Qiraati Hadlir di Jagad Maya

referensi metode ilmu baca al-Quran

Puisi Jalaluddin Rumi

Nilai-nilai EduKatif dalam Puisi Jalaluddin Rumi
Ade Benih Nirwana, S.S, M.S.I

Fanatisme cinta berbeda dengan agama lain
Fanatisme cinta adalah terhadap Yang Maha Cinta
Tujuan pecinta bukan seperti tujuan lain
Cinta adalah kompas langit menuju misteri Tuhan
—Jalaludin Rumi—


Banyak yang menganggap sumbangan terbesar Jalaludin Rumi pada agama adalah aliran sufi Mawlawiyah dan tarian berputar seperti gasing (raqs sama’). Sesungguhnya, aliran Rumi jauh lebih agung dari itu semua. Sumbangan terbesar Rumi  terhadap Islam dan agama bukan terletak pada Tarekat Mawlawi, tarian raqs sama’, ataupun dzikir dengan diiringi musik (sama’). Bahkan, Rumi tidak pernah mengkotakkan cara beragama dalam tarekat tertentu. Baginya, kita tak membutuhkan asabiyah (fanatisme kelompok), karena agama seluas cinta, dan hanya agamalah yang dapat membawa kita kepada Tuhan.

Mengenal Jalaludin Rumi
Jalaludin Rumi lahir di Balkh, Afganistan pada 604 H atau 30 September 1207. Mawlana Rumi menyandang nama lengkap Jalaludin Muhammad bin Muhammad al-Balkhil al-Qunuwi. Adapun panggilan Rumi adalah karena sebagian besar hidupnya dihabiskan di Konya (kini Turki), yang dahulu dikenal sebagai Rum (Roma)—Rumi adalah panggilan untuk orang Romawi.
Ayah Jalaludin Rumi bernama Bahauddin Walad Muhammad bin Husein, seorang ulama besar bermazhab Hanafi. Karena kharismanya yang tinggi dan penguasaan agamanya yang berlebih, maka ia mendapat gelar “Sulthanul Ulama.” Namun, karena gelar itu, sebagian besar ulama iri kepadanya. Banyak yang menfitnah dirinya. Celakanya, penguasa pada saat itu terpengaruh oleh hasutan masyarakat. Akhirnya, Bahauddin dan keluarganya diusir dari Balkh, ketika usia Rumi baru lima tahun.

Sejak pengusiran itu, Bahauddin bersama dengan keluarganya selalu berpindah-pindah tempat. Mereka pernah tinggal di Sinabur (Iran Timur laut). Dari Sinabur berpindah ke Bagdad, Makkah, Malattya (Turki), Laranda (Iran Tenggara) dan terakhir tinggal di Konya (Turki). Di Konya, Bahauddin mulai mendapat tempat dan sambutan yang layak. Oleh Raja Konya, Alauddin Kaiqubad, ayah Rumi diangkat menjadi penasehatnya. Alauddin Kaiqubad mengangkatnya sebagai seorang pimpinan sebuah perguruan agama yang didirikan di kota tersebut.

Dalam perjalan hidup Bahauddin yang nomaden tersebut, ia bertemu dengan Fariuddin Attar, salah seorang ulama dan tokoh sufi. Ia meramal Rumi, yang ketika itu berusia lima tahun, kelak akan menjadi seorang tokoh spiritual besar. Sejarah kemudian mencatat, bahwa ramalan Fariuddin tidaklah meleset.

Rumi banyak mendapat pelajaran dari ayahnya. Selain berguru pada sang ayah, Rumi juga berguru kepada Bauhuddin Muhaqqiq at-Thurmudzi, sahabat sekaligus pemimpin pengganti ayahnya di perguruan agama. Atas saran gurunya, Rumi menimba ilmu di Syam (Suriah). Beliau baru pulang ke Konya pada tahun 634 H, dan ikut mengajar di perguruan agama tersebut. Kesufian dan kepenyairan Rumi dimulai ketika beliau mulai usia 48 tahun, usia yang cukup tua untuk pencapaian tersebut. Sebelumnya, Rumi adalah ulama yang memimpin sebuah madrasah yang mempunyai murid sebanyak 4000 orang. Sebagaimana layaknya seorang ulama, beliau adalah orang yang selalu memberi fatwa kepada masyarakat yang bertanya dan mengadu kepadanya. Kehidupannya dari seorang ulama berubah seratus delapan puluh derajat ketika ia bertemu dengan seorang sufi pengelana, Syamsuddin alias Syamsi dari Kota Tabriz.

Pertemuan dengan Tabrizi
Ajaran Mawlana Rumi yang universal dan menembus batas-batas golongan ini adalah sebuah perlawanan terhadap semangat untuk menjadikan agama sebagai pembenaran terhadap penaklukan fanatisme golongan. Rumi ingin melawan keinginan para penguasa kekhalifahan Turki yang ingin melakukan ekspansi besar-besaran, demi terbentuknya kembali kerajaan besar setelah Bizantium musnah di negeri itu. Lewat tafsir cintanya, Rumi seakan menolak penggunaan agama sebagai alat untuk mengobarkan perang.

Ajaran Rumi tentang cinta dipengaruhi oleh pertemuannya dengan Syamsuddin Tabrizi, sang darwis yang berkeliling Timur Tengah mencari “formula” yang tepat untuk menjadi insan kamil atau insan sempurna. Dialog antara Syamsuddin dengan Rumi layaknya dialog antara Khidir dengan Musa, ketika mengajarkan cinta. Pertemuan itu kemudian beliau tulis dalam sebuah kitab yang bernama Matsnawi, perjalanan Musa dan Khidir pun mendapat porsi besar dalam buku ini, terutama di bagian penutup. Kisah yang terangkum dalam Surat Kahfi itu memang banyak menarik perhatian para sufi. Kisah penuh misteri, yang mengajarkan orang untuk melihat kejadian bukan hanya pada apa yang tampak di depan mata.

Namun, pertemuan dengan Tabrizi tak berjalan lama, bahkan hanya sekejab saja, setelah semalaman berdiskusi dengannya. Paginya ditemukanlah Tabrizi tewas. Karena kecintaannnya kepada Tabrizi, maka ia membuat puisi untuk Tabrizi yang kemudian terkenal dengan ‘Diwan Syamsy Tabrizi’
Kenapa aku harus mencari?
Aku sama denganya
Jiwanya berbicara kepadaku
Yang ku cari adalah diriku sendiri

Inilah sepenggal puisi yang didedikasikan untuk Tabrizi, sang sahabat yang selalu mengilhami dan mengajarinya tentang indahnya cinta. Sepuluh tahun setelah peristiwa tewasnya Tabrizi, Rumi mulai untuk membuat puisi bernuansa ghazal (cinta), yang kemudian terkumpul rapi dalam Diwan al-Akbar (Diwan Agung). Kehilangan Tabrizi merupakan kehilangan yang sangat besar, bahkan Rumi menggambarkannya seperti kehidupan kehilangan mentari. Kehilangan Tabrizi merupakan pukulan berat baginya, tetapi tak lama kemudian ia mendapat sosok sahabat baru yang telah mampu menggugah kesedihannya dan menggantikan posisi Tabrizi di sampingnya. Ialah Shalahudin.

Mengenal Hakikat Cinta Ilahi
Dalam bahasa Indonesia, kata cinta berarti “suka sekali”, “sayang benar”, “kasih sekali”, “terpikat”, “ingin sekali”, “berharap sekali atau susah” (khawatir). Menurut al-Qusyairi, kata cinta berarti: (1) nama bagi jenis cinta yang paling murni dan rasa kasih sayang; (2) Hubbah, adalah gelembung-gelembung yang terbentuk dari permukaan air ketika hujan besar, jadi cinta adalah penggelembungannya hati ketika ia haus dan berputus asa untuk bertemu dengan kekasihnya; (3) cinta disebut cinta karena orang mengatakan ahabba untuk mengambarkan seekor unta yang berlutut dan menolak untuk bangkit lagi. Dengan demikian, sang pecinta tidak akan menggerakkan hatinya menjauh dari mengingat kekasihnya.

Dalam tasawuf, cinta yang dimaksud adalah cinta kepada Allah. Ini adalah cinta tertinggi. Cinta yang meliputi ilham, pancaran dan luapan-luapan hati, cinta dengan segala perasaan dan keberadaannya. Menurut Rumi, akal yang berusaha menjelaskan cinta itu sama halnya dengan keledai yang tidak punya daya, dan pena yang berusaha menggambarkan akan hancur berkeping-keping.

Cinta tidak dapat didefinisikan, dan hanya dapat dirasakan. Sedang menurut Ibnu Arabi, orang yang mendefinisikan cinta berarti tidak tahu tentang cinta, orang yang merasakan alirannya berarti ia tidak mengenalnya, dan orang yang mengatakan puas dengan cinta berarti ia tidak mengerti cinta, karena cinta adalah minum tetapi tidak pernah merasa puas.

Ajaran tasawuf berakar dari ajaran Islam tentang Ihsan. Oleh karena itu, ajaran-ajaran yang ada dalam tasawuf tidak terlepas dari moralitas. Meskipun ajaran yang dimunculkan oleh para sufi berbeda-beda, tetapi ada satu asas yang tidak dapat diperselisihkan, yaitu bahwa  tasawuf adalah moralitas-moralitas yang berdasarkan Islam.

Moral yang dimaksud adalah moral yang baik. Dan manusia pada dasarnya mempunyai kecenderungan untuk berpihak pada yang baik. Moral (akhlak) sebenarnya merupakan oriental utama agama, sehingga ada yang menyebutkan bahwa agama adalah moral. Moral antara seorang hamba dengan Tuhannya, antara dia dengan dirinya sendiri, antara dia dengan keluarganya dan antara dia dengan masyarakat.

Tasawuf dan Cinta

Cinta tak dapat ditemukan dalam belajar dan ilmu pengetahuan
Buku-buku dan lembaran-lembaran halaman.
Apa pun yang orang bicarakan itu—
Bukanlah jalan para pecinta
Apa pun yang engkau katakan atau dengar adalah kulitnya:
Intisari cinta adalah misteri yang tak dapat dibukakan.

Itulah sepenggal bait puisi Rumi, pujangga sufi yang paling terkenal dengan tema cinta dalam berbagai puisinya. Namun, banyak kalangan yang menyalahartikan arti cinta Rumi. Ada yang memposisikan puisi cintanya sebagai puisi cinta profan. Ada pula yang mengetahui bahwa puisi cinta itu ditujukan untuk Allah swt. Namun, tetap bahwa puisi cinta yang dicipta oleh Rumi bisa dianggap beda oleh para pembaca. Karena setiap pembaca mempunyai proses pencapaian cinta yang berbeda.

Gambaran cinta yang diungkap oleh Rumi adalah gambaran cinta pada umumnya. Maksudnya adalah ketika kita terlahir menjadi seorang bayi, maka bayi itu akan mengenal cinta dari orangtuanya. Kemudian bayi tersebut tumbuh menjadi besar. Dia pun mengenal cinta yang lainnya, misalkan cinta kepada sanak saudaranya. Tumbuh besar lagi, muncul yang namanya cinta dengan lawan jenis. Ia pun mengalami sebentuk cinta baru. Sampai pada satu titik tertentu, ia memutuskan untuk menikah. Maka cinta yang tumbuh dalam sebuah perkawinan akan beda dengan cinta yang tumbuh pada masa pacaran.
Bagaimana pun, cinta pada masa pertama perkawinan adalah sebuah cinta dengan unsur-unsur hasrat material (syahwat), misalnya cinta karena kecantikan atau ketampanan bahkan cinta pada keturunan atau keningratan seseorang. Dari proses perkawinan, kemudian lahirnya keturunan dari buah cinta mereka. Maka pasangan tersebut kembali mengenal sebuah cinta yang baru, cinta kepada darah dagingnya sendiri.

Filed under: Tasawuf, Tokoh, , , ,

Pasang Iklan Anda di sini

RSS catatan Kang Jalal

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS Kumpulan humor “Gus Dur”

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS TASAWUF

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS HASANAH

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

  • 128,698 hits

SPONSORSHIP

Bersama Menjaga al-Quran Dengan Qiraati

Ngaji Online

Quranic Explorer (online)

Sebab Turun Ayat (kajian Online)

Tafsir Al-Mizan (Sayid Muh. Husain Taba-Tabai)

DOKUMENT

SILATURRAHIM

free counters

weblogs
Please do not change this code for a perfect fonctionality of your counter weblogs
clock

%d blogger menyukai ini: