Santri Qiraati

referensi metode ilmu baca al-Quran

Bagus untuk membaca peran Islam Jawa..

Khasebul Katolik dan Runtuhnya Islam-Tradisi Jawa

Judul : Islam Jowo Bertutur Sabdaraja: Pertarungan Kebudayaan, Khasebul, dan Kerja Misi
Penulis : Bray Sri Paweling
Penerbit : Anonimouse
Tahun : I, Januari, 2016
Tebal : 200 halaman

“Kalau teman-teman Katolik mau meringankan beban sejarah di Indonesia, mereka harus berani menulis sejarah kelam mereka”.
(Ben Anderson)

Genderang perang kebudayaan telah ditabuh, meski tidak tampak, cenderung di bawah tanah. Kali ini momentumnya adalah Sabdaraja Sultan Hamengku Buwono X yang dibacakan pada 30 April 2015. Keputusan Sultan yang menghapus gelar kalipatullah memicu reaksi keras dari sejumlah kalangan, terutama dari kelompok Islam tradisionalis-Jawa. Bukan hanya persoalan politik dan ekonomi, tetapi yang jauh lebih “mengerikan”, menurut Bray Sri Paweling, penulis buku ini, adalah mengobrak-abrik sampai menghancur-leburkan tatanan kosmologi Islam Jawa.

Sepintas mungkin sederhana, tetapi tidak bagi Bray, yang dalam buku setebal 200 halaman ini tersaji data-data yang sebenarnya “sangat rahasia” bersumber dari informan internal keraton Yogyakarta, yang kemudian dianalis berdasarkan fakta-fakta dan diramu dengan jejaring pengetahuan sosial, khas disiplin antropologi. Buku ini bertumpu pada penelusuran tentang siapakah “pembisik” yang menskenarionakan terjadinya Sabdaraja itu?

Bray menuding kelompok yang disebutnya sebagai “Khasebul” merupakan penyebab malapetaka bagi keraton Yogyakarta dan Islam Jawa. Apa itu Khasebul? Memang tidak banyak literatur yang mengurai terminologi ini. Selain Bray, terdapat nama B. Suryasmoro Ispandrihari, seorang mantan Khasebul yang menulis untuk kepentingan skripsi di UGM dan diterbitkan secara terbatas berjudul Penampakan Bunda Maria: Counter Discourse atas Hegemoni Gereja dan Rezim Orde Baru (2000).

Khasebul adalah singkatan dari “kaderisasi sebulan” atau dalam pemahaman Suryasmoro sebagai “khalwat (retret) sebulan”, suatu program pendidikan kader Katolik secara nasional, yang menjalankan kerja misi doktrin agamanya. Pola pendidikan yang dikembangkan menganut cara-cara inteljen, mulai dari seleksi atau perekrutan maupun operasionalnya. Pater Beek, penggagas dan ideolog program ini, diduga agen CIA yang ditanamkan Amerika di Indonesia untuk melawan komunisme di masa orde baru.

Beek menularkan virus Islamfobia kepada agen-agen Khasebul, yang puncaknya setelah komunisme tumbang tahun 1965, terjadi kolaborasi Gereja Katolik, CSIS (Centre for Strategic and International Studies, yang personelnya banyak alumni-alumni Khasebul), dan Soeharto yang memandang bahwa lawan berat pada masa itu dari kalangan Islam. Sejak itulah alumni-alumni Khasebul melakukan kerja misi di semua sektor, baik politik, ekonomi, dan termasuk kebudayaan.

Nah, dalam konteks itulah, Keraton di Yogyakarta tidak luput dijadikan target misi oleh Khasebul. Tidaklah berlebihan jika kemudian ada keyakinan di kalangan misionaris katolik sendiri bahwa Yogyakarta dianggap sebagai daerah misi “paling subur”, yang tidak jarang menihilkan etika dalam toleransi, persahaban, dan hidup berdampingan secara damai. Mareka terkadang jumawa telah mampu membuat cetak biru benteng papat limo pancer, menggantikan konsep sedulur papat limo pancer-nya Kanjeng Sunan Kalijaga.

Hal itu bisa diamati dengan berbagai macam simpul yang menunjukkan ke arah tersebut. Di antaranya lewat pintu utama sang ratu, yang oleh Bray disebut sebagai sosok yang memainkan berbagai tekanan kuat di Keraton atas pengaruh dan kendali para fundamentalis alumni Khasebul. Komentar-komentar ratu yang terlihat lembut, melayani dan nderek sultan, sesungguhnya tak lebih sebagai unggah-ungguh dalam tradisi Jawa, tetapi kenyataanya dialah yang berperan aktif mengegolkan “proyek” Sabdaraja (hlm. 37).

Ada banyak data dan bukti yang ditunjukkan di buku ini, meski terkadang bernuansa konspiratif, mulai dari pelemahan peran ormas-ormas Islam seperti Muhammadiyah, NU, kelompok garis keras, LSM, dan lain-lain, sehingga mereka abai tidak melakukan kontrol ketat terhadap apa yang terjadi di lingkungan Keraton. Lemahnya peran dan kontrol kelompok-kelompok civil society ini kemudian dimanfaatkan oleh jaringan Khasebul untuk mencongkel simbol-simbol Islam dari lubuk hati Keraton melalui Sabdaraja.

Sekadar menyebutkan dari keberhasilan kelompok Khasebul yang sukses “meng-Katolik-kan” Keraton bisa diamati, misalnya, pada teks pembukaan Sabdaraja yang dibacakan oleh Sultan Hamengku Buwono X dengan kalimat: Gusti Allah, Gusti Agung, Kuoso Cipto, yang dapat dipahami sebagai terjemahan dari Trinitas Katolik (Tuhan Allah, Tuhan Yesus, dan Ruh Qudus) (hlm. 22). Atau berdasarkan informan Bray, yang menyatakan bahwa terdapat simbol-simbol Katolik, seperti simbol salib yang dipasang di beberapa ruangan di Keraton, tetapi kemudian dicopot kembali karena menjadi pembicaraan kalangan Islam Jawa.

Ada juga kesaksian alumni Khasebul yang disarikan dari obrolan lisan dengan informan yang kemudian dikutip juga oleh Bray. “Saya jangan diikut-ikutkan soal pembuat Sabdaraja ini. Saya masih yunior. Desain Sabdaraja itu, urusan senior-senior saya di kalangan alumni Khasebul… Saya sendiri tidak setuju dengan senior-senior alumni Khasebul, yang sampai terlalu jauh melakukan hal demikian. Ini jelas akan mencelakakan berbagai hubungan dan persahabatan yang selama ini dibangun di kalangan sesama anak bangsa” (hlm. 26).

Kerja misi Khasebul yang demikian memang sangat rapi, halus, dan terkoordinir sangat baik melalui beberapa jaringannnya. Tengoklah, ketika kisruh Sabdaraja yang memicu kontroversi dan polemik publik, tiba-tiba muncul tokoh-tokoh Khasebul: analis politik J. Kristiadi (CSIS), wartawan senior James Luhulima, dan budayawan Radhar Panca Dahana, yang memainkan opini publik dengan menulis di media mainstrem¸bahwa Sabdaraja dengan segala konsekuensinya merupakan keniscayaan atas nama demokrasi dan kemodernan.

Alhasil, babak baru Keraton Yogyakarta pasca-Sabdaraja menampilkan hal-hal modern, yang justru keluar dan menyimpang dari tradisi sakral yang sebelumnya terpelihara. Akhir Juni 2015, untuk pertama kalinya dalam sejarah keraton, menyelenggarakan grebeg gunungan yang tidak lazim, yaitu berisi 4000 batu akik.
Padahal menurut Bray, menjadikan akik sebagai simbol kesejahteraan rakyat Yogyakarta betul-betul merendahkan nilai luhur keraton dengan simbol yang banal, dangkal makna, dan hanya tren sesaat. Ini mengingkari simbol-simbol yang teratur sangat sistematis dalam gunungan grebeg keraton sesuai paugeran, yakni komoditas yang mencerminkan kesejahteraan rakyat Yogyakarta seperti bahan-bahan makanan pokok.

Setelah ditelusuri, ternyata otak dari ide gunungan batu akik itu adalah Widi Hasto Wasana Putra, direktur operasional dan pemasaran PT. Jogjatama Vishesa. Dia adalah alumni Khasebul yang menjadi mata rantai level bawah untuk operasi di DIY, dari jaringan yang melakukan kerja-kerja misi Katolik dengan cara yang canggih (hlm. 102).

Atas fenomena itulah, Bray yang merepresentasikan sebagai kelompok Islam Jawa menyatakan prihatin, dan menganggap pertarungan kebudayaan ini belum selesai dan akan terus diperjuangkan sampai titik darah penghabisan. Para generasi Islam Jawa perlu mencatat, tulis Bray, fundamentalisme Katolik adalah racun mematikan dalam memelihara hubungan perdamaian dan toleransi di Indonesia, khususnya di Yogyakarta: bermuka musang, berbulu domba; manis cangkemnya, busuk agendanya; menawarkan madu di tangan, menyelipkan racun lewat tangan kiri; kaki kanan melangkah, kaki kiri menjegal.
*peresensi adalah Pecinta Islam Jowo dan Keseimbangan Jagad Raya, kolektor dan pembaca buku

**Terimakasih “pengirim misterius” yang telah mengirimkan buku ini, dan berhasil menggoda saya untuk meresensi lagi setelah sebelumnya cukup lama vakum. Dan saya tidak menyebarkan buku ini, sebagaimana amanat penulis dan penerbitnya, tetapi hanya mereview 🙃🙊

Filed under: 7. KELUARGA, Berita & Agenda, Hukum, Humor Sufi, Ilmu Fiqh, Tokoh

Bertemu Walisongo di Candi Prambanan dan Borobudur

Jika memakai ilmu perbandingan, bisa dibilang Candi Prambanan dan Candi Borobudur sebanding dengan Masjidil Haram. Hal itulah yang membuat saya makin kagum pada Walisongo.

Maksudnya begini, kalau ada “Masjidil Haram”, berarti logikanya ada puluhan “masjid agung” kan? Kalau ada tempat ibadah Hindu-Buddha selevel “Masjidil Haram”, berarti bukan tidak mungkin Indonesia zaman dahulu sudah dipenuhi ribuan “mushola” umat Hindu-Buddha.

Orang tidak mungkin bisa membuat sesuatu berskala besar tanpa bisa membuat sesuatu yang berskala kecil-kecil dulu.

Tentu kita jadi bisa membayangkan kalau umat beragama Hindu dan Buddha zaman dahulu adalah golongan mayoritas. Kalau umat beragama Hindu dan Buddha zaman dahulu sangat mendominasi, bagaimana bisa Walisongo membalik kondisi tersebut?

***

Kalau Anda belajar sejarah, Anda pasti makin heran dengan Walisongo. Silakan Anda baca dengan teliti isi buku Atlas Walisongo karya sejarawan Agus Sunyoto.

Menurut catatan Dinasti Tang China, pada waktu itu (abad ke-6 M), jumlah orang Islam di nusantara (Indonesia) hanya kisaran ribuan orang. Dengan klasifikasi yang beragama Islam hanya orang Arab, Persia, dan China. Para penduduk pribumi tidak ada yang mau memeluk agama Islam.

Bukti sejarah kedua, catatan Marco Polo singgah ke Indonesia pada tahun 1200-an M. Dalam catatannya, komposisi umat beragama di nusantara masih sama persis dengan catatan Dinasti Tang; penduduk lokal nusantara tetap tidak ada yang memeluk agama Islam.

Bukti sejarah ketiga, dalam catatan Laksamana Cheng Ho pada tahun 1433 M, tetap tercatat hanya orang asing yang memeluk agama Islam. Jadi, kalau kita kalkulasi ketiga catatan tersebut, sudah lebih dari 8 abad agama Islam tidak diterima penduduk pribumi. Agama Islam hanya dipeluk oleh orang asing.

Selang beberapa tahun setelah kedatangan Laksamana Cheng Ho, rombongan Sunan Ampel datang dari daerah Champa (Vietnam).

Beberapa dekade sejak hari kedatangan Sunan Ampel, terutamanya setelah dua anaknya tumbuh dewasa (Sunan Bonang dan Sunan Drajat) dan beberapa muridnya juga sudah tumbuh dewasa (misalnya Sunan Giri), maka dibentuklah suatu dewan yang bernama Walisongo. Misi utamanya adalah mengenalkan agama Islam ke penduduk pribumi.

Anehnya, sekali lagi anehnya, pada dua catatan para penjelajah dari Benua Eropa yang ditulis pada tahun 1515 M dan 1522 M, disebutkan bahwa bangsa nusantara adalah sebuah bangsa yang mayoritas memeluk agama Islam.

Para sejarawan dunia hingga kini masih bingung, kenapa dalam tempo tak sampai 50 tahun, Walisongo berhasil mengislamkan banyak sekali manusia nusantara.

Harap diingat zaman dahulu belum ada pesawat terbang dan telepon genggam. Jalanan kala itu pun tidak ada yang diaspal, apalagi ada motor atau mobil. Dari segi ruang maupun dari segi waktu, derajat kesukarannya luar biasa berat. Tantangan dakwah Walisongo luar biasa berat.

Para sejarawan dunia angkat tangan saat disuruh menerangkan bagaimana bisa Walisongo melakukan mission impossible: Membalikkan keadaan dalam waktu kurang dari 50 tahun, padahal sudah terbukti 800 tahun lebih bangsa nusantara selalu menolak agama Islam.

Para sejarawan dunia akhirnya bersepakat bahwa cara pendekatan dakwah melalui kebudayaanlah yang membuat Walisongo sukses besar.

Menurut saya pribadi, jawaban para sejarawan dunia memang betul, tapi masih kurang lengkap. Menurut saya pribadi, yang tentu masih bisa salah, pendekatan dakwah dengan kebudayaan cuma “bungkusnya”, yang benar-benar bikin beda adalah “isi” dakwah Walisongo.

***
Walisongo menyebarkan agama Islam meniru persis “bungkus” dan “isi” yang dahulu dilakukan Rasulullah SAW. Benar-benar menjiplak mutlak metode dakwahnya kanjeng nabi. Pasalnya, kondisinya hampir serupa, Walisongo kala itu ibaratnya “satu-satunya”.

Dahulu Nabi Muhammad SAW adalah satu-satunya orang yang berada di jalan yang benar. Istrinya sendiri, sahabat Abu Bakar r.a., sahabat Umar r.a., sahabat Utsman r.a., calon mantunya Ali r.a., dan semua orang di muka Bumi waktu itu tersesat semua. Kanjeng nabi benar-benar the only one yang tidak sesat.

Tetapi, berkat ruh dakwah yang penuh kasih sayang, banyak orang akhirnya mau mengikuti agama baru yang dibawa kanjeng nabi. Dengan dilandasi perasaan yang tulus, Nabi Muhammad SAW amat sangat sabar menerangi orang-orang yang tersesat.

Meski kepala beliau dilumuri kotoran, meski wajah beliau diludahi, bahkan berkali-kali hendak dibunuh, kanjeng nabi selalu tersenyum memaafkan. Walisongo pun mencontoh akhlak kanjeng nabi sama persis. Walisongo berdakwah dengan penuh kasih sayang.

Pernah suatu hari ada penduduk desa bertanya hukumnya menaruh sesajen di suatu sudut rumah. Tanpa terkesan menggurui dan menunjukkan kesalahan, sunan tersebut berkata, “Boleh, malah sebaiknya jumlahnya 20 piring, tapi dimakan bersama para tetangga terdekat ya.”

Pernah juga ada murid salah satu anggota Walisongo yang ragu pada konsep tauhid bertanya, “Tuhan kok jumlahnya satu? Apa nanti tidak kerepotan dan ada yang terlewat tidak diurus?”

Sunan yang ditanyai hal tersebut hanya tersenyum sejuk mendengarnya. Justru beliau minta ditemani murid tersebut menonton pagelaran wayang kulit.

Singkat cerita, sunan tersebut berkata pada muridnya, “Bagus ya cerita wayangnya…” Si murid pun menjawab penuh semangat tentang keseruan lakon wayang malam itu. “Oh iya, bagaimana menurutmu kalau dalangnya ada dua atau empat orang?” tanya sunan tersebut. Si murid langsung menjawab, “Justru lakon wayangnya bisa bubar. Dalang satu ambil wayang ini, dalang lain ambil wayang yang lain, bisa-bisa tabrakan.”

Sang guru hanya tersenyum dan mengangguk-angguk mendengar jawaban polos tersebut. Seketika itu pula si murid beristighfar dan mengaku sudah paham konsep tauhid. Begitulah “isi” dakwah Walisongo; menjaga perasaan orang lain.

Pernah suatu hari ada salah satu anggota lain dari Walisongo mengumpulkan masyarakat. Sunan tersebut dengan sangat bijaksana menghimbau para muridnya untuk tidak menyembelih hewan sapi saat Idul Adha. Walaupun syariat Islam jelas menghalalkan, menjaga perasaan orang lain lebih diutamakan.

Di atas ilmu fikih, masih ada ilmu ushul fikih, dan di atasnya lagi masih ada ilmu tasawuf. Maksudnya, menghargai perasaan orang lain lebih diutamakan, daripada sekadar halal-haram. Kebaikan lebih utama daripada kebenaran.

Dengan bercanda, beliau berkomentar bahwa daging kerbau dan sapi sama saja, makan daging kerbau saja juga enak. Tidak perlu cari gara-gara dan cari benarnya sendiri, jika ada barang halal lain tapi lebih kecil mudharatnya.

Kemudian, ketika berbicara di depan khalayak umum, beliau menyampaikan bahwa agama Islam juga memuliakan hewan sapi. Sunan tersebut kemudian memberikan bukti bahwa kitab suci umat Islam ada yang namanya Surat Al-Baqarah (Sapi Betina).

Dengan nuansa kekeluargaan, sunan tersebut memetikkan beberapa ilmu hikmah dari surat tersebut, untuk dijadikan pegangan hidup siapapun yang mendengarnya.

Perlu diketahui, prilaku Walisongo seperti Nabi Muhammad SAW zaman dahulu, Walisongo tidak hanya menjadi guru orang-orang yang beragama Islam. Walisongo berakhlak baik pada siapa saja dan apapun agamanya.

Justru karena kelembutan dakwah sunan tersebut, masyarakat yang saat itu belum masuk Islam, justru gotong-royong membantu para murid beliau melaksanakan ibadah qurban.

***

Kalau Anda sekalian amati, betapa gaya berdakwah para anggota Walisongo sangat mirip gaya dakwah kanjeng nabi. Pertanyaan selanjutnya adalah, bagaimana bisa? Hal tersebut bisa terjadi karena ada manual book cara berdakwah, yaitu Surat An-Nahl ayat ke-125.

Ud’u ilaa sabiili Rabbika bilhikmati walmau’izhatil hasanati wajaadilhum billatii hiya ahsan. Inna Rabbaka Huwa a’lamu biman dhalla ‘an sabiilihi wa Huwa a’alamu bilmuhtadiin. Terjemahannya kira-kira; Ajaklah ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan nasehat yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalanNya dan Dialah yang lebih mengetahui mereka yang mendapat petunjuk.

Menurut ulama Ahlussunnah wal Jama’ah, tafsir ayat dakwah tersebut adalah seperti berikut: Potongan kalimat awal, ud’u ilaa sabiili Rabbika, yang terjemahannya adalah “Ajaklah ke jalan Tuhanmu”, tidak memiliki objek. Hal tersebut karena Gusti Allah berfirman menggunakan pola kalimat sastra.

Siapa yang diajak? Tentunya orang-orang yang belum di jalan Tuhan. Misalnya, ajaklah ke Jakarta, ya berarti yang diajak adalah orang-orang yang belum di Jakarta.

Dakwah artinya adalah “mengajak”, bukan perintah. Jadi cara berdakwah yang betul adalah dengan hikmah dan nasehat yang baik. Apabila harus berdebat, pendakwah harus menggunakan cara membantah yang lebih baik. Sifat “lebih baik” di sini bisa diartikan lebih sopan, lebih lembut, dan dengan kasih sayang. Sekali lagi, apabila harus berdebat, harap diperhatikan.

Para pendakwah justru seharusnya menghindari perdebatan. Bukannya tidak ada angin tidak ada hujan, tiba-tiba ada ustadz yang mengajak debat para pendeta, biksu, orang atheis, dan sebagainya.

Berdakwah tidak boleh berlandaskan hawa nafsu. Harus ditikari ilmu, diselimuti rasa kasih sayang, dan berangkat niat yang tulus.

Apalagi ayat dakwah ditutup dengan kalimat penegasan bahwa hanya Tuhan yang mengetahui kebenaran sejati. Hanya Allah SWT yang tahu hambaNya yang masih tersesat dan hambaNya yang sudah mendapat petunjuk.

Firman dari Allah SWT tersebut sudah merupakan warning untuk para pendakwah jangan pernah merasa sudah suci, apalagi menganggap objek dakwah sebagai orang-orang yang tersesat. Anggaplah objek dakwah sebagai sesama manusia yang sama-sama berusaha menuju jalanNya.

Ayat dakwah itulah yang dipegang Nabi Muhammad SAW dan para pewarisnya saat berdakwah. Maka dari itu, kita jangan kagetan seperti para sejarawan dunia, karena kesuksesan dakwah Walisongo sebenarnya bukanlah hal yang aneh.

***

Kanjeng nabi saja bisa mengubah Jazirah Arab hanya dalam waktu 23 tahun, apalagi Walisongo yang “hanya” ditugaskan Allah SWT untuk mengislamkan sebuah bangsa.

Dakwah bisa sukses pada dasarnya dikarenakan dua faktor saja. Pertama, karena niat yang tulus. Walisongo menyayangi bangsa Indonesia, maka dari itu bangsa nusantara dirayu-rayu dengan penuh kelembutan untuk mau masuk agama Islam. Bila ada kalangan yang menolak, tetap sangat disayangi.

Sekalipun orang tersebut enggan masuk agama Islam, tapi bila ada yang sedang sakit, ia tetap dijenguk dan dicarikan obat. Kalau orang tersebut sedang membangun rumah, maka Walisongo mengerahkan para santrinya untuk menyumbang tenaga. Bahkan, kepada pihak-pihak yang tidak hanya menolak agama Islam, tapi juga mencela sekalipun, Walisongo tetap bersikap ramah.

Kedua, karena “satu kata satu perbuatan”. Walisongo membawa ajaran agama Islam ke nusantara, tentu kesembilan alim ulama tersebut harus menjadi pihak pertama yang mempraktekkan.

Agama Islam adalah agama anugerah untuk umat manusia, maka para wali tersebut selalu berusaha praktek menjadi anugerah bagi umat manusia di sekitarnya.

Semuanya dimanusiakan, karena Walisongo mempraktekkan inti ajaran agama Islam; rahmatan lil ‘alamin. Islam tidak mengenal konsep rahmatan lil muslimin.

Begitulah… Jadi, saya sangat senang kalau bisa berwisata ke Candi Prambanan atau Candi Borobudur, karena di kedua tempat tersebut saya jadi bisa bertemu Walisongo. Pertemuan secara batin.

Tulisan ini bukan untuk menjawab orang-orang yang sering meremehkan Walisongo. Tulisan ini hanyalah tulisan rindu seseorang yang penuh dosa.
Di tengah ketidakberdayaan menatap gaya dakwah yang terlalu mudah memvonis orang lain masuk neraka, saya seringkali jadi merindukan Walisongo.

*) Tulisan asli oleh Doni Febriando, dari buku “Kembali Menjadi Manusia” yang bisa didapatkan di jaringan toko buku GRAMEDIA atau TOGAMAS.

Sekali kali kita sabar dalam membaca …

Filed under: Hikmah, Humor Sufi, Kisah, Tokoh

TIDAK USAH MEMPERHATIKAN ISTRI TETANGGA…

Sexy atau Tidak…..!!!!
Oleh : Emha Ainun Nadjib

Dalam suatu forum saya bertanya, ”Apakah anda punya tetangga ?”

Dijawab serentak, “Tentu punya”

“Punya istri enggak tetangga Anda ?”

“Yaa, punya doong”

“Pernah lihat kaki istri tetangga Anda itu ?”

“Secara khusus tak pernah melihat” kata hadirin di forum,

“Jari-jari kakinya lima atau tujuh ?”

“Tidak pernah memperhatikan”

“Body-nya sexy atau enggak ?”

Hadirin tertawa lepas.

Dan saya lanjutkan tanpa menunggu jawaban mereka, “Sexy atau tidak bukan urusan kita, kan ?”

Tidak usah kita perhatikan, tak usah kita amati, tak usah kita dialogkan, diskusikan atau perdebatkan. Biarkan saja.

Keyakinan keagamaan orang lain itu yaa ibarat istri orang lain. Ndak usah diomong-omongkan, ndak usah dipersoalkan benar salahnya, mana yang lebih unggul atau apa pun.

Tentu, masing-masing suami punya penilaian bahwa istrinya begini begitu dibanding istri tetangganya, tapi cukuplah disimpan di dalam hati.

Bagi orang non-Islam, agama Islam itu salah.
Dan itulah sebabnya ia menjadi orang non-Islam.

Kalau dia beranggapan atau meyakini bahwa Islam itu benar, ngapain dia jadi non-Islam ?

Demikian juga, bagi orang Islam, agama lain itu salah.

Justru berdasar itulah maka ia menjadi orang Islam.

Tapi, sebagaimana istri tetangga. Itu disimpan saja di dalam hati, jangan diungkapkan, diperbandingkan atau
dijadikan bahan seminar atau pertengkaran.

Biarlah setiap orang memilih istri sendiri-sendiri dan jagalah kemerdekaan masing-masing orang untuk menghormati dan mencintai istrinya masing-masing, tak usah rewel bahwa istri kita lebih mancung hidungnya karena Bapaknya dulu
sunatnya pakai calak dan tidak pakai dokter, umpamanya.

Dengan kata yang lebih jelas, teologi agama-agama tak usah dipertengkarkan, biarkan masing-masing pada keyakinannya.

Sementara itu orang muslim yang mau melahirkan padahal motornya gembos, silahkan pinjam motor tetangganya yang beragama Katolik untuk mengantar istrinya ke rumah sakit.

Atau Pak Pastor yang sebelah sana karena baju misanya kehujanan, padahal waktunya mendesak, ia boleh pinjam baju koko tetangganya yang NU mau pun yang Muhamadiyah.

Atau ada orang Hindu kerjasama bikin warung soto dengan tetangga Budha, kemudian bareng-bareng bawa colt bak ke pasar dengan tetangga Protestan untuk kulakan bahan-bahan jualannya.

Tetangga-tetangga berbagai pemeluk agama, warga berbagai parpol, golongan, aliran, kelompok atau apa pun, silakan bekerja sama di bidang usaha perekonomian, sosial,
kebudayaan, sambil saling melindungi koridor teologi masing-masing.

Bisa memperbaiki pagar bersama-sama, bisa gugur gunung membersihi kampung, bisa pergi mancing bareng, bisa main gaple dan remi bersama.

Bisa ngumpul nge WA, BB-an & Facebookan,.. & media sosial lainnya,.. bersama.

Tidak ada masalah lurahnya Muslim, cariknya Katolik, kamituwonya Hindu, kebayannya Gatholoco atau apa pun.

Jangankan kerja sama dengan sesama manusia, sedangkan dengan kerbau dan sapi pun kita bekerja sama nyąngkul dan olah sawah.

Itulah lingkaran tulus hati dengan hati.

Semoga… kita makin sadar akan pentingnya Toleransi… Solidaritas & Kerukunan.
Bahwa semuanya itu indah nan Fitri… !!!

Tolong diforward ke sahabat dan saudara2 kita, agar timbul ketenangan dan kedamaian, pasca peristiwa di Paris.
Damai dihati…damai di bumi 😊🙏

Filed under: 7. KELUARGA, Berita & Agenda, Humor Gusdur, Humor Sufi

Kamus Lisanul Arab Online

KAMAR PENGANTIN

PEPUNDHEN

DOKUMENT

SILATURRAHIM

free counters