Santri Qiraati

referensi metode ilmu baca al-Quran

Membongkar Fakta Sejarah Hari Pahlawan 10 November dan Resolusi Jihad 22 Oktober yang Disembunyikan

Filed under: Berita & Agenda, Tanda Zaman, Tokoh

Teladan Keluarga Harun Ar-Rasyid; Berebut Sandal Sang Guru

**

KEBESARAN, kehebatan, kekuasaan tidak lantas menjadikan Harun Ar-Rasyid bersifat arogan. Lebih dari itu, beliau merendahkan hati dan mendidik anak-anaknya untuk berendah hati di hadapan manusia.

Az-Zarnuji dalam Ta’lim Al-Mut’allim mengisahkan bahwa suatu saat Khalifah Harun Ar-Rasyid mengirimkan putranya kepada Imam Al-Ashma’i, salah satu ulama besar yang menguasai bahasa Arab untuk belajar ilmu dan adab. Di sebuah kesempatan Harun Ar-Rasyid menyaksikan Al-Ashma’i sedang berwudhu dan membasuh kakinya, sedangkan putra Harun Ar-Rasyid menuangkan air untuk sang guru.

Setelah menyaksikan peristiwa itu, Harun Ar-Rasyid pun menegur Al-Ashma’i atas tindakannya itu, ”Sesungguhnya aku mengirimkan anakku kepadamu agar engkau mengajarinya ilmu dan adab. Mengapa engkau tidak memerintahkannya untuk menuangkan air dengan salah satu tangannya lalu membasuh kakimu dengan tangannya yang lain?”

*Tawadhu kepada Guru, Orangtua, dan Pemimpin*

Putra Ar-Rasyid, Khalifah Al-Makmun juga berusaha untuk menumbuhkan sifat tawadhu kepada para putranya. Ibnu Khalikan dalam Wafayat Al-A’yan telah mencatat peristiwa yang menunjukkan betapa Khalifah Al-Makmun berpayah-payah dalam berusaha agar putra-putranya kelak dewasa dengan sifat mulia ini.

Ketika itu, Khalifah Al-Makmun menunjuk Al-Farra’, ulama bahasa saat itu untuk mengajarkan ilmu nahwu kepada kedua putranya.

Suatu saat setelah menyampaikan ilmunya, Al-Farra’ pun bangkit dari tempatnya untuk meninggalkan istana. Kemudian kedua putra Al-Makmun berebutan untuk menyiapkan sandal Al-Farra’. Perebutan sandal itu menyebabkan keduanya berkelahi sampai akhirnya keduanya berdamai dan bersepakat bahwa masing-masing membawa satu sandal untuk diserahkan kepada Al-Farra’.

Kabar mengenai perkelahian itu akhirnya sampai ke telinga Khalifah Al-Makmun melalui telik sandinya. Dan orang yang paling disegani di seluruh penjuru Baghdad itu pun akhirnya memanggil Al-Farra’.

Setelah Al-Farra’ menghadap, Al-Makmun bertanya, ”Siapa orang di Baghdad ini yang paling terhormat?” Al-Farra’ menjawab, ”Paduka orang yang paling dihormati di negeri ini.”

Lantas Al-Makmun bertanya kembali, ”Lantas siapa orang yang menyebabkan perkelahian karena berebut membawa sandalnya?”

Al-Farra’ menjawab, ”Hamba sebenarnya hendak melarangnya, namun hamba khawatir merusak karakter baik kedua putra paduka yang telah tertanam sebelumnya.” Menyimak alasan Al-Farra’, Al-Makmun menyampaikan, ”Aku telah mengajari anakku meskipun mereka dihormati untuk bertawadhu kepada tiga orang, yakni orangtuanya, gurunya, serta pemimpinnya. Bahkan aku melatih mereka dalam hal ini sampai menghabiskan 20 ribu dinar. Sebab itu, aku memberimu 10 ribu dirham sebagai balasan atas pendidikanmu yang baik kepada anak-anakku.”

*Mencari Ilmu dengan Mendatangi Ulama*

Pengajaran sikap tawadhu Harun Ar-Rasyid kepada putra-putranya tidak hanya mengandalkan para ulama, namun beliau sendiri memberi tauladan kepada putra-putra beliau. Sebagaimana tercatat dalam Al-Adab As Syari’iyah oleh As-Safarini. Suatu saat Imam Malik diminta oleh Khalifah Harun Ar-Rasyid untuk berkunjung ke istana dan mengajar Hadits kepadanya. Namun Imam Malik tidak hanya menolak datang, ulama yang bergelar Imam Dar Al-Hijrah itu malah meminta agar khalifah yang datang sendiri ke rumah beliau untuk belajar. “Wahai Amirul Mukminin, ilmu itu didatangi, tidak mendatangi,” kata Imam Malik.
Akhirnya, Harun Ar-Rasyidlah yang datang kepada Imam Malik untuk belajar. Meski seorang khalifah, Harun Ar-Rasyid mencari ilmu dengan cara yang biasa ditempuh oleh kalangan rakyat jelata, yakni dengan mendatangi para ulamanya.

Tidak hanya terhadap Imam Malik, Harun Ar-Rasyid juga menjaga ketawadhuan di hadapan guru-guru para putranya. Suatu saat Ar-Rasyid pernah meminta kepada Abu Yusuf, qadhi negara waktu itu, untuk mengundang para ulama Hadits agar mengajar Hadits di istananya. Tetapi tidak ada yang merespon undangan itu, kacuali dua ulama: Abdullah bin Idris dan Isa bin Yunus. Mereka bersedia mengajarkan Hadits, itupun harus dengan syarat, yakni belajarnya harus dilaksanakan di rumah mereka, tidak di istana.

Akhirnya kedua putra Ar-Rasyid, Al-Amin dan Al-Makmun yang mendatangi rumah Abdullah bin Idris. Dari Abdullah bin Idris, dua putra khalifah itu memperolah pengajaran seratus Hadits.

Setelah itu, Al-Amin dan Al-Makmun berangkat menuju rumah Isa bin Yunus dalam rangka mempelajari ilmu yang sama. Setelah keduanya memperolehnya, sebagai ”ucapan terima kasih”, Al-Makmun memberikan 10 ribu dirham. Tapi Isa bin Yunus menolak, dan mengatakan, ”Hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak untuk mendapatkan apa-apa, walau hanya segelas air untuk minum.”

Demikianlah, kebesaran, kehebatan, kekuasaan tidak lantas menjadikan Harun Ar-Rasyid bersifat sombong. Lebih dari itu, beliau merendahkan hati dan menindidik anak-anaknya dengan tauladan yang baik.*

Filed under: Tasawuf, Tokoh

Fatwa Hadratus Syekh Hasyim Asy’ari Tentang Paham Wahabi-Salafi

**

Belakangan ini banyak bermunculan gerakan yang mengatasnamakan Islam. Salah satunya gerakan yang mempunyai misi memurnikan ajaran tauhid. Mereka mulai gencar melakukan ekspansi gerakannya dari berbagai lini dan berbagai macam strategi, baik melalui organisasi di sekolah, organisasi kampus, sampai pada organisasi masyarakat (Ormas) Islam di Indonesia. Gerakan mereka juga tidak luput dari pertarungan politik pemerintah, ekonomi, sosial dan kebudayaan masyarakat Indonesia. Mereka juga melakukan dakwah dari musholla ke musholla, dari masjid ke masjid, dan dari rumah ke rumah. Kondisi umat Islam di Indonesia sekarang ini semakin kompleks, seiring dengan kompleksnya pemahaman-pemahaman yang diajarkan oleh berbagai macam golongan dengan kepentingan masing-masing.

Kondisi ini sebenarnya sudah lama terjadi di Indonesia diduga pertama kali dibawa masuk ke kawasan Nusantara oleh beberapa ulama asal Sumatera Barat pada awal abad ke-19. Untuk menjawab kegelisahan umat Islam KH. Hasyim Asy’ari sudah mewanti-wanti umat agar berhati-hati terhadap gerakan ini. Sebagaimana disebutkan dalam Mukaddimah kitab ini: “Saat ini, kaum muslimin sangat membutuhkan doktrin-doktrin ajaran yang benar, karena sungguh telah terjadi pencampuradukan ajaran dikalangan orang-orang yang mulia (para pemegang otoritas keagamaan) dengan orang-orang awam yang merendahkan martabat keagamaan, hingga tampak terjadi pembiasan, kesamaran antara yang “Haq” dan yang “Bathil”. Banyak orang yang bodoh mulai berani maju berfatwa, padahal wawasan dan pemahaman mereka terhadap kitabullah dan sunnah Rasulillah SAW. sangat cupet dan kerdil.” Untuk lebih lengkapnya berikut ulasannya dalam Kitab Risalah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah Hal 9:

ﻭ ﻣﻨﻬﻢ ﻓﺮﻗﺔ ﻳﺘﺒﻌﻮﻥ ﺭﺃﻱ ﻣﺤﻤﺪ ﻋﺒﺪﻩ ﻭ ﺭﺷﻴﺪ ﺭﺿﺎ ، ﻭﻳﺄﺧﺬﻭﻥ
ﻣﻦ ﺑﺪﻋﺔ ﻣﺤﻤﺪ ﺑﻦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻮﻫﺎﺏ ﺍﻟﻨﺠﺪﻱ ، ﻭﺃﺣﻤﺪ ﺑﻦ ﺗﻴﻤﻴﺔ
ﻭﺗﻼﻣﺬﻳﻪ ﺍﺑﻦ ﺍﻟﻘﻴﻢ ﺍﻟﺠﻮﺯﻱ ﻭ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻬﺎﺩﻱ

Di antara mereka (sekte yang muncul pada kisaran tahun 1330 H.), terdapat juga kelompok yang mengikuti pemikiran Muhammad Abduh dan rasyid Ridha. Melaksanakan kebid’ahan Muhammad bin Abdul Wahhab al-najdy, Ahmad bin Taimiyah serta murid-murid Ibnul Qoyyim al-jauzy dan Abdul hadi.

ﻓﺤﺮﻣﻮﺍ ﻣﺎ ﺃﺟﻤﻊ ﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻮﻥ ﻋﻠﻰ ﻧﺪﺑﻪ ، ﻭﻫﻮ ﺍﻟﺴﻔﺮ ﻟﺰﻳﺎﺭﺓ ﻗﺒﺮ
ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ، ﻭﺧﺎﻟﻔﻮﻫﻢ ﻓﻴﻤﺎ ﺫﻛﺮ ﻭﻏﻴﺮﻩ

Mereka mengharamkan hal-hal yang telah disepakati oleh orang-orang Islam sebagai sebuah kesunnahan, seperti bepergian untuk menziarahi makam Rasulullah SAW serta berselisih dalam kesepakatan-kesepakatan lainnya.

ﻗﺎﻝ ﺍﺑﻦ ﺗﻴﻤﻴﺔ ﻓﻲ ﻓﺘﺎﻭﻳﻪ : ﻭﺇﺫﺍ ﻻ ﺍﻋﺘﻘﺎﺩ ﺃﻧﻬﺎ ﺃﻱ ﺯﻳﺎﺭﺓ ﻗﺒﺮ
ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻃﺎﻫﺔ ، ﻛﺎﻥ ﺫﻟﻚ ﻣﺤﺮﻣﺎ ﺑﻐﺠﻤﺎﻉ
ﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ ، ﻓﺼﺎﺭ ﺍﻟﺘﺤﺮﻳﻢ ﻣﻦ ﺍﻷﻣﺮ ﺍﻟﻤﻘﻄﻮﻉ ﺑﻪ

Bahkan Ibnu Taimiyah menyatakan dalam Majmu’ Fataawa-nya, “……………… dengan demikian, karena berkeyakinan (yakni mengunjungi makam rasulullah sebagai sebuah bentuk ketaatan), mereka telah jatuh pada keharaman yang telah disepakati oleh umat Muslim. Karenanya, keharaman adalah sesuatu yag mestinya ditinggalkan………..”

ﻗﺎﻝ ﺍﻟﻌﻼﻣﺔ ﺍﻟﺸﻴﺦ ﻣﺤﻤﺪ ﺑﺨﻴﺖ ﺍﻟﺤﻨﻔﻲ ﺍﻟﻤﻄﻴﻌﻲ ﻓﻲ ﺭﺳﺎﻟﺘﻪ
ﺍﻟﻤﺴﻤﺎﺓ ﺗﻄﻬﻴﺮ ﺍﻟﻔﺆﺍﺩ ﻣﻦ ﺩﻧﺲ ﺍﻹﻋﺘﻘﺎﺩ : ﻭﻫﺬﺍ ﺍﻟﻔﺮﻳﻖ ﻗﺪ
ﺍﺑﺘﻠﻰ ﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻮﻥ ﺑﻜﺜﻴﺮ ﻣﻨﻬﻢ ﺳﻠﻔﺎ ﻭﺧﻠﻔﺎ ، ﻓﻜﺎﻧﻮﺍ ﻭﺻﻤﺔ ﻭﺛﻠﻤﺔ
ﻓﻲ ﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ ﻭﻋﻀﻮﺍ ﻓﺎﺳﺪﺍ ،

Al-Allamah Syeikh Muhammad Bakhit al-Hanafi al-Muth’i menyatakan dalam kitabnya, Tathirul Fuad min danasil I’tiqood (Pembersihan hati dari Kotoran Keyakinan) bahwa, “kelompok ini sungguh menjadi cobaan berat bagi umat Muslim, baik salaf maupun kholaf. Mereka adalah duri “dalam daging/musuh dalam selimut” yang hanya merusak keutuhan Islam.

ﻳﺠﺐ ﻗﻄﻌﻪ ﺣﺘﻰ ﻻ ﻳﻌﺪﻯ ﺍﻟﺒﺎﻗﻲ ، ﻓﻬﻮ ﻛﺎﻟﻤﺠﺬﻭﻡ ﻳﺠﺐ ﺍﻟﻔﺮﺍﺭ
ﻣﻨﻬﻢ ، ﻓﺈﻧﻬﻢ ﻓﺮﻳﻖ ﻳﻠﻌﺒﻮﻥ ﺑﺪﻳﻨﻬﻢ ﻳﺬﻣﻮﻥ ﺍﻟﻌﻠﻤﺎﺀ ﺳﻠﻔﺎ ﻭﺧﻠﻔﺎ

Maka wajib menanggalkan/menjauhi (penyebaran) ajaran mereka agar yang lain tidak tertular. Ibarat anggota tubuh terkena penyakit yang menular, kemudian ia harus memotongnya agar tidak menjalar atau menular pada anggota tubuh yang lain. Firqoh ini seolah-olah seperti penyakit lepra yang harus kita hindari sejauh mungkin.

ﻭﻳﻘﻮﻟﻮﻥ : ﺇﻧﻬﻢ ﻏﻴﺮ ﻣﻌﺼﻮﻣﻴﻦ ﻓﻼ ﻳﻨﺒﻐﻲ ﺗﻘﻠﻴﺪﻫﻢ ، ﻻ ﻓﺮﻕ
ﻓﻲ ﺫﻟﻚ ﺑﻴﻦ ﺍﻷﺣﻴﺎﺀ ﻭﺍﻷﻣﻮﺍﺕ ﻳﻄﻌﻨﻮﻥ ﻋﻠﻴﻬﻢ ﻭﻳﻠﻘﻮﻥ
ﺍﻟﺸﺒﻬﺎﺕ ، ﻭﻳﺬﺭﻭﻧﻬﺎ ﻓﻲ ﻋﻴﻮﻥ ﺑﺼﺎﺋﺮ ﺍﻟﻀﻌﻔﺎﺀ ، ﻟﺘﻌﻤﻰ
ﺃﺑﺼﺎﺭﻫﻢ ﻋﻦ ﻋﻴﻮﺏ ﻫﺆﻻﺀ

Mereka menyatakan, “para ulama bukanlah orang-orang yang terbebas dari dosa, maka tidaklah layak mengikuti mereka, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal.” Mereka menyebarkan (pandangan/asumsi) ini pada orang-orang bodoh agar tidak dapat mendeteksi kebodohan mereka.

ﻭﻳﻘﺼﺪﻭﻥ ﺑﺬﻟﻚ ﺇﻟﻘﺎﺀ ﺍﻟﻌﺪﺍﻭﺓ ﻭﺍﻟﺒﻐﻀﺎﺀ ، ﺑﺨﻠﻮﻟﻬﻢ ﺍﻟﺠﻮ ﻭ
ﻳﺴﻌﻮﻥ ﻓﻲ ﺍﻷﺭﺽ ﻓﺴﺎﺩﺍ ، ﻳﻘﻮﻟﻮﻥ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﻜﺬﺏ ﻭﻫﻢ
ﻳﻌﻠﻤﻮﻥ ، ﻳﺰﻋﻤﻮﻥ ﺃﻧﻬﻢ ﻗﺎﺋﻤﻮﻥ ﺑﺎﻷﻣﺮ ﺑﺎﻟﻤﻌﺮﻭﻑ ﻭﺍﻟﻨﻬﻲ ﻋﻦ
ﺍﻟﻤﻨﻜﺮ ، ﺣﺎﺻﻮﻥ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻋﻠﻰ ﺍﺗﺒﺎﻉ ﺍﻟﺸﺮﻉ ﻭﺍﺟﺘﻨﺎﺏ ﺍﻟﺒﺪﻉ ،
ﻭﺍﻟﻠﻪ ﻳﺸﻬﺪ ﺇﻧﻬﻢ ﻟﻜﺎﺫﺑﻮﻥ

Maksud dari propaganda ini adalah munculnya permusuhan dan kericuhan. Dengan penguasaan atas jaringan teknologi mereka merusak tatanan masyarakat. Mereka menyebarkan kebohongan mengenai Allah, padahal mereka menyadari kebohongan tersebut. Menganggap dirinya melaksanakan amar makruf nahi munkar, mereccoki masyarakat dengan mengajak untuk mengikuti ajaran-ajaran syariat dan menjauhi kebid’ahan. Padahal Allah maha mengetahui, bahwa mereka berbohong.

Filed under: MAYA.net, Tanda Zaman, Tokoh

Kamus Lisanul Arab Online

KAMAR PENGANTIN

PEPUNDHEN

DOKUMENT

SILATURRAHIM

free counters