Santri Qiraati

referensi metode ilmu baca al-Quran

Korelasi Doa Ibrahim dan Ismail yang “Halim”

Khutbah jumat yang kebetulan relevan dengan idul qurban, oleh kyai Ahli tafsir saya Dr. KH. Musta’in Syafi’i, M. Ag semoga banyak memberi manfaat pda kita selamat mrmbaca..

Khutbah Tebuireng

September 1, 2017

Oleh: KH. A. Musta’in Syafi’ie

إِنَّ الْحَمْدَلِلهِ، نَحْمَدُهُ وَ نَسْتَعِيْنُهُ وَ نَسْتَغْفِرُهُ، وَ نَعُوْذُ بِهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَ اَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا، أَمَّابَعْدُ

فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، اِتَّقُوْ اللهَ، اِتَّقُوْ اللهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ، وَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ، أَعُوْذُ بِالله مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِيْنَ، فَبَشَّرْنَاهُ بِغُلاَمٍ حَلِيْمٍ ، صَدَقَ اللهُ الْعَظِيْمُ

Pernah terjadi pada zaman Hadratu Rasul Nabiyullah Muhammad Saw. Hari id bertepatan pada hari Jumat. Setelah acara id selesai memang nabi mempersilahkan orang-orang yang menginginkan tidak perlu kembali lagi ke masjid, dalam artian, menjalankan salat Jumat. Menjadi berbagai tanggapan di kalangan fuqoha’.Pertama, itu bersifat umum, tidak memandang apakah tetangga masjid atau orang yang jauh dari masjid. Sehingga boleh, tadi pagi sudah salat Id kemudian cuma salat zuhur saja.

Tidak sama dengan Imamuna as-Syafi’imemandang bahwa statement Hadratu Rasul itu hanya diperuntukkan bagiahlul bawad, orang-orang yang jauh untuk ke masjid dari pelosok-pelosok. Sedangkan orang-orang yang ada di sekitar masjid, tetap kembali salat Jumat. Terserah mau pilih yang mana, di kitab-kitab fikih biasa disebut dengan judul tawaqu’ul ‘idaini ada dua hari raya terjadi di satu hari.

Kita bisa memetik pelajaran-pelajaran yang ada pada Iduladha. Setiap kali Idul Adha, aktornya sama saja.Nabiyullah Ibrahim, Nabiyullah Ismail, dan ibunda Hajar. Kurban memang tradisi kuno yang sangat beresiko besar. Nabiyullah Ibrahim yang diperkirakan hidup pada 1400 tahun SM, jauh sebelumnya memang tradisi kurban nyawa manusia itu ada. Seperti di Mesir, yang dikurbankan adalah gadis yang paling cantik. Sedangkan di Iraq, yang dikurbankan adalah orang saleh. Di Skandinavia, yang dikurbankan dipilih seorang bayi.

Bahasa kurban, idz qorroba qurbana.Kurban, qoruba yaqrubu. Al Quran tidak menggunakan bentuk fi’il mudhori’yaqrubu tapi menggunakan bentuk yaqrobu. Tidak sama denganqurbah, itu bermakna dekat. Kalauqurban yang mengikuti ziyadah alif dannun, itu bermakna mubalaghoh yang berarti dekat sungguhan. Qira’ah,bacaan. Quran, bacaan sungguhan. Dan lain-lain.

Bahwa begitulah cara mereka untuk berdekat-dekat dengan Allah, menggunakan media-media materi. Menurut persepsi masing-masing. Skandinavia kenapa memilih bayi, karena dianggap bersih. Belum ada dosa. Berarti akses ke Allah itu lebih mudah. Allah Maha Suci dan bayi adalah perantara yang digunakan orang-orang Skandinavia.

Iraq menggunakan (kurban) orang saleh. Karena orang salehlah, yang betul-betul mendekat. Sudah dewasa dengan religious experience, pengalaman keagamaan yang tinggi.Spiritluage ritual. Bagaimana dia bisa suluk, bagaimana ‘irfan, bagaimana menangkap emanasi Tuhan, pancarannur Tuhan. Maka orang saleh inilah yang harus dijadikan media. Mereka dipilih dan sedia untuk dikurbankan.

Tidak sama dengan budaya Mesir yang memang dipenuhi budaya indah. Belum ada wanita-wanita di dunia ini yang bisa bersolek, Mesir sudah pandai menata rambut. Bahkan, kisah-kisah seksual yang disebut dalam al Quran, itu terjadi di Mesir. Penggodaan Zulaikha kepada Nabi Yusuf.

Untuk itu, persepsi masyarakat Mesir untuk mendekati Tuhan itu diambil indahnya. Tuhan itu Maha Indah. Maka media yang paling cocok untuk men-download keindahan Tuhan adalah mempersembahkan yang terindah, itulah gadis cantik atau miss universe di Mesir.

Tibalah era Ibrahim di kabilah Jurhum. Allah mengoreksi seluruh persepsi masyarakat, yang mau mendekat kepada-Nya. Mau mendekat kepada Allah menggunakan kurban anak manusia, oleh Allah dipandang terlalu mahal. Terlalu besar resikonya. Dan Tuhan sendiri immateri, tidak mau menerima yang materi.

Oleh sebab itu al Quran menunjuk, Allah tidak menerima dagingnya tidak juga menerima darahnya. Tetapi yang dipandang dan diterima Allah adalahwalakin yanaluhu at-taqwa minkum.Bagaimana kehebatan bertakwa yang bisa dijadikan untuk mengunduh rahmat Tuhan.

Untuk itu, media yang diambil disini adalah media (padang pasir) yang sangat gersang. Bisa dibayangkan, seorang ibu yang baru melahirkan anak. Tiba-tiba, ditinggal tanpa bekal apapun. Kenapa Tuhan setega itu. Kenapa Ibrahim setega itu. Itu pasti melanggar HAM, mana ada anak yang mau disembelih. Tetapi dahulu tidak ada HAM, yang ada itu tauhid, Allah.

Juga, dahulu tidak ada kekerasan terhadap wanita. Koreksi terhadap wanita-wanita sekarang yang cinta dunia. Belanja sedikit, telat sedikit, langsung menggerutu. Hendaklah mencontoh ibunda Hajar. Punya anak kecil, ditinggal begitu saja dan ditanya, “mas, apakah ini kehendakmu sendiri atau perintah Allah?”. Dan Ibrahim menjawab dengan isyarat, “Allah”. Langsung Hajar mengatakan idzan lan yudhoyyi’ana, kalau begitu, tidak mungkin ditelantarkan. Allah tidak akan menelantarkan hamba-Nya jika Allah benar-benar diperankan.

Sangat mustahil. Tetapi tidak mustahil bagi Allah. Media tidak cukup memenuhi syarat. Jangankan rumah, air saja tidak ada (di padang pasir). Tapi kan ada Allah.

Andaikan peristiwa ini terjadi di Jawa, itu tidak mengherankan. Karena banyak tumbuh-tumbuhan, buah-buahan, dan mesti mendapat makanan. Tetapi dipilih media yang gersang, ghoiri dzi zar’i. Bisa dibayangkan, bergeraklah kaki Ismail menendang-nendang ke dataran pasir kemudian muncrat air. Begitu meluap, Hajar mendekati lalu mengatakan zam zam, stop stop (berhenti). Kata stop stopitu menjadi kontrol otomatis bagi sumur zam-zam yang kedalam dari permukaan tanah hanya 10,6 kaki. Sekitar 3-4 meter sudah menyumber seperti itu. Dan pada saat-saat yang kritis dipompa per detik itu menghasilkan 8000 liter per detik.

Menjaga Iman dan Takwa

Meskipun dikuras dengan lima kali kecepatan, andaikan itu berkurang banyak. Tapi cukup 11 menit sudah pulih kembali. Karena ada kontrol otomatis dari Hajar, dengan password, zam-zam. Dan jika dibiarkan dipompa terus, sangat mungkin seantero Arab bahkan dunia ini bisa tenggelam.

Tidak masuk akal? Iya. Bagaimanapun tidak masuk akal. Hajar tidak tahu, apa yang terjadi, service yang diberi Tuhan, setelah Tuhan diperankan. Burung-burung yang mempunyai penciuman jauh, begitu ada air yang meluap mereka menghampiri dan terbang di atas sumber itu. Berputar-putar, semakin banyak dan semakin banyak.

Burung-burung yang berputar tersebut, bisa dilihat oleh kafilah-kafilah yang melintas dari kejauhan. “Oh, disana ada burung berputar-putar, pasti disana ada sumber air dibawahnya.” Maka para kafilah dan para pedagang padang pasir itu berangkat dan menuju ke tempat itu.

Disitulah Allah mentakdirkan, bagaimana cara memberikan makanan karena tawakkal (pasrah total). Ada yang datang membawa apel, jeruk, dan yang lain, semua ditukarkan dengan air. Semua yang dibutuhkan oleh Hajar dan Ismail itu dipenuhi oleh Allah. Cukup duduk manis. Karena ketawakkalan.

Ismail besar umur 13 tahun. Ibrahim datang. Tapi ingat pada saat itu, anak yang lama didoakan oleh bapaknya agar Allah segera memberi keturunan, diberikanlah ghulamin halim. Anak yang betul-betul pangerten (mengerti). Meskipun di surah lain dengan redaksibi ghulamin ‘alim, tetapi pada konteks ini menggunakan ghulamin halim.

Peristiwa Ibrahim dan Ismail ini sebagai koreksi. Sekaligus peringatan kepada kita, apakah betul-betul kita dalam mendidik anak. Itu apa tujuannya. Mencetak anak yang pintar murni, atau anak yang berprilaku benar. Ini persoalannya.

Rabbi habliy min ash-sholihin, kemudian diberitahu dengan informasi, iya Kami beri bi ghulamin halim. Seperti apa kriteria anak yang benar. Hasil pendidikan yang benar itu seperti apa. Yaitu kira-kira seperti Ismail. Karena perintah Allah, “nak, aku tadi malam bermimpi menyembelihmu, fandhur ma dza tara, pikirkanlah apa pandanganmu”. Ismail umur 13 tahun sanggup berkata totalitas tanpa ada catatan. “Ya abati, if’al ma tu’mar,monggo”.

Sungguh minta maaf. Kita sama-sama mempunyai anak. Sama-sama hidup di alam modern. Perhatikan anak kita, kalau dipanggil orang tua itu segera memenuhi panggilan atau tidak. Menurut hasil seminar nasional dulu di Bali tentang fulldays. Salah satu direkomendasikan untuk anak fulldaysyang terlalu capek di sekolah. Satu, cenderung uring-uringan. Tiba dirumah sudah capek. Melakukan apa sedikit sudah tidak mau, minta dilayani.

Memang disekolahan diguyur pengetahuan banyak, tapi mohon maaf terkadang menyiapkan pakaian sendiri saja tidak mau. Memakai sepatu sendiri tidak mau. Melepas baju sendiri ogah-ogahan. Apakah seperti itu hasil pendidikan kita kedepan.

Tidak ada, khutbah itu ditujukan kepada siapa dan siapa. Kewajiban khatib adalah menyampaikan. Apa yang dimaksud dengan ghulamin halim.Silahkan orang tua ingin memodernkan diri. Dengan memberikan anak mainan-mainan yang sesungguhnya merusak. Ada game, iPad, tablet, dan sebagainya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa anak yang suka bermain begitu itu, cenderung tidak memperdulikan lingkungan. Perhatikan anak-anak kita, waktu makan apakah mereka mau mencuci piringnya sendiri. Apakah ditaruh begitu saja, dan orang tua disuruh untuk mencuci. Apakah begitu, hasi pendidikan kita?Saya tidak membicarakan soal kepintaran, karena al Quran disini tidak bicara pintar tetapihalim.

Untuk itu, mereka-mereka yang maingame seperti itu, cenderung ingin menang sendiri. Suka emosi. Bagaimana tidak emosi, bermain gameyang sering kalah karena diciptakan (oleh game developer) dengan setengah kalah. Begitu gagal dalam game,seketika membanting barang-barang. Itu menunjukkan, bahwa dia betul-betul sudah mulai agak rusak.

Tidak sama, dengan permainan-permainan orang pedesaan. Permainan petak umpet, gobak sodor, “silahkan kalian bersembunyi”, setelah itu, “dor, kamu kena, kamu kena”. Mereka tahu bagaimana cara bersembunyi, dan mereka punya konsekuensi ketika gagal (kena) dan menjadi yang jaga. Belajar menerima konsekuensi kekalahan. Belajar dari lingkungannya sendiri. Belajar bermain taktik, tapi menerima resiko dari taktik yang diperankan.

Jangan coba-coba, anak desa bermain petak umpet begitu kena tidak mau jaga. Akan dihukum oleh lingkungannya sendiri meskipun sanksi-sanksi itu tidak tertulis. “Jangan mau bermain dengan anak itu, dia kalah tidak mau jaga.” Akan disanksi menurut lingkungannya sendiri. Bukankah yang begini ini justru lebih mendidik.

Imamuna as-Syafi’i rahimahullah, ketika awal kali mau nyantri kepada imamuna Malik bin Anas, ditanya dahulu. Namamu siapa, Muhammad. Apa komentar Imam Malik, nur fi qolbika.Aku melihat cahaya dihatimu. Wa la tu’fi’hu bi al-ma’ashi. Jangan padamkan cahaya itu dengan maksiat. Untuk itu di pesantren, al-aadab qobla ‘ulum,mendidik anak itu dengan tata krama dahulu sebelum pintar.

Pertanyaan, sekolah siapa yang berani tidak menaikkan kelas terhadap anak yang tidak salat. Yang suka berkata kotor dan berakhlak tidak baik. Apakah ada sekolahan yang menggunakan kriteria itu. Terkadang, ada yang jelas-jelas menyalahi aturan pondok, dikeluarkan dari pondok tapi masih diikutkan ujian negara.

Itu artinya yang dibidik dari lembaga itu hanya nilai saja. Apa artinya sebuah angka. Tapi kalau dirinya sendiri tidak bisa dibentuk seperti ghulamin halim.Inilah PR kita sebagai pendidik. Didik dulu anak kita sebaik mungkin dengan adab, al aadab qobla ‘ulum. Semoga bermanfaat

Iklan

Filed under: 5. MASYHAR, Ahlul Quran

Bom Waktu Tayangan Hafidz Televisi

Televisi memilih anak belia sebagai objek tayangan karena kecenderungan orang lebih netral (suka) ketika melihat anak-anak dengan polahnya yang menggemaskan. Al-Quran diseret-seret ke dalam arus pasar yang sangat pragmatis.

Tahun-tahun belakangan muncul program televisi yang menayangkan anak kecil penghafal Al-Quran. Label hafiz Al-Quran pun disematkan oleh pihak penyiar kepada anak-anak lucu nan belia ini. Tiket surga bagi orang tuanya, syafaat dari api neraka. Penerus generasi emas Islam di masa mendatang.

Gambaran sempurna kemuliaan dan keagungan Al-Quran yang mudah diamalkan dan dilantunkan, sebagai representasi Islam hakiki yang menjunjung tinggi Al-Quran sebagai idola penyejuk hati nurani. Setidaknya frame seperti ini yang menjadi kerangka bingkai program televisi dengan tajuk pencarian bakat tersebut.

Padahal sejak masa Syaikh Shaleh Darat, kaum santri di pesantren-pesantren salafdihimbau agar tidak memperjual-belikan Al-Quran dengan harga murah. Tidak melantunkannya untuk hanya sekedar mencari harta, apalagi popularitas.

Hal ini bisa kita temukan dalam kitab ilmu Al-Quran karangannya yang berjudul al-Mursyid al-Wajiz fi Ilm Al-Quran al-Aziz. Dilanjutkan oleh muridnya yakni Kiai Moenawwir Krapyak yang sangat bersahaja. Kemudian diteruskan oleh Kiai Arwani Kudus yang melarang setiap santrinya unjuk gigi di ajang MTQ.

Tak mengherankan apabila doa Kiai Arwani mustajab, setiap muridnya yang lancang ikut MTQ selancar apapun hafalannya akan rontok begitu naik podium, ini karena beliau adalah sosok Kiai yang tulus. Para Kiai menempatkan Al-Quran sebagai semulia-mulianya petunjuk dari Allah, bukan sekedar alat untuk mencari harta benda apalagi popularitas.

Idealitas para Kiai di atas adalah cerminan dari sikap hati-hati atas peringatan Rasulullah saw agar jangan sampai Al-Quran hanya ditempatkan di kerongkongan. Al-Quran hanya dijadikan alat, teks kering yang meskipun indah namun menjadi kosong tak hidup.

Keindahan Al-Quran dimanfaatkan hanya untuk kepentingan pribadi bukan untuk kepentingan Al-Quran itu sendiri. Para Kiai khas Nusantara anti akan hal semacam ini, ulama kita cenderung lebih bijaksana dan berhati-hati.

Ajang hafiz televisi adalah bentuk paling ekstrem dari gerakan materialisasi Al-Quran, lebih berbahaya dari MTQ. Nalar penyiaran televisi yang akrobatik-dramatis disusupkan dalam bakat hafalan Al-Quran. Mengubah Al-Quran hanya menjadi tontonan semata, sarana untuk unjuk kebolehan mencapai popularitas.

Televisi memilih anak belia sebagai objek tayangan karena kecenderungan orang lebih netral (suka) ketika melihat anak-anak dengan polahnya yang menggemaskan. Sementara di sisi lain si anak akan termotivasi menghafal Al-Quran karena hendak dipentaskan semata.

Intinya, Al-Quran diseret-seret ke dalam arus pasar yang sangat pragmatis. Bagaimana tayangan hafiz terlihat menghibur bahkan membius penontonnya. Terlebih pada bagian umbar-umbaran amal dan pujian yang mendapatkan porsi cukup banyak di samping pertunjukan hafalan.

Orang tua si anak diajak maju ke panggung untuk menceritakan bagaimana kisah pilunya hingga anaknya bisa jadi hafiz macam itu. Dari amalan kecil hingga besar, dari yang wajib hingga yang sunnah tidak luput ia ceritakan.

Sedangkan mengumbar amal keseharian adalah hal yang sangat dihindari oleh ulama kita, karena riskan akan timbul riya’ di dalamnya. Sementara riya’ adalah perbuatan syirik khafiy atau tersembunyi yang jelas ini dibenci karena akan menggugurkan amal.

Hal ini sebenarnya sudah sangat masyhur dan kurang elok jika disinggung, namun apa boleh buat nilai normatif ini nampak sudah semakin tergerus oleh zaman.

Selanjutnya si anak dipuji-puji sampai senyumnya berubah tidak lagi lugu seperti dulu. Pujian yang tidak pada tempatnya itu mengandaikan senyum anak manusia menjadi senyum malaikat penjaga surga.

Ia kehilangan senyum manusianya sedari dini karena mulai merasa hanya ia yang pantas menjadi tiket orang tuanya menuju surga dan penyelamat dari api neraka.

Jangan harap si anak mendapatkan pelajaran ideal dari ajang ini karena yang ia dapat hanya bagaimana caranya menjadi penampil Al-Quran, bukan ‘pembawa’ Al-Quran.

Akhirnya Al-Quran hanya ada di kerongkongan semata, hanya menjadi ujaran-ujaran tak bermakna bagi mereka.

Televisi tidak akan menayangkan, pada ajang ini, nilai-nilai anti radikalisme, prinsiptawazun, tawasuth, dan tasamuh. Alasannya sederhana, karena nilai-nilai tersebut adalah obat bagi umat Islam agar dapat berpikir logis dan karena itu obat, pasti akan terasa sedikit pahit dan menjemukan.

Sementara bagi televisi setiap yang menjemukan adalah najis dan patut dihindari meskipun subtansinya baik. Mereka hanya mengejar rating, tayangan jelek bisa anjlok tak ditonton orang. Harusnya nalar pragmatis macam ini diwaspadai dan disadari oleh umat. Agar tak mudah kagum, tak gampang kena sihir oleh nalar layar kaca.

Selanjutnya mereka akan membela diri bahwa kegiatannya tersebut termasuk bagian dari dakwah. Sudah saatnya umat muslim merajai segmen yang lebih luas, dakwah di layar kaca tentu lebih efektif dan progresif. Itu kata mereka.

Semestinya mereka paham bagaimana idealitas dakwah. Bahwa tidak ada yang instan dalam berdakwah, jalan dakwah instan hanya dilakukan oleh ekstrimis untuk merekrut anggota teroris. Dakwah instan hanya membius, menyajikan hanya hak-hak yang indah-indah tanpa disertai kewajiban yang harus ditanggung.

Semestinya mereka mengerti bedanya merajai dan dirajai. Begitu mereka sudah bisa masuk menjadi bagian dari program televisi mereka merasa sudah dapat menguasainya, menakhlukkannya. Padahal yang terjadi mereka dipaksa untuk tunduk pada nalar pragmatis layar kaca. Didekte bagaimana caranya bicara, bercerita, menjawab, menghadapkan wajah, ekspresi, hingga memakai busana. Mereka terjerumus dalam alur setting layar kaca, celaka.

Beruntung para santri tak hendak dan tak ingin mengikuti ajang pencarian bakat macam itu. Nalar santri adalah nalar penjaga khazanah keilmuan yang termasuk di dalamnya ilmu Al-Quran.

Sedangkan tayangan macam itu sangat riskan menjadi tradisi meletakkan Al-Quran di kerongkongan. Riskan menjadi ajang kaderisasi dan pembibitan sosok Abdullah bin Muljam di Nusantara. Dikhawatirkan menjadi bom waktu yang akan mengahancurkan tradisi ilmu Al-Quran yang telah dibangun oleh para ulama dengan karya dan usaha sepanjang hayatnya.

https://islami.co/bom-waktu-tayangan-hafiz-televisi/

Filed under: Ahlul Quran, MAYA.net, , , , , , , ,

Kuntul nyucuk mbulan

“Cung, kalau ngaji quran itu yang sungguh-sungguh. Sebab quran itu kalau tidak syafaat, ya laknat. Pilihannya ya cuma dua itu. Quran itu hurufnya ada 4: ق،ر،ان.

Pertama qaf. Sifatnya qalqalah, artinya guncang. Setiap orang yang menempuh jalan untuk menjadi ahlul quran akan diuji Gusti Allah dengan cobaan-cobaan yang menggonjang-ganjingkan hidupnya Cung.

Kedua ro’. Sifatnya takrir, artinya mengulang-ulang. Meskipun cobaan yang mendera jalanmu kelak akan mengguncang hidupmu, sekali-sekali jangan kau pernah berhenti membaca Cung, karena quran itu harus selalu dibaca berulang-ulang meskipun sudah khatam. Deres! Kalau tidak, Sered! Lalu

ketiga hamzah. Sifatnya syiddah, berarti kuat. Maksudnya, kamu harus benar-benar kuat menjaga quranmu dengan membaca dan membacanya lagi dan lagi meskipun hidupmu digonjang-ganjingkan masalah yang tak sudah-sudah. Sapa ngrumat keramut, sapa ngremeh keremet Cung.

Dan yang terakhir nun. Sifatnya idzlaq, artinya ringan. Insyaallah Cung, kalau kamu kuat dan sabar atas segala coba yang mengguncang jiwa raga, sembari mengistiqomahkan ngajimu dengan terus-menerus nderes quranmu, insyaallah hidup-matimu akan terasa ringan Cung, seringan mulutmu saat mengucap nun.”

Wejang Mbah Jogo kepada Paejan, dalam “Kuntul Nucuk Mbulan”

Filed under: Ahlul Quran

KAMAR PENGANTIN

PEPUNDHEN

DOKUMENT

SILATURRAHIM

free counters