyi:
Nabi bersabda, “Siapapun yang menginkan belajar al-Qur’an dengan baik sebagaimana diturunkan, maka hendaklah membaca sebagaimana qira’ah Ibnu Ma’ud. Yakni dia yang diberikan karunia yang agung oleh Allah dalam menjaga keindahan (tajwid) al-Qur’an.[xiv]
Sebuah Hadits diriwayatkan oleh Hakim dengan silsilah shahih dari al-Bani berbunyi:
Rasulullah saw. bersabda, “Gunakanlah suara terbaikmu untuk membaca al-Qur’an, karena dengan suara indah itu akan menambah keindahan pada al-Qur’an.”[xv]
Nabi juga tak henti-hentinya memberikan stimulasi-stimulasi pada para sahabatnya agar lebih giat membaca, mengamalkan serta mengajarkan al-Qur’an. Hadis yang diriwayatkan oleh Usman bin ‘Affan berbunyi:
Rasulullah saw. berkata: “sebaik-baik kalian ialah orang yang belajaral-Qur’an dan mengajarkannya.”[xvi]
Dari stimulasi dan anjuran Nabi tersebut pernah menjadi perhatian dan mendapatkan respon posistif di hati kaum Muslimin. Pada awal abad ke 8 H. kaum Muslimin mulai mengajarkan anak-anak mereka menghafalkan al-Qur’an. Praktek semacam ini biasanya dihubungkan dengan hadis-hadis tertentu Nabi atau dengan praktek generasi awal. Abu Abdullah Muhammad ibn Idris asy-Syafi’I (w. 820 H.), pendiri mazhab Syafi’iyah, misalnya, dikabarkan telah menghafal secara keseluruhan al-Qur’an ketika berusi tujuh tahun. Bahkan terdapat penekanan yang tegas pada pentingnya pembelajaran al-Qur’an dalam usia belia. Dikabarkan bahwa salah satu khalifah banu Umaiyah, Hisyam bin Abdul Malik (w. 743 H. ), setelah menunjuk Sulaiman bin al-Kalbi sebagai tutor agama anaknya, memberinya petuah: “Nasihatku yang pertama kepadamu adalah upayakanlah agar ia (anak-anakku) belajar Kitab Allah. Setelah itu barulah Engkau bisa menyampaikan kepadanya karya-karya puitis pilihan.[xvii]
Dengan demikian, jelas, tradisi kaum Muslimin memberikan tempat yang sangat khusus kepada pembacaan atau penghafalan al-Qur’an. Asy-Syatibi (w. 590 H.) misalnya, dalam sistem pengajaran al-Qur’an dan Qiraah mengharuskan murid-muridnya yang hendak mengajarkan al-Qur’an menghatamkan secara keseluruhan tiga kali pembacaan al-Qur’an menurut masing-masing qiraah dalam bacaan tujuh –setiap kalinya menurut dua versi (riwayah) dari tiap-tiap qiraah-, kemudian sekali lagi dengan mengumpulkan kedua versi itu secara bersama-sama (jam’). Jauh sebelum masa asy-Syatibi, tuntunan yang diajukan pengajar al-Qur’an lebih berat lagi. Al-Hushri (w. 486 H.), mengharuskan 70 kali penghataman tujuh bacaan kanonik. Di samping itu, dalam proses pembelajaran ini, mata rantai periwayatan tiap-tiap qiraah mesti dikuasai.[xviii]
Selam berabad-abad telah muncul di berbagai wilayah Islam sekolah-sekolah khusus yang mengajarkan al-Qur’an kepada anak-anak kaum Muslimin, baik dengan tujuan agar mereka “melek” baca al-Qur’an atapun mampu menghafalkannya. Secara historis, sekolah semacam itu pertama kali diinstruksikan pembangunannya oleh khalifah umar bin al-Khattab. Sebelumnya, pengajaran al-Qur’an bagi anak-anak hanya merupakan urusan pribadi kaum Muslimin, dan biasanya orang tua mengajarkannya secara private.[xix]
Adab Membaca Al-Qur’an
Sejalan dengan institusionalisasi pengajaran al-Qur’an (setelah proses unifikasi bacaan al-Qur’an), berkembang ilmu spesifik pembacaan al-Qur’an yang dikenal sebagai tajwid (dari kata jawwada, membuat sesuatu menjadi lebih baik). Tajwid memberikan pedoman bagaimana membaca al-Qur’an secara tepat, benar, sempurna, dan karena itu melindungi lidah melakukan kekeliruan dalam realisasi verbal. Ash-Shaffat merumuskan problem fundamental dalam ilmu Tajwid, adalah bagaimana mengawali bacaan dengan baik serta mengakhirinya dengan indah melalui, haqq al-hurf yakni tidak melalaikan sifat-sifat asal (daztiyah) dari masing-masing yang dimiliki huruf seperti al-jhr, syiddah, isti’la’, istifal, dan ghunnah. Dan mustahiq al-hurf yakni sifat-sifat yang tidak asli muncul (nasyi’) dari sifat-sifat asali, contoh, bacaan tafkhim muncur karena karakter isti’la’, dan tarqiq dari istifal.[xx] Karena itu, ash-Shaffat mengurai dua pokok kesalahan dalam pembacaan al-Qur’an yaitu jaliy dan kahfiy (nyata dan samar). Selain membahas artikulasi huruf-huruf hijaiyah, ilmu ini juga membicarakan tentang aturan-aturan yang mengatur masalah pausa (waqf), inklinasi (imalah) dan lain sebagainya.
Lebih jauh lagi, ash-Shaffat mengutip dari syarh jazariyah dan al-Itqan mengungkap empat cara baca yang dianggap bid’ah. Yaitu pertama, at-tar’id (berguruh) yakni mengguruhkan suara sebagaimana orang kedinginan atau kesakitan. Kedua, at-tathrib (kegirangan), merupakan lawan dari yang pertama, membaca dengan “mendendang” hingga melalaikan yang seharusnya dibaca pendek-dipanjangkan atau sebaliknya karena gramatika bahasa Arab tidak pernah membolehkannya. Ketiga, at-tahzin (ekspresi sedih), kurangnya menghayati sisi dalam makna al-Qur’an. Keempat, at-tarqish (menari-nari/banyal gerak) hendaknya membaca dengan diam dan menghayati.[xxi] Oleh karenanya benar kiranya jika Ibnu al-Jazari (w. 833/1429) menghukumi ‘wajib’ menggunakan Ilmu Tajwid dalam membaca al-Qur’an demi menjaga keagungan Kitab Suci selain menjadi kitab yang ditafsirkan juga kitab yang dibaca. Dalam karyanya Matan Jazariyah tepatnya pada bait ke-27 berbunyi :
والأخد بالتجويد حتم لازم * من لم يجود القرأن أثم
“Menggunakan atau mengamalkan Ilmu Tajwid merupakan kewajiban yang pasti (fardhu ‘ain), siapa saja yang tidak memperbaiki bacaan al-Qur’an ia melakukan sebuah kesalahan (dosa).”[xxii]
Dalam hasanah literatur Islam, selain Tajwid, terdapat beberapa istilah lain yang lazim digunakan untuk merujuk ilmu spesifik pembacaan al-Qur’an, yaitu:
a. Tartil, berasal dari kata rattala, “melagukan,” “menyanyikan,” yang pada awal Islam hanya bermakna pembacaan al-Qur’an secara melodik, menjelaskan bahwa tartil mencakup pemahaman tentang pausa dalam pembacaan dan artikulasi yang tepat huruf-hurf hijaiyah. Dewasa ini, istilah tersebut tidak hanya merupakan suatu terma generik untuk pembacaan al-Qur’an, tetapi juga merujuk kepada pembacaannya secara cermat dan perlahan-lahan. Selain tiu ada dua kategori lain metode membaca al-Qur’an, adalah hadr, pembacaan secara cepat, dan tadwir, pembacaan dengan kecepatan sedang.[xxiii]
b. Tilawah, berasal dari kata tala, “membaca secara tenang, berimbang dan menyenangkan.” Di masa pra-Islam, kata ini digunakan untuk merujuk pembacaan syair. Pembacaan semacam ini mencakup cara sederhana pendengungan atau pelaguan yang disebut tarannum.
c. Qira’ah, berasal dari kata qara’a, “membaca,” yang mesti dibedakan penggunaannnya untuk merujuk keragaman bacaan al-Qur’an. Di sini, pembacaan al-Qur’an mencakup hal-hal yang ada dalam istilah-istilah lain, seperti titi nada tinggi rendah, penekanan pada pola-pola durasi bacaan dan lain-lain.[xxiv]
Secara historis, pembacaan al-Qur’an (sebagaimana dituju dalam Tajwid) telah dimulai pada masa awal Islam. Muhammad Talbi mengemukakan bahwa generasi pertama Islam telah melantunkan al-Qur’an dengan lagu yang sangat sederhana.[xxv] Tetapi, setelah berkembang menjadi suatu disiplin, ilmu tentang seni baca al-Qur’an ini telah menjadi basis teoritis dan praksis pengajaran al-Qur’an di berbagai belahan dunia Islam.
Ada banyak sekali karya teknis yang sudah diterbitkan selama berabad-abad, yang erat berkaitan dengan bidang-bidang pembahasan tentang ragam bacaan al-Qur’an (qira’ah) dan cara-cara membaca al-Qur’an secara benar (tajwid). Ilmu-ilmu ini telah sampai pada tingkat kematangannya pada abad ke-4 H./10 M., seperti yang ditujukkan oleh beberapa risalah mengenainya, dan terus dikembangkan serta diartikulasikan hingga mencapai tingkat yang tertinggi dalam hal pengungkapannya secara sistematis dan komprehensif dalam karya-karya Ibnu al-Jazari (w. 833/1429).[xxvi] Karya-karya ini lebih mengkonsentrasikan diri pada aliran-aliran bacaan, penguasaan atas huruf-huruf atas suara-suara (dan teknik-teknik menghasilkannya lewat aparat-aparat vokal), perhentian dan permulaan (al-waqf wa al-ibtida’), percampuran suara (idgham), persengaungan (ghunnah), dan lain-lain. Selain itu bahan-bahan ini sekali-kali menyertakan pendahuluan yang berisi pembahasan mengenai adab membaca al-Qur’an, seperti kapan harus berhenti membaca, apa yang harus dilakukan ketika kita telah khatam al-Qur’an, tempat-tempat dan waktu-waktu mana yang dianjurkan untuk membaca al-Qur’an, apa manfaat al-Qur’an dan membacanya dan lain-lain.
Selain buku-buku para sarjana Muslim yang membahas mengenai beberapa aturan teknis membaca al-Qur’an (seperti Ibn al-Jazari, asy-Syatibi, as-Suyuti dll.) juga terdapat sebuah karya cukup komprehensip menjelaskan tentang adab membaca al-Qur’an. At-Tibyan fi Adab Hamalat al-Qur’an, karya dari Muhyi al-Din Abu Zakariya Yahya al-Hizami al-Dimasyqi (631-676 H./1233-1277) M.) yang dikenal dengan sebutan al-Nawawi, seorang ahli hukum dari mazhab Syafi’I terkemuka. Kepiawiannya dalam bidang hukum, menjadikan karyanya selalu dipejari dalam hal penelitian kesarjanaan atasnya dan penghafalannya, maka dalam bukunya (Adab Hamalat al-Qur’an) an-Nawawi lebih mengkhususkan diri pada konteks manusia, pada nasihat-nasihat dan aturan bertindak.
Di bawah judul-judul berikut ini, saya mencatat beberapa topik utama yang diungkapkan dalam naskah al-Tibyan.
Motif. Seorang pembaca tidak boleh dikuasai oleh keinginan untuk mencari kekayaan, kemasyhuran, posisi atau keuntungan pribadi. Sebaliknya, ia harus “menjalankannya hanya semata-mata untuk mencari keridhaan Allah.” Seseorang tidak boleh mencari dan menggantungkan kehidupan dari membaca al-Qurán (hal. 13).
Rivalitas. Para pembaca tidak boleh bersaing satu sama lain, atau mengecam dan menjelek-jelekkan penampilan kolega-kolega mereka sendiri. Inilah praktek-praktek yang oleh al-Nawawi disebut sebagai “suatu bencana yang menimpa baik mereka yang terpelajar maupun orang-orang awam” (hal. 13).
Hubungan Guru-Murid. Seorang guru harus mengikuti perkembangan anak-anak muridnya. Jika ia sedang dalam keadaan sibuk ketika murid-muridnya datang untuk menerima pelajaran, maka ia harus mengunjungi mereka (hal. 17 f.). Kepada seorang murid secara mendetil diterangkan bagaimana cara mendekati syeikhnya dan bagaimana berperilaku di hadapannya (“duduklah sebagai seorang murid dan bukan sebagai seorang syeikh”): ia tidak boleh menampakkan dirinya dalam keadaan yang lelah dan kuyu, juga tidak dalam keadaan yang riang gembira dan senang berlebihan, atau dalam keadaan haus dan lapar. Jika syeikhnya sedang tidur, maka ia tidak boleh dibangunkan. Jika keadaan memungkinkan, alangkah baiknya jika belajar membaca dengan seorang guru itu dilakukan pagi hari. Seorang murid tidak boleh meninggikan suaranya, tertawa, banyak bicara, atau menggerak-gerakkan tangannya di hadapan gurunya (hal. 19-23).
Seorang “pengemban” al-Qurán sebagai Muslim Panutan. Karena seorang yang telah menguasai hafalan dan teknik-teknik membaca naskah al-Qurán harus selalu sadar dan bertindak secara hati-hati sehubungan dengan apa yang telah diketahuinya, maka ia juga harus terus-menerus berlaku sebagai teladan kehidupan keagamaan secara umum. Keduanya –menguasai naskah al-Qurán dan mengikuti petunjuk-petunjuknya—sama sekali tak dapat dipisahkan (hal. 23-32).
Aturan dalam Membaca. Masalah-masalah inilah yang dibahas pada sebagian besar isi buku. Tetapi tetap memfokuskan diri pada adab dan bukan pada dimensi-dimensi teknis tajwid sebagai suatu fonetik. Berbagai masalah yang dibahas pada bagian paling panjang ini meliputi:
Suatu pembahasan yang berbelit-belit mengenai penyucian ritual dan berbagai kerusakan dan kejelekan yang harus dihindarkan (hal. 32-35);
Tempat-tempat yang disarankan untuk membaca al-Qurán: masjid adalah tempat terbaik, tapi jauhkanlah tempat-tempat yang pengap, kamar mandi, rumah-rumah yang berfungsi sebagai pabrik, dan –pada umumnya—jalan raya (hal. 33-36);
Cara membaca dan model bacaan: tartil lebih dianjurkan ketimbang membaca dengan lagu yang berbunga-bunga (hal. 40); si pembaca harus menghadap ke arah kiblat (hal. 36) ia harus rendah hati dan terpekur, tahu persis kapan dan bagaimana menitikkan air mata (hal. 38-40); hanya “bacaan tujuh”(qiraáh al-sab’ah) yang dapat dipakai (hal. 44) dan bacaan itu tidak boleh dengan bahasa selain bahasa Arab; dalam kelompok-kelompok pengajian, seseorang harus mengambil kesempatan untuk membaca (hal. 46-48); pertanyaan-pertanyaan “aneh”, seperti apa yang harus dilakukan ketika seseorang menguap atau kentut, bertemu seseorang di jalan sementara kita sedang membaca al-Qurán (hal. 56-58); pembahasan yang mendetil mengenai membaca al-Qurán secara musikal, bahkan menyentuh teknik-teknik utama ketika suara dinaikkan sampai puncak (hal. 64-75); masalah-masalah menyangkut khatm al-Qurán (hal. 77-80).
Selain untuk membahas masalah-masalah di atas, sisa halaman dalam naskah al-Nawawi itu dipergunakan untuk membahas masalah-masalah yang jauh berada di luar konteks membaca al-Qurán, yakni masalah-masalah seperti pendekorasian dinding-dinding, pakaian-pakaian, dan bahan-bahan lain dengan ayat-ayat al-Qurán; menggunakan al-Qurán sebagai mantera dengan cara-cara nafth (“ucapan”, “semburan”); menyalin naskah al-Qurán dengan jelas dan indah; dan nama-nama yang digunakan bagi al-Qurán, surat-surat dan ayat-ayatnya.
Dari keseluruhan karya ini kita dapat melihat keahlian sang faqih di dalam memilah-milah sumber, menyaring perbedaan-perbedaan pendapat, dan memberikan dukungannya kepada beberapa pandangan tertentu. Sejak awal, al-Nawawi –dalam karyanya itu—telah menunjukkan apa yang ia pandang sebagai jalan kesalehan. Selain Nabi, sahabat-sahabat beliau dan ahli-ahli hadits yang besar, kita juga menemukan dalam karya itu kutipan-kutipan kunci dari orang-orang semacam al-Muhasibi, al-Qusyayri, Sahl al-Tustari dan Dzu al-Nun. Apa yang saya daftar secara runtut dari topik –topik al-Tibyan di atas hanya mampu menggambarkan sedikit aroma kesalehan penulisnya yang tercermin dalam karya itu, yang telah memperlihatkan kehebatan al-Nawawi di dalam memanfaatkan sumber-sumber secara bijaksana dan melaksanakan suatu “pekerjaan tingkat tinggi” secara baik. Kualitas-kualitas itulah yang harus dimiliki oleh seorang “pengemban” al-Qurán.
Penutup
Peraturan-peraturan atau adab membaca mempunyai kualitas yang abadi, terutama jika ditelusuri dalam teks-teks klasik. Tetapi apabila seseorang diperkenalkan kepada konteks yang hidup dan praktis, maka ia akan merasakan bahwa mengetahui jalan (tata cara) yang benar berarti mengamalkannya. Metode Qiraati (karya Dahlan Salim Zarkasyi) menerima banyak dari apa yang telah dikemukakan an-Nawawi maupun teks-teks klasik lainnya sebagai praktek-praktek yang harus dijalani: penggunaan tartil secara khusus, sikap penuh hormat kepada guru, perhatian yang sungguh-sungguh terhadap pengajian (murid, pengajar atau pun ruang belajar), tidak berorientasi pada materi belaka dan lain-lain. Baginya, hal tersebut dipandang penting baik dalam batas-batas kesucian al-Qur’an maupun untuk menjaga kesinambungan kualitas peserta didik dan ladang-ladang pendidikan.
‘Abdullah ibn ‘Amr ibn ‘Ash mengatakan bahwa Nabi Muhammad saw. pernah bersabda : “Pada Hari Pembalasan, kepada orang-orang yang terbiasa membaca al-Qur’an, akan dikatakan, “Teruslah membaca dan mendakilah, dan bacalah dengan perlahan (warattil) seperti kebiasaanmu selama Kau hidup, karena tempat pemberhentianmu adalah pada ayat terakhir saat selesai Kau baca.” (hadis riwayat Abu Daud dan Tirmidzi).[xxvii]
Foot Notes:

[i] Dalam beberapa buku yang kami jumpai teori ini (dimulai dari perkenalan nama-nama huruf, kemudian disertakan perkenalan harakat dan disambung dengan surat-surat pendek secara berurutan yakni dari surat an-Nas sampai awal juz 30, surat-suratnya disusun terbalik (‘Amma- surat an-Naba’ sebagai urutan terakhir) barulah setelah itu, pembacaan al-Quran secara aktual dilakukan dari surat al-Fatihah sampai an-Nas. Hingga sekarang belum dapat diketahui secara pasti dari mana asalnya. Namun jika dilihat dari namanya, teori tersebut berasal dari Baghdad ibu kota Irak.
[ii] Dapat dibuktikan bagaimana proses belajar al-Qurán (sekedar dapat membaca dengan baik dan benar atau menghafalnya) di pondok-pondok pesantren “al-Qurán” baik salaf maupun modern, sang ustdaz/ah selalu mensyaratkan dua hal bagi santri-santrinya untuk dapat mencapai keberhasilan. Yaitu pertama, himmatun áliyah (cita-cita tinggi) dan kedua, istiqâmah (contineu/terus-menerus)
[iii] Adab Membaca al-Qurán: Teks dan Konteks, Dr. Fredik M. Denny, Ulumul Qurán;Jurnal Ilmu dan Kebudayaan no. 6, Vol. II, Thn. 1990, h. 55
[iv] Taufik Adnan Amal, Rekontrusi Sejarah al-Qur’an, (Yogyakarta: FkBA, 2001) h. 131-132
[v] Tirmidzi, Sunan, Kitab al-Tafsir, bab surah 9.
[vi] Abu Muhammad Shaffat az-Zaini, al-Bayan as-Sadid fi Ahkam al-Qiraáh wa l-Tajwid, (Mesir: Dar Shahifah, 2004) Cet. I, h. 14-17
[vii] Muslim, Shahih, bab Fadhaíl ash-Shabat, (Dar Fikr, 1414 M.)
[viii] QS. Al-Qiyamah ayat 16-20
[ix] QS. Al-Muzzammil ayat 1-4
[x] Bukhari, Shahih, bab al-Qurra’ min Ashab an-Nabi, (Dar Fikr, ttp.)
[xi] Taufik Adnan Amal, Rekontrusi Sejarah al-Qur’an, (Yogyakarta: FkBA, 2001) h. 160-161
[xii] Ibid, h. 170
[xiii] Jalaluddin as-Suyuti, al-Itqan fi ‘Ulum al-‘Quran, (Dar Fikr: 1951) Cet. III, h. 99
[xiv] Abu Muhammad Shaffat az-Zaini, al-Bayan as-Sadid fi Ahkam al-Qiraáh wa l-Tajwid, (Mesir: Dar
Shahifah, 2004) Cet. I, h. 18
[xv] Ibid, h. 161
[xvi] Hadis riwayat Abu Abdillah Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim al-Bukhari, Shahih, bab Fadhailal
Qur’an
[xvii] Taufik Adnan Amal, Rekontrusi Sejarah al-Qur’an, (Yogyakarta: FkBA, 2001) h. 342
[xviii] Ibid.
[xix] Ibid. h. 343
[xx] Abu Muhammad Shaffat az-Zaini, al-Bayan as-Sadid fi Ahkam al-Qiraáh wa l-Tajwid, (Mesir: Dar
Shahifah, 2004) Cet. I, h. 18
[xxi] Ibid. h. 21
[xxii] Muhammad bin Muhammad al-Jazari asy-Syafi’i, Matan Jazariyah, bait ke-27
[xxiii] Jalaluddin as-Suyuti, al-Itqan fi ‘Ulum al-‘Quran, (Dar Fikr: 1951) Cet. III, Vol. I, h. 100
[xxiv] Lamya al-faruqi, Tartil al-Qur’an al-Karim, (Leicester: The Islamic Foundation, 1979), h. 106
[xxv] Muhammad Talbi, La Qira’a bi-l-alhan, (Arabican: 1958) Vol. V, h. 185
[xxvi] Abu al-Khayr Muhammad bin Muhammad al-Dimasyqi, atau lebih dikenal sebagai Ibnu al-Jazari,
al-Nasy fi Qira’ah al-‘syr, 2 Vol. (Damasyqi, 1345 H./1926 M.). Bidang qira’ah dapat disimak
pula “Matan asy-Syatibiyah” karya al-Qasim bin Qayyurah bin Khalaf bin Ahmad asy-Syathibi ad-
Daghaini atau lebih dikenal asy-Syathibi ulama Andalusia (w.590 H.)
[xxvii] Tirmidzi, Sunan, meriwayatkannya no. 2915 dalam Tsawaqib al-Qur’an, Bab 17 (Dar Fikr, ttp)

by: Santri mbeling

Filed under: Ahlul Quran, , ,

Pasang Iklan Anda di sini

RSS catatan Kang Jalal

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS Kumpulan humor “Gus Dur”

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS TASAWUF

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS HASANAH

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

  • 128,698 hits

SPONSORSHIP

Bersama Menjaga al-Quran Dengan Qiraati

Ngaji Online

Quranic Explorer (online)

Sebab Turun Ayat (kajian Online)

Tafsir Al-Mizan (Sayid Muh. Husain Taba-Tabai)

DOKUMENT

SILATURRAHIM

free counters

weblogs
Please do not change this code for a perfect fonctionality of your counter weblogs
clock

%d blogger menyukai ini: