Qiraati Hadlir di Jagad Maya

referensi metode ilmu baca al-Quran

Adab Tilawah (2)

gambar blogAl-Quran adalah kitab suci yang diwahyukan oleh Allah SWT melalui malaikat Jibril yang kemudian diteruskan kepada Nabi Muhammad saw untuk disampaikan kepada seluruh umat. Yakni tidak hanya sebatas manusia saja melainkan menyeluruh “rahmatan lil ‘alamin” ke segenap alam. Baik alam gaibah (non fisik) ataupun alam basyariyah (fisikal).

Al-Quran adalah satu di antara dua peninggalan Nabi (al-Quran dan al-hadis) dimana seorang hamba tidak akan pernah tersesat dalam mengarungi kehidupan ini selama berpegang teguh padanya. Karena itu dalam beberapa sabdanya nabi Muhammad saw tak henti-hentinya memotifasi umatnya agar selalu menjadikan al-Quran sebagai bacaan utama.

Sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar ra, Nabi saw menggambarkan bahwa derajat seorang hamba kelak di hari kiamat bergantung pada seberapa gemar, seberapa banyak, serta seberapa istiqamahkah seorang hamba membaca dan mengamalkan al-Quran.
“Bacalah, dan terus tambah kualitas dan kuantitas bacaanmu, karena derajatmu di akhirat bergantung pada bacaanmu di dunia.”

Dalam kesempatan lain pun Nabi saw berkata kepada para sahabat, “sesungguhnya Allah SWT memiliki keluarga (dari golongan manusia) di dunia ini.” Setelah berkata demikian, kontan, para sahabat bertanya dengan penuh penasaran. “siapakah mereka ya Rasulallah?.” Lalu Nabi saw menjawab, “mereka adalah para ahlul quran (gemar membaca dan mengamalkan al-Quran), mereka semua adalah keluarga Allah yang di khususkan.” (hadis riwayat Anas ra.) Rasanya tidak ada the best family selain menjadi keluarga Allah SWT. Maka masih layakkah jika seorang hamba berpaling lalu mencari keluarga lain selain menjadi bagian dari keluarga besar-Nya.

Masih banyak motifasi dan informasi lain tentang keistimewaan membaca al-Quran dari Rasulullah saw yang menjelaskan begitu tinggi dan mulianya al-Quran. Dimana posisi al-Quran tak tergantikan (selain sebagai bacaan primer) pun sebagai sumber dan pedoman hidup. Oleh karena itu, wajar jika ulama menjastifikasi bahwa membaca al-Quran memiliki unsur ibadah “muta’abbad bi tilawatih.” Yakni berpahala jika dibaca dan dosa ketika tidak membaca atau bahkan salah saat membaca. Dari sinilah para ulama merancang beberapa kaidah dan ilmu-ilmu (seperti ilmu tajwid dan qiraah) supaya para pembaca al-Quran lebih berhati-hati dan meminimalisir kesalahan. Namun, tidak hanya cukup di sini saja. Para ulama pun telah merangkum dan menetapkan beberapa tata cara atau adab saat membaca demi menjaga sisi keagungan, kesucian, dan kesakralan al-Quran.

Adab yang dimaksud antara lain;
a. Hendaknya pembaca dalam kedaan suci dari hadas besar (jinabat)
ataupun kecil, berwudhu. Sebagian ulama berpendapat bahwa membaca
al-Quran adalah se-utamanya dzikir. Yaitu salah satu bentuk munajat
antara seorang hamba dan Tuhannya. Karena itu seorang hamba supaya
suci dhohir batin. Demikian pula sebagaimana tidak diperkenankannya
dalam kondisi berhadas membawa atau bahkan menyentuh al-Quran,
kecuali dalam kondisi dhoruroh.

b. Memilih tempat yang suci saat membaca atau ketika meletakkannya

c. Menghadap kiblat. Alasannya, membaca bagian dari ibadah, sedangkan
menghadap kiblat mengindikasikan lebih terkabulnya sebuah munajat

d. Membersihkan mulut terlebih dahulu (gosok gigi atau semacamnya) karena dari mulut itulah nantinya akan keluar ayat-ayat suci. Nabi bersabda, “sungguh mulut-mulutmu adalah jalan keluarnya ayat-ayat al-Quran, maka bersihkanlah terdahulu dengan siwak (gosok gigi).”

e. Menyelami makna dan maksud yang terkandung di dalamnya. Karena
tujuannya bukanlah terhenti di fase “membaca” melainkan meningkat
ke fase “pengamalan.” Sebagaimana yang difirmankan dalam surat shad:
29

“ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatNya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran.”

Hudzaifah ra menceritakan suatu malam saat bersama Rasulullah saw. “malam itu saya shalat bersama Rasulullah saw, beliau memulainya dengan membaca surat al-Baqarah, Ali Imran, dan an-Nisa. Surat-surat tersebut dibacanya dengan rapi dan dialogis. Setiap kali melewati ayat tasbih, maka beliau bertasbih. Ketika melewati ayat tentang pertanyaan, beliaupun bertanya. Dan ketika membaca ayat ta’awudz, maka beliaupun memohon perlindungan pada Allah SWT.”

f. Membaca dengan sepenuh hati, dengan suara yang terbaik. “hiasilah al-
Quran dengan indahnya suaramu.” Begitulah anjuran Nabi saw.

g. Makruh hukumnya saat membaca diselingi bercakap dengan yang lain,
kecuali dalam keadaan dhorurot.
Ini disebabkan karena tiada ‘kalam’ yang lebih sempurna melainkan ‘kalamullah’. Tidak ada percakapan yang paling indah selain bercakap dengan Allah rabbul ‘izzah. Dalam kitab shahih, Ibn Umar ra bercerita, “bahwa Rasulullah saw tidak akan bicara dengan yang lain sebelum bacaannya usai.” Dan sebenarnya para pembaca al-Quran itu sedang berdialog dengan Allah SWT. Sabda Nabi saw, “siapa saja yang hendak berdialog dengan Allah SWT, maka bacalah al-Quran.” Bahkan bagi pembaca al-Quran tidak diperkenankan menjawab salam seseorang sebelum bacaannya selesai.

h. Bagian dari adab membaca yaitu hendaknya para qari` membaca secara
berurutan, sebab demikianlah turunnya al-Quran (tauqifi). Sebuah hadis
yang diriwayatkan Ibn Mas`ud, “suatu saat Rasulullah saw ditanya oleh
seorang sahabat yang cara membaca al-Qurannya secara acak, random.
Lalu beliau menjawab bahwa yang demikian itu menandakan akan
lemahnya hati orang tersebut.”

i. Wajib menyimak atau mendengarkan dengan seksama di saat al-Quran
di baca. Allah SWT berkata,
“Dan apabila dibacakan Al Quran, Maka dengarkanlah baik-baik, dan
perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat.”

j. Disunahkan bersujud di saat membaca atau mendengarkan ayat
sajadah. Dengan syarat telah suci sebagaimana ketika melaksanakan
sholat

k. Disunnahkan membaca dengan tartil dan tidak tergesa-gesa. Karena
sebenarnya tidak hanya perintah membaca saja melainkan memahami,
menyerapi dan menyelami kandungan maknanya.

“…dan bacalah Al Quran itu dengan perlahan-lahan.”

l. Membaca atau mendengarkan dengan khusyu dan tawadhu’ hingga
benar-benar menyerap dan menancap dalam hati. Sampai benar-benar
terpancar kesempurnaan iman.

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.”

Bahkan tidak terasa airmata menetes, menangis disebabkan dorongan iman yang sempurna. Suatu saat Ibn Mas’ud diminta oleh Rasulullah saw membaca al-Quran untuknya. Awalnya Ibn Mas’ud menolak dengan bertanya, “ya Rasulullah, bagaimana aku akan membaca untukmu sementara kepadamulah al-Quran diturunkan.” Maka Nabi saw pun menjawab, ”sungguh saya senang mendengarkan bacaan al-Quran selain dari diriku.” Walhasil, Ibn Mas`ud pun mulai membaca surat an-Nisa. Namun ketika sampai pada ayat…

“Maka Bagaimanakah (halnya orang kafir nanti), apabila Kami mendatangkan seseorang saksi (Rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu [299]).”

Meleleh air mata Rasulullah saw, tidak terasa beliaupun menangis teringat tugasnya yang begitu berat di bumi ini. Karena seorang Nabi kelak menjadi saksi atas perbuatan tiap-tiap umatnya, Apakah perbuatan itu sesuai dengan perintah dan larangan Allah atau tidak.

m. Disunnahkan doa ketika menghatamkan al-Quran, sebagaimana yang
diriwayatkan oleh Rasulullah saw, “siapa saja yang menghatamkan al-
Quran maka doanya dikabulkan.”

………………………
by santri mbeling

Filed under: Ahlul Quran, , , ,

Pasang Iklan Anda di sini

RSS catatan Kang Jalal

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS Kumpulan humor “Gus Dur”

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS TASAWUF

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS HASANAH

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

  • 128,698 hits

SPONSORSHIP

Bersama Menjaga al-Quran Dengan Qiraati

Ngaji Online

Quranic Explorer (online)

Sebab Turun Ayat (kajian Online)

Tafsir Al-Mizan (Sayid Muh. Husain Taba-Tabai)

DOKUMENT

SILATURRAHIM

free counters

weblogs
Please do not change this code for a perfect fonctionality of your counter weblogs
clock

%d blogger menyukai ini: