Santri Qiraati

referensi metode ilmu baca al-Quran

HUKUM SALAT REBO WEKASAN

*Tanya:*

Pak K.H.A. Mustofa Bisri, di tempat saya ada sebagian kaum muslimin yang menjalankan salat Rebo Wekasan (tolak balak) dan sebagian lagi tidak menjalankan salat tersebut, bahkan melarangnya. Mohon Pak Kiai menjelaskan bagaimana hukumnya salat Rebo Wekasan tersebut? Apakah masing-masing pihak yang melaksanakan dan tidak itu, mempunyai dasar hukum?

Sekian dan terima kasih.

(Ar. Kurniawan-Baledono Rt V Rw IV Purworejo)

*Jawab:*

Saudara Kurniawan, memang sudah sejak lama ada orang dalam masyarakat kita (orang Islam Indonesia) yang melaksanakan salat Rebo Wekasan. Boleh jadi mereka mendasarkan kepada kitab yang kesohor di Jawa, yaitu kitab Mujarrabat (Mujarrabaat, bentuk jamak dari Mujarrabah atau mujarrab. Asal arti harfiyahnya: hal-hal yang sudah dicoba. Kira-kira maksudnya ya manjur atau mujarrab. Kitab yang berjudul demikian tidak hanya satu versi. Ada yang melulu berisi doa-doa, suwuk, rajah, azimat dan sebagainya. Ada juga yang dirangkai dengan cara-cara beribadah seperti salat, haji, dan sebagainya. Yang versi Jawa, tulisan pegon, ada “unsur-unsur Jawa”-nya. Seperti weton, nogo dino, keduten, dan sebagainya. Doa-suwuknya pun banyak yang gabungan Arab-Jawa).

Rebo Wekasan konon adalah hari Rabu terakhir bulan Shafar. Dan memang di Mujarrabat-nya Syekh Ahmad Ad-Dairaby, di akhir bab XVIII, antara lain disebutkan: “Dari kalangan orang-orang arif dan ahli kasyf ada yang menurutkan bahwa setiap tahun turun 320.000 balak, dan itu semua di hari rabu terakhir bulan Shafar. Maka barangsiapa yang hari itu salat empat rekaat….. dan seterusnya.”

Kalau memang mereka yang mengerjakan salat Rebo Wekasan itu mendasarkan kepada kitab Mujarrabaat tersebut, ya tidak benar. Wong ini bukan Al-Qur’an, bukan Al-Hadits, dan bukan kitab fikih yang mu’tabar. Bahkan kitab ini lebih mirip dengan “tuntunan perdukunan” belaka. Kalau tidak mendasarkan kepada kitab itu, lalu mendasarkan kepada apa? Di kitab-kitab fikih kuning yang tidak lepas dari dasar Al-Quran dan As-sunnah, mulai dari Taqrib, Fathul Mu’in, Tahrir sampai Tuhfah An-Nihayah, Muhadzadzab, Ihya Ulumiddin dan sebagainya tidak ada keterangan mengenai Rebo wekasan itu.

Lalu bagaimana hukumnya salat Rebo Wekasan itu? Menurut keputusan musyawarah ulama NU Jawa Tengah tahun 1978 di Magelang, upacara Rebo Wekasan adalah ghairu masyruu’, tidak disyariatkan oleh Islam. Mengenai salatnya sendiri, salat rebo wekasan, hukumnya haram, kecuali apabila yang mengerjakan salat itu berniat salah sunnah muthlaqah (pokoknya salat sunnah), atau niat salat hajat, tidak berniat mengkhususkan hari tersebut.

Hadratus Syekh K.H.M. Hasyim As’ary (1871-1947) rahimahullah, pernah ditanya masalah salat Rebo Wekasan ini dan beliau antara lain menjawab: “Ora wenang fatwa, ajak-ajak, lan ngelakoni salat ‘Rebo Wekasan’ lan salat Hadiah kang kasebut ing soal, kerono salat loro iku mahu dudu salat masyruu’ah fis-syar’i lan ora ono asale fis-syar’i” (bukan salat yang disyariatkan dan tidak ada dasarnya dalam agama, AMB).

Kalau salat Rebo Wekasan itu disyariatkan, masak seperti Imam Nawawi, Imam Ghazaly dan fukaha (ulama fikih) besar yang lain tidak mengetahuinya, kok tidak pernah menuturkan dalam kitab-kitab mereka.

Mungkin orang akan mengatakan: “Lha itu ada hadits yang mempersilahkan orang memperbanyak atau mempersedikit salat, dengan mengerjakan salat Rebo Wekasan kan memperbanyak salat namanya?!” Kiai Hasyim Asy’ari menjawab: “Tentu saja yang dimaksud salah di situ adalah salat masyruu’ah, salah yang disyariatkan!”

Nah, supaya tidak geger-geger, kalau masih ada yang tetap ingin mengerjakan salat di hari Rebo Wekasan, ya niatnya saja diubah. Jangan niat salat Rebo Wekasan, tapi niat salat hajat (hajatnya adalah menolak balak, misalnya) atau niat salah sunnah begitu saja. Mereka yang jadi panutan, mesti menjelaskan hal ini kepada jamaah mereka.

Wallahu A’lam bishbhawaab.

Dikutip dari:

Bisri, M. (2008). Fikih Keseharian Gus Mus. Surabaya: Khalista

Iklan

Filed under: Ilmu Fiqh, Tokoh

TULISAN DR. KH. MUSTAIN SYAFI’I, M.Ag DALAM KHUTBAH JUM’AT DI MASJID PONDOK TEBUIRENG

MENARIK UNTUK DIBACA !!!!!

إِنَّ الْحَمْدَلِلهِ، نَحْمَدُهُ وَ نَسْتَعِيْنُهُ وَ نَسْتَغْفِرُهُ، وَ نَعُوْذُ بِهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَ اَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا، أَمَّابَعْدُ

فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، اِتَّقُوْ اللهَ، اِتَّقُوْ اللهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ، أَعُوْذُبِالله مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا ۖ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهًا وَوَضَعَتْهُ كُرْهًا ۖ وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلَاثُونَ شَهْرًا ۚ حَتَّىٰ إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي ۖ إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ، صَدَقَ اللهُ الْعَظِيْمُ

Ini kali kesekian tentang materi khutbah bahwa kehidupan itu hakikatnya dimulai justru setelah umur 40 tahun, life begin at forty. Oleh surah al-Ahqaff, (memberi aturan) ada beberapa hal yang perlu dilakukan oleh orang yang sudah berumur 40 tahun. Kali ini, mungkin yang ke-delapan. Masuk pada poin wa an a’mala sholihan tardhohu.

Bahwa hidup di dunia ini, kita harus adaresponsibility, siap mengerjakan amanat ibadah. Amanah ibadah ini mutlak, dan nantinya akan dipertanggungjawabkan. Ada accountability di akhirat nanti, dipertanggungjawabkan. Karena itu, segalanya harus merujuk kepada Allah Swt.

Majalah Tebuireng

Memang, ada bahasa-bahasa dalam al-Quranal-Karim tentang amal saleh. Tetapi di dalam ayat ini, amal saleh tardhahu, yang Engkau ridhai. Memang susah, atau tidak semuanya amal kita itu diridhai Allah. Kita mencari amal yang diridhai. Segala hal yang menimpa diri kita, kembalikan kepada Allah. “Ya Allah, kalau Engkau senang menghendaki saya begini, maka saya juga senang.”

Seperti yang diperagakan oleh Imran ibn Husain. Dia sakit parah. Sampai 30 tahun sakit. Setiap orang yang menjenguk itu menangis, kasihan, sakit kok tidak sembuh-sembuh, padahal dia orang mulia seperti itu. Pakar di bidang hadis. Orang tabi’in ini memang hebat, setiap kali ada yang menjenguk begitu, Imran ibn Husain mengatakan, “Ya Allah, kalau Engkau senang menghendaki saya begini, maka saya juga ridha.”

Itulah hamba yang masuk pada kriteria;

رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ وَرَضُوْا عَنْهُ

Untuk itu, bisa membuat mental yang hebat, jujur, dan tidak manipulasi maka ada pendidikan-pendidikan. Dibangunlah sebuah akhlak. Disamping akhlak adalah ilmu. Tapi, sepanjang pendidikan yang disampaikanHadratu Rasul Nabiyullah Muhammad Saw. (adalah) justru akhlak. Akhlaklah yang keluar dari madrasah rumah Rasulullah.

Didikan Rasulullah, contohnya adalah Usamah. Usamah ini adalah cucu dari anak angkatnya yang berasal dari budak Usamah bin Zaid. Umur 18 tahun sudah betul-betul, mampu dia menjadi panglima perang. Sehingga kita bisa bertanya kepada diri kita, pendidikan kita, anak kita, umur 18 tahun itu bisa apa? Bisa apa anak kita ini, memang belum matang tapi kita berusaha seperti itu.

Maka kita nukil sejenak Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari dengan kisah-kisah bagaimana beliau menyikapi para santri. Yang terkenal adalahHadratussyaikh itu dalam soal akhlak; termasuk jamaah shalat, mereka yang ketahuan tidak jamaah shalat itu ditakzir dengan mencium kemaluan sapi betina. Menurut sebagian cerita, sapi juga begitu ketika dipakai untuk takzir santri yang tidak jamaah, begitu dicium itu langsung pipis atau kencing. Entah apa yang terjadi, cerita ini sudah umum (banyak yang tahu).

Hal yang saya garisbawahi bukan masalah itu. Tapi Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari ini mentakzir santri itu bukan karena masalah bodoh, tidak bisa membaca kitab, sulit diajari, dan seterusnya. Tapi (yang ditakzir) itu santri yang akhlaknya sedang kurang bagus, ibadahnya kurang bagus.

Karena itu, kita bisa bertanya pada diri kita sendiri, “Beranikah, lembaga-lembaga pendidikan di dunia ini menjadikan akhlak sebagai pedoman tolok ukur, pedoman untuk kenaikan kelas.” Dalam artian, ada anak tidak begitu rajin shalat, tidak shalat, suka berbohong, akhlaknya kurang bagus, apakah bisa lembaga pendidikan kita ini tidak meluluskan anak yang ibadahnya tidak bagus seperti itu. Yang ada (kriteria lulus), biasanya yang nilainya 9, 10 dan lain-lain.

Untuk itu, mereka yang dididik di dalam paduan akhlak dan ilmu seperti ini, menjadikan generasi itu tumbuh jujur, tumbuh eksis, tumbuh bertanggung jawab, dan tidak manipulasi atau mereka-reka. Karena nanti di bidang keilmuan, bisa saja orang itu membuat rekaan-rekaan karena ilmunya sendiri.

Bisa dibuatkan contoh bahwa dengan progam yang pernah dicanangkan Hadratu Rasul Nabiyullah Muhammad Saw. mengubah pemerintahan yang semula tertutup (dari raja-raja), kemudian hanya dengan 9 tahun mendidik pemerintahan umat Islam sudah bisa, memilih kepala negara sendiri. Lahirlahkhulafa’u ar-Rasyidun meskipun resikonya, cost-nya juga tinggi. Model musyawarah atau kalau orang sekarang mengidentikkan dengan demokrasi, walaupun tidak sama. Cost-nya juga tinggi.

 Puasa, Pendidikan Khusus dari Allah

Dari keempat khulafa’u ar-Rasyidun, seluruhnya mati dibunuh karena perbedaan tafsir dalam berpolitik. Kecuali satu, yaitu Abu Bakar. Walaupun begitu, riwayat menunjukkan bahwa Abu Bakar setahun sebelum (meninggal) pernah diracun lembut, sehingga dibiarkan karena sudah tua. Nanti akan mati sendiri. Betul, kekuasaan Abu Bakar hanya dua tahun lebih sedikit.

Umar juga wafat dalam shalat, dibunuh Abu Lu’luah. Tapi yang hebat adalah komitmen Sayyidina Umar, bertanya, “Siapa yang menusuk saya tadi.” Tertangkaplah penusuk itu, lalu Sayyidina Umar bersyukur kepada Allah. “Saya bersyukur kepada Allah, saya mati di tangan orang non-muslim.”

Pemerintahan terus bergulir, pada Sayyidina Utsman ibn Affan, yang dikeroyok di rumahnya sendiri dan kematian beliau lebih sadis lagi. Tidak langsung dibunuh. Bahkan menurut beberapa riwayat, jari-jari beliau dipotong karena termasuk penulis mushaf al-Quran dan lain-lain.

Tetapi, tidak saja berhenti disitu, diganti Sayyidina Ali ibn Abi Thalib. Inilah chaos. Inilah bermunculan persepsi-persepsi yang bersifat kepentingan. Ali ibn Abi Thalib yang pada waktu itu dalam keadaan puasa, kalau tidak salah tanggal 7 Ramadhan, hampir sama dengan tanggal wafatnya HadratussyaikhHasyim Asy’ari.

Masih dalam keadaan puasa dan pada waktu subuh dibunuh oleh Ibnu Muljam. Di sini, lagi-lagi kalimah lâ ilâha illallah menjadi rebutan. Di sini, mushaf al-Quran dijadikan dasar untuk mem-back up melindungi diri, kepentingan politiknya sendiri. Di sini kalimah thoyyibah,kalimat tauhid dipakai untuk kepuasan nafsunya, untuk menipu orang.

Pada perang Siffin tidak sekedar kalimah tauhid yang diangkat untuk mendamaikan. Ketika pasukan itu kalah, pemberontak itu kalah, oposisi itu kalah, maka dia dengan cerdiknya mengangkat mushaf di ujung tombak. Menunjukkan bahwa dia bernaung di bawah al-Quran.

Ali bin Abi Thalib yang ‘tertipu’ dengan trik mereka, akhirnya harus membayar mahal. Pembunuhnya adalah Ibnu Muljam. Tidak banyak orang tahu siapakah Ibnu Muljam. Ibnu Muljam adalah Abdurrahman Ibnu Muljam al-Muradi al-Muqri’. Dia adalah sahabat besar, hafidz al-Quran, dia muqri’ pengajar al-Quran. Disebutkan, hafidzun zahidun, orang yang zuhud betul.

Pada waktu zaman khalifah Umar, pada waktu Amr ibn Ash itu menjadi gubernur di Mesir dan meminta guru al-Quran mengajar di sana. Justru Abdurrahman Ibn Muljam inilah yang diutus Sayyidina Umar mengajarkan al-Quran di Mesir, luar negeri.

Abdurrahman ibn Muljam ini sama, berlindung di kalimah tauhid lâ ilâha illallah dengan al-Qurannya. Tetapi, “dasar” itu dipakai untuk kepentingan politik. Untuk menumbangkan khalifah Sayyidina Ali Ibn Thalib. Setelah membunuh, dia tidak lari. Justru, dengan menuding Sayyidina Ali dan mengatakan,

لاحكم إلا لله، لا لنفسك ولا لأصحابك

“Hukum hanyaAllah, tidak untuk kamu, juga tidak teman-temanmu.”

Ibnu Muljam yang sedemikian hebat memakai al-Quran al-Karim, memakai kalimah tauhid seperti itu, sudah tertangkap. Keputusan para sahabat, bagaimana ini seorang hafidz, seorang yang mengibarkan lâ ilâha illallah,bagaimana. Keputusan para sahabat, orang ini harus dieksekusi dihukum mati. Begitu dieksekusi, ia pun masih minta kepada algojo, “Hai algojo, kamu jangan memenggal kepala saya langsung. Penggallah anggota badan saya satu per satu. Tangan saya, kaki saya, satu per satu. Biar saya bisa menyaksikan tubuhku dipotong karena Allah, karena lâ ilâha illallah.” Masih begitu.

Untuk itu, disinilah penyebab orang bisa memandang dari sisi mana sesungguhnya melihat kalimat tauhid itu dihukumi sebagaipiur (Jawa: murni) hukum. Kalau kalimat tauhid itu ada pada tempatnya, pada al-Quran, kitab, dan tulisan biasa, lalu kamu bakar dan kamu injak-injak, maka menurut ulama salaf itu murtad. Sama dengan pelecehan dan penghinaan terhadap Allah.

Tetapi kalau kalimat tauhid itu sudah di-frame.Masuk pada frame. Frame kepentingan, seperti menjadi bendera ormas tertentu. Seperti menjadi simbol “iniâââââ” tertentu. Kemudian melakukan kejahatan, sama dengan Abdurrahman Ibnu Muljam. Waktu akan dieksekusi, apakah kita tidak tahu ada kalimatlâ ilâha illallah di dalam hatinya. Apakah tidak tahu, di dalam dirinya itu ada al-Quran al-Karim 30 juz. Iya, tetapi kemaslahatannya lebih bagus orang ini mati. Daripada membuat onar.

Karena itu, saya juga mau bertanya dan tidak perlu dijawab. Kalau kalimat lâ ilâha illallah itu pada frame dan bi’ah (perilaku) yang salah. Maka terjadi sebuah dua ‘illat, dilihat wadahnya maka itu fasik atau buruk tapi dilihat isinya murni lâ ilâha illallah kalimat tauhid.

Saya ambil contoh. Kita tahu ada mobil, seumpama. Di kacanya ditulisi lâ ilâha illallah muhammadun rasulullah menempel kelihatan. Tapi (mobil) dipakai untuk merampok. Karena dipakai merampok itu, maka oleh massa tertangkap lalu dibakar. Apakah itu membakar “mobil perampok” atau membakar “kalimat tauhid lâ ilâha illallah”?

Inilah, kadang-kadang orang bisa berdebat disini. Tapi dihukumi yang dhohir saja. Tanpa ada tendensi apa-apa. Maka Ibnu Muljam tetap dihukum mati walaupun dia menggunakanmushaf di dalam hatinya, 30 juz al-Quran, ada lâ ilâha illallah. Tapi karena sudah masuk dalamframe yang salah, di “tempat yang salah”. Bukan tulisan “lâ ilâha illallah”-nya yang salah. Tetapi yang menyalahgunakan itu lah yang salah.

Dengan demikian, kita ini bersikap, tidak lain adalah wa an a’mala sholihan tardhohu. Dalam bidang apapun, kita ini merujuk kepada Allah. Mudah-mudahan segala yang dilakukan oleh umat Islam, dengan segala ijtihadnya, segala perjuangannya, termasuk as-Salafu as-Shalih ini,benar-benar diridhai oleh Allah Swt.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي اْلقُرْآنِ الْعَظِيْم،وَنَفَعَنابه وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلأٓيَةِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْم،فتقَبَّلَ اللهُ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ تعالى جَوَّادٌ كَرِيْمٌ.البَرُّ الرَّؤُوْفُ الرَّحِيْمُ، و الحمد للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

#FotoGambariniAbaikan
#TidakAdaKaitan
#HanyaSajaMasalahApi
#BakarMembakar

Filed under: MAYA.net, Tokoh

Ketika Agama KehiLangan Tuhan

OLeh KH. Mustofa Bisyri.
.
DuLu agama menghancurkan berhaLa.
Kini agama jadi berhaLa. Ia tak kenaL Tuhannya yang penting agamanya.

Dulu orang berhenti membunuh karena agama.
Sekarang orang saling membunuh karena agama.

Dulu orang saling mengasihi karena beragama
Kini orang saling membenci karena beragama

Agama tak pernah berubah ajarannya dari dulu
Tuhannya pun tak pernah berubah dari dulu
Lalu yang berubah apanya?
Manusia nya?

Dulu orang belajar agama sebagai modal
untuk mempelajari ilmu lainnya
Sekarang orang malas belajar ilmu lainnya
maunya belajar agama saja.

Dulu pemimpin agama dipilih berdasarkan kepintarannya
yang paling cerdas di antara orang-orang lainnya
Sekarang orang yang paling dungu
yang tidak bisa bersaing dengan orang-orang lainnya
dikirim untuk belajar jadi pemimpin agama.

Dulu para siswa diajarkan untuk harus belajar giat dan berdoa
untuk bisa menempuh ujian
Sekarang siswa malas belajar
tapi sesaat sebelum ujian berdoa paling kencang
karena diajarkan pemimpin agamanya
untuk berdoa supaya lulus.

Dulu agama mempererat hubungan manusia dengan Tuhan
Sekarang manusia jauh dari Tuhan karena terlalu sibuk dengan urusan-urusan agama.

Dulu agama ditempuh untuk mencari wajah Tuhan
Sekarang agama ditempuh untuk cari muka di hadapan Tuhan.

Esensi beragama telah dilupakan
Agama kini hanya komoditi
yang menguntungkan pelaku bisnis berbasis agama
karena semua yang berbau agama telah didewa-dewakan
tak kan pernah dianggap salah, tak pernah ditolak
dan jadi keperluan pokok melebihi sandang, pangan, papan
Agama jadi hobi, tren
dan bahkan pelarian karena tak tahu lagi mesti mengerjakan apa.

Agama kini diperTuhan kan
sedang Tuhan itu sendiri dikesampingkan
Agama dulu memuja Tuhan
Agama kini menghujat Tuhan.

Nama Tuhan dijual, diperdagangkan, dijaminkan, dijadikan murahan
oleh orang-orang yg merusak, membunuh, sambil meneriakkan nama Tuhan.

Tuhan mana yang mengajarkan tuk membunuh?
Tuhan mana yang mengajarkan tuk membenci?
Tapi manusia membunuh, membenci, mengintimidasi, merusak
sambil dengan bangga meneriakkan nama Tuhan
berpikir bahwa Tuhan sedang disenangkan
ketika ia menumpahkan darah manusia lainnya.

Agama dijadikan senjata tuk menghabisi manusia lainnya
Dan tanpa disadari manusia sedang merusak reputasi Tuhan
dan sedang mengubur Tuhan dalam-dalam
dibalik gundukan ayat-ayat dan aturan agama.

#Kopi_MaLam✓ #Sajak_Jancukers✓

Filed under: MAYA.net, Mutiara Kata, Tokoh

Kamus Lisanul Arab Online

KAMAR PENGANTIN

PEPUNDHEN

DOKUMENT

SILATURRAHIM

free counters