Santri Qiraati

referensi metode ilmu baca al-Quran

MENEBARKAN ILMU UNTUK ORANG AWAM

“Kang Rofi’, saya sudah mengemukakan kepada KH. Tol’at Wafa’, supaya para ustadz dan ustadzah belajar menulis kepada Kang Rofi’. Beliau setuju sekali. Kang Rofi’ mau kan datang lagi ke Raudhatul Ulum.”

Gubrak! Tanpa ba bi bu, saya “ditodong” demikian oleh Mas Kiai Najib, Ketua Yayasan Ponpes RU itu. Saya diam saja. Melihat saya diam seribu bahasa, Mas Kiai Najib pun berucap, “RU punya sederet ustadz dan ustadzah yang bergelar doktor dan magister. Tapi, mereka kok gak bisa menulis seperti Kang Rofi’. Ajarilah mereka, Kang.” Mendengar rayuan sahabat saya yang demikian, akhirnya saya menjawab, “InsyaAllah.”

Usai menjawab demikian, tiba-tiba benak saya “melayang” jauh: ke Kairo, Mesir pada awal 1980-an. Kala itu, saya sedang bermimpi ingin menjadi seperti Anis Mansour, seorang jurnalis kondang Mesir dan pemimpin redaksi koran kesohor di Timur Tengah, Al Ahram.

Mengapa saya terpikat dengan Anis Mansour?

Jurnalis kondang jebolan Universitas Heidelberg, Jerman itu piawai sekali dalam menyajikan tulisan-tulisannya. Indah dan gemulai seperti indahnya tarian seorang penari perut top Mesir, Nagwa Fouad. Bahasan yang sangat berat ia sajikan dengan bahasa yang mudah dicerna. Terpikat dengan gaya ia dalam menulis, semua bukunya saya “lahap” dan pelajari. Utamanya sebuah karya puncaknya, Fi Shalun Al-‘Aqqad: sebuah buku setebal 680 halaman dan membahas tentang pergolakan pemikiran di Mesir. Indah sekali cara ia dalam menyajikan tulisannya. Padahal, materinya berat sekali. Hingga kini, buku itu masih kerap saya baca lagi: untuk memahami caranya dalam menyajikan bahasan yang berat dalam bahasa yang mudah dimengerti orang awam.

Menulis dengan gaya yang mudah dicerna memang perlu. Karena dengan gaya demikian, ilmu yang bercorak akademik dan berat dapat ditebarkan kepada masyarakat awam. Saya membayangkan, para sahabat dan saudara saya yang ilmuwan top yang meraih Habibie Award, seperti Prof. DR. Dicky Rezaldi Munaf dan Prof. DR. dr. Rovina Sp.PD, juga yang lain-lain, berkenan menuliskan kisah ilmiah mereka kepada masyarakat awam. Tentu, dengan bahasa yang mudah dicerna oleh mereka. Saya yakin hal itu dapat dilakukan oleh beliau-beliau itu. Hal serupa telah telah dilakuan beberapa sahabat dan saudara saya lain. Seperti Prof.DR. Hadi Susanto, seorang pakar matematika Indonesia yang kini menetap di Inggris, dan DR. Ibrahim Kholilul Rahman, seorang ilmuwan jebolan dari sebuah universitas di Swedia.

Kemampuan menulis untuk masyarakat awam perlu. Memang, mengawalinya perlu “perjuangan”. Tapi, dengan segera hal itu dapat tertaklukkan.

Dalam hal ini, saya teringat pesan seorang pemilik sebuah toko buku kondang di Kairo, Penerbit Madbouly, kepada para teman-temannya yang ilmuwan, “Tolong, tulislah buku ilmiah yang mudah dimengerti oleh orang awam. Mereka sangat haus untuk mendapatkan pencerahan dari kalian, dengan bahasa mereka sebagai orang awam. Bukan dengan bahasa para ilmuwan yang hidup di ‘benteng-benteng’ yang disebut perguruan tinggi!”

Pesan yang indah!

Salam takzim dari Palembang,
Ahmad Rofi’ Usmani

Filed under: MAYA.net, Uncategorized

Pasang Iklan Anda di sini

RSS catatan Kang Jalal

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS Kumpulan humor “Gus Dur”

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS TASAWUF

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS MOTIFASI

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS HASANAH

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

  • 163.479 hits

SPONSORSHIP

KAMAR PENGANTIN

PEPUNDHEN

DOKUMENT

SILATURRAHIM

free counters

%d blogger menyukai ini: