Qiraati Hadlir di Jagad Maya

referensi metode ilmu baca al-Quran

Kaidah Mufassir

Dalam pendahuluan ini kami membicarakan tentang Mufassir dan Kaidah Penafsiran dan di dalamnya terdapat tiga hal yang perlu diperhatikan. Berikut di bawah telah kami tuliskan karena itu merupakan hal yang sangat penting dalam memahami bagaimana cara seorang mufassir menafsirkan Al-Qur’an dengan baik dan juga mempelajari aspek-aspek yang diperlukan seorang mufassir dalam menafsirkan Al-Qur’an dengan menerapkan dan mempelajari syarat-syarat, ilmu-ilmu, dan kaidah-kaidah serta adab dengan baik terutama penguasaan dalam bahasa Arab karena apa yang dilakukannya nanti dalam menafsirkan kitab suci Allah yaitu Al-Qur’an dapat diterima kebenaran/keshohihan tafsir tersebut.
Di antara hal-hal dan aspek-aspek yang tertulis dibawah ini merupakan bentuk kilasan yang singkat mengenai Mufassir beserta Kaidah Penafsiran yang dapat diambil manfaat yang terkandung di dalamnya dengan baik, karena mempelajari hal-hal untuk menafsirkan Al-Qur’an tidak sembarangan agar tidak menyeleweng atau menyimpang dari isi kandungan Al-Qur’an yang sebenarnya.
Berikut di bawah ini merupakan rumusan masalah atau permasalahan-permasalahan yang terkandung dalam makalah kami yaitu sebagai berikut:
1) Mengapa seorang mufassir harus memahami atau mempelajari syarat-syarat serta adab dalam penafsiran Al-Qur’an?
2) Apasaja ilmu-ilmu yang perlu dipelajari dan dibutuhkan para mufassir dalam menafsirkan Al-Qur’an?
3) Kaidah-kaidah apasaja yang diperlukan para mufassir dalam memahami dan menafsirkan Al-Qur’an?

A. Syarat dan Adab Mufassir
Jika seorang mufassir dalam memahami Al-Qur’an, menggunakan cara dan ukuran yang sama dengan apa yang dipakai orang lain dalam memahami kitab lain dan dalam menghasilkan suatu penemuan bagi umat manusia, maka niscaya hasil yang dicapai akan memiliki kesalahan besar dan hasil yang keliru. Tidaklah dapat kita memperoleh kesan-kesan yang indah yang telah diterangkan itu, terkecuali apabila kita dapat memelihara hal-hal sebagai berikut di bawah ini:
1. Janganlah sampai pembahasan-pembahasan ilmiyah itu menyimpangkan kita dari maksud pokok mempelajari Al-Qur’an, yaitu mengambil petunjuk dan pengajaran. Apabila kita terlalu berlebih-lebihan dalam memperkatakan ilmu-ilmu bahasa dan ilmu-ilmu umum, maka kadang-kadang berbalik keadaan dari yang dimaksudkan dan tafsir kita tidak menjadi tafsir lagi, tetapi merupakan kitab ilmu bukan kitab tafsir.
2. Hendaklah kita memperhatikan keadaan masa dan masyarakat, karena pembahasan-pembahasan yang mengenai ilmu umum dan bahasa itu, terkadang memang sangat diperlukan, yaitu apabila kita perlu mensyarahkan Al-Qur’an dengan ilmu-ilmu tersebut.
3. Hendaklah pembahasan-pembahasan itu disebutkan secara yang dapat menarik umat Islam untuk bergerak dan dan berusaha mempelajari Al-Qur’an dan mengambil manfaat dengan kekuatan-kekuatan yang Allah telah letakkan di alam ini.
4. Syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh seorang mufassir akan berbeda antara yang satu dengan yang lainnya sesuai dengan aspek mana yang hendak ditekuni itu sendiri. Jadi seorang mufassir hendak mempelajari ayat-ayat yang terkandung dalam Al-Qur’an beserta mencari maknanya tersebut tanpa ikut dengan pendapat salah satu mazhab manapun.
5. Persyaratan yang paling penting bagi seorang mufassir adalah hendaknya ia memiliki kemerdekaan berfikir dalam memahami Al-Qur’an sehingga memberikannya keleluasan dalam memahami Al-Qur’an.
6. Persyaratan yang terakhir adalah bahwa seorang mufassir haruslah mengetahui metode umum dalam menafsirkan Al-Qur’an. Dengan itu seorang mufassir dapat memberikan batasan-batasan dalam melakukan ijtihad ilmiyah ketika menafsirkan Al-Qur’an dan dapat membatasi sarana yang dipergunakan dalam menetapkan sesuatu, membatasi sejauh mana ia bersandar pada lafazh Al-Qur’an.
Sesungguhnya para ulama telah berupaya menyusun beraneka rupa tafsir. Namun demikian janganlah kita menyangka, bahwa apa yang telah disusun itu telah meliputi segala hukum, segala ma’rifah dan segala rahasia yang Allah letakkan di dalam Al-Qur’an dan segala rupa kejadian dan pengalaman yang terus tumbuh dari masa ke masa itu semuanya dapat kita pergunakan sebagai daya penggerak untuk menafsirkan Al-Qur’an.

B. Ilmu yang Dibutuhkan Mufassir
Seorang Mufassir Kitab Allah memerlukan beberapa macam ilmu pengetahuan yang harus dipenuhi sehingga ia benar-benar ahli dibidang tafsir. Sudah barang tentu, disamping Ulumul Quran sebagai pokok, maka juga diperlukan ilmu-ilmu lain sebagai pembantu yang harus dikuasai oleh seorang Mufassir, dan para Ulama’ telah menyebutkan seperti Imam As-Suyuti dalam kitabnya Al-Itqon menyebutkan berbagai ilmu-ilmu tersebut yaitu sebagai berikut:
1. Mengetahui bahasa Arab dan ketentuan-ketentuannya (ilmu nahwu, sharaf, etimologi).
2. Mengetahui ilmu balaghah (ma’any, bayan, badi’).
3. Mengetahui ushul fiqih (tentang khash, ‘am, mujmal, mufashshal dan lain sebagainya).
4. Mengetahui asbabun nuzul.
5. Mengetahui tentang nasikh dan mansukh.
6. Mengetahui ilmu qira’at.
7. Ilmu mauhibah (pembawaan).
Adapun yang pertama yaitu bahasa Arab dan seluruh aspeknya, berupa nahwu, sharaf dan etimologi, sangat penting bagi seorang mufassir, sebab bagaimana mungkin memahami ayat, tanpa mengetahui perbedaan kata dan susunan kalimat. Hal itu karena Al-Qur’an, pada dasarnya diturunkan sesuai aturan-aturan yang terdapat dalam bahasa Arab. Jika tidak memiliki pengetahuan tentang gambaran umum dari aturan-aturan bahasa Arab, maka niscaya kita tidak akan mampu menguasai makna-makna yang terkandung dalam Al-Qur’an. Mampukah seorang menafsirkan firman Allah:
لِلّـَذِيْـن يُـؤْ لُـوْنَ مِـنْ نَِّسَـآئِهـِمْ تَـرَبُّـصُ اَرْبَـعَةِ اَشْـهُرٍفَـاِنْ فَـاءُۤوْافَـاِنَّ اللَّـهَ غَفُـوْرٌرَّحِيْـمٌ سورة البقرة :٢٢٦
Kepada orang-orang yang meng-ila’ istrinya diberi tangguh empat bulan (lamanya). Kemudian jika mereka kembali (kepada istrinya), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (S. Al-Baqoroh : 226)
Tanpa mengerti arti bahasa “ila’, tarabbus dan fai”?
Imam Malik berkata: “Seseorang yang tidak mengerti bahasa Arab yang datang kepadaku untuk menafsirkan Al-Qur’an, niscaya kubuat dia mencabut perkataannya”.
Karena itu bila lafazh dan arti bahasa tidak selaras maka berarti tidak benar, sebagaimana penafsir golongan rafidhah (salah satu aliran Syi’ah) tentang firman Allah:
مَـرَجَ البَحْـرَيْـنِ يَلْتَقِـيَانِ
Yang dimaksud dengan keduanya ialah “Ali dan Fatimah”.
Serta sebagaimana penafsiran Fir’aun dengan Qalb (hati) dalam firman Allah:
اِذْهَـبْ اِلَىٰ فِـرْعَـوْنَ اِنَّـهُ طَـغٰى
Yang dimaksud dengan Fir’aun disini ialah hati manusia yang keras. Al-Qurthuby mengatakan penafsiran semacam ini kadangkala dipergunakan oleh sekelompok penasihat dalam tujuan yang benar dengan maksud memperindah ucapan dan menghibur para pendengar padahal sebenarnya dilarang karena memutar-balikkan bahasa yang ketentuannya tidak boleh. Dan inilah salah satu dari dua segi larangan dalam menafsirkan secara ro’yu.
Ilmu nahwu dikatakan penting bagi seorang mufassir karena makna bisa berubah sekali lantaran perbedaan harakat. Firman Allah :
اِنَّـمَايَخْشَـىاللهَ مِـنْ عِبَـادِهِ اْلعُلَـمَاءُ
Dengan harakat nasab (bunyi “a”) pada “ha” lafazh Allah dan merafa’kan (bunyi “u”) pada lafazh ulama adalah benar, karena pengertian ayat tersebut adalah: “Hamba-hamba Allah yang takut pada-Nya ialah ulama bukan yang lain”, seseorang yang tambah pengetahuannya tentang Allah niscaya akan bertambah sifat kekhawatiran dan takut kepada-Nya. Andaikata dibalik, dalam arti “ha” jalalah didhamahkan dan “hamzah” pada ulama dinasabkan maka akan rusaklah pengertiannya.
Pengetahuan tentang ilmu sharaf dan etimologi adalah penting juga bagi seorang mufassir sehingga tidak ngawur atau bagaikan seekor unta yang buta. Az-Zamakhsyari mengatakan: “Diantara bid’ah dalam tafsir ialah pendapat yang mengatakan bahwa lafazh imam dalam firman Allah:
يَـوْمَ نَـدْعُـوْاكُـلَّ اُنَـاسٍ بِّامَـامِهِـمْ
Adalah lafazh jama’ dari lafazh “ummun” dan pada hari kiamat orang-orang dipanggil dengan nama ibunya bukan nama ayahnya. Beliau mengemukakan lebih lanjut bahwa pendapat yang demikian salah besar akibat dari kebodohan seorang mufassir tentang tashrif karena “lafazh um” tidak bisa dijama’kan dengan “imam”.
Ilmu Ma’any, bayan dan badi’ adalah sangat diperlukan bagi orang yang hendak menafsirkan Al-Qur’an karena ia harus menjaga atau memelihara bentuk kemu’jizatan. Hal itu karena tidak bisa diketahui tanpa ilmu-ilmu tersebut.
Contohnya : firman Allah SWT :
وَاُشْـرِبُـوْافِىقُلُـوْبِهِـمُ اْلعِجْـلَ
Maksudnya اُشْـرِبُـوْا حُـبَّ اْلعِجْـلِ (cinta anak sapi) dengan membuang “mudhaf”. Firman Allah :
هُـنَّ لِبَـاسٌ لَّكُـمْ وَاَنْتُـمْ لِبَـاسٌ لَهُـنَّ
Pengertiannya bukan secara hakekat tetapi merupakan pengertian secara isti’aroh/perumpamaan. “Bagaikan pemakaian yang dapat menutup aurat menghiasi manusia dan mempercantik dirinya”. Demikian pula halnya seorang suami istri satu sama lain bagai pakaian bagi pemiliknya, serta merupakan kelengkapan dan keindahan hidup satu dengan lainnya. Susnan tersebut merupakan keindahan susunan dan gaya bahasa. Karena itu seseorang yang hanya mengartikan secara lahir maka akan rusaklah maknanya.
Dalam Al-Qur’an terdapat beberapa contoh tentang Isti’arah, kinayah (sindiran) dan majaz, tidak boleh tidak dalam memahaminya harus mengetahui ilmu bayan dan badi’. Misalnya firman Allah tentang perahu Nuh :
“تَجْـرِىْبِـاَعْيُنِنَـا” maksudnya “بِحْفِظِـنَاوَرِعَـايَتِنَـا”
(dengan pemeliharaan dan penjagaan kami). Dan firman Allah :
,قَـدَمَ صِـدْقٍ ,لِسَـانَ صِـدْقٍ جَنَـاحَ الـذُّلِّ
Semuanya itu dan yang semisalnya memerlukan ilmu balaghah dan rahasia-rahasia ilmu bayan dalam memahaminya.
Ilmu-ilmu lainnya seperti (ushul-fiqih, asbabun nuzul, ilmu nasikh dan mansukh, dan ilmu qiro’at) juga diperlukan oleh seorang mufassir dalam memahami Al-Qur’an supaya tidak keliru dalam memahaminya. Serta tidak terpeleset oleh sebab kebodohan tentang ilmu-ilmu yang penting itu.
Selanjutnya yang dimaksud dengan ilmu mauhibah ialah ilmu yang diberi langsung dari tuhan. Firman Allah:
وَاٰتَيْنٰـهُ مِـنْ لَـدُنَـاعِلْـمًا
“yang diwariskan oleh Allah kepada seorang yang mengamalkan sesuai dengan ilmunya serta Allah membukakan hati orang tersebut untuk memahami rahasia-Nya”.
Jadi ilmu tersebut merupakan ilmu yang Allah wariskan kepada orang yang mengamalkan apa yang telah diketahui dan yang bersih hatinya daripada ketakaburan dan kecintaan kepada dunia.

C. Qawaid Tafsir
Pengertian Qowaid menurut bahasa yaitu kaidah-kaidah atau prinsip-prinsip dasar tafsir. Sedangkan yang dimaksud Qowaid Tafsir dalam hal ini ialah kaidah-kaidah yang diperlukan oleh para mufassir dalam memahami ayat-ayat Al-Qur’an.
Kaidah-kaidah yang diperlukan para mufassir dalam memahami Al-Qur’an meliputi penghayatan uslub-uslubnya, pemahaman asal-asalnya, penguasaan rahasia-rahsianya dan kaidah-kaidah kebahasaan. Hal itu wajar karena memahami Al-Qur’an secara terperinci dan mempelajari aspek-aspek yang terkandung di dalamnya, ilmu tafsir tersebut harus dibangun atas dasar kaidah yang benar dan tepat serta berfikir yang sesuai dengan ajaran syari’at Islam agar tidak terjadi penyimpangan-penyimpangan.
Para mufassir sering mengumandangkan kaidah-kaidah:
اَلْقُـرْاٰنُ يُفَسِّـرُبَعْضُـهُ بَعْضًـا
“Al-Qur’an, sebagianya menafsirkan sebagian yang lain”.
Setiap mereka menghadapi sesuatu ayat Al-Qur’an yang bertambah jelas petunjuknya dengan karena membandingkannya dengan yang lain. Memang sedemikianlah seharusnya jalan yang ditempuh, karena dalalah Al-Qur’an memang istimewa halusnya dan istimewa pula pencakupannya.
Orang yang hendak menafsirkan ayat-ayat suci Al-Qur’an, lebih dahulu harus memahami beberapa kaidah yang erat kaitannya dengan pemahaman makna kalimat yang hendak ditafsirkan. Macam-macam qowaid tafsir yaitu:
a) Mantuq dan Mafhum
b) ‘Am dan Khash
c) Mutlaq dan Muqayyad
d) Mujmal dan Mubayyan
e) Muhkam dan Mutasyabih
Selain yang telah disebutkan diatas juga ada kaidah-kaidah dalam menafsirkan yaitu kaidah kebahasaan yang itu perlu dipahami oleh para mufassir karena itu sangat penting dan kaidah kebahasaan tersebut meliputi yang telah disebutkan diawal yaitu pemahaman pokok-pokok dalam bahsa Arab secara mendalam.

Kesimpulan
Seorang mufassir dalam memahami Al-Qur’an haruslah menguasai dan melampaui syrat-syrat serta adab seorang mufassir yaitu janganlah sampai pembahasan-pembahasan ilmiyah itu menyimpangkan kita dari maksud pokok mempelajari Al-Qur’an, hendaklah kita memperhatikan keadaan masa dan masyarakat, hendaklah pembahasan-pembahasan itu dapat menarik umat Islam untuk mempelajari Al-Qur’an, seorang mufassir hendak mempelajari ayat-ayat yang terkandung dalam Al-Qur’an beserta mencari maknanya, hendaknya ia memiliki kemerdekaan berfikir dalam memahami Al-Qur’an serta mufassir haruslah mengetahui metode umum dalam menafsirkan Al-Qur’an.
Seorang mufassir haruslah mempelajari ilmu-ilmu pengetahuan dan semua itu harus dipenuhi sehingga ia benar-benar ahli dibidang tafsir yang meliputi:
– Mengetahui ilmu bahasa Arab (ilmu nahwu, sharaf, etimologi).
– Mengetahui ilmu balaghah (ma’any, bayan, badi’).
– Mengetahui ushul fiqih (tentang khash, ‘am, mujmal, mufashshal dan lain sebagainya).
– Mengetahui asbabun nuzul.
– Mengetahui tentang nasikh dan mansukh.
– Mengetahui ilmu qira’at.
Orang yang hendak menafsirkan ayat-ayat suci Al-Qur’an, lebih dahulu harus memahami beberapa kaidah berikut:
a) Mantuq dan Mafhum. d) Mujmal dan Mubayyan.
b) ‘Am dan Khash. e) Muhkam dan Mutasyabih.
c) Mutlaq dan Muqayyad.
Semua itu merupakan hal-hal yang perlu diperhatikan seorang mufassir dalam menafsirkan Al-Quran dengan benar.

DAFTAR PUSTAKA

Hakim, M. Baqir. 2006. Ulumul Quran. Jakarta: Al-Huda.
Ash Shiddieqy, M. Hasbi. 1988. Ilmu-ilmu Al Qur-an Media-media Pokok dalam Menafsirkan Al Qur-an. Jakarta: PT Bulan Bintang.
Ash Shabuny, Muhammad Aly. 1984. Pengantar Study Al-Qur’an. Bandung: PT Al-Ma’arif.
Syadali, Ahmad dan Ahmad Rofi’i. 2000. Ulumul Quran I. Bandung: CV Pustaka Setia.
Syadali, Ahmad dan Ahmad Rofi’i. 2000. Ulumul Quran II. Bandung: CV Pustaka Setia.

denmase, santrimu

Filed under: Ilmu Tafsir, , , , , , , , , , ,

Pasang Iklan Anda di sini

RSS catatan Kang Jalal

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS Kumpulan humor “Gus Dur”

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS TASAWUF

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS HASANAH

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

  • 128,698 hits

SPONSORSHIP

Bersama Menjaga al-Quran Dengan Qiraati

Ngaji Online

Quranic Explorer (online)

Sebab Turun Ayat (kajian Online)

Tafsir Al-Mizan (Sayid Muh. Husain Taba-Tabai)

DOKUMENT

SILATURRAHIM

free counters

weblogs
Please do not change this code for a perfect fonctionality of your counter weblogs
clock

%d blogger menyukai ini: