Santri Qiraati

referensi metode ilmu baca al-Quran

KEMATIAN dan PILPRES

**

Gus Baha’ sekalipun sering guyon, beliau juga sangat sering serius. Tapi setiap kali habis ngendikan serius, beliau lalu bercanda lagi. “Saya ini, guyon saja ada sanadnya…” ujarnya suatu saat sambil terkekeh, dan disambut gemuruh tawa para santrinya.

Suatu saat, beliau berkata dengan serius. “Untuk kali ini, saya serius. Karena sudah berhubungan dengan tauhid. Ini penting saya paparkan di sini. Urusan tauhid itu dijaga betul. Jangan sembrono.

“Saya sering mendengar ada orang bilang, ‘Saya jangan mati dulu, kalau saya mati, bagaimana dengan nasib istri dan anak saya’. Lho itu pernyataan apa? Kalau kamu mati ya mati saja. Sudah kehendak Allah. Diantar beberapa orang ke kuburan, setelah dikubur lalu dilupakan orang.

“Nasib istri dan anakmu ya itu biar diurus Allah. Kan di kehidupan sehari-hari banyak kita temui, perempuan yang dulu miskin, sengsara, begitu ditinggal mati suaminya lalu menikah lagi dengan laki-laki lain hidupnya tambah baik, tambah kaya, tambah bahagia. Anaknya juga begitu, punya bapak baru yang lebih sayang, lebih terhormat, dan lebih kaya.

“Gak usah drama dan lebay. Biasa saja. Kalau kamu mati ya mati saja. Kok seakan-akan kematianmu menyebabkan nasib orang lain makin buruk. Ada-ada saja.

“Demikian juga dengan Pilpres. Kalau kamu mau nyoblos ya nyoblos saja. Gak usah sok-sokan bilang kalau Capres A terpilih lalu kamu akan sejahtera. Rakyat sejahtera. Mana ada rakyat atau orang sejahtera gara-gara presiden.

“Apalagi sampai bilang, kalau tidak Si A yang jadi Presiden bagaimana nasib agama Islam? Itu pernyataan yang sembrono. Ngawur itu. Islam itu pernah ditinggal meninggal dunia Kanjeng Nabi, para sahabat, orang-orang saleh, dan Islam makin baik karena sudah kehendak Allah. Makin banyak penganutnya. Itu sudah ketetapan Allah. Tidak ada urusannya sama capres pilihanmu.

“Milih ya milih saja. Sewajarnya. Gak usah lebay. Biasa saja. Jadi orang itu yang biasa saja.”

Manteb memang kalau Gus Baha’ yang ngendikan. Saya cocok. Jadi ya silakan yang mau ikut pilpres. Milih baik, gak milih juga baik. Jangan merasa kalau memilih terus mulia. Kalau kamu kerja bakti gak pernah, sedekah maunya ngirit, jarang membantu orang, pelit, sukanya menjelek-jelekkan orang, punya hobi memfitnah, cuma karena merasa ikut nyoblos pilpres saja kok merasa lebih mulia dibanding orang lain.

Padahal mungkin orang yang gak ikut nyoblos justru gemar bersedekah, menyantuni anak yatim, berbakti sama orangtua, rajin kerjabakti, ikut menyelamatkan lingkungan dengan berbagai program penghijauan, aktif mengajar, tidak rakus, tidak sombong, dll.

Cuma nyoblos saja kok sombong. Merasa lebih baik dan lebih mulia. Sejak kapan kebaikan dan kemuliaan manusia diukur hanya dari urusan cuma coblos-coblosan? Jadi orang kok sembrono…

#FOKUS (Forum Komunikasi Santri Sarang)
#Muhibbin Gus Baha’.

Copy paste status, karena ttg gus Baha’

Filed under: Profil, Tokoh

Kyai Rohmat, Koordinator “Single Fighter”

Perjalanan dari dermaga Kartini ke Karimunjawa saya duduk bersebelahan dengan “guru ngaji” sepuh. Beliau adalah kyai Rohmat. Menurut penuturan beliau saat ini beliau berumur 63 tahun lebih beberapa hari. Lebih muda 6 tahun dari Bapak saya H. Achmad Chalimi, atau hampir setengah dari umur saya.

Ibarat sebuah pohon yang semakin tua semakin kuat mengakar, atau buah kelapa yang semakin tua semakin me-“nyantan”, atau bagaikan peribahasa sudah banyak makan asam garam, itulah gambaran guru ngaji yang istiqomah.
وَأَنْ لَوِ اسْتَقَامُوا عَلَى الطَّرِيقَةِ لَأَسْقَيْنَاهُمْ مَاءً غَدَقًا
“Dan sekiranya mereka istiqamah dalam sebuah thariqah (jalan kebenaran, Islam), niscaya kami curahkan kepada mereka ‘air yang melimpah” (QS. al-Jin: 16)

Ibnu Katsir dalam Tafsirnya menjelaskan bahwa maksud “air yang melimpah” (ma’an ghadaqan) adalah kiasan rizki yang melimpah ruah, berkah dan baik. Sedangkan Sayyid Thanthawi dalam Tafsirnya menjelaskan “air yang melimpah” adalah tamsil dari kenikmatan yang banyak. Tentu makna rizki dan kenikmatan bukan hanya ukuran duniawi saja tapi juga ukhrawi, bukan pula ukuran jasmani saja tapi ruhani.

Saya teringat ketika Bapak saya ditanya oleh KH. Dachlan Salim Zarkasyi, kenapa Bapak menolak untuk disekolahkan pemerintah ke Jepang. Bapak menjawab “saya sudah tenang menjadi guru ngaji”. KH. Dachlan pun menangis mendengar pernyataan tersebut. Lain waktu KH. Dachlan kembali bertanya kepada Bapak, apa yang dirasakan saat ini. Bapak menjawab bahwa beliau saat ini merasakan ketenangan hati. Sekali lagi KH. Dachlan kembali pun menangis.

Kembali ke cerita kyai Rohmat. Beliau asli Boyolali, sebuah kota yang masuk pada kawasan Solo Raya. Setelah pensiun dari PNS Guru Agama 3 tahun yang lalu, saat ini kegiatan harian beliau ngajar ngaji.

Kyai Rohmat bertemu KH. Dachlan sekitar tahun 1992. Pertemuan beliau dengan KH. Dachlan bukan tanpa sengaja. Beliau menjadi delegasi dari MWC NU Boyolali yang saat itu berinisiatif membuat sebuah lembaga pendidikan al-Quran. Saat rapat MWC disepakati bahwa kyai Rohmat diutus untuk “sowan” ke KH. Dachlan untuk “ngangsu kaweruh” pendidikan al-Quran untuk anak-anak.

Sesampainya kyai Rohmat ke “ndalem” KH. Dachlan dan mengutarakan maksudnya, beliau ditashih oleh KH. Dachlan. Saat itu KH. Dachlan masih mentashih hanya dengan selembar kertas yang berisi beberapa materi bacaan Qiraati dan Gharib. Jika lulus boleh mengajar Qiraati. Jika lulus pada materi tertentu, maka hanya boleh mengajar di materi bawahnya.

Materi jilid dalam selembar kertas tersebut sudah dibuat sistematis dan urut dari termudah hingga tersulit. Sehingga jika seorang peserta tashih hanya lulus pada materi tertentu maka ia hanya boleh mengajar materi yang di bawahnya. Jika ia hanya lulus di materi jilid 4 misalnya, maka ia hanya boleh mengajar jilid 3. Jika lulus jilid 5, maka boleh mengajar jilid 4, begitu seterusnya.

Kyai Rohmat tidak yakin bisa lulus. Saat kyai Rohmat membaca dan melewati beberapa materi, KH. Dachlan meyakinkan beliau dengan mengatakan: “Jenengan sudah bagus”. Kemudian bacaanmu diteruskan hingga akhir bacaan. Selesai ditashih beliau dinyatakan salah 2 kali. Menurut KH. Dachlan kesalahan 2 kali adalah kesalahan yang terhitung sedikit, sehingga beliau ditanyakan lulus.

“Jenengan bersedia jadi koordinator Qiraati?” tanya KH. Dachlan kepada kyai Rohmat. Beliau hanya senyum dan begumam dalam hati, “Diijinkan menggunakan Qiraati saja sudah cukup bagi saya”. Setelah beberapa waktu berlalu beliau kembali mentashihkan calon guru yang akan membantu perjuangan beliau.

Sayangnya hingga saat ini Qiraati Cabang Boyolali belum berkembang dengan maksimal karena beliau adalah cabang tunggal. Berbeda dengan cabang yang lain yang idealnya diisi oleh 4 koordinator, yakni amanah Tashih, Metodologi, Buku dan Sekretaris.

Pernah dulu akan dibantu oleh ustadz yang asli dari Boyolali tapi kerjanya di Sidoarjo. Sayangnya ustadz yang diproyeksikan oleh Korpus sebagai amanah Metodologi Boyolali tersebut mengundurkan diri. Sehingga Korpus memutuskan tetap menunggalkan koordinator Boyolali. Jadilah hingga saat ini kyai Rohmat menjadi “single fighter”.

Semoga kedepan akan ada kader guru ngaji Boyolali yang ketawdluan dan keikhlasannya seperti kyai Rohmat. Amin.

Wallau A’lam
Karimunjawa, 5 April 2019

Filed under: Metodologia, Profil

Menafsir Pesan KH. Dachlan Salim Zarkasyi

IKHLAS

Oleh Denmas Hadlir [i]

KH. Dachlan Salim Zarkasyi (Yai Dachlan) adalah salah seorang tokoh fenomenal di bidang dunia pendidikan al-Quran untuk anak-anak. Dari beliaulah muncul ide Taman Pendidikan al-Quran yang pertama di Indonesia, yang hingga sekarang ini populer di tengah-tengah masyarakat Indonesia dengan sebutan TKQ/TPQ atau TKA/TPA dan seterusnya. Disebut pertama karena memang jauh sebelumnya, proses pendidikan al-Quran di lingkungan kita masih sangat klasik yakni dengan metode sorogan (individual/baghdadiyah), dengan metode ini seorang guru dapat mengajarkan puluhan atau bahkan ratusan santri/siswa dalam satu waktu. Belum lagi manajemennya yang masih berkutat pada alladzi fiih (apa adanya).

Namun setelah munculnya Qiraati (1963) dunia pendidikan al-Quran (khususnya untuk anak-anak) mengalami perombakan total. Dari pola pengajaran, waktu, tempat, materi dan guru pengajarnya harus memenuhi kualifikasi tertentu jika ingin berhasil. Belum lagi mengenai hal-hal yang berkaitan dengan kefashihan. Walhasil, proses pengajaran dan pembacaan al-Quran yang selama ini dirasa benar sepertinya harus ditinjau ulang. Sebagai contoh kecil, coba kita perhatikan yang telah membudaya dalam lahjah Jawa biasa dengan pengucapan ton dan ten, padahal seharusnya tun dan tin. Baca entri selengkapnya »

Filed under: Metodologia, Profil, , , , , , , , , , , , ,

Kamus Lisanul Arab Online

KAMAR PENGANTIN

PEPUNDHEN

DOKUMENT

SILATURRAHIM

free counters