Santri Qiraati

referensi metode ilmu baca al-Quran

DOA KANG SUTO

Ahmad Tohari, 1971

Pernah saya tinggal di Perumnas Klender. Rumah itu dekat mesjid yang sibuk. Siang malam orang pada ngaji. Saya tak selalu bisa ikut. Saya sibuk ngaji yang lain.

Lingkungan sesak itu saya amati. Tak cuma di mesjid. Di rumah-rumah pun setiap habis magrib saya temui kelompok orang belajar membaca Al Quran. Anak-anak, ibu-ibu dan bapak-bapak, di tiap gang giat mengaji. Ustad pun diundang.

Di jalan Malaka bahkan ada kelompok serius bicara sufisme. Mereka cabang sebuah tarekat yang inti ajarannya berserah pada Tuhan. Mereka banyak zikir. Solidaritas mereka kuat. Semangat agamis, pendeknya, menyebar di mana-mana.

Dua puluh tahun lebih di Jakarta, tak saya temukan corak hidup macam itu sebelumnya. Saya bertanya: gejala apa ini?

Saya tidak heran Rendra dibayar dua belas juta untuk membaca sajak di Senayan. Tapi, melihat Ustad Zainuddin tiba-tiba jadi superstar pengajian (ceramahnya melibatkan panitia, stadion, puluhan ribu jemaah dan honor besar), sekali lagi saya dibuat bertanya: jawaban sosiologis apa yang harus diberikan buat menjelaskan gairah Islam, termasuk di kampus-kampus sekular kita? Benarkah ini wujud santrinisasi?

Di Klender yang banyak mesjid itu saya mencoba menghayati keadaan. Sering ustad menasihati, “Hiasi dengan bacaan Quran, biar rumahmu teduh.” Para “Unyil” ke mesjid, berpici dan ngaji. Pendeknya, orang seperti kemarok terhadap agama.

Dalam suasana ketika tiap orang yakin tentang Tuhan, muncul Kang Suto, sopir bajaj, dengan jiwa gelisah. Sudah lama ia ingin salat. Tapi salat ada bacaan dan doanya. Dan dia tidak tahu. Dia pun menemui pak ustad untuk minta bimbingan, setapak demi setapak.

Ustad Betawi itu memuji Kang Suto sebagai teladan. Karena, biarpun sudah tua, ia masih bersemangat belajar. Katanya, “Menuntut ilmu wajib hukumnya, karena amal tanpa ilmu tak diterima. Repotnya, malaikat yang mencatat amal kita cuma tahu bahasa Arab. Jadi wajib kita paham Quran agar amal kita tak sia-sia.”

Setelah pendahuluan yang bertele-tele, ngaji pun dimulai. Alip, ba, ta, dan seterusnya. Tapi di tingkat awal ini Kang Suto sudah keringat dingin. Digebuk pun tak bakal ia bisa menirukan pak ustad. Di Sruweng, kampungnya, ‘ain itu tidak ada. Adanya cuma ngain. Pokoknya, kurang lebih, ngain.

“Ain, Pak Suto,” kata Ustad Bentong bin H. Sabit. “Ngain,” kata Kang Suto.
“Ya kaga bisa nyang begini mah,” pikir ustad. Itulah hari pertama dan terakhir pertemuan mereka yang runyem itu. Tapi Kang Suto tak putus asa. Dia cari guru ngaji lain. Nah, ketemu anak PGA. Langsung Kang Suto diajarinya baca Al-Fatihah.

“Al-kham-du …,” tuntun guru barunya. “Al-kam-ndu …,” Kang Suto menirukan. Gurunya bilang, “Salah.”
“Alkhamdulillah …,” panjang sekalian, pikir gurunya itu.
“Lha kam ndu lilah …,” Guru itu menarik napas. Dia merasa wajib meluruskan. Dia bilang, bahasa Arab tidak sembarangan. Salah bunyi lain arti. Bisa-bisa kita dosa karena mengubah arti Quran. Kang Suto takut. “Mau belajar malah cari dosa,” gerutunya.

Kang Suto tahu, saya tak paham soal kitab. Tapi ia datang ke rumah saya, minta pandangan keagamaan saya.

“Begini Kang,” akhirnya saya menjawab. “Kalau ada ustad yang bisa menerima ngain, teruskan ngaji. Kalau tidak, apa boleh buat. Salat saja sebisanya. Soal diterima tidaknya, urusan Tuhan. Lagi pula bukan bunyi yang penting. Kalau Tuhan mengutamakan ain, menolak ngain, orang Sruweng masuk neraka semua, dan surga isinya cuma Arab melulu.

Kang Suto mengangguk-angguk.

Saya ceritakan kisah ketika Nabi Musa marah pada orang yang tak fasih berdoa. Nabi Musa langsung ditegur Tuhan. “Biarkan, Musa. Yang penting ketulusan hati, bukan kefasihan lidahnya.”

“Sira guru nyong,” (kau guruku) kata Kang Suto, gembira.

Sering kami lalu bicara agama dengan sudut pandang Jawa. Kami menggunakan sikap semeleh, berserah, pada Dia yang Mahawelas dan Asih. Saya pun tak keberatan ia zikir, “Arokmanirokim,” (Yang Pemurah, Pengasih).

Suatu malam, ketika Klender sudah lelap dalam tidurnya, kami salat di teras mesjid yang sudah tutup, gelap dan sunyi. Ia membisikkan kegelisahannya pada Tuhan.

“Ya Tuhan, adakah gunanya doa hamba yang tak fasih ini? Salahkah hamba? duh Gusti, yang hati-Nya luas tanpa batas …”

Air matanya lalu bercucuran. Tiba-tiba dalam penglihatannya, mesjid gelap itu seperti mandi cahaya. Terang-benderang. Dan kang Suto tak mau pulang. Ia sujud, sampai pagi …

Iklan

Filed under: Hikmah, Tasawuf, Uncategorized

Hakekat BAROKAH

Al Kisah… pada suatu hari Syeikh Al-Imam Syaqiq al-Balkhi membeli buah semangka untuk istrinya. Saat disantapnya ternyata buah semangka tersebut terasa hambar.

Dan sang isteri pun marah.

“Kepada siapakah kau marah wahai istriku? Kepada pedagang buahnya kah? Kepada pembelinya? Kepada petani yang menanamnya? Ataukah kepada yang Menciptakan Buah Semangka itu?”, tanya Syeikh Al-Imam Syaqiq.

Istri beliau terdiam,

Syeikh Syaqiq melanjutkan perkataannya:

“Ketahuilah wahai istriku seorang pedagang tidak menjual sesuatu kecuali yang terbaik… Seorang pembeli pun pasti membeli sesuatu yang terbaik pula. Begitu pula seorang petani, tentu saja ia akan merawat tanamannya agar bisa menghasilkan yang terbaik…!

“Maka kemarahanmu, tidak lain hanya kepada yang Menciptakan Semangka itu…!”

Pertanyaan Syeikh Al-Imam Syaqiq menembus ke dalam hati sanubari istrinya hingga air mata menetes perlahan di kedua pelupuk matanya…

Syeikh Al-Imam Syaqiq Al-Balkhi pun melanjutkan ucapannya:

“Bertaqwalah wahai istriku… Terimalah apa yang sudah menjadi Ketetapan-Nya. Agar Allah memberikan barokahnya pada kita”.

Mendengar nasehat suaminya itu… istri nyapun sadar dan mengakui kesalahannya serta ridho dengan apa yang telah Allah Swt tetapkan.”

Pelajaran terpenting buat kita adalah bahwa:

* Setiap keluhan yg terucap sama saja kita tidak ridho dengan ketetapan Allah Swt, sehingga barokah Allah jauh dari kita.

Karena barokah bukanlah serba cukup saja, akan tetapi…

* Barokah ialah bertambahnya ketaatan kita kepada Allah dengan segala keadaan yang ada, baik yang kita sukai atau sebaliknya.

Barokah itu adalah:

*… bertambahnya ketaatanmu kepada Allah Swt.

* Makanan Barokah itu bukan yang komposisi gizinya lengkap, tapi makanan yang mampu membuat yang memakannya menjadi lebih taat pd Allah setelah memakannya.

* Hidup yang Barokah bukan hanya sehat, tapi kadang sakit itu justru barokah sebagaimana Nabi Ayyub, sakit… bertambah taatnya pada Allah Swt.

* Barokah itu tak selalu panjang umur, ada yang umurnya pendek tapi ia sangat dahsyat taatnya pada Allah.

* Tanah yang Barokah itu bukan karena subur dan panoramanya indah, karena tanah yang tandus seperti Makkah punya keutamaan di hadapan Alloh… tiada banding…. tiada tara.

* Ilmu yang Barokah itu bukan hanya yang banyak hafalan Al Qur’an Hadits, telah mengkhatamkan kitab kitabnya dan memiliki banyak catatan catatan nasehat nya, akan tetapi yang barokah ialah ilmu yang mampu menjadikan seorang lebih taqorub kepada Allah bisa berbagi dengan keluarga sahabat dan kerabatnya jauh dari hasrat untuk riya’ sum’ah dan sombong.

* Penghasilan Barokah juga bukan gaji yg besar dan berlimpah, tetapi sejauh mana ia bisa jadi jalan rejeki bagi yang lainnya dan semakin banyak orang yang terbantu dengan penghasilan tersebut.

* Anak-anak yang barokah bukanlah saat kecil mereka lucu dan imut atau setelah dewasa mereka sukses bergelar & mempunyai pekerjaan & jabatan yang hebat, tetapi anak yang barokah ialah yang senantiasa taat kepada Allah dan Rosul-Nya dan kelak mereka menjadi lebih shalih dari kita & tak henti-hentinya mendo’akan kedua orang tuanya.

Semoga kita semua selalu di anugrahi kekuatan untuk senantiasa bersyukur pada -Nya, agar kita mendapatkan kebarokahan-Nya.

Filed under: Mutiara Kata, Tasawuf

TANBIHUL GHAFILIN

Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah rahimahullah telah berpesan:

“Jika Allah mudahkan bagimu mengerjakan solat malam, maka janganlah memandang rendah orang-orang yang tidur.”

“Jika Allah mudahkan bagimu melaksanakan puasa, maka janganlah memandang orang-orang yang tidak bepuasa dengan tatapan menghinakan.”

“Jika Allah memudahkan bagimu pintu utk berjihad, maka janganlah memandang orang-orang yang tidak berjihad dengan pandangan meremehkan.”

“Jika Allah mudahkan pintu rezeki bagimu, maka janganlah memandang orang-orang yang berhutang dan kurang rezekinya dengan pandangan yg mengejek dan mencela. Kerana itu adalah titipan Allah yang kelak akan dipertanggungjawabkan.”

“Jika Allah mudahkan pemahaman agama bagimu, janganlah meremehkan orang lain yg belum faham agama dengan pandangan hina.”

“Jika Allah mudahkan ilmu bagimu, janganlah sombong dan bangga diri kerananya. Sebab Allah lah yang memberimu pemahaman itu.”

Dan boleh jadi orang yang tidak mengerjakan qiyamul lail, puasa (sunnah), tidak berjihad dan sepertinya lebih dekat kepada Allah darimu.

Sesungguhnya jika engkau terlena tidur semalaman dan pagi harinya menyesal…lebih baik bagimu daripada qiyamul lail semalaman namun pagi harinya engkau “merasa” takjub dan bangga dengan amalmu. Sebab tidak layak seorang merasa bangga dengan amalnya, kerana sesungguhnya dia tidak tahu amal yang mana yang Allah akan terima?

Moga amal-amal kita yang terlaksana tidak menjadikan diri kita orang yang sombong di sisiNya.
Insha Allah…

Filed under: Mutiara Kata, Tasawuf, Uncategorized

Kamus Lisanul Arab Online

KAMAR PENGANTIN

PEPUNDHEN

DOKUMENT

SILATURRAHIM

free counters