Qiraati Hadlir di Jagad Maya

referensi metode ilmu baca al-Quran

Aneka Ragam Format al-Quran

Studi Al-Qur’an yang berkaitan dengan format mushaf yang mengandung makna simbolik nyaris tidak pernah dilakukan oleh para ulama. Hal itu sangatlah di maklumi, mengingat format mushaf yang sangat beragam. Studi yang mereka lakukan umumnya didasari atas asumsi bahwa Al-Qur’an merupakan kitab yang berisi kumpulan ayat atau bahasa verbal. Dengan begitu, pemahaman yang dilakukan dalam studi Al-Qur’an sebatas menterjemahkan ayat dan mentafsirkan ayat. Oleh karenanya, Al-Qur’an jarang sekali diasumsikan sebagai kitab yang berisikan susunan simbol atau sandi tertulis.

Meski begitu, banyak pula ulama terdahulu yang “melihat”, bahwa Al-Qur’an sarat dengan rahasia yang berupa ayat atau huruf-huruf awal surah. Salah satunya adalah Syeikh Muhyiddin bin Ar-Rabi dalam “Al-Futuhatul Makiyyyah”.

Atas dasar inilah Ilmu Tafsir Al-Qur’an bermunculan, sebagai salah satu bidang ilmu yang memperkaya khazanah ilmu pengetahuan Al-Qur’an. Metodologi tafsir konvensional ini telah menjadi bagian sebuah tradisi pemahaman umat Islam terhadap Al-Qur’an. Pemahaman ini cukup memberikan kontribusi yang sangat berarti dan mempermudah kita memecahkan sandi atau simbol tertulis.

Berbagai macam pendekatan telah dikembangkan oleh umat Islam untuk memahami, menghayati dan mengamalkan Al-Qur’an. Justru hal ini semakin membuka ruang dan jalan untuk mengaktualisasikan Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan adanya berbagai macam pendekatan, secara otomastis akan menimbulkan banyak metodologi dalam mempelajari Al-Qur’an, sehingga kita tidak berhak menghentikan laju pemikiran umat Islam dengan sebuah metodologi dalam mempelajari Al-Qur’an yang diyakini bernar. Selama metodologi tersebut tidak merubah struktur dan format Al-Qur’an yang sudah ditentukan. Apapun tipe format Al-Qur’an, tentu tak terlepas dari penjagaan Allah. Sebagaimana firman Allah Swt dalam surah Al-Hijr, 15 : 9,

 

“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya”

Dalam Al-Qur’an, terdapat banyak bukti bahwa Al-Qur’an berasal dari Allah, bahwa umat manusia tidak akan pernah mampu membuat sesuatu yang menyerupainya. Salah satu bukti ini adalah ayat-ayat (tanda-tanda) Al-Qur’an yang terdapat di alam semesta. Bagi orang-orang beriman yang teliti, sungguh-sungguh, dan arif, banyak sekali informasi dan analisis dalam Al-Qur’an yang dapat mereka lihat dan pelajari.

RAGAM FORMAT

Bagi sebagian kita, mungkin memandang bahwa format Al-Qur’an dicetak dalam format yang sama. Berdasarkan penelitian, Al-Qur’an dicetak dengan sangat beragam. Format dalam hal ini merujuk pada cara penulisan ayat-ayat Al-Qur’an dalam satu halamannya.

Sebelum tahun 1984, Al-Qur’an yang beredar di Indonesia sangat bervariasi. Baik dari sisi khad (bentuk tulisan), acuan rasm (meliputi rasm ‘arudli dan usmani), ornamen yang menghiasi ayat, baris, dan sebagainya. Misalnya baris, baris bukan merupakan salah satu kriteria pentashihan. Oleh sebab itu Lajnah membebaskan para penerbit Al-Qur’an untuk mencetak Al-Qur’an berapapun barisnya. Ada 10, 12, 14, 15, 16, 17, 18, 21 dan lain-lain. Agar pembaca mendapatkan gambaran tentang format Al-Qur’an yang beredar, kami akan menjelaskan ragam format penulisan ayat-ayat yang ada.

Format 13 Baris

Dalam satu halaman ini dituliskan dalam 13 baris ayat. Pada format 13 baris ini, umumnya cara penulisan ayatnya sering kali “dipenggal”. Maksudnya, belum selasai satu ayat dalam halaman tersebut, sudah dilanjutkan penulisan ayatnya pada halaman selanjutnya. Pembaca bisa lihat sebagian ayat pada akhir ayat halaman di atas. Cara penulisan ini berbeda dengan format 15 baris atau 18 baris. Dimana cara penulisannya selesai ayat dalam satu halaman tersebut (keculai beberapa ayat, terlebih format 18 baris yang hanya satu ayat yang belum selesai penulisan ayatnya sudah beralih ke halaman selanjutnya).

Format 15 Baris


Salah satu Al-Qur’an yang beredar di Indonesia adalah Mushaf cetakan Mujamma’ Al Malik Fahd li Thiba’atil Mushafis Syarif yang terletak di kota Madinah. Al-Qur’an cetakan saudi tersebut banyak di bawa oleh para jama’ah haji dan umrah ke Indonesia.

Al-Qur’an cetakan Madinah selalu konsisten berbaris 15. Setiap halamannya selesai satu ayat dan tidak disambung pada halaman berikutnya. Mushaf jenis ini disebut juga Al-Qur’an Bahriyyah atau Qur’an Pojok. Lazim digunakan rujukan para penghafal Al-Qur’an untuk menambah atau murajaah (mengulang) hafalan, sebab satu halaman ayatnya utuh tidak terpotong sehingga memudahkan mereka dalam mengejar target hafalannya.

Format 16 Baris

Format 18 Baris

FORMAT HALAMAN 2 DAN 3 AL-QURAN

Cara penulisan dan hiasan dalam Al-Qur’an dalam berbagai format memiliki ciri dan keunikannya tersendiri, terlebih halaman 2 dan 3 Al-Qur’an yang sering kali atau bahkan bisa dikatakan selalu ditulisan dan dihias lebih indah ketimbang halaman-halaman Al-Qur’an lainnya. Berikut berbagai model cara atau format penulisan pada halaman 2 dan 3 Al-Qur’an ;

Gambar 1

 

Model format yang demikian biasanya terdapat pada Al-Qur’an dengan format 15 baris. Pada halaman 2 (halaman sebelah kanan) berisikan surah Al-Fatihah ayat 1 s/d 7. Sedangkan pada halaman 3 (halaman sebelah kiri) terdapat surah Al-Baqarah ayat 1 s/d 5.

Gambar 2

 

Ada bebarapa perbedaan dengan dua halaman sebelumnya. Pada halaman 2 dan 3 Al-Qur’an ini, pada halaman 3, dituliskan atau berisikan surah Al-Baqarah ayat 1 s/d 4 (pada gambar 1 dituliskan surah Al-Baqarah ayat 1 s/d 5. Terdapat perbedaan satu ayat). Pada halaman 2, surah Al-Fatihah diawali “Alhamdulillahi rabbil ‘Alamin. Sementara pada halaman 2 sebelumnya, ayat pertamannya di awali “Bismilahirahmanirrahim”.

Gambar 3

Kedua halaman ini hampir sama dengan dengan dua halaman sebelumnya (gambar 2). Perbedaanya adalah yang mencetak atau menerbitkan Al-Qur’an ini. Al-Qur’an dengan format yang demikian dicetak di Pakistan, tepatnya Taj Company.  Al-Qur’an dengan format dua halaman sebelumnya (gambar 2), salah satu penerbitnya adalah di kota Montreal, Canada.

KEBIJAKAN PEMERINTAH

Demi tersebarnya mushaf, penerbit Indonesia diizinkan oleh Lajnah Pentashih Mushaf Departemen Agama Republik Indonesia untuk mengkopi dan mencetak keseluruhan (tanpa merubah penomoran ayat, ornamen dan lain-lain) Al-Qur’an terbitan negara lain. Misalnya terbitan PT. Taj Company, Karachi, Pakistan. Al-Qur’an terbitan Pakistan tersebut pernah dikopi dan diedarkan atas seizin lajnah di indonesia oleh PT. Gita Karya pada tahun 1982.

Seiring dengan semakin “asingnya” Al-Qur’an ditengah-tengah masyarakat yang mayoritas beragama Islam, khususnya dalam hal baca Al-Qur’an serta banyaknya keluhan yang masuk ke lajnah perihal sulitnya belajar Al-Qur’an dengan memakai rasm usmani, maka perlu kiranya lajnah membuat Al-Qur’an standar Indonesia yang mengacu pada rasm ‘arudli atau imlaiy.

Pada tahun 1984, Lajnah Pentashih Mushaf Al-Qur’an sebagai sebuah institusi yang bertanggung jawab terhadap peredaran Al-Qur’an di Indonesia  memberlakukan Al-Qur’an standar yang ditulis memakai Rasm Imlaiy. Salah satu spesifikasi rasm imlaiy, apa yang tertulis itulah yang terbaca. Berbeda dengan rasm usmany, apa yang tertulis belum tentu yang terbaca. Masalah penulisan Al-Qur’an ini dibahas khusus dalan suatu cabang dari ilmu Al-Qur’an yaitu Ilm Rasm Usmany. (A.Cekas)

 

*denmas.doc*

 

Filed under: Ilmu Qiraat, , , , , , , , , , , ,

Pasang Iklan Anda di sini

RSS catatan Kang Jalal

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS Kumpulan humor “Gus Dur”

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS TASAWUF

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS HASANAH

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

  • 128,698 hits

SPONSORSHIP

Bersama Menjaga al-Quran Dengan Qiraati

Ngaji Online

Quranic Explorer (online)

Sebab Turun Ayat (kajian Online)

Tafsir Al-Mizan (Sayid Muh. Husain Taba-Tabai)

DOKUMENT

SILATURRAHIM

free counters

weblogs
Please do not change this code for a perfect fonctionality of your counter weblogs
clock

%d blogger menyukai ini: