Santri Qiraati

referensi metode ilmu baca al-Quran

Kyai Rohmat, Koordinator “Single Fighter”

Perjalanan dari dermaga Kartini ke Karimunjawa saya duduk bersebelahan dengan “guru ngaji” sepuh. Beliau adalah kyai Rohmat. Menurut penuturan beliau saat ini beliau berumur 63 tahun lebih beberapa hari. Lebih muda 6 tahun dari Bapak saya H. Achmad Chalimi, atau hampir setengah dari umur saya.

Ibarat sebuah pohon yang semakin tua semakin kuat mengakar, atau buah kelapa yang semakin tua semakin me-“nyantan”, atau bagaikan peribahasa sudah banyak makan asam garam, itulah gambaran guru ngaji yang istiqomah.
وَأَنْ لَوِ اسْتَقَامُوا عَلَى الطَّرِيقَةِ لَأَسْقَيْنَاهُمْ مَاءً غَدَقًا
“Dan sekiranya mereka istiqamah dalam sebuah thariqah (jalan kebenaran, Islam), niscaya kami curahkan kepada mereka ‘air yang melimpah” (QS. al-Jin: 16)

Ibnu Katsir dalam Tafsirnya menjelaskan bahwa maksud “air yang melimpah” (ma’an ghadaqan) adalah kiasan rizki yang melimpah ruah, berkah dan baik. Sedangkan Sayyid Thanthawi dalam Tafsirnya menjelaskan “air yang melimpah” adalah tamsil dari kenikmatan yang banyak. Tentu makna rizki dan kenikmatan bukan hanya ukuran duniawi saja tapi juga ukhrawi, bukan pula ukuran jasmani saja tapi ruhani.

Saya teringat ketika Bapak saya ditanya oleh KH. Dachlan Salim Zarkasyi, kenapa Bapak menolak untuk disekolahkan pemerintah ke Jepang. Bapak menjawab “saya sudah tenang menjadi guru ngaji”. KH. Dachlan pun menangis mendengar pernyataan tersebut. Lain waktu KH. Dachlan kembali bertanya kepada Bapak, apa yang dirasakan saat ini. Bapak menjawab bahwa beliau saat ini merasakan ketenangan hati. Sekali lagi KH. Dachlan kembali pun menangis.

Kembali ke cerita kyai Rohmat. Beliau asli Boyolali, sebuah kota yang masuk pada kawasan Solo Raya. Setelah pensiun dari PNS Guru Agama 3 tahun yang lalu, saat ini kegiatan harian beliau ngajar ngaji.

Kyai Rohmat bertemu KH. Dachlan sekitar tahun 1992. Pertemuan beliau dengan KH. Dachlan bukan tanpa sengaja. Beliau menjadi delegasi dari MWC NU Boyolali yang saat itu berinisiatif membuat sebuah lembaga pendidikan al-Quran. Saat rapat MWC disepakati bahwa kyai Rohmat diutus untuk “sowan” ke KH. Dachlan untuk “ngangsu kaweruh” pendidikan al-Quran untuk anak-anak.

Sesampainya kyai Rohmat ke “ndalem” KH. Dachlan dan mengutarakan maksudnya, beliau ditashih oleh KH. Dachlan. Saat itu KH. Dachlan masih mentashih hanya dengan selembar kertas yang berisi beberapa materi bacaan Qiraati dan Gharib. Jika lulus boleh mengajar Qiraati. Jika lulus pada materi tertentu, maka hanya boleh mengajar di materi bawahnya.

Materi jilid dalam selembar kertas tersebut sudah dibuat sistematis dan urut dari termudah hingga tersulit. Sehingga jika seorang peserta tashih hanya lulus pada materi tertentu maka ia hanya boleh mengajar materi yang di bawahnya. Jika ia hanya lulus di materi jilid 4 misalnya, maka ia hanya boleh mengajar jilid 3. Jika lulus jilid 5, maka boleh mengajar jilid 4, begitu seterusnya.

Kyai Rohmat tidak yakin bisa lulus. Saat kyai Rohmat membaca dan melewati beberapa materi, KH. Dachlan meyakinkan beliau dengan mengatakan: “Jenengan sudah bagus”. Kemudian bacaanmu diteruskan hingga akhir bacaan. Selesai ditashih beliau dinyatakan salah 2 kali. Menurut KH. Dachlan kesalahan 2 kali adalah kesalahan yang terhitung sedikit, sehingga beliau ditanyakan lulus.

“Jenengan bersedia jadi koordinator Qiraati?” tanya KH. Dachlan kepada kyai Rohmat. Beliau hanya senyum dan begumam dalam hati, “Diijinkan menggunakan Qiraati saja sudah cukup bagi saya”. Setelah beberapa waktu berlalu beliau kembali mentashihkan calon guru yang akan membantu perjuangan beliau.

Sayangnya hingga saat ini Qiraati Cabang Boyolali belum berkembang dengan maksimal karena beliau adalah cabang tunggal. Berbeda dengan cabang yang lain yang idealnya diisi oleh 4 koordinator, yakni amanah Tashih, Metodologi, Buku dan Sekretaris.

Pernah dulu akan dibantu oleh ustadz yang asli dari Boyolali tapi kerjanya di Sidoarjo. Sayangnya ustadz yang diproyeksikan oleh Korpus sebagai amanah Metodologi Boyolali tersebut mengundurkan diri. Sehingga Korpus memutuskan tetap menunggalkan koordinator Boyolali. Jadilah hingga saat ini kyai Rohmat menjadi “single fighter”.

Semoga kedepan akan ada kader guru ngaji Boyolali yang ketawdluan dan keikhlasannya seperti kyai Rohmat. Amin.

Wallau A’lam
Karimunjawa, 5 April 2019

Filed under: Metodologia, Profil

Romantika ahli tajwid

✔ Dik, saat pertama kali berjumpa denganmu, aku bagaikan berjumpa dengan Saktah hanya bisa terpana dengan menahan nafas sebentar.
✔ Aku di matamu mungkin bagaikan Nun Mati diantara idgham Billaghunnah, terlihat, tapi dianggap tak ada.
✔ Aku ungkapkan maksud dan tujuan perasaanku seperti Idzhar,
jelas dan terang.
✔ Jika Mim Mati bertemu Ba disebut ikhfa Syafawi, maka jika aku bertemu dirimu, itu disebut cinta.
✔ Sejenak pandangan kita bertemu, lalu tiba-tiba semua itu seperti Idgham Mutamaatsilain
melebur jadi satu.
✔ Cintaku padamu seperti Mad Lazim. Paling panjang di antara yang lainnya.
✔ Setelah kau terima cintaku, hatiku rasanya seperti Qalqalah Kubro. Terpantul-pantul dengan
keras.
✔ Dan akhirnya setelah lama kita bersama, cinta kita seperti Iqlab,
ditandai dengan dua hati yang menyatu.
✔ Sayangku padamu seperti Mad Thobi’I dalam quran. Buanyaaakkk beneerrrrr.
✔ Semoga dalam hubungan, kita ini kayak idgham Bilaghunnah ya,
cuma berdua, Lam dan Ro’.
✔ Layaknya Waqaf Mu’annaqah, engkau hanya boleh berhenti di salah satunya, dia atau aku ?
✔ Meski perhatianku ga terlihat kaya Alif Lam Syamsiah, cintaku padamu seperti Alif Lam
Qomariah, terbaca jelas.
✔ Dik, kau dan aku seperti Idghom Mutajanisain. perjumpaan 2 huruf yang sama makhrajnya tapi
berlainan sifatnya.
✔ Aku harap cinta kita seperti Waqaf Lazim, terhenti sempurna di akhir hayat.
✔ Sama halnya dengan Mad ‘Aridh dimana tiap mad bertemu Lin Sukun Aridh akan berhenti,
seperti itulah pandanganku ketika melihatmu.
✔ Layaknya huruf Tafkhim, namamu pun bercetak tebal di fikiranku.
✔ Seperti Hukum Imalah yang dikhususkan untuk Ro’ saja, begitu juga aku yang hanya untukmu.
✔ Semoga aku jadi yang terakhir untuk kamu seperti Mad Aridlisukun.

Smoga bermanfaat utk memahami ilmu Tajwid…

Filed under: Ilmu Qiraat, Metodologia, Mutiara Kata, Uncategorized

Guru Ngaji

Suatu saat Gusti Nabi bilang kepada Abu Hurairah,
Hai Abu Hurairah, belajarilah Al-Quran lalu ajarkan kembali kepada manusia, sampai kematian menjumpaimu. Jika hal ini kau lakukan, maka para malaikat akan akan ber haji di atas pusaranmu, sebagaimana orang-orang mukmin berhaji di bait haram. Mereka akan terus berdoa, bergemuruh sambung menyambung di atas kubur mu.

Hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah di atas adalah salah satu bentuk ta’lim kepada sang guru. Yakni Rasulullah saw. Abu Hurairah adalah salah satu sahabat yang memang dipilih langsung oleh Rasulullah saw , sebab Abu Hurairah memang memiliki kelebihan tersendiri dalam hafalan dan sistem saving informasi pribadi yang bagus dan rapi.

Ketika satu rombongan dari kampungnya sowan menghadap kanjeng Rosul saw, so Abu Hurairah ini di tahan, tidak boleh kembali pulang, melainkan melainkan disuruh tinggal menemani dan menjadi saksi hampir seluruh aktifitas beliau (Rasulullah saw). Terbukti, belakangan Abu Hurairah adalah satu-satunya sahabat yang mampu memotret dan mengumpulkan serta menyimpan hadis-hadis nabi paling banyak.

Ada beberapa kalimat menarik yang perlu kita dalami dari hadis di atas.
Ada makna lain yang perlu kita ketahui di balik dhohirnya kalimat. Bahwa, kata ta’lim yang berujung dengan ilm, (belajar – ilmu). Artinya ilmu tidak akan didapat tanpa melalui proses belajar.

Hadlir untuk para guru

Bersambung…..

Filed under: Ahlul Quran, Metodologia

Kamus Lisanul Arab Online

KAMAR PENGANTIN

PEPUNDHEN

DOKUMENT

SILATURRAHIM

free counters