Santri Qiraati

referensi metode ilmu baca al-Quran

ZULAIKHAH MEMBURU CINTA

Tak terasa, lama saya tidak mengaji bareng panjenengan semua. Hari ini, ternyata, sudah untuk ke-14 kalinya kita mengaji bareng. Semoga bermanfaat.

Meminjam istilah Mbah Ali Maksum, seorang kiai kondang dari Jogjakarta, ketika saya beberapa tahun mengaji kepada beliau di Pondok Pesantren Krapyak, Jogjakarta, pengajian dengan bahasan agak berat seperti pengajian ini beliau sebut “pengajian ngelmiah”. Ketika beliau sedang memberikan “pengajian ngelmiah” seperti ini, dapat dikatakan saya selalu berusaha konsentrasi penuh untuk mengikuti pengajian beliau. Mengapa? Pada saat itu, keluar ilmu luar biasa beliau dalam kedudukan beliau sebagai guru besar Tafsir Al-Quran di UIN Jogjakarta. Sedap sekali menyimak paparan beliau yang demikian itu.

Nah, “Mengaji Bareng Ahmad Rofi’ Usmani”(14) kali ini membawa panjenengan semua ke Negeri Piramid alias Mesir. Bahasan kali ini tentang masalah yang sekilas tampak gak “ngelmiah”: tentang cinta. Namun, meski “gak ngelmiah”, masalah ini disajikan dalam Al-Quran. Yaitu kisah cinta dua sosok kondang: Nabi Yusuf a.s. dan Zulaikha atau Zelikah.

Nah, mukaddimah saya kali ini cukup sekian saja. Saya tidak akan berpanjang kalam. Dan, selamat mengaji dan menikmati kisah cinta antara Zulaikha dan Nabi Yusuf a.s.

Salam takzim,
Ahmad Rofi’ Usmani

“Mengaji Bareng Ahmad Rofi’ Usmani” (14)
Ahmad Rofi’ Usmani, lahir di Cepu, Jawa Tengah, 26 Januari 1953. Alumnus dan mantan pengurus Pondok Pesantren
Krapyak Yogyakarta (1973-1974) ini menyelesaikan program S-1 Fakultas Syariah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan
Kalijaga, Yogyakarta, pada 1977. Selepas itu, pada 1978, dia diterima di Fakultas Syariah Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir.
Selama sekitar enam tahun di Mesir, mantan Ketua Lembaga Penelitian Ilmiah Persatuan Pelajar Indonesia di Mesir (1981-
1983) ini juga menghadiri program pascasarjana di bidang sejarah dan kebudayaan Islam di Fakultas Dar Al-‘Ulum, Universitas
Kairo, Kairo, Mesir. Di sisi lain, selama itu pula, dia juga memelajari dan mendalami bahasa Perancis di Lembaga Kebudayaan
Perancis di Kairo.
Setiba kembali di Indonesia, pada 1984 M, suami seorang dokter spesialis penyakit dalam ini kemudian berkiprah di bidang
media massa, antara lain menjadi Pemimpin Pelaksana majalah Panggilan Adzan dan Redaktur Ahli majalah Kiblat (1988-
1992). Selain itu, ayah dua putri yang pernah mengunjungi sejumlah negara, antara lain Arab Saudi, Mesir, Pakistan, Brunei
Darussalam, Thailand, Singapura, Malaysia, Jerman, Uni Emirat Arab, Austria, Perancis, Luksemburg, Korea, Turki, Tiongkok,
Hong Kong, Macau, Australia, Belanda, Belgia, Jordania, Palestina, Qatar, Spanyol, Jepang, dan Taiwan ini juga seorang
pembimbing ibadah haji dan umrah sejak 1979. Di luar kegiatan-kegiatan tersebut, Ketua Dewan Pembina Yayasan Nun Bina
Muda Indonesia, sebuah yayasan yang bergerak di bidang pendidikan, ini juga senantiasa meluangkan sebagian waktunya untuk
menerjemahkan, menyunting, dan menyusun buku.
Karya-karya tulisnya yang sudah terbit, baik berupa karya sendiri, suntingan, maupun terjemahan, antara lain adalah
Eureka! Bagaimana Karya-karya Besar Lahir (2019), 100 Great Stories of Muhammad (2017), Kisah-Kisah Romantis
Rasulullah (2017), Islamic Golden Stories 2, Tanggung Jawab Pemimpin Muslim (2016), Jejak-Jejak Islam, (2016), Islamic
Golden Stories 1: Para Pemimpin yang Menjaga Amanah (2016), Pesona Akhlak Nabi (2016), Jejak-Jejak Islam, edisi e-book
(2015), Pesona Ibadah Nabi (2015), Kisah para Pencari Nikmatnya Shalat (2015), Ensiklopedia Tokoh Muslim (2015),
Makkah-Madinah (2011), Dari Istana Topkapi Hingga Eksotisme Masjid Al-Azhar(2011), Kado Indah untuk Muslimah (2010),
Mutiara Riyâdushshâlihîn (2009), Muhammad, sang Kekasih (2009), Risalah Cinta: Kitab Klasik Legendaris tentang Seni
Mencinta (2009), Masjid di Pelbagai Belahan Bumi Tuhan (2008), Pesan Indah dari Makkah dan Madinah (2008), Wangi
Akhlak Nabi (2007), Nama-Nama Islami nan Indah untuk Anak Anda (2007), Rumah Cinta Rasulullah (2007), Mutiara Akhlak
Rasulullah Saw. (2006); Teladan Indah Rasulullah dalam Ibadah (2005); Muhammad: Nabi Barat dan Timur (2004); Ihyâ’
‘Ulûm Al-Dîn, 16 jilid (2004); Anak Golda Meir pun Memeluk Islam (2004); Dua Wajah Luciana (2004); Membedah Pemikiran
Islam (2000); Pesona Islam (1998); Kajian Kontemporer Al-Quran (1998); Tokoh-Tokoh Muslim yang Mengukir Zaman
(1998); Sejarah Kebudayaan Islam (1997); Nasruddin Hoja: Riwayat Hidup, Anekdot, dan Filsafatnya (1993); Al-Ghazali:
Sang Sufi Sang Filosof (1987); Filsafat Sejarah Menurut Ibn Khaldun (1987); Sufi dari Zaman ke Zaman (1987); Filsafat
Kebudayaan Islam (1986); Filsafat dan Puisi Iqbal (1985); Al-Quran dan Ilmu Jiwa (1985); dan Islam Menjawab Tantangan
Zaman (1983).
ZULAIKHA MEMBURU CINTA:
Pergulatan di Antara Cinta Manusiawi dan Cinta Ilahi
“Kang Rofi’! Piye cerito akhire Zulaikha? Opo Zulaikha sido nikah karo Nabi Yusuf a.s.?”
Demikian tanya seorang sahabat di Jogjakarta kepada saya. Beberapa waktu yang lalu.
Sahabat yang kini menjadi guru besar di almamater saya itu bertanya, “Bagaimana kisah akhir
Zulaikha? Apakah perempuan nan cantik itu akhirnya menikah dengan Nabi Yusuf a.s.?”
Menerima pertanyaan demikian, bibir saya pun bergumam, “Piye iki. Bagaimana ini.
Profesor di UIN (Universitas Islam Negeri) dan pernah menimba ilmu di Universitas Al-Azhar,
Kairo kok bertanya tentang kisah Zulaikha. Ini mesti ngeles!”
Meski agak ngedumel, pertanyaan itu tetap saya jawab. Entah kenapa, ketika akan
menjawab pertanyaan itu, tiba-tiba benak saya “melayang” jauh. Ya, melayang jauh. Ke mana
lagi kalau bukan ke Mesir alias Negeri Piramid: ke lokasi kisah percintaan antara Zulaikha dan
Nabi Yusuf a.s. tersebut berlangsung.
Kita tentu tahu, kisah percintaan antara Zulaikha dan Yusuf itu termaktub dalam Al-Quran
sebagai berikut:
“Dan perempuan (Zulaikha) yang Yusuf tinggal di rumahnya menggoda Yusuf
untuk menundukkan dirinya (kepadanya) dan dia menutup pintu-pintu seraya
berucap, ‘Marilah ke sini.’ Jawab Yusuf, ‘Aku berlindung kepada Allah! Sungguh,
tuanku telah memperlakukan aku dengan baik.’ Sungguh, orang-orang yang zalim
tidak akan beruntung. Sesungguhnya perempuan itu telah bermaksud (melakukan
perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusuf pun bermaksud (melakukan pula) dengan
perempuan itu andaikata dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah
agar Kami memalingkan darinya kemungkaran dan kekejian. Sungguh, Yusuf
termasuk hamba-hamba Kami terpilih.” (QS Yûsuf, 12: 23-24).

Siapakah perempuan yang termaktub dalam Al-Quran itu?
“Zulaikha!”
Demikian jawaban sebagian besar ulama Tafsir Al-Quran, meski dalam Kitab Suci itu tidak
dikemukakan nama perempuan itu. Nah, nama Zulaikha sendiri sejatinya dikutip para ahli
tafsir Al-Quran dari kalangan kaum Muslim yang semula para pemeluk agama Yahudi dan
Nasrani (dalam Torat Zulaikha disebut “Zelikah”). Ada yang menyatakan, Zulaikha memiliki
suami, bernama Potiphar, seorang penguasa kawasan San, Mesir Selatan. Tetapi, ada pula
yang menyatakan, Potiphar adalah seorang kepala polisi. Konon, Yusuf a.s. adalah seorang
Nabi yang lebih bercahaya dan lebih tampan dibanding para Nabi sebelum beliau. Zulaikha
pun langsung jatuh cinta sejak pertama kali ia melihat Yusuf a.s. muda asal Negeri Kan’an
yang kini bernama Palestia itu. Duh!
Memang, hingga kini, anak-anak muda Palestina terkenal tampan. Tidak aneh bila seorang
novelis kondang Mesir, Ihsan Abdul Qudus, dalam sebuah novelnya mengemukakan, kini
banyak gadis-gadis Yahudi Israel yang lebih terpikat dengan cowok-cowok Palestina
ketimbang dengan cowok-cowok Yahudi Israel. Ini karena, antara lain, cowok-cowok Palestina
lebih romantis dan tidak suka melakukan kekerasan dalam rumah tangga.
Nah, konon, demi cintanya kepada Yusuf a.s. muda, Zulaikha bersedia mengorbankan
segala-galanya: harta, reputasi, maupun kedudukannya. Ia begitu tergila-gila kepada Yusuf a.s.
nan ganteng dan menawan. Malah, Zulaikha rela menyerahkan permata terbaik miliknya.
Kepada siapa pun yang melaporkan hasil pengamatannya tentang diri Yusuf dan menceritakan
apa saja yang sedang dilakukan sosok yang ia cintai itu. Akibatnya, Zulaikha segera menjadi
buah bibir di kalangan bangsawan Mesir, “Seorang perempuan bersuami kok tanpa malu-malu
jatuh cinta kepada seorang budak Kan’an (Palestina) milik suaminya!”
Ketika mendengar para perempuan bangsawan suka menggunjing dirinya, seperti dituturkan
dalam Al-Quran, amarah Zulaikha pun membara. Alias marah besar. Ia pun bermaksud
membalas mereka. Kemudian, ia undang teman-temannya itu untuk datang bersantap siang.
Sebagai hidangan penutup, ia hidangkan buah-buahan segar. Lengkap dengan pisau tajam
untuk mengupas dan memotong buah-buah itu. Selepas itu, ia memanggil Yusuf a.s. untuk
masuk ke dalam ruangan.
Seketika, semua perempuan di ruangan itu terkesiap. Ya, terkesiap oleh pesona ketampanan
Yusuf a.s. Begitu terpukaunya mereka, hingga mereka benar-benar lupa dengan buah-buah
yang dipotong di tangan mereka. Akibatnya, mereka tidak menyadari ketika pisau-pisau itu
malah mengiris tangan mereka sendiri. Zulaikha pun berkomentar, “Lihat tangan kalian! Kini,
apakah kalian masih menyalahkan aku yang jatuh cinta kepada anak muda Kan’an itu?”
Mereka diam seribu bahasa. Menyadari bahwa mereka salah kira.
Bertahun-tahun kemudian, ternyata, kedudukan Zulaikha dan Yusuf berbalik.
Kini, Yusuf a.s., selain telah menjadi seorang Nabi, telah menjadi sahabat dan perdana
menteri Fir‘aun Mesir kala itu. Sebaliknya Zulaikha, selepas dicampakkan suaminya, karena
skandal cintanya itu, kini meniti hidup sengsara. Ya, benar-benar sengsara: menjadi peminta-
minta dan buruh kasar yang sangat menderita.
Lantas, suatu hari Nabi Yusuf a.s. melihat Zulaikha sedang berjalan pelan di pinggir jalan.
Nabi Yusuf a.s. saat itu mengenakan busana kebesaran nan indah dari sutera, mengendarai kuda
jantan nan gagah, dan dikitari para penasihat serta serdadu yang bertugas sebagai pengawal
pribadinya. Sedangkan Zulaikha hanya mengenakan sampiran kain lusuh. Kecantikan dirinya
telah sirna. Hilang dalam tempaan kehidupan yang ia lintasi bertahun-tahun lamanya.
“Zulaikha.” ucap pelan sang Nabi selepas turun dari kendaraan dan berjalan di samping
Zulaikha. “Dulu, ketika engkau ingin menikah denganku, aku terpaksa menolak keinginanmu
itu. Kala itu, engkau adalah istri majikanku. Kini, engkau telah bebas. Aku bukan lagi seorang
budak. Kalau engkau mau, aku akan menikahimu.”

Mendengar ucapan sang Nabi, Zulaikha balik menatap Nabi Yusuf a.s. Lama. Namun, kali
ini, kedua matanya penuh pendar cahaya. Gemerlap. Kemudian ucapnya pelan, “Tidak, Yusuf.
Cintaku yang begitu besar kepadamu, dulu, tidak lain hanyalah tirai yang ada di antara aku
dan Sang Kekasih. Kini, aku telah merobek tirai itu. Juga, mencampakkannya. Kini, Kekasihku
Yang Sejati telah kutemukan. Karena itu, aku tidak lagi memerlukan cintamu. Maafkan aku!”
Kecewakah Nabi Yusuf a.s. begitu menerima penolakan tawarannya untuk menikah oleh
Zulaikha?
“Nabi Yusuf a.s. tidak kecewa,” jawab Imam Abu Hamid Al-Ghazali dalam
karyanya Ihyâ’ ‘Ulûm Al-Dîn (vol. 13). “Putra Nabi Ya‘qub a.s. itu malah kian
gembira mendengar jawaban Zulaikha nan indah tersebut. Walau demikian, ia tidak
patah arang. Malah, dengan berbagai pendekatan yang meyakinkan, akhirnya Nabi
Yusuf a.s. berhasil menyunting Zulaikha dan menempatkannya di istananya sebagai
istri dan permaisuri tercinta dan terhormat. Pendar keelokan fisik Zulaikha pun
segera pulih. Malah, kini, pendar keelokannya kian bercahaya dan berkilau
cemerlang. Baik lahir maupun batin. Dan, berbeda dengan ketika masih menjadi istri
Potiphar, Zulaikha kini berubah sepenuhnya menjadi seorang perempuan bangsawan
yang senantiasa mendekatkan diri kepada Allah Swt. Setiap saat, ia tidak pernah
melewatkan waktunya untuk kian mendekatkan diri kepada-Nya.”
Nah, tutur lebih lanjut Al-Ghazali dalam karya puncaknya tersebut, suatu siang hari, Nabi
Yusuf a.s. yang lagi menikmati rehat, pulang ke istananya. Sebagai seorang suami, siang itu ia
berhasrat sekali bercengkerama dengan istri tercintanya nan elok itu. Tetapi, Zulaikha dengan
halus menolak permintaan suaminya nan sangat tampan itu. Ia meminta, agar Nabi Yusuf a.s.
menunda hasrat dan keinginannya yang menggebu itu. Hingga malam hari tiba. Nabi Yusuf
a.s. pun, dengan agak kecewa, menerima penolakan itu.
Kemudian, di malam harinya, ketika Nabi Yusuf a.s. memanggilnya, Zulaikha sekali lagi
meminta agar hasrat Nabi Yusuf a.s. itu ditunda hingga siang hari tiba. Ucapnya pelan, “Duhai
Yusuf, suamiku tercinta! Aku mencintaimu sebelum aku mengenal Allah Swt. Karena itu, begitu
aku mengenal Dia, bukankah sepantasnya tidak kusisakan lagi cinta untuk selain Dia dan aku
menghendaki pengganti Dia?”
Nabi Yusuf a.s. pun sejenak tercenung dan termenung mendengar ucapan Zulaikha yang
demikian itu. Tidak lama kemudian, sang Nabi berucap lirih kepada Zulaikha, “Duhai
Zulaikha. Istriku tercinta! Sejatinya, Allah Yang Mahaagunglah yang memerintahkan aku
melakukan hal yang demikian itu denganmu. Dia mengabarkan kepadaku, Dia akan
mengaruniakan dua putra lewat dirimu. Dia akan mengangkat kedua putra kita itu sebagai
Nabi.”
“Duhai suamiku tercinta,” jawab Zulaikha dengan wajah berpendar cemerlang. “Bila
memang Allah Swt. memerintahkan abang untuk bercengkerama denganku dan menjadikan
aku sebagai sarana terlaksananya perintah-Nya itu, tentu akuakan menaati perintah Allah Swt.
Karena dengan ketaatan itu, kalbuku kini menjadi tenang dan damai.”
“Luar biasa indah kisah percintaan Nabi Yusuf a.s. dan Zulaikha ini!” gumam pelan bibir
saya sambil menyimak lama ayat-ayat cinta yang termaktub dalam Al-Quran itu. “Kisah cinta
yang sarat dengan hikmah serta pengajaran: puncak cinta adalah kepada Allah Swt;
keberhasilan senantiasa diwarnai dengan pengorbanan dan perjuangan yang tidak mengenal
lelah; dan manusia memiliki potensi untuk “mengubah diri” serta kemudian meniti jalan lurus
walau sebelumnya ‘bernoda’!”
Salam takzim dari Baleendah, Bandung.

Filed under: MAYA.net, Tokoh, Uncategorized

Pasang Iklan Anda di sini

RSS catatan Kang Jalal

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS Kumpulan humor “Gus Dur”

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS TASAWUF

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS MOTIFASI

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS HASANAH

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

  • 163.479 hits

SPONSORSHIP

KAMAR PENGANTIN

PEPUNDHEN

DOKUMENT

SILATURRAHIM

free counters

%d blogger menyukai ini: