Santri Qiraati

referensi metode ilmu baca al-Quran

PALEMBANG, RIWAYATMU KINI

“Kang Rofi’, kalau besok mau kluyuran di seputar Palembang, kontak saya ya. Biar Kang Rofi’ diantar keponakan saya!”

Demikian ucap Mas Kiai Najib kemarin. Sambil mengantar saya dan istri ke tempat kami menginap. Kami pun mengucap terima kasih. Tapi, karena tidak ingin merepotkan, kami menolak tawaran itu. “Menundukkan” sebuah kota yang baru pertama kali kami kunjungi, utamanya bagi saya, justru merupakan tantangan. Seperti halnya tantangan untuk mendaki Gunung Merapi ketika saya masih mahasiswa di Jogja.

Nah, pagi tadi, selepas shalat Shubuh, menikmati sarapan lontong palembang, dan istri pergi mengikuti kegiatan ilmiah di sebuah hotel, saya pun segera mencari gojek. “Berapa Bang ke Jembatan Ampera? Offline ya,” tanya saya kepada seorang driver gojek.
“Dua puluh rebu saja!” jawab si Abang itu dengan dialek wong kito yang khas.

Segera, si Abang membawa saya menyusuri Kota Palembang. Senang hati saya menikmati berderet pemandangan sepanjang jalan. Namun, sayang, sebagian jalan-jalan yang saya lihat tidak memiliki trotoar yang nyaman. Malah, banyak yang trotoarnya yang amburadul. Padahal, menurut saya, dengan sentuhan estetik kota ini bisa menjadi kota yang cantik.

Begitu berada di bawah Jembatan Ampera dan menyapa Sungai Musi, bibir saya tiba-tiba bergumam, “Tampaknya kita ini lebih suka ‘memunggungi sungai!”

Mengapa demikian?

Saya lihat, sepanjang tepi Sungai Musi penuh dengan bangunan. Akibatnya, Sungai Musi kurang nyaman untuk dinikmati. Beda dengan sungai atau tepi laut sederet kota di dunia yang pernah saya datangi. Seperti Kairo, Istanbul, Paris, Vienna, Seoul, dan Singapore. Padahal, sejatinya Sungai Musi bisa dipoles menjadi seperti gadis-gadis Palembang yang imut dan cantik.

Puas menikmati Sungai Musi dan sekitarnya, saya kemudian menuju kawasan Jakabaring Sport City. Kali ini, untuk menuju ke sana, saya memilih naik bentor. “Bang, ke Jakabaring dan putar-putar ke seluruh tempat itu berapa?” tanya saya kepada seorang sopir bentor. “Lima puluh rebu saja. Tapi, abang dibeliin minum ya. Panas!” jawabnya. Saya pun mengiyakan.

Nyaris sekitar dua jam saya kluyuran di seputar Kota Palembang. Meski kluyuran saya itu singkat, entah kenapa saya yakin, ke depan kota ini, bila dikelola dengan ciamik, akan berubah menjadi seperti Istanbul dan Surabaya: dua kota yang semula lusuh dan kini menjadi kota yang menawan!

Kiranya demikian!

Filed under: MAYA.net, Uncategorized

Pasang Iklan Anda di sini

RSS catatan Kang Jalal

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS Kumpulan humor “Gus Dur”

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS TASAWUF

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS MOTIFASI

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS HASANAH

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

  • 163.479 hits

SPONSORSHIP

KAMAR PENGANTIN

PEPUNDHEN

DOKUMENT

SILATURRAHIM

free counters

%d blogger menyukai ini: