Santri Qiraati

referensi metode ilmu baca al-Quran

Keelokan Politik Ulama Buya Hamka dan Transformasi Teologis

Oleh Dr. Husain Heriyanto Pariamani

Buya Hamka (1908-1981) adalah seorang ulama cendekia yang berwawasan luas dan juga seorang aktivis yang sempat memasuki dunia politik. Hamka dicalonkan Masyumi pada pemilu 1955 dan berhasil terpilih sebagai anggota Konstituante yang membahas perumusan konstitusi negara.

Yang menarik untuk disimak adalah bagaimana Hamka memosisikan agama dan politik serta hubungan di antara keduanya. Sikapnya yang menempatkan peran agama dan politik – dua bidang yang memang sulit dipisahkan dalam praksis Islam modern- secara proporsional sungguh elok dipelajari oleh para politisi dan atau tokoh agama kontemporer yang membawa isu agama dalam dunia politik. Sangat menarik pula dicermati bagaimana seorang Hamka yang pada awalnya bersikokoh dengan ideologi negara Islam sesuai dengan visi dan misi partai Masyumi namun kemudian mengalami transformasi teologis menjadi tokoh Islam yang toleran, inklusif, dan turut membangun persatuan antar komponen bangsa sehingga dipercaya menjadi Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) pertama tahun 1975.

Ketika Masyumi dibubarkan Bung Karno menyusul keluarnya Dekrit Presiden 5 Juli 1959, Hamka tak serta merta panik atau murka. Hamka lalu menerbitkan majalah Panji Masyarakat untuk menyalurkan visi dan buah pemikirannya. Majalah ini pun berumur pendek karena tahun 1960 ia dibredel setelah memuat esai Bung Hatta yang mengkritik gagasan “Demokrasi Terpimpin” Bung Karno. Hamka tetap sabar dan tak kehilangan akal untuk menyampaikan gagasan-gagasanya melalui penerbitan majalah lain.

Akhirnya ketika dipenjara pun karena menentang politik “ganyang Malaysia” tahun 1964-1966, Hamka tidak kehilangan kewarasan nalarnya sebagai ulama-cendekiawan. Penanya pun aktif menyinari penjaranya karena dia menggunakan waktunya untuk menulis tafsir Al-Quran yang lalu dikenal dengan Tafsir Al-Azhar 30 juz dalam 9 jilid, sebuah karya monumental Hamka sekaligus menjadi salah satu tafsir lengkap berbahasa Indonesia yang berpengaruh hingga kini.

Lalu, bagaimana sikap Buya Hamka terhadap Bung Karno yang menjadi lawan politiknya? Apakah Hamka membenci Bung Karno dengan sumpah serapah mengatasnamakan agama? Apakah dia memusuhi sang proklamator dengan memobilisasi dan memprovokasi umat Islam dengan mengorbankan persatuan bangsa? Apakah dia mendendam kepada Bung Karno karena telah memenjarakan dirinya dua tahun empat bulan tanpa tuduhan subversif yang terbukti? Apakah dia melabel pengalaman dirinya sebagai bentuk “kriminalisasi ulama” untuk menyulut permusuhan umat Islam terhadap pemerintah ketika itu?

Tidak sama sekali. Buya Hamka sejak awal perkenalannya dengan Bung Karno pada tahun 1941 hingga akhir usianya selalu menghormati Bung Karno sebagai proklamator bangsa. Dalam ceramah-ceramahnya, Hamka kerap memuji Bung Karno sebagai tokoh besar bangsa yang visioner dan berjiwa besar. Dia tidak pernah memusuhi Bung Karno secara pribadi apalagi mencercanya, yang memang jauh sekali dari budi pekertinya yang humanis dan rendah hati. Hamka juga sama sekali tidak mengungkit-ungkit perselisihan politiknya dari perspektif agama an sich yang bersifat mutlak atau membuat stigma pertikaian Islam versus nasionalis. Hamka tak tampak menggunakan argumen sakralitas agama sebagai alat perlawanan pendirian politiknya karena dia menyadari bahwa pandangan politiknya merupakan salah satu bentuk ijtihadnya dan itu tidak identik dengan agama itu sendiri.

Itulah sebabnya mengapa Bung Karno pun tetap menyimpan rasa hormat yang dalam kepada Buya Hamka dan meminta Hamka mengimami shalat jenazahnya. Dan Buya Hamka pun dengan hati terbuka dan ikhlas menyambut permintaan itu seraya mendoakan sang proklamator dengan penuh kekhidmatan. Ketika sebagian kawannya mengingatkan beberapa tindakan permusuhan Bung Karno kepada dirinya dan pandangan politiknya, Hamka menjawab, “Hanya Allah yang tahu keimanan seseorang. Yang jelas, beliau (Bung Karno) adalah tokoh bangsa yang jasa dan amalnya tak terhitung. Saya sendiri justru harus berterima kasih karena dalam penjara saya dapat kesempatan menulis tafsir Al-Quran 30 juz.”

Itulah sepenggal kisah Buya Hamka, seorang ulama yang bijak menempatkan politik pada tempatnya. Baginya, agama adalah tujuan, sedangkan politik hanyalah salah satu sarana untuk menyampaikan nilai-nilai agama. Agama berkaitan dengan prinsip-prinsip hidup dan nilai-nilai universal sementara politik berhubungan dengan pengelolaan kehidupan bermasyarakat yang dinamis dan rentan perubahan. Atas dasar pandangan seperti itu, Hamka tidak pernah tergoda untuk mempolitisasi agama dalam pengertian mengkapitalisasi (memanfaatkan) posisinya sebagai salah seorang tokoh terkemuka agama untuk kepentingan politiknya.

Satu karakteristik yang abadi pada diri Buya Hamka dan perhatian utamanya adalah bagaimana menyampaikan nilai-nilai Islam kepada masyarakat Indonesia; bagaimana menggembleng budi pekerti dan karakter umat Islam untuk bisa meniru akhlak mulia Rasulullah SAW.

Karakteristik Hamka tersebut tampak kian mengemuka memasuki dekade 1970-an. Ketika pemerintah Orde Baru menggagas pembentukan sebuah majlis ulama, berbeda dengan sikap kawan-kawan Masyuminya seperti Mohammad Natsir dan Kasman Singodimedjo yang menolak mentah-mentah, Buya Hamka menyambutnya dengan hati-hati. Hamka berpendapat bahwa jika majelis itu ditujukan untuk menjembatani pemerintah dengan umat Islam dan pada saat yang sama majelis itu independen – baik dari pemerintah maupun umat -, maka dia mendukung pembentukannya.

Sejarah memang membuktikan bahwa Buya Hamka dapat menjaga kewibawaan dan independensi MUI selama kepemimpinannya (1975-1981). Ada sebuah pernyataan Buya Hamka yang menggambarkan watak independensi dan keadilannya, “Majelis ini harus berani mengkritik perbuatan pemerintah yang salah walaupun karena ketegasan pendirian tersebut, ia akan dibenci oleh penguasa. Sebaliknya ia pun harus berani membela langkah pemerintah yang dianggapnya menempuh jalan yang benar, walaupun karena itu ia pun akan dibenci oleh rakyat.” (Panji Masyarakat, 1 Juli 1974).

Transformasi teologis pada diri Buya Hamka menuju pemahaman yg inklusif dan moderat (Islam wasathiyyah) tidak terpisahkan dari dua hal, yaitu karakter kecendekiaannya yang berwawasan luas dan kepribadiannya yang rendah hati dan humanis. Meski berlatar belakang Muhammadiyah dengan gerakan pembaharuan dan Islam modernis, Buya sejak dini tertarik dengan ilmu budi pekerti dan pembinaan jiwa dan karakter. Dia juga banyak membaca karya-karya filsafat dan tasawuf serta karya-karya ilmuwan Barat. Dengan wawasan luas dan mindset yang terbuka kepada ilmu pengetahuan, tentu secara alamiah perkembangan pemikiran seseorang akan sangat dimungkinkan terjadi.

Menyimak ceramah-ceramah Buya Hamka pada akhir 1970-an yang banyak membahas masalah-masalah keseharian umat menyangkut budi pekerti, nilai-nilai kehidupan (living values) dan pembentukan karakter serta pemuliaan jiwa… dan mendengar kuliah-kuliah Shubuh beliau yang secara antusias berbicara tentang mahabbah (cintah ilahi), kerinduan ilahi, rasa syukur yang tak terbatas kepada Allah, maka sesungguhnya Hamka telah mengembangkan karakter khasnya sejak dini yang sangat concern dengan masalah budi pekerti yang mulia. Dalam bukunya “Lembaga Budi”, Hamka mengutip pantun Melayu yang menggambarkan pandangan moral-agamanya,

Tegak rumah karena sendi

Runtuh sendi rumah binasa

Sendi bangsa ialah budi

Runtuh budi runtuhlah bangsa

Iklan

Filed under: MAYA.net, Tokoh, , , , , , , , , ,

Pasang Iklan Anda di sini

RSS catatan Kang Jalal

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS Kumpulan humor “Gus Dur”

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS TASAWUF

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS MOTIFASI

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS HASANAH

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

  • 150.199 hits

SPONSORSHIP

KAMAR PENGANTIN

PEPUNDHEN

DOKUMENT

SILATURRAHIM

free counters

%d blogger menyukai ini: