Santri Qiraati

referensi metode ilmu baca al-Quran

KISAH JENAZAH YANG DISHOLAWATI 70 RIBU MALAIKAT

ASSALAMUALAIKUM

Assalamu ‘alaikum warohmatulloh wabarokatuh

Kisah ini diriwayatkan oleh Anas bin Malik r.a.

Pada suatu pagi Rosululloh saw bersama dengan sahabatnya Anas bin Malik r.a. melihat suatu keanehan. Bagaimana tidak, matahari terlihat begitu redup dan kurang bercahaya seperti biasanya.

Tidak lama kemudian Rosululloh saw dihampiri oleh Malaikat Jibril. Lalu Rosululloh saw bertanya kepada Malaikat Jibril : “Wahai Jibril, kenapa Matahari pagi ini terbit dalam keadaan redup? Padahal tidak mendung?”

“Ya Rosululloh, Matahari ini nampak redup karena terlalu banyak sayap para malaikat yang menghalanginya.” jawab Malaikat Jibril.

Rosululloh saw bertanya lagi : “Wahai Jibril, berapa jumlah Malaikat yang menghalangi matahari saat ini?”

“Ya Rosululloh, 70 ribu Malaikat.” jawab Malaikat Jibril. Rosululloh saw bertanya lagi : “Apa gerangan yang menjadikan Malaikat menutupi Matahari?”

Kemudian Malaikat Jibril menjawab : “Ketahuilah wahai Rosululloh, sesungguhnya Alloh SWT telah mengutus 70 ribu Malaikat agar membacakan sholawat kepada salah satu umatmu.”Siapakah dia, wahai Jibril?” tanya Rosululloh SAW.

Dia adalah Muawiyah” jawab Malaikat Jibril. Rosululloh SAW bertanya lagi : “Apa yang telah dilakukan oleh Muawiyah sehingga saat ia meninggal mendapatkan kemuliaan yang sangat luar biasa ini ?”

Malaikat Jibril menjawab : “Ketahuilah wahai Rosululloh, sesungguhnya Muawiyah itu semasa hidupnya banyak membaca Surat Al-Ikhlas di waktu malam, siang, pagi, waktu duduk, waktu berjalan, waktu berdiri, bahkan dalam setiap keadaan selalu membaca Surat Al-Ikhlas.”

Malaikat Jibril melanjutkan penuturannya : “Dari itulah Alloh SWT mengutus sebanyak 70 ribu malaikat untuk membacakan sholawat kepada umatmu yang bernama Muawiyah tersebut.”

Subhanalloh…Walhamdulillah…Wala ilaha illalloh…Wallohu akbar.

Rosululloh SAW bersabda : ”Apakah seorang di antara kalian tidak mampu untuk membaca sepertiga Al-Qur’an dalam semalam?” Mereka menjawab, “Bagaimana mungkin kami bisa membaca sepertigai Al-Qur’an?”

Lalu Nabi SAW bersabda, “Qul huwallahu ahad itu sebanding dengan sepertiga Al-Qur’an.” (H.R. Muslim no. 1922)

Semoga kita dapat mengambil pengetahuan yang bermanfaat dan bernilai ibadah dan bisa meningkatkan ketakwaan kita kepada Alloh SWT.

Aamiin ya rabbal ‘alamiin

Filed under: Tokoh

Mbah Kyai Chusen Jenu, Kyai Wira’i dari Bumi Wali

(Menelusuri Rekam Jejak Mahaguru Pendiri Madrasatul Qur’an Tebuireng)

Tuban merupakan kabupaten di ujung barat daya provinsi Jawa Timur. Tuban dikenal sebagai Bumi Wali karena begitu banyak auliya’ penyebar cahaya islam seperti Sunan Bonang, Maulana Ibrahim Asmoroqondi, Sunan Bejagung. Tuban adalah Kota Santri yang banyak memproduksi ulama’-ulama pengemban dan penyebar kalam illahi Rabbi.

Nun jauh di tepi Pesisir Tuban tepatnya di Desa Jenu tersebutlah Mbah Kyai Chusen, seorang Ahlul Qur’an yang begitu alim khususnya dalam bidang ilmu Qiro’at. Putra dari Kyai Hasan, Ulama asli Singgahan, Tuban ini sempat menempuh studi di Tanah Suci setelah beberapa lama menimba ilmu di berbagai masyayikh di tanah air. Berkat kealiman dibarengi keistiqomahan serta keikhlasan, kelak cahaya Qur’ani akan berpendar ke penjuru tanah air.

Keluarga Sederhana
Mbah Kyai Chusen adalah ulama kelahiran Dusun Podang, Desa Laju Lor, Kecamatan Singgahan Kabupaten Tuban yang berjarak +/- 40 KM dari Pusat Kota Tuban. Beliau adalah putra dari Mbah Hasan Podang.

Nama ibu beliau sampai saat ini namanya tidak diketahui, karena menurut pengakuan Ibu Husniyah, saat kami temui di kediaman beliau di Dusun Tanggir, Lajur Lor, Singgahan, Tuban Ahad (3/10), karena dalam adat masyarakat desa banyak di antara mereka yang tidak tahu nama leluhurnya. Kalau pun tahu hanya nama panggilan bukan nama lengkapnya.

“Bapak setelah khitan, diajak Syekh Shodaqoh dari Kudus untuk berangkat ke tanah suci untuk belajar disana,” tambah Bu Husniyah, putri Mbah Kyai Chusen yang masih hidup.

Minimnya informasi ini juga tentang Mbah Kyai Chusen juga berlanjut pada tidak diketahuinya tanggal kelahirannya. Hal ini juga dikarenakan beliau terlahir sebagai anak tunggal.

Dari sebuah sumber dikatakan bahwa Mbah Kyai Husein masih terhitung keturunan Mbah Abdul Jabbar, yang dimakamkan di Nglirip, Mulyoagung, Singgahan. Jika benar demikian maka beliau masih memiliki hubungan kekerabatan dengan Mbah Abdus Salam (Mbah Sechah) yang mendirikan cikal bakal Pondok Pesantren Tambakberas, Jombang dan menjadi leluhur dari pesantren Tebuireng dan Denanyar.

Ngaji di Bumi Suci
Sejauh pengamatan penulis ketika melakukan penelusuran dengan bertemu dengan keturunan Mbah Kyai Chusen juga tidak diketahui kepada siapa beliau belajar di Indonesia. Hanya tersiar kabar beliau pernah mondok di Gresik, itupun tidak diketahui kapan dan dimana beliau belajar di Kota Pudak.

Sebagaimana yang telah penulis sebutkan diatas, bahwa Kyai Chusen muda diajak oleh Syekh Shodaqoh seorang ulama dan saudagar dari Kota Kudus ketika masa remaja. Dalam rihlah ilmiahnya di Tanah Suci memang belum terlacak kepada ulama siapa beliau belajar.

Namun melihat dari nama pesantren yang kelak didirikannya Tarbiyah al-Huffadz Manba’u Al-Fakhriyah Al-Hasyimiyah As-Shaulatiyah, maka boleh jadi beliau sempat belajar di Madrasah yang didirikan pada 1292 H oleh Syekh Rahmatullah Ibnu Khalil al-Hindi ad-Dahlawi, Ulama besar kelahiran India yang nasabnya bersambung kepada Usman bin Affan RA.

Madrasah Shaulatiyah adalah madrasah ahlussunnah wal jamaah yang didirikan di dekat Masjidil Haram, Makkah al-Mukarramah. Di madrasah legendaris menjadi kawah candradimuka ulama nusantara lain seperti Hadratus Syekh KH. Hasyim Asy’ari (Pendiri Nadhlatul Ulama), Tuan Guru Zainuddin Abdul Majid (Pendiri Nahdlatul Wathan), Syekh Mustofa Husein Nasution (Pendiri Pondok Pesantren Al-Musthafawiyah, Mandailing Natal, Sumatera Utara), al-Musnid Dunya Syekh Yasin al-Fadani, dan ulama-ulama lainnya.

Ketika belajar di Madrasah Shaulatiyyah bisa jadi beliau berjumpa dengan Kyai Bisyrul Hafi yang juga berasal dari Tuban. Kelak kawannya tersebut akan dinikahkan dengan putri Mbah Kyai Chusen, Azizah.

Dikisahkan Kyai Bisyrul Hafi nyantri di Mekkah selama delapan belas tahun, dan yang terlama di Madrasah Shaulatiyyah. Ketika pulang ke tanah air dan menikah dengan Nyai Azizah binti KH. Chusen, kelak salah satu putrinya akan diberi nama Aribah Shaulatiyah, karena begitu besar kecintaannya pada almamaternya tersebut.

Menikah
Selama di Mekkah, Mbah Kyai Chusen sempat menikah dengan saudara dari Syekh Shodaqoh. Hal ini dikarenakan kekaguman kawan yang membersamainya ke tanah suci ini kagum pada kealiman serta kepribadian Kyai Chusen muda. Namun pernikahan tak bertahan lama seiring dengan kepulangannya ke tanah air setelah delapan tahun mereguk samudera keilmuan di Tanah Suci.

Sepulang dari Tanah Suci, Kyai Chusen kembali ke kampung halamannya. Tak lama kemudian, beliau dijodohkan dengan Nyai Fatimah binti Romli yang berasal dari Tambakboyo, Tuban (sumber lain mengatakan dari Jenu, Tuban).

Bersama Nyai Fathimah, Kyai Chusen dikaruniai enam orang anak diantaranya: Zawawi, Ruqoyyah, Nafisah, Azizah, Husniyah dan Hasan Bisri.

Mengasuh Pesantren
Setelah beberapa lama tinggal di Singgahan, beliau berhijrah ke Desa Jenu yang berada di pinggiran pantai utara jawa. Jenu merupakan daerah yang pernah disinggahi Syekh Subakir saat beliau menumbali tanah Jawa. Saat ini petilasan Syekh Subakir dapat dikunjungi di Desa Tasikharjo.

Di Jenu selain membangun rumah sebagai tempat tinggal, beliau juga membuat rumah panggung dari kayu untuk tempat mengaji anak-anak sekitar Jenu. Meski bangunannya tergolong sederhana namun penuh keistiqomahan Kyai Chusen mengajar santri-santrinya membaca dan menghafal Al-Qur’an.

Namun patut disayangkan rumah panggung tersebut kini tak bersisa dikarenakan harus dibongkar karena terdampak perluasan Jalan Pantai Utara Jawa (Pantura) yang dibangun pada era Gubernur Jenderal Hindia Belanda Herman Williem Daendels dan membentang dari Pantai Anyer (Serang, Banten) hingga Panarukan (Situbondo).

Di antara belasan santrinya saat itu adalah Yusuf Masyhar, pemuda dari desa Kaliuntu, yang berada tak jauh dari pesantren Mbah Kyai Chusen. Putra ketiga dari enam bersaudara dari Bapak Masyhar dan Ibu Masruhan ini setelah menyelesaikan hafalan Al-Qur’an di hadapan Kyai Chusen, beliau melanjutkan pengembaraan ilmu ke Pondok Pesantren Tebuireng, Cukir, Jombang yang saat itu diasuh oleh Hadratus Syekh KH. Hasyim Asy’ari.

Selama mondok di Tebuireng, Yusuf muda menjadi santri kesayangan Mbah Hasyim karena kemerduan suara dan hafalan Qur’annya. Selama di Tebuireng beliau sering menjadi imam sholat berjamaah khususnya bulan Ramadhan.

Kelak santri Tuban ini akan dijodohkan dengan Nyai Ruqoyyah, cucu KH. Hasyim Asy’ari putra dari KH. Ahmad Baidhowi Asro dan Nyai Hj. Aisyah. Selanjutnya pada tanggal 15 Desember 1971, berkat restu serta dukungan sembilan kyai saat itu, Kyai Yusuf Masyhar mendirikan Madrasatul Qur’an sebagai tempat penggembelengan para calon Ahli Al-Qur’an.

Dari Madrasatul Qur’an yang berlokasi di timur Pondok Pesantren Tebuireng inilah lahir qurro’ wal huffadz yang telah berkiprah di penjuru tanah air seperti KH. Mustain Syafi’i (Mudir Madrasatul Qur’an), Ustadz H. Amin Chuzaini (Pendiri Madrasah Ulumul Qur’an dan Dayah Insan Qur’ani, Aceh Besar), Ustadz Darto Syaifuddin (Pendiri Madrasatul Qur’an Al-Qolam, Papua Barat), Habib Anis Al-Habsyi (Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Qur’an, Kraksaan Probolinggo), KH. Zainul Arifin (Ketua JQH NU Jawa Timur) dan masih banyak “.

“Meski Kyai Yusuf Masyhar menghafal Al-Qur’an sampai khatam ke Mbah Kyai Chusen, namun sanad qiro’at guru saya bersambung kepada KH. Dahlan Kholil, Pengasuh Pondok Pesantren Darul Ulum, Rejoso, Peterongan, Jombang. Kyai Yusuf tabarukkan ke Mbah Dahlan Kholil ketika bulan ramadhan sampai beliau mendapatkan sanad yang bersambung ke Syekh Ahmad Abdul Hamid at-Tiji al-Makki sampai kepada Rasulullah SAW” kata KH. Ahmad Syakir Ridwan, Lc, MHI, Murid senior KH. Yusuf Masyhar saat kami temui depan Masjid Agung Tuban saat perhetalan MTQ Jatim 2019 ini beberapa waktu silam

Mendirikan NU Tuban
Selain mengasuh pesantren, Kyai Chusen juga aktif dalam Nahdlatul Ulama. Bahkan beliau tercatat sebagai salah satu Pendiri NU pada di Bumi Wali pada tahun 1935 ini.

Awal berdirinya NU justru bukan di pusat Kota Tuban namun justru di Kaliuntu, Jenu, karena saat itu ulama-ulama di Tuban masih menghormati sosok KH. Murtadlo, Pengasuh Pondok Pesantren As-Shomadiyah, Makam Agung Tuban, ulama sepuh seangkatan Mbah Hasyim Asy’ari yang masih berprinsip bahwa dakwah Islam tidak harus melalui organisasi, tetapi cukup melalui dakwah dan pengajian.

Barulah kemudian pada tahun 1935, sejumlah santri alumni Pesantren Tebuireng di Kecamatan Jenu mendirikan NU Cabang Jenu. Sehingga muncul anekdot Jenu (Jelas NU)!” ungkap KH. Ahmad Mundzir dikutip dari laman NU Online.

Sebagai pengurus di masa awal, KH Chusen mengemban amanah sebagai Rais Syuriyah berduet dengan Kiai Umar Farouq sebagai Ketua Tanfidziyah.

Terkait alasan mengapa NU Tuban awalnya berdiri di Jenu. Dikarenakan Jenu memang telah lama menjadi kawasan santri, terbukti dengan begitu banyak pesantren yang berdiri di Barat Tuban ini, seperti Pondok Pesantren Manbail Fakhriyah Jenu, Pondok Pesantren Al Hidayah Jenu, Pondok Pesantren Manbail Huda Kaliuntu, Pondok Pesantren Mukhtariyah as Syafiiyyah, Pondok Pesantren Manbail Futuh dan lain-lain.

Dikisahkan bahwa ketika menjadi pengurus Nahdlatul Ulama ini Mbah Kyai Chusen hampir tak pernah absen hadir dalam Muktamar NU. Bersama Kyai Dimyati Kaliuntu dengan setia beliau rela berboncengan dengan sepeda pancal untuk menghadiri acara Muktamar.

Tak terbayang jauhnya perjalanan yang harus ditempuh mengingat kota tempat diselenggarakan cukup jauh dari Jenu. Namun dengan penuh keikhlasan beliau menjalaninya demi bersilaturahmi dalam rangka bersinergi untuk menyebarkan islam Ahlussunnah wal Jamaah di bumi Indonesia.

Kisah Hikmah
Gus Zainal Makarim cucu Kyai Chusen dari Bapak Zawawi, saat kami temui di Kantor Madrasah Tsanawiyah Al-Hidayah, Jenu, Tuban, Sabtu (2/10) silam mengisahkan tentang sosok kakeknya. Selain dikenal sebagai sosok Ahli Al-Qur’an juga terkenal akan kedermawanannya.

Disarikan dari Kyai Muromi Salatiga, bahwa suatu ketika Mbah Kyai Chusen diminta Mbah Kyai Ma’shoem Ahmad (Pengasuh Pondok Pesantren Al-Hidayah, Lasem, Rembang dan ayahanda KH. Ali Maksum, Krapyak Jogjakarta Mantan Rois A’am PBNU) untuk mengikuti lomba menghafal Al-Qur’an di suatu daerah.

Singkat cerita, beliau mampu meraih hasil yang memuaskan dengan menjuarai Musabaqah Hifdz al-Qur’an tersebut. Maka beliaupun berhak mendapatkan hadiah berupa uang yang cukup besar saat ini.

Namun sesampainya rumah, hadiah tersebut tak dinikmatinya sendiri, justru seluruhnya ditasarufkan untuk pembangunan Masjid Astana, Jenu.

Kealiman Kyai Chusen juga diakui oleh ulama Ahli Qur’an lain seperti al-Muqri’ KH. Arwani Amin, Pengasuh Pondok Pesantren Yanbu’ul Qur’an, Kudus.

Dikutip dari buku Terompah Kyai, Kisah Hikmah dan Inspirasi dari Pojok Pesantren karya Gus Nurul Fahmi disebutkan bahwa suatu ketika ada santrinya Mbah Chusen ingin tabarruk kepada Kyai Arwani. Sesampai Kudus maka sowanlah santri tersebut ke pesantren Mbah Arwani yang berlokasi tak jauh dari Menara Kudus.

Namun ketika berjumpa dengan murid kinasih Kyai Munawir Krapyak Jogjakarta ini justru beliau berkata “Sampeyan dari Jenu kok menghafal Al-Qur’an disini, di Jenu kan ada Kyai Chusen?”

Meski begitu santri tersebut masih diterima, karena santri ini sebenarnya sudah hafal Al-Qur’an dan di Kudus tujuannya hanya tabarrukan seperti yang biasa dilakukan santri-santri lainnya.

Menurut Kyai Munir Hisyam, Pengasuh Pondok Pesantren Roudlotu Al-Mardiyah Kudus bahwa sebelumnya memang Kyai Arwani juga pernah tabarrukan di Mbah Kyai Chusen walaupun hanya sebentar. Ketika cucu beliau Lilik Niswatin mau mondok ke Kyai Arwani, maka Mbah Kyai Chusen menuliskan surat pengantar untuk diserahkan kepada ulama penulis kitab Faidul Barakat fi Sab’i al-Qira’at ini.

Mbah Kyai Chusen jika dikenal sebagai kyai bertipikal pekerja keras. Ibadahe kenceng nyambut gawe yo kenceng (Kuat Beribadah dan juga kuat Bekerja).

“Kakek itu meski telah memiliki murid yang banyak, beliau tidak malu untuk bertani di sawah atau bekerja di tambak. Di sela-sela mengajar santri beliau mau berpeluh keringat untuk menyambung hidup dan agar tak menggantungkan pada orang lain” Kenang Gus Zain pada sosok kakeknya.

Wafat
Setelah cukup lama berdakwah, KH. Chusen Hasan berpulang ke Rahmatullah di usia hampir satu abad pada tahun 1400 Hijriyah bertepatan dengan tahun 1982 Masehi. Jenazahnya dimakamkan di belakang Masjid Astana, Desa Jenu, Tuban. Setiap tanggal Sebelas Dzulhijjah masyarakat Jenu memperingati Haul Kyai Chusen yang telah berjasa besar dalam mensyiarkan islam di Jenu dan sekitarnya.

Semoga kita mampu meneladani dan melanjutkan estafet perjuangan Kyai Chusen, Kyai Yusuf Masyhar dan Masyayikh lainnya untuk membumikan Kalam Illahi Islam dengan mengajarkan Al-Qur’an kepada generasi bangsa ke depan.

Sebagaimana pernah disabdakan oleh Rasulullah SAW bahwa sebaik-baiknya kalian adalah yang belajar dan mengajarkan Al-Qur’an dan semulia-mulia umat adalah mereka yang hafal Al-Qur’an (dan berusaha untuk mengamalkannya).

Rembang, 2 Nopember 2019
Muhammad Abid Muaffan
Santri Backpacker Nusantara

Filed under: Hikmah, MAYA.net, Tokoh

Dalil Bacaan al-Qur’an Untuk Orang Yang Telah Meninggal Dunia. Bahasa kampungnya bisa beda2, yasinan, tahlilan, atau yg lain. Intinya menghadiahkan bacaan alqur’an atau zikir atau do’a utk orang yg sdh wafat.

**
👇🏽👇🏽👇🏽

(Dikutip Dari Kitab: al-Fiqh al-Islâmy wa Adillatuhu [The Islamic Jurisprudence and It’s Evidences]. Penulis: Syekh Wahbah az-Zuhaili. Juz. 1, Hal. 1579 – 1581. Dar al-Fikr, Damascus. Cetakan ke: IV, tahun 1418H/1997M.

خامساً ـ القراءة على الميت وإهداء الثواب له:
ههنا مسائل للفقهاء :
أ ـ أجمع العلماء على انتفاع الميت بالدعاء والاستغفار بنحو «اللهم اغفر له، اللهم ارحمه» ، والصدقة، وأداء الواجبات البدنية ـ المالية التي تدخلها النيابة كالحج، لقوله تعالى: {والذين جاءوا من بعدهم يقولون: ربنا اغفر لنا ولإخواننا الذين سبقونا بالإيمان} [الحشر:10/59] وقوله سبحانه: {واستغفر لذنبك وللمؤمنين والمؤمنات} [محمد:19/47]، ودعا النبي صلّى الله عليه وسلم لأبي سلمة حين مات، وللميت الذي صلى عليه في حديث عوف بن مالك، ولكل ميت صلى عليه. وسأل رجل النبي صلّى الله عليه وسلم فقال: «يا رسول الله ، إن أمي ماتت، فينفعها إن تصدقت عنها؟ قال: نعم» ، وجاءت امرأة إلى النبي صلّى الله عليه وسلم فقالت: «يا رسول الله ، إن فريضة الله في الحج أدركت أبي شيخاً كبيراً، لا يستطيع أن يثبت على الراحلة، أفأحج عنه؟ قال: أرأيت لو كان على أبيك دين أكنت قاضيته؟ قالت: نعم، قال: فدين الله أحق أن يقضى» وقال للذي سأله: «إن أمي ماتت وعليها صوم شهر، أفأصوم عنها؟ قال: نعم» .
قال ابن قدامة: وهذه أحاديث صحاح، وفيها دلالة على انتفاع الميت بسائر القرب؛ لأن الصوم والدعاء والاستغفار عبادات بدنية، وقد أوصل الله نفعها إلى الميت، فكذلك ما سواها.

Kelima: Bacaan al-Qur’an Untuk Orang Yang Telah Meninggal Dunia dan Menghadiahkan Pahala Bacaannya Kepada Orang Yang Telah Meninggal Tersebut.

Dalam masalah ini ada beberapa pendapat ulama ahli Fiqh :
a. Ulama telah Ijma’ (kesepakatan) bahwa orang yang telah maninggal dunia mendapat manfaat dari doa dan permohonan ampunan (istighfar) dari orang yang masih hidup, seperti doa:
اللهم اغفر له، اللهم ارحمه
“Ya Allah ampunilah dia, ya Allah kasihilah dia”.
Sedekah, menunaikan kewajiban-kewajiban yang bersifat badani (fisik) dan maly (harta) yang bisa diwakilkan seperti ibadah haji, berdasarkan firman Allah Swt:

وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ
“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami”. (Qs. Al-Hasyr [59]: 10). Dan firman Allah:

واستغفر لذنبك وللمؤمنين والمؤمنات
“Dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan”. (Qs. Muhammad [47]: 19).
Doa Rasulullah Saw untuk Abu Salamah ketika ia meninggal dunia dan doa beliau untuk mayat yang beliau shalatkan, sebagaimana yang disebutkan dalam hadits ‘Auf bin Malik dan setiap mayat yang dishalatkan.
Seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, ibu saya telah meninggal, jika saya bersedekah, apakah sedekah itu bermanfaat baginya?”. Rasulullah Saw menjawab, “Ya” .
Seorang perempuan datang menghadap Rasulullah Saw seraya berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah mewajibkan ibadah haji, saya dapati ayah saya telah lanjut usia, ia tidak mampu duduk tetap diatas hewan tunggangan, bolehkah saya melaksanakan ibadah haji untuknya?”. Rasulullah Saw menjawab, “Jika ayahmu memiliki hutang, apakah menurutmu engkau dapat membayarkannya?”. Perempuan itu menjawab, “Ya”. rasulullah Saw berkata, “Hutang Allah lebih berhak untuk ditunaikan” .
Seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah, “Ibu saya telah meninggal dunia, ia memiliki hutang puasa satu bulan. Apakah saya melaksanakan puasa untuknya?”. Rasulullah menjawab, “Ya”.
Imam Ibnu Qudamah berkata, “Hadits-hadits ini adalah hadits-hadits shahih. Di dalamnya terkandung dalil bahwa orang yang telah meninggal dunia mendapatkan manfaat dari semua ibadah yang dilakukan orang yang masih hidup, karena puasa, doa dan permohonan ampunan (istighfar) adalah ibadah-ibadah badani (fisik). Allah Swt menyampaikan manfaatnya kepada orang yang telah meninggal dunia, demikian juga dengan ibadah-ibadah yang lain.

ب ـ اختلف العلماء في وصول ثواب العبادات البدنية المحضة كالصلاة وتلاوة القرآن إلى غير فاعلها على رأيين: رأي الحنفية والحنابلة ومتأخري الشافعية والمالكية بوصول القراءة للميت إذا كان بحضرته، أو دعا له عقبها، ولو غائباً؛ لأن محل القراءة تنزل فيه الرحمة والبركة، والدعاء عقبها أرجى للقبول.
ورأي متقدمي المالكية والمشهور عند الشافعية الأوائل: عدم وصول ثواب العبادات المحضة لغير فاعلها.

B. Para ulama berbeda pendapat tentang sampainya pahala ibadah yang bersifat badani (fisik) murni seperti shalat, bacaan al-Qur’an dan lainnya, apakah sampai kepada orang lain. Ada dua pendapat. Menurut pendapat mazhab Hanafi, Hanbali, generasi terakhir mazhab Syafi’i dan Maliki menyatakan bahwa pahala bacaan al-Qur’an sampai kepada mayat jika dibacakan di hadapannya, atau dibacakan doa setelah membacanya, meskipun telah dikebumikan, karena rahmat dan berkah turun di tempat membaca al-Qur’an tersebut dan doa setelah membaca al-Qur’an itu diharapkan maqbul atau diperkenankan Allah Swt.
Sedangkan menurut pendapat generasi awal mazhab Maliki dan menurut pendapat yang masyhur menurut generasi awal mazhab Syafi’i menyatakan: balasan pahala ibadah mahdhah (murni) tidak sampai kepada orang lain.

قال الحنفية: المختار عدم كراهة إجلاس القارئين ليقرؤوا عند القبر، وقالوا في باب الحج عن الغير: للإنسان أن يجعل ثواب عمله لغيره: صلاة كان عمله، أو صوماً أو صدقة أوغيرها، وأن ذلك لا ينقص من أجره شيئاً.
وقال الحنابلة: لا بأس بالقراءة عند القبر، للحديث المتقدم: «من دخل المقابر، فقرأ سورة يس، خفف عنهم يومئذ، وكان له بعدد من فيها حسنات» وحديث «من زار قبر والديه، فقرأ عنده أو عندهما يس، غفر له» .
وقال المالكية: تكره القراءة على الميت بعد موته وعلى قبره؛ لأنه ليس من عمل السلف، لكن المتأخرون على أنه لا بأس بقراءة القرآن والذكر وجعل ثوابه للميت، ويحصل له الأجر إن شاء الله .

Menurut mazhab Hanafi: menurut pendapat pilihan, tidak makruh mendudukkan para pembaca al-Qur’an untuk membacakan al-Qur’an di kubur. Mereka berpendapat tentang menghajikan orang lain, orang boleh memberikan balasan pahala amalnya kepada orang lain, maka shalat adalah amalnya, atau puasa, atau sedekah atau amal lainnya. Dan itu tidak mengurangi balasan amalnya walau sedikit pun.
Menurut mazhab Hanbali: boleh membaca al-Qur’an di kubur, berdasarkan hadits: “Siapa yang masuk ke pekuburan, lalu ia membaca surat Yasin, maka azab mereka hari itu diringankan dan ia mendapatkan balasan pahala sejumlah kebaikan yang ada di dalamnya”. Dan hadits: “Siapa yang ziarah kubur orang tuanya, lalu ia membaca Yasin di kubur orang tuanya, maka ia diampuni” .
Menurut mazhab Maliki: makruh hukumnya membaca al-Qur’an untuk mayat dan diatas kubur, karena bukan amalan kalangan Salaf. Akan tetapi generasi terakhir mazhab Maliki menyatakan: boleh membaca al-Qur’an dan zikir, kemudian balasan pahalanya dihadiahkan kepada mayat. Maka mayat akan mendapatkan balasan pahalanya insya Allah.

وقال متقدمو الشافعية: المشهور أنه لا ينفغ الميت ثواب غير عمله، كالصلاة عنه قضاء أو غيرها وقراءة القرآن. وحقق المتأخرون منهم وصول ثواب القراءة للميت، كالفاتحة وغيرها. وعليه عمل الناس، وما رآه المسلمون حسناً فهو عند الله حسن. وإذا ثبت أن الفاتحة تنفع الحي الملدوغ، وأقر النبي صلّى الله عليه وسلم ذلك بقوله: «وما يدريك أنها رقية؟» كان نفع الميت بها أولى.

Generasi awal mazhab Syafi’i berpendapat: menurut pendapat yang masyhur bahwa mayat tidak mendapatkan pahala selain dari balasan amalnya sendiri seperti shalat qadha’ yang dilaksanakan untuknya atau ibadah lainnya dan bacaan al-Qur’an. Sedangkan ulama mazhab Syafi’i generasi terakhir menyatakan: pahala bacaan al-Qur’an sampai kepada mayat, seperti bacaan al-Fatihah dan lainnya. Demikian yang dilakukan banyak kaum muslimin. Apa yang dianggap kaum muslimin baik, maka itu baik di sisi Allah. Jika menurut hadits shahih bahwa bacaan al-Fatihah itu mendatangkan manfaat bagi orang hidup yang tersengat binatang berbisa dan Rasulullah Saw mengakuinya dengan sabdanya, “Darimana engkau tahu bahwa al-Fatihah itu adalah ruqyah?”. Maka tentulah bacaan al-Fatihah itu lebih mendatangkan manfaat bagi orang yang telah meninggal dunia.

وبذلك يكون مذهب متأخري الشافعية كمذاهب الأئمة الثلاثة: أن ثواب القراءة يصل إلى الميت، قال السبكي: والذي دل عليه الخبر بالاستنباط أن بعض القرآن إذا قصد به نفع الميت وتخفيف ما هو فيه، نفعه، إذ ثبت أن الفاتحة لما قصد بها القارئ نفع الملدوغ نفعته، وأقره النبي صلّى الله عليه وسلم بقوله: «وما يدريك أنها رقية» وإذا نفعت الحي بالقصد، كان نفع الميت بها أولى. وقد جوز القاضي حسين الاستئجار على قراءة القرآن عند الميت. قال ابن الصلاح: وينبغي أن يقول: «اللهم أوصل ثواب ما قرأنا لفلان» فيجعله دعاء، ولا يختلف في ذلك القريب والبعيد، وينبغي الجزم بنفع هذا؛ لأنه إذا نفع الدعاء وجاز بما ليس للداعي، فلأن يجوز بما له أولى، وهذا لا يختص بالقراءة، بل يجري في سائر الأعمال.

Dengan demikian maka generasi belakangan mazhab Syafi’i sama seperti tiga mazhab diatas: bahwa pahala bacaan al-Qur’an sampai kepada mayat. Imam as-Subki berkata, “Menurut dalil yang terkandung dalam Khabar berdasarkan istinbath bahwa sebagian al-Qur’an dibaca dengan niat agar mendatangkan manfaat bagi mayat dan meringankan azabnya, maka itu mendatangkan manfaat baginya, karena menurut hadits shahih bahwa jika surat al-Fatihah itu dibacakan kepada orang yang tersengat binatang berbisa, maka itu bermanfaat baginya dan Rasulullah Saw mengakuinya dengan sabdanya, “Darimana engkau tahu bahwa surat al-Fatihah itu ruqyah?”. Jika surat al-Fatihah bermanfaat bagi orang yang masih hidup –jika memang diniatkan untuk itu-, maka tentulah lebih bermanfaat bagi mayat”. Al-Qadhi Husein memperbolehkan memberikan upah kepada orang yang membacakan al-Qur’an untuk mayat. Ibnu ash-Shalah berkata, ia mesti mengucapkan, “Ya Allah, sampaikanlah balasan pahala yang kami baca kepada si fulan”. Ia jadikan sebagai doa. Tidak ada perbedaan dalam masalah ini apakah dekat atau jauh, mesti yakin bahwa bacaan tersebut mendatangkan manfaat. Karena jika doa bermanfaat bukan hanya bagi orang yang berdoa, maka berarti itu juga berlaku pada sesuatu yang lebih utama daripada doa (yaitu bacaan al-Qur’an). Ini tidak hanya berlaku pada bacaan al-Qur’an, akan tetapi berlaku pada semua amal.

Filed under: 7. KELUARGA, Berita & Agenda, Tasawuf, Tokoh

Kamus Lisanul Arab Online

KAMAR PENGANTIN

PEPUNDHEN

DOKUMENT

SILATURRAHIM

free counters