Santri Qiraati

referensi metode ilmu baca al-Quran

DI PELATARAN TAWAF, CINTA ITU MEMBARA

“Mengaji Bareng Ahmad Rofi’ Usmani”(7)

Entah kenapa, khazanah keislaman di Indonesia saat ini, menurut saya, kering kerontang sekali. Khazanah itu, entah kenapa, lebih didominasi “khutbah-khutbah” ukhrawi. Dengan kata lain, khazanah yang ada dewasa ini lebih banyak diwarnai apa yang disebut “taushiyah”. Seakan, khazanah keislaman hanya di bidang-bidang tersebut plus di bidang politik. Kering kan!

Padahal, khazanah keislaman demikian kaya dan luar biasa. Ketika saya menimba ilmu di Kairo, ketika saya sedang kluyuran di downtown kota yang didirikan oleh Al-Mu’iz li Dinillah itu, saya menemukan sebuah karya masterpiece tentang cinta yang disusun oleh Ibn Hazm. Ternyata, karya luar biasa itu telah diterjemahkan ke dalam sederet bahasa di luar bahasa Arab. Dalam bahasa Inggris, karya itu diterjemahkan oleh “kakek saya” (pembimbing Prof.Dr. Ahmed Shalaby), seorang orientalis top dunia: Prof.Dr. A.J. Arberry. Judulnya Ring of the Dove. Tahu demikian, karya puncak itu pun saya terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Karya itu kemudian diterbitkan Mizan dengan judul Risalah Cinta.

Nah, “Mengaji Bareng Ahmad Rofi’ Usmani”(7) kali ini menyajikan kisah cinta yang bertabrakan dengan masalah politik. Kisah yang menarik. Monggo:

DI PELATARAN TAWAF, CINTA ITU MEMBARA
Oleh: Ahmad Rofi’ Usmani

Betapa gembira hati ‘Abdul Malik bin Marwan kala itu.
Tentu saja gembira. Sebab, meski telah menjadi orang nomor satu Dinasti Umawiyah, dengan pusat pemerintahannya di Damaskus, Suriah, ia masih dikaruniai Allah Swt. kesempatan menunaikan ibadah haji. Dalam perjalanan ke Tanah Suci itu, penguasa ke-5 (berkuasa antara 66-86 H/685-705 M) Dinasti Umawiyah di Damaskus, Suriah itu mengajak serta Khalid bin Yazid bin Mu‘awiyah, cucu Mu‘awiyah bin Abu Sufyan, pendiri dinasti itu.
Nah, setiba di Makkah dan kala Khalid bin Yazid bin Mu‘awiyah bin Abu Sufyan sedang bertawaf, tiba-tiba matanya beradu pandang tanpa sengaja dengan mata seorang perempuan cantik jelita nan sangat memikat. Entah mengapa, Khalid tiba-tiba tidak kuasa lagi mengendalikan gelegak hatinya. Juga, ia tidak kuasa melupakan perempuan nan rupawan yang ia temui di tempat pelaksanaan tawaf (mathâf) itu.
Namun, selepas bertawaf dan mencari tahu tentang jati diri perempuan itu, betapa kaget Khalid bin Yazid. Perempuan bernama Ramlah itu, ternyata, adalah saudara perempuan seorang tokoh yang sangat anti terhadap ayahnya dan Dinasti Umawiyah: ‘Abdullah bin Al-Zubair, dan putri pasangan suami-istri seorang sahabat terkemuka: Al-Zubair bin Al-‘Awwam dan Al-Rabbab binti Alif bin ‘Ubaid Al-Kalbi.
Mengetahui semua itu, ternyata tidak membuat gelegak cinta Khalid bin Yazid kepada Ramlah binti Al-Zubair kian mereda dan sirna. Alih-alih, cintanya kian membara dan nyaris tidak terkendali.
Mengetahui kisah cinta Khalid tersebut, Al-Hajjaj bin Yusuf Al-Tsaqafi, panglima Dinasti Umawiyah kala itu, benar-benar tidak dapat menerimanya. Ia pun segera mengirim ‘Ubaidullah bin Mauhib, untuk menyampaikan sepucuk surat kepada Khalid. Dalam surat itu Al-Hajjaj, antara lain, menulis, “Menurut saya, tidak semestinya engkau melakukan pendekatan terhadap anggota keluarga Al-Zubair bin Al-‘Awwam sebelum engkau meminta pertimbangan kepadaku. Bagaimana engkau berani melakukan pendekatan terhadap sebuah keluarga yang tidak sepadan dengan keluargamu. Begitulah yang pernah dikatakan kakekmu, Mu‘awiyah bin Abu Sufyan. Mereka adalah orang-orang yang pernah menyerang kekuasaan ayahmu. Juga, mereka menuduhnya dengan berbagai tindak kejahatan serta memandang ayah dan kakekmu sebagai orang sesat!”
Menerima surat demikian, Khalid bin Yazid dengan geram pun berucap kepada ‘Ubaidullah bin Mauhib, “Andaikan kau bukan kurir yang memang tidak boleh dijatuhi hukuman, tentu akan kupotong anggota tubuhmu. Satu demi satu! Lantas, kulempar potongan-potongan tubuhmu di depan pintu rumah temanmu itu. Katakan kepada Al-Hajjaj, tidak semua urusan harus diserahkan kepadanya dan dimintakan pertimbangannya.
Perihal keluarga Al-Zubair yang menurutnya pernah menyerang kekuasaan ayahku, dan menuduhnya dengan segala kejahatan, kukira hal itu biasa berlaku di kalangan orang-orang Quraisy. Dan, bila Allah Swt. telah menetapkan suatu kebenaran, memboikot dan menandingi mereka tergantung pada cita-cita dan keutamaan mereka. Perihal keluarga Al-Zubair yang menurut ia tidak sepadan, kiranya Allah mencelakakan Al-Hajjaj. Betapa picik pengetahuannya perihal garis keturunan kaum Quraisy. Bukankah Al-Zubair bin Al-‘Awwam sepadan dengan ‘Abdul Muththalib bin Hasyim, karena pernikahannya dengan Shafiyah, dan juga karena pernikahan Rasulullah Saw. dengan Khadijah binti Khuwailid. Apakah ia tidak melihat bahwa mereka sepadan dengan Abu Sufyan?”
Kemudian, seusai naik haji, ‘Abdul Malik bin Marwan menerima laporan perihal kejadian itu. Menerima laporan demikian, tentu saja penguasa Dinasti Umwiyah itu pun merasa penasaran. Karena itu, ia pun meminta Khalid bin Yazid datang untuk menemuinya dan menjelaskan kejadian itu.
“Amir Al-Mukminin,” ucap Khalid bin Yazid yang tidak kuasa mengelak untuk menjawab pertanyaan orang nomor satu Dinasti Umawiyah itu. “Ketika kita tiba di Kota Suci ini dan kemudian bertawaf, entah mengapa tiba-tiba mata saya tanpa sengaja beradu pandang dengan mata seorang perempuan nan jelita. Ternyata, selepas saya menceri tahu, perempuan itu adalah Ramlah binti Al-Zubair bin Al-‘Awwam.”
“Oh, Ramlah binti Al-Zubair?” sahut ‘Abdul Malik bin Marwan terkejut seraya menggeleng-gelengkan kepalanya. “Bukankah perempuan itu adalah saudara perempuan ‘Abdullah bin Al-Zubair? Bukankah saudara laki-lakinya adalah lawan politik berat ayahmu dan kita?”
“Benar, wahai Amir Al-Mukminin,” jawab putra Yazid bin Mu‘awiyah (yang memerintahkan pasukannya untuk melibas ‘Abdullah bin Al-Zubair yang menentangnya) dengan suara pelan dan merundukkan kepala. “Perempuan cantik nan menawan itu memang adalah saudara perempuan ‘Abdullah bin Al-Zubair. Meski demikian, kecantikan dan kepribadiannya yang menawan benar-benar membuat pikiran saya kacau tidak karuan. Demi Allah, semenjak semula sejatinya saya berniat tidak akan menuturkan hal ini kepada Amir Al-Mukminin. Tetapi, ternyata kesabaran saya pun ada batasnya. Mata saya telah saya paksa untuk melupakannya. Namun, ia menolak dan tidak mau menerimanya. Saya pun telah mencoba, dengan segala cara, untuk menghibur hati saya. Tetapi, ia juga menolak.”
“Khalid bin Yazid,” ucap sang penguasa, yang merasa heran mendengarkan penjelasan cucu pendiri Dinasti Umawiyah yang demikian itu, seraya menarik napas panjang. “Saya tidak mengira, cinta dapat menguasai diri seseorang seperti engkau ini!”
“Amir Al-Mukminin,” jawab Khalid bin Yazid seraya menundukkan kepala. “Saya sendiri sejatinya lebih heran ketimbang Paduka. Sebab, sejak semula saya berpendapat, cinta hanya dapat menguasai dua jenis orang: para penyair dan orang-orang Badui. Adapun para penyair, ini karena pikiran mereka hanya tertuju kepada perempuan, menggambarkan keindahannya, dan merayunya. Akibatnya, watak mereka menyukai perempuan dan dengan sendirinya hati mereka gampang meyerah di hadapan sergapan cinta. Sedangkan orang-orang Badui, ketika salah seorang di antara mereka tinggal hanya berduaan dengan istrinya, tiada yang menguasai perasaannya selain hanya cintanya kepada istrinya. Juga, tiada kesibukan apa pun yang kuasa memalingkan cintanya itu. Akibatnya, hatinya tidak kuasa untuk menolak cinta. Sehingga, cinta pun menguasai dirinya. Tetapi, saya merasa heran, saya belum pernah melihat satu pun pandangan yang dapat menghalang-halangi diri saya dari kebulatan tekad saya dan membuat diri saya terasa mudah melakukan perbuatan dosa selain pandangan saya kali ini.”
“Khalid,” sergah sang penguasa seraya menatap tajam cucu Mu‘awiyah bin Abu Sufyan itu. “Apakah cintamu itu sudah sedemikian parah sehingga menguasai dirimu?”
“Demi Allah, wahai Amir Al-Mukminin,” jawab Khalid bin Yazid seraya mendongakkan kepalanya dan salah tingkah, “Sebelum ini, saya tidak pernah mengalami kekacauan dalam berpikir sebagaimana yang terjadi saat ini.”
Memahami “penyakit” yang sedang menyergap Khalid bin Yazid bin Mu‘awiyah tersebut, ‘Abdul Malik bin Marwan akhirnya memutuskan untuk meminang Ramlah binti Al-Zubair sebelum balik ke Damaskus. Dan, selepas melangsungkan acara pernikahan dengan Ramlah binti Al-Zubair di Makkah, Khalid bin Yazid kemudian memboyong istrinya yang cantik dan sangat ia cintai itu ke Damaskus, Suriah.
Duh!

Filed under: Tokoh

IBN HAZM

“Mengaji Bareng Ahmad Rofi’ Usmani”(8)

IBN HAZM: FILOSUF CINTA YANG SELAMA 6 BULAN PERNAH GAK GANTI BAJU KARENA PATAH CINTA

Cordoba, tahu kan?

Ketika berada di kota indah di Andalusia itu, beberapa tahun lalu, selain mengunjungi Masjid Cordoba, ada dua tempat yang sangat saya dambakan untuk saya datangi. Yang pertama, rumah Ibn Hazm yang terletak di Puerta Sevilla St. Mengapa? Selain karya puncak Imam Al-Ghazali yang terdiri dari 16 jilid, karya puncak lain seorang ulama kondang yang pernah saya terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia adalah Thawq Al-Hamamah, sebuah karya klasik legendaris tentang cinta.

Menerjemahkan Thawq Al-Hamamah, ternyata, tidak kalah berat ketimbang menerjemahkan Kitab Ihya’. Mengapa? Thawq Al-Hamamah sarat dengan puisi. Puisi cinta apalagi. Untuk dapat “menundukkan” magnus opum itu, saya pun membeli terjemahan karya itu dalam bahasa Inggris, berjudul Ring of the Dove. Lewat karya terjemahan Prof.DR. A.J. Arberry, seorang guru besar kondang Universitas Cambridge Inggris, akhirnya saya berhasil menundukkan Thawq Al-Hamamah.

Nah, ketika berada di ujung Puerta Sevilla, di kaki patung Ibn Hazm, betapa bahagia saya: dengan berdiri di situ serasa saya kuasa menyedot semangat luar biasa Ibn Hazm dalam berkhidmat terhadap dunia ilmu. Alhamdulillah wasy syukr lillah.

Rumah berikut yang saya buru adalah rumah Ibn Rusyd: seorang ulama dan ilmuwan terkemuka dan raksasa di kota yang sama. Ia tak kalah kondang ketimbang Ibn Hazm. Mengenai perburuan terhadap rumah kedua ini akan saya ceritakan lain kali. Kisah perburuan yang memikat.

Biar tidak berpanjang kalam, “Mengaji Bareng Ahmad Rofi’ Usmani”(8) kali ini mengajak Anda mengaji tentang cinta. Bersama seorang filosuf Muslim terkemuka: Ibn Hazm. Monggo:

“Mengaji Bareng Ahmad Rofi’ Usmani”(8)

Ahmad Rofi’ Usmani, lahir di Cepu, Jawa Tengah, 26 Januari 1953. Alumnus dan mantan pengurus Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta (1973-1974) ini menyelesaikan program S-1 Fakultas Syariah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta, pada 1977. Selepas itu, pada 1978, dia diterima di Fakultas Syariah Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir. Selama sekitar enam tahun di Mesir, mantan Ketua Lembaga Penelitian Ilmiah Persatuan Pelajar Indonesia di Mesir (1981-1983) ini juga menghadiri program pascasarjana di bidang sejarah dan kebudayaan Islam di Fakultas Dar Al-‘Ulum, Universitas Kairo, Kairo, Mesir. Di sisi lain, selama itu pula, dia juga memelajari dan mendalami bahasa Perancis di Lembaga Kebudayaan Perancis di Kairo.
Setiba kembali di Indonesia, pada 1984 M, suami seorang dokter spesialis penyakit dalam ini kemudian berkiprah di bidang media massa, antara lain menjadi Pemimpin Pelaksana majalah Panggilan Adzan dan Redaktur Ahli majalah Kiblat (1988-1992). Selain itu, ayah dua putri yang pernah mengunjungi sejumlah negara, antara lain Arab Saudi, Mesir, Pakistan, Brunei Darussalam, Thailand, Singapura, Malaysia, Jerman, Uni Emirat Arab, Austria, Perancis, Luksemburg, Korea, Turki, Tiongkok, Hong Kong, Macau, Australia, Belanda, Belgia, Jordania, Palestina, Qatar, Spanyol, Jepang, dan Taiwan ini juga seorang pembimbing ibadah haji dan umrah sejak 1979. Di luar kegiatan-kegiatan tersebut, Ketua Dewan Pembina Yayasan Nun Bina Muda Indonesia, sebuah yayasan yang bergerak di bidang pendidikan, ini juga senantiasa meluangkan sebagian waktunya untuk menerjemahkan, menyunting, dan menyusun buku.
Karya-karya tulisnya yang sudah terbit, baik berupa karya sendiri, suntingan, maupun terjemahan, antara lain adalah 100 Great Stories of Muhammad (2017), Kisah-Kisah Romantis Rasulullah (2017), Islamic Golden Stories 2, Tanggung Jawab Pemimpin Muslim (2016), Jejak-Jejak Islam, (2016), Islamic Golden Stories 1: Para Pemimpin yang Menjaga Amanah (2016), Pesona Akhlak Nabi (2016), Jejak-Jejak Islam, edisi e-book (2015), Pesona Ibadah Nabi (2015), Kisah para Pencari Nikmatnya Shalat (2015), Ensiklopedia Tokoh Muslim (2015), Makkah-Madinah (2011), Dari Istana Topkapi Hingga Eksotisme Masjid Al-Azhar (2011), Kado Indah untuk Muslimah (2010), Mutiara Riyâdushshâlihîn (2009), Muhammad, sang Kekasih (2009), Risalah Cinta: Kitab Klasik Legendaris tentang Seni Mencinta (2009), Masjid di Pelbagai Belahan Bumi Tuhan (2008), Pesan Indah dari Makkah dan Madinah (2008), Wangi Akhlak Nabi (2007), Nama-Nama Islami nan Indah untuk Anak Anda (2007), Rumah Cinta Rasulullah (2007), Mutiara Akhlak Rasulullah Saw. (2006); Teladan Indah Rasulullah dalam Ibadah (2005); Muhammad: Nabi Barat dan Timur (2004); Ihyâ’ ‘Ulûm Al-Dîn, 16 jilid (2004); Anak Golda Meir pun Memeluk Islam (2004); Dua Wajah Luciana (2004); Membedah Pemikiran Islam (2000); Pesona Islam (1998); Kajian Kontemporer Al-Quran (1998); Tokoh-Tokoh Muslim yang Mengukir Zaman (1998); Sejarah Kebudayaan Islam (1997); Nasruddin Hoja: Riwayat Hidup, Anekdot, dan Filsafatnya (1993); Al-Ghazali: Sang Sufi Sang Filosof (1987); Filsafat Sejarah Menurut Ibn Khaldun (1987); Sufi dari Zaman ke Zaman (1987); Filsafat Kebudayaan Islam (1986); Filsafat dan Puisi Iqbal (1985); Al-Quran dan Ilmu Jiwa (1985); dan Islam Menjawab Tantangan Zaman (1983).

IBN HAZM
Filosuf Cinta yang Pernah Patah Hati

“Tanda-tanda cinta berikutnya adalah melakukan segala tindakan yang biasa dilakukan sang pujaan. Meskipun tindakan itu tidak pernah dan tidak dapat dilakukan sebelumnya. Cinta memang kuasa mengubah orang pelit nan kikir menjadi dermawan luar biasa. Cinta memang kuasa mengubah si pendiam menjadi betah berbicara. Cinta memang kuasa mengubah si penakut menjadi pemberani luar biasa. Cinta memang kuasa mengubah si pandir menjadi beradab begitu saja. Cinta memang kuasa mengubah orang yang tadinya malas berhias menjadi pesolek di depan kaca. Cinta memang kuasa mengubah si miskin berlagak kaya. Cinta memang kuasa mengubah si tua berlagak muda. Cinta memang kuasa mengubah si saleh nan sopan menjadi genit suka menggoda. Cinta memang kuasa mengubah si pecundang menjadi pemenang. Itulah cinta!”

Ibn Hazm, Thauq Al-Hamâmah.

Lahir: Cordoba, Rabu, 30 Ramadhan 384 H/7 November 994 M
Berpulang: Manta Lisham, Sabtu, 28 Sya‘ban 456 H/14 Agustus 1064 M

Bila Anda mengunjungi Kota Cordoba, Spanyol, di Jalan Puerta Sevilla (Calle Puerta Sevilla) di kota itu akan Anda temui patung seorang lelaki tegak dengan gagahnya. Lelaki gagah mengenakan jubah, seakan dia sedang berjalan menuju masjid kota itu. Patung itu didirikan masyarakat dan pemerintah Cordoba pada 1383 H/1963 M. Itulah penghargaan terhadap jasa-jasa tokoh yang dipatungkan. Lelaki itu, tak salah lagi, adalah Ibn Hazm, penulis sebuah karya karya besar tentang cinta yang sebagian isinya disajikan di atas: Thauq Al-Hamâmah.
Karya tersebut, ketika ditemukan kembali, ternyata mampu mengguncang dunia seperti karya-karya Ibn Hazm yang lain. Karya itu lalu diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa asing. Malah, dalam edisi terjemahan dalam bahasa Spanyol, tak tanggung-tanggung Ortega y Gasset-sastrawan terkenal negeri itu-yang memberikan kata pengantar.
Bagaimanakah karya besar itu ditemukan?
Pada penggal pertama abad ke-17, tibalah Von Wagner, duta besar Belanda untuk Dinasti Usmaniyah, di Istanbul. Ia kemudian menetap di kota itu antara 1074-1075 H/1664-1665 M. Begitu ia menjejakkan kakinya di Istanbul, ia segera menaruh perhatian terhadap manuskrip-manuskrip berbahasa Arab. Ini tidak aneh, karena ia jebolan dari Departemen Studi Ketimuran, Universitas Leiden. Upaya untuk mendapatkan manuskrip-masukrip itu menjadi perhatian utamanya. Ia kadang membeli atau mencatat isinya.
Pada 1096 H/1685 M terbukalah kesempatan emas bagi Von Wagner untuk melaksanakan maksudnya itu. Pada tahun itu, Hajji Khalifah-penyusun Kasyf Al-Zhunûn dan pemilik perpustakaan pribadi terbesar di kota itu-wafat. Di perpustakaan itu terhimpun sejumlah besar manuskrip dan khazanah intelektual Islam. Semua itu dihimpun Hajji Khalifah ketika menjadi serdadu Turki dan selama berkelana di kota-kota Islam seperti Baghdad, Hamadan, dan Aleppo.
Nah, dari perpustakaan Hajji Khalifah itu Von Wagner membeli lebih dari 1.000 manuskrip Arab, Persia, Turki, dan Ibrani, yang meliputi berbagai disiplin ilmu. Khazanah ini kemudian ia hadiahkan kepada Universitas Leiden. Karya cinta Ibn Hazm itu, yang berjudul Thauq Al-Hamâmah (Kalung Burung Dara), merupakan salah satu di antara manuskrip-manuskrip langka itu. Kemudian, selama kurang lebih 170 tahun, karya ini tidak ada yang memperhatikannya.
Pada awal abad ke-19, Universitas Leiden meminta kepada beberapa orientalis untuk membuat katalog manuskrip-manuskrip Arab. Di antara mereka adalah Reinhart P.A. Dozy, seorang pakar kajian Andalusia (kini Spanyol). Di tangannyalah manuskrip Thauq Al-Hamâmah yang terlupakan ditemukan kembali.
Ketika Dozy memublikasikan karyanya yang terkenal, Histoire des Musulmans d’Espagne jusqu’a la conquete de l’Andalouse par les Almoravides, ia menukil sebagian isi Thauq Al-Hamâmah. Nukilan ini berisi kisah cinta pertama Ibn Hazm. Karya itu pun menjadi terkenal di Eropa. Nukilan itu kemudian diterjemahkan Baron von Schack ke dalam bahasa Jerman dan ditampilkan dalam karyanya Poesie und Kunst der Araber in Spanien und Sizilien. Kemudian seluruh karya Ibn Hazm itu diterjemahkan Juan Valera ke dalam bahasa Spanyol. Terjemahan ke dalam bahsa Spanyol ini kemudian diulang lagi langsung dari naskah aslinya dalam bahasa Arab oleh Francisco Pons Boigues.
Pada musim panas 1325 H/1907 M, Dmitrij Konstantinovi Petroff, seorang orientalis Rusia, mengunjungi Kota Tubingen, Jerman. Ia bermaksud mengunjungi gurunya, C.F. Seybold, pakar Jerman mengenai kajian Andalusia. Dalam pertemuan itu, sang guru menyarankan Petroff untuk memublikasikan Thauq Al-Hamâmah.
Ketika Petroff kembali ke kota asalnya, St. Petersburg, Rusia, dalam benak Petroff bergelora keinginan untuk mewujudkan permintaan sang guru. Maksudnya itu ia kemukakan kepada Von Rossen, seorang orientalis Rusia lainnya. Tetapi, Von Rossen menentang keinginan Petroff itu. Namun, Petroff tetap melaksanakan keinginan gurunya. Ia dibantu seorang orientalis Rusia lain, Ignaty Yulianovich Krachkovsky. Akhirnya, terbitlah untuk pertamakalinya karya Ibn Hazm itu dalam teks Arabnya secara lengkap, dalam seri buku-buku yang dipublikasikan Fakultas Sastra, Universitas St. Petersburg. Karya itu dipublikasikan Penerbit E.J.Brill, Leiden, pada 1332 H/1914 M.
Lebih Mencintai Gadis Berambut Pirang
Thauq Al-Hamâmah sendiri sebenarnya merupakan biografi aspek sentimental Ibn Hazm. Tetapi, karya itu juga menyajikan pandangan dan pikirannya tentang cinta. Selain itu, karya itu juga mengemukakan kehidupan sentimental para tokoh dan kenalan Ibn Hazm, khususnya para petinggi Andalusia waktu itu. Ucap Ibn Hazm dalam pendahuluan karyanya itu,
“Dalam menulis karya ini tidak boleh tidak saya harus menampilkan apa yang pernah saya saksikan. Juga, apa yang yang menarik perhatian saya dan apa yang dituturkan pribadi-pribadi yang dapat dipercaya dari masa ini. Karena itu hendaknya dimaafkan bila nama-nama yang ditampilkan dalam karya ini disamarkan. Baik apakah karena itu merupakan aurat yang tidak diperkenankan disingkapkan. Atau untuk menjaga nama teman yang akrab dan tokoh yang terkenal.”
Dapat dikatakan Thauq Al-Hamâmah merupakan karya tentang cinta yang paling menarik dari zaman pertengahan. Di dunia Islam maupun Kristen. Sebab, karya ini melacak perkembangan cinta, mengulas unsur-unsurnya, dan memadukan antara ide filosofis dengan fakta historis.
Dalam menyajikan karyanya, Ibn Hazm memakai bahasa yang jelas, berani, dan terang-terangan. Bahkan, mungkin untuk ukuran abad ke-21 sekali pun. Apalagi bila ditilik kedudukannya sebagai seorang imam besar. Tampak sikapnya sebagai seorang tokoh aliran Zhahiriyah cukup mewarnai karya-karyanya itu. Misalnya, keterusterangannya dalam menuturkan kisah cinta pertamanya dengan gadis berambut pirang bernama Nu‘am. Dengan terang-terangan Ibn Hazm mengakui, ia lebih mengagumi gadis berambut pirang ketimbang gadis berambut hitam.
Mungkin, sikap Ibn Hazm ini bisa dimengerti bila kita mengetahui banyak di antara keluarganya dan para petinggi Andalusia waktu itu berambut pirang. Ini karena nenek-moyangnya adalah warga asli Andalusia. Malah, Kota Cordoba sendiri ketika itu telah banyak dihiasi wanita-wanita berambut pirang. Mengenai kekagumannya terhadap gadis berambut pirang itu, Ibn Hazm menulis,
“Ketika masih remaja, aku jatuh cinta kepada seorang gadis berambut pirang. Sejak itu, aku tidak mengagumi gadis berambut hitam, meski pemiliknya berada di matahari atau sangat molek. Itu kecenderunganku sejak saat itu. Diriku tidak pernah mengagumi lagi kecuali rambut pirang. Itu pula kecenderungan ayahku.”
Bagaimanakah dengan kisah cinta pertama Ibn Hazm sendiri?
Menurut penuturan Ibn Hazm dalam Thauq Al-Hamâmah, cinta pertamanya bersemi ketika ia berusia 18 tahun. Sedangkan gadis berambut pirang itu baru berumur 16 tahun, cantik, bertabiat baik, dan bertubuh sintal. Lagi pula, seperti yang menjadi mode ketika itu, si gadis pandai menyanyi dan memetik kecapi. Tutur Ibn Hazm tentang cinta pertamanya itu,
“Ketika masih remaja, saya jatuh cinta kepada seorang hamba sahaya perempuan nan amat jelita milik keluarga saya yang tinggal di tinggal serumah dengan kami. Hamba sahaya itu masih gadis. Ia baru berusia 16 tahun. Wajahnya elok nan sangat memesona. Kecerdasan dan kesucian dirinya menawan hati. Ia begitu pintar memelihara kehormatan dan harga dirinya. Ia tinggalkan segala perbuatan yang kurang ajar dan tak senonoh. Ia sberpakaian rapi dan tertutup rapat senantiasa, sedikit bicara. Tak suka mencela, pandangannya terjaga, memelihara jarak dengan lawan jenis, selalu bersikap hati-hati. Sungguh, ia benar-benar memesona.
Selain itu, ia begitu pandai berkelit dan piawai dalam menyatakan penolakan. Ia begitu tenang dan santun kala duduk. Ia lebih banyak mendengarkan ketimbang bicara. Ia selalu menghindar apabila ada orang yang berbuat macam-macam dengannya, dan karena itu, orang pun segan kepadanya.
Ia bukan tipe perempuan gampangan, yang setiap laki-laki dapat menyinggahinya. Kepribadiannya memikat hati setiap orang yang mengenalnya. Kesantunan tabiatnya mengusir orang yang hendak menjahilinya. Ia dermawan dan ringan membantu. Ia sungguh cekatan dalam pekerjaan. Ia tak senang canda yang tidak ada manfaatnya. Dan, ia sangat pandai membalas budi dan memendam rasa. Duhai, ia benar-benar gadis yang sangat memikat dan memesona.
Saya sangat mencintainya. Sungguh, saya sangat mencintainya.”
Tampak, Ibn Hazm benar-benar tergila-gila kepada gadis itu. Sepanjang waktu ia selalu menantikan kemunculan si gadis dari pintu ruangan tempat gadis itu tinggal. Begitu gadis itu muncul, Ibn Hazm muda segera memburunya. Ternyata, cinta Ibn Hazm tidak bertepuk sebelah tangan. Meski begitu, si gadis tetap kuasa membawa diri. Begitu ia tahu Ibn Hazm menguntitnya, segera ia berlalu dengan malu-malu. Tentang perilakunya yang sedang terbuai cinta, Ibn Hazm mengisahkan,
“Saya ingat benar bagaimana ketika itu saya selalu pergi ke pintu ruangan tempat ia tinggal. Rasanya, saya selalu ingin mendekati pintu itu agar bisa dekat dengannya. Begitu ia melihat saya di dekat pintu, dengan langkah lemah gemulai ia pergi ke tempat lain. Saya pun menguntitnya sampai ke pintu ruangan tempat ia berada.”
Sayang, kisah cinta dua remaja ini tidak berlangsung lama. Ketika Ibn Hazm berumur 20 tahun, keluarganya pindah rumah dari Cordoba Timur ke Cordoba Barat. Gadis itu tidak ikut pindah. Entah kenapa Ibn Hazm tidak menuturkannya. Yang jelas, tidak berapa lama kemudian gadis itu berpulang. Gelap dunia rasanya bagi Ibn Hazm saat ia mendengar kabar kematian gadis pujaan hatinya itu. Tentang kegalauannya kala itu, Ibn Hazm menceriterakan,
“Betapa acap kita melihat orang yang ditimpa kesedihan akibat kematian. Saya termasuk salah satunya. Saya merasakan, betapa kesedihannya sangat dalam dan menyakitkan. Kesedihan itu lantaran saya sangat mencintai dan menyayangi seorang hamba sahaya perempuan. Nu‘am namanya. Walau hamba sahaya, ia adalah perempuan idaman. Ia memiliki keelokan fisik dan kemuliaan pekerti. Semua harapan saya tentang perempuan ada pada dirinya. Kebetulan saja saya adalah majikannya. Antara saya dan ia terjalin tali cinta yang setara.
Akan tetapi, kemudian, takdir berbicara. Kematian memisahkan kami berdua. Melintasi perputaran siang dan malam Nu‘am tidak lagi kuasa. Sang waktu telah berhenti untuknya. Dalam lapisan ketiga bumi, selepas tanah dan bebatuan, kini tubuhnya berada. Saat itu, usia saya belum lagi genap 20 tahun dan ia lebih muda dari saya. Saya sedih tidak terkira.
Tujuh bulan sejak kematiannya, saya benar-benar menderita. Saya laiknya orang gila. Saya tidak pernah berganti pakaian dan air mata saya meleleh tiada hentinya. Padahal, saya tergolong orang yang sulit mengeluarkan air mata. Demi Allah, hingga buku ini saya tulis, saya pun tidak dapat melupakannya. Andai saja Allah menerima tebusan untuknya, niscaya ia akan saya tebus dengan apa saja yang saya punya. Dengan harta. Bahkan, dengan nyawa.
Jujur saja, selepas kematiannya, saya tidak lagi dapat merasakan kenikmatan hidup. Saya tidak dapat melupakannya sama sekali. Juga, saya tidak kuasa berpindah ke perempuan lain. Cinta saya kepadanya menghapus semua kisah cinta yang pernah saya alami, dan sulit memunculkan cinta baru. Keindahan di saat bersama, juga kesedihan tidak terperikan akibat kematiannya, telah mematikan kenangan yang tidak mudah dilupakan.”
Memang, kenangan cinta pertama Ibn Hazm kepada Nu‘am tidak pernah layu. Meski kemudian ia mengalami perjalanan hidup yang panjang, menikah, membina keluarga, dan memiliki tiga anak.

Mengintip Misteri Wanita
Thauq Al-Hamâmah yang rampung penulisannya pada Rajab 738 H/1338 M itu bukan hanya menggelar kisah cinta Ibn Hazm saja. Karya itu juga menyajikan pandangan dan pikirannya tentang cinta. Barang kali ide dalam menyusun karya ini, selain memenuhi permintaan ‘Ubaidullah bin ‘Abdurrahman bin Al-Mughirah, timbul dari kisah cinta pertamanya itu. Namun perlu dicatat juga, Ibn Hazm sejak kecil hingga remaja diasuh para wanita, suatu kehidupan yang banyak mewarnai keluarga-keluarga pejabat tinggi Muslim kala itu. Lewat kehidupannya di lingkungan kaum wanita ini, Ibn Hazm banyak menimba pengetahuan tentang cinta. Yang lebih penting lagi, ia bisa menguak beberapa sisi kehidupan wanita yang banyak diliputi misteri.
Karya Ibn Hazm tentang cinta ini terdiri dari 30 bab. Dari 30 bab ini, 10 bab di antaranya mengulas tentang pokok-pokok cinta. Ia kemukakan pandangannya tentang substansi cinta, pertanda cinta, orang yang jatuh cinta karena mimpi, orang yang jatuh cinta karena penuturan orang lain, orang yang jatuh cinta sejak pandangan pertama, orang yang jatuh cinta setelah lama mengenal, penyampaian cinta dengan kata-kata, isyarat dengan mata, surat-menyurat, dan akhirnya lewat “mak comblang”.
Bab-bab lain, antara lain, menguraikan tentang rahasia cinta, pernyataan cinta, kesetiaan, pengkhianatan, derita, dan kematian karena cinta. Karya itu diakhiri dengan dua bab tentang keburukan maksiat dan keutamaan menjaga diri dari dosa.
Kini, bagaimanakah pendapat Ibn Hazm tentang cinta dalam Thauq Al-Hamamah itu?
Menurut Ibn Hazm, cinta sulit untuk diuraikan. Ini karena hakekat cinta tidak mudah dimengerti kecuali oleh orang yang pernah mengalaminya. Cinta sendiri tidak dilarang agama. Menurut penuturan Ibn Hazm, banyak khalifah dan tokoh yang jatuh cinta. Misalnya, ‘Abdurrahman bin Mu‘awiyah yang jatuh cinta kepada Da‘ja’ dan Al-Hakam ibn Hisyam jatuh cinta kepada Tharrub.
Mengenai sebagian gelagat orang yang sedang jatuh cinta, Ibn Hazm mengemukakan beberapa pertanda. Pertama, kecanduan memandang orang yang dikasihi. Pandangan orang yang dimabuk cinta itu selalu terarah kepada sang kekasih dan selalu beralih ke arah ke mana sang kekasih pergi. Kedua, segera menuju tempat sang kekasih berada, sengaja duduk di dekatnya dan mendekatinya, dan menolak melakukan tindakan yang membuatnya kehilangan jejak sang kekasih. Ketiga, gelisah dan gugup ketika melihat seseorang yang mirip dengan orang yang dicintai atau mendengar nama sang kekashi disebut secara mendadak. Keempat, kesediaan untuk melakukan hal-hal yang sebelumnya enggan untuk melakukannya. Misalnya, Ibn Hazm memberikan contoh, karena jatuh cinta, seseorang yang pelit berubah menjadi dermawan, yang penakut menjadi pemberani, yang dekil menjadi suka mematut diri.
Kini, apakah bagian yang paling dalam percintaan?
Menjawab pertanyaan yang demikian itu, Ibn Hazm mengenai hal itu,
“Salah satu bagian paling menarik dalam percintaan adalah saat pertemuan dengan sang pujaan. Itulah saat yang selalu didamba. Kebahagiaan, kegembiraan, dan keceriaan berpadu menjadi satu pada saat kita bertemu dengan sang pujaan. Ada yang menyebut saat pertemuan itu dengan kehidupan baru.
Saat pertemuan adalah saat yang paling menyenangkan. Kebahagiaan tidak terperikan ada di sana. Segala kebesaran dan rahmat Allah terhimpun pada saat itu. Andai saja dunia bukan tempat singgah sementara, juga bukan medan ujian dan perjuangan, dan andai saja surga bukanlah negeri segala perbuatan diganjar, negeri peristirahatan terakhir dan segala jerih payah di dunia, niscaya akan saya katakan, sejatinya pertemuan dengan sang pujaan adalah kebeningan dan kejernihan tidak bernoda. Ia adalah puncak segala kebahagiaan dan kegembiraan. Tidak ada duka nestapa di dalamnya. Ia adalah tempat tercapainya segala angan-angan dan cita-cita.”
Dan, apakah yang paling mencoreng cinta?
“Melakukan perbuatan maksiat, antara lain berzina dan mengumbar hawa nafsu,” jawab Ibn Hazm.

Filosof Cinta yang Bergelar Imam
Kini, bagaimanakah kisah hidup ringkas ulama yang filosuf cinta ini?
Selain terkenal sebagai filosuf cinta, Ibn Hazm sejatinya adalah seorang ahli hukum Islam dan ilmu kalam terkemuka Andalusia lo.
Nama lengkap tokoh yang gagah dan ganteng ini adalah Abu Muhammad ‘Ali bin Ahmad bin Sa‘id bin Hazm. Lahir di Cordoba pada Rabu, 30 Ramadhan 384 H/7 November 994 M, dalam lingkungan keluarga yang berasal dari Desa Manta Lisyam yang terletak dalam wilayah Niebla. Ilmuwan dan ulama berdarah Persia ini tumbuh dewasa sebagai putra seorang menteri Al-Manshur bin Abu ‘Amir di sebuah istana nan indah dan megah. Sang ayahlah, seperti kebiasaan kala itu, yang menjadi guru pertamanya. Ketika sang ayah berpulang, pada akhir Dzulqa‘dah 402 H/Juni 1013 M, ia pun meninggalkan Cordoba yang kala itu sedang diguncang prahara perang saudara dan menetap di Almeria dan Jativa.
Lima tahun kemudian, ketika Ibn Hazm kembali ke Cordoba, ia diangkat sebagai menteri oleh ‘Abdurrahman IV Al-Murtadha. Segera, dunia kekuasaan dan politik menjadi tak asing baginya. Beberapa kali ia terlibat dalam konflik politik yang keras, terutama selepas pembunuhan ‘Abdurrahman V Al-Mustazhhir pada 424 H/1023 M.
Selepas merasakan pahit getirnya dunia politik, Ibn Hazm kemudian memalingkan diri ke arah dunia ilmu pengetahuan. Lahirlah karya-karyanya yang terkenal hingga kini. Di bidang fikih, karyanya yang berjudul Al-Muhallâ merupakan salah satu sumber rujukan. Di bidang ilmu kalam, karyanya Al-Fashl fî Al-Milal wa Al-Ahwâ’ wa Al-Nihal tidak kalah nilainya dibandingkan dengan karyanya di bidang fikih itu. Di bidang akhlak, ia menggelar karya besarnya dengan judul Al-Akhlâq wa Al-Sair fî Mudâwah Al-Nufûs. Tak mengherankan bila ia mendapat gelar Al-Imâm (Sang Imam).
Ibn Hazm juga dikenal sebagai ahli hukum Islam yang menganut Aliran Zhahiriyah, yang menolak ra’y (rasio), dan mengambil lahiriah teks-teks Al-Quran. Tak aneh bila ia berpendapat bahwa barang siapa memberi fatwa dengan berdasarkan ra’y, maka ia memberi fatwa tanpa ilmu. Menurutnya, seseorang tidak dipandang berilmu tentang Islam, kecuali apabila ia mendalami Al-Quran dan Al-Sunnah.
Ulama yang berpulang ke hadirat Allah di Manta Lisham pada Sabtu, 28 Sya‘ban 456 H/14 Agustus 1064 M ini juga terkenal sebagai seorang penulis yang produktif. Konon, karya-karya sekitar 400 buku. Antara lain Al-Fashl fî Milal wa Al-Nihal, Al-Nâsikh wa Al-Mansûkh, Al-Ahkâm li Ushûl Al-Ahkâm, Nuqâth Al-‘Arûs fî Tawârîkh Al-Khulafâ’, dan Jawâmi‘ Al-Sîrah Al-Nabawiyyah.
Anda ingin memahami cinta lebih jauh?
Silakan simak karya menawan pemikir Muslim yang pada 1384 H/1964 M, seribu tahun kewafatannya, diperingati Kota Cordoba, Spanyol ini. Bila Anda belum kuasa membaca karya puncak itu, Thauq Al-Hamâmah, dalam bahasa Arab, Anda dapat menyimaknya kok dalam terjemahannya berbahasa Indonesia dengan judul Risalah Cinta!@

Filed under: Tokoh

MUHYIDDIN AL-NAWAWI

“Mengaji Bareng Ahmad Rofi’ Usmani”(10)

MUHYIDDIN AL-NAWAWI: Ulama Terkemuka yang Senantiasa Menggemakan Kebenaran.

“Ya Allah, bulan Ramadhan akan datang lagi!”

Demikian gumam pelan bibir saya tadi pagi, selepas shalat Shubuh. Ketika saya sedang menyiapkan tas kabin yang akan menemani perjalanan jauh saya hingga 4 Mei 2019 nanti.

Entah kenapa, ketika sedang merenungkan tentang kehadiran Ramadhan, benak saya “melayang” ke belakang. Pertama, ketika masih menjadi santri Pesantren Krapyak, Jogja. Alhamdulillah, selama beberapa tahun, setiap bulan Ramadhan saya dapat mengikuti pengajian Kitab Riyadhus Shalihin, sebuah kitab hadis yang disusun seorang ulama terkemuka, Imam Al-Nawawi. Kedua, saya dikaruniai Allah kesempatan menerjemahkan dan mengikhtisarkan kitab tersebut. Terjemahan tersebut kemudian diterbitkan Penerbit Mizan dengan judul Mutiara Riyadhush Shalihin.

Imam Al-Nawawi, siapakah ia?

Nah, “Mengaji Bareng Ahmad Rofi’ Usmani”(10) kali ini memaparkan kisah ringkas sang imam. Dan, pada kesempatan ini saya memohon maaf bila ada kesalahan, kekhilafan, dan kekeliruan. Dan, mohon doa, kluyuran saya kali ini, keliling Turki, semoga lancar dan penuh berkah. Matur nuwun dan mari bareng mengaji. Monggo:

“Mengaji Bareng Ahmad Rofi’ Usmani”(10)

Ahmad Rofi’ Usmani, lahir di Cepu, Jawa Tengah, 26 Januari 1953. Alumnus dan mantan pengurus Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta (1973-1974) ini menyelesaikan program S-1 Fakultas Syariah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta, pada 1977. Selepas itu, pada 1978, dia diterima di Fakultas Syariah Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir. Selama sekitar enam tahun di Mesir, mantan Ketua Lembaga Penelitian Ilmiah Persatuan Pelajar Indonesia di Mesir (1981-1983) ini juga menghadiri program pascasarjana di bidang sejarah dan kebudayaan Islam di Fakultas Dar Al-‘Ulum, Universitas Kairo, Kairo, Mesir. Di sisi lain, selama itu pula, dia juga memelajari dan mendalami bahasa Perancis di Lembaga Kebudayaan Perancis di Kairo.
Setiba kembali di Indonesia, pada 1984 M, suami seorang dokter spesialis penyakit dalam ini kemudian berkiprah di bidang media massa, antara lain menjadi Pemimpin Pelaksana majalah Panggilan Adzan dan Redaktur Ahli majalah Kiblat (1988-1992). Selain itu, ayah dua putri yang pernah mengunjungi sejumlah negara, antara lain Arab Saudi, Mesir, Pakistan, Brunei Darussalam, Thailand, Singapura, Malaysia, Jerman, Uni Emirat Arab, Austria, Perancis, Luksemburg, Korea, Turki, Tiongkok, Hong Kong, Macau, Australia, Belanda, Belgia, Jordania, Palestina, Qatar, Spanyol, Jepang, dan Taiwan ini juga seorang pembimbing ibadah haji dan umrah sejak 1979. Di luar kegiatan-kegiatan tersebut, Ketua Dewan Pembina Yayasan Nun Bina Muda Indonesia, sebuah yayasan yang bergerak di bidang pendidikan, ini juga senantiasa meluangkan sebagian waktunya untuk menerjemahkan, menyunting, dan menyusun buku.
Karya-karya tulisnya yang sudah terbit, baik berupa karya sendiri, suntingan, maupun terjemahan, antara lain adalah 100 Great Stories of Muhammad (2017), Kisah-Kisah Romantis Rasulullah (2017), Islamic Golden Stories 2, Tanggung Jawab Pemimpin Muslim (2016), Jejak-Jejak Islam, (2016), Islamic Golden Stories 1: Para Pemimpin yang Menjaga Amanah (2016), Pesona Akhlak Nabi (2016), Jejak-Jejak Islam, edisi e-book (2015), Pesona Ibadah Nabi (2015), Kisah para Pencari Nikmatnya Shalat (2015), Ensiklopedia Tokoh Muslim (2015), Makkah-Madinah (2011), Dari Istana Topkapi Hingga Eksotisme Masjid Al-Azhar (2011), Kado Indah untuk Muslimah (2010), Mutiara Riyâdushshâlihîn (2009), Muhammad, sang Kekasih (2009), Risalah Cinta: Kitab Klasik Legendaris tentang Seni Mencinta (2009), Masjid di Pelbagai Belahan Bumi Tuhan (2008), Pesan Indah dari Makkah dan Madinah (2008), Wangi Akhlak Nabi (2007), Nama-Nama Islami nan Indah untuk Anak Anda (2007), Rumah Cinta Rasulullah (2007), Mutiara Akhlak Rasulullah Saw. (2006); Teladan Indah Rasulullah dalam Ibadah (2005); Muhammad: Nabi Barat dan Timur (2004); Ihyâ’ ‘Ulûm Al-Dîn, 16 jilid (2004); Anak Golda Meir pun Memeluk Islam (2004); Dua Wajah Luciana (2004); Membedah Pemikiran Islam (2000); Pesona Islam (1998); Kajian Kontemporer Al-Quran (1998); Tokoh-Tokoh Muslim yang Mengukir Zaman (1998); Sejarah Kebudayaan Islam (1997); Nasruddin Hoja: Riwayat Hidup, Anekdot, dan Filsafatnya (1993); Al-Ghazali: Sang Sufi Sang Filosof (1987); Filsafat Sejarah Menurut Ibn Khaldun (1987); Sufi dari Zaman ke Zaman (1987); Filsafat Kebudayaan Islam (1986); Filsafat dan Puisi Iqbal (1985); Al-Quran dan Ilmu Jiwa (1985); dan Islam Menjawab Tantangan Zaman (1983).

MUHYIDDIN AL-NAWAWI:
Ulama Terkemuka yang Senantiasa Menggemakan Kebenaran

“Saya merasa terpanggil untuk menyusun sebuah kitab yang berisi hadis-hadis sahih yang mencakup bagaimana caranya seseorang dapat sampai ke akhirat dengan selamat. Juga, bagaimana caranya seluruh tata-krama seseorang, lahir maupun batin, dapat sempurna. Hadis-hadis yang saya himpun itu meliputi anjuran, ancaman, dan berbagai petunjuk untuk menggapai kesempurnaan. Misalnya, hadis tentang zuhud, latihan jiwa, pendidikan akhlak, penyucian dan pengobatan kalbu, pemeliharaan anggota tubuh dan berbagai penyimpangan, dan lain-lain sebagainya.
Saya berupaya sepenuh daya untuk tidak mencantumkan hadis-hadis yang tidak sahih. Semua hadis itu saya kutip dari kitab-kitab hadis sahih yang masyhur. Pada setiap bab, sebelum sajian hadis-hadis, saya upayakan untuk mencantumkan beberapa ayat Al-Quran, disertai berbagai catatan dan paparan tentang hal-hal yang masih memerlukan penjelasan. Kemudian, jika saya mengatakan pada penghujung hadis dengan ‘muttafaq ‘alaih’, maka yang dimaksud adalah hadis yang dituturkan Al-Bukhari dan Muslim.”

Muhyiddin Al-Nawawi, Riyâdh Al-Shâlihîn

Lahir: Nawa, Ahad, 10 Muharram 631 H/16 Oktober 1233 M
Berpulang: Nawa, Rabu, 24 Rajab 676 H/22 Desember 1277 M

“Sultan, pasukan musuh kian mendekati wilayah kita!”
Demikian ucap seorang pejabat ketika melaporkan gerak maju pasukan musuh, yang kian berani memasuki wilayah Dinasti Mamluk, kepada penguasa ke-4 Dinasti Mamluk di Mesir dan Suriah, Sultan Al-Zhahir Ruknuddin Baibars Al-Bunduqdari Al-Shalihi, hari itu. Kala itu, sang penguasa sedang berada di Damaskus, Suriah.
Kala itu, gerak maju pasukan Mongol di bawah pimpinan Jenderal Hulagu Khan, dalam upaya menguasai Dunia Islam, memang seakan tidak terbendung lagi. Satu demi satu berbagai wilayah dunia Islam kala itu jatuh tidak berdaya sama sekali dalam cengkeraman pasukan yang terkenal sangat ganas dan brutal di bawah pimpinan putra Tului Khan dan cucu Jengis Khan itu, yang mendapat perintah dari Mangu, saudaranya yang menjabat Khan Besar, untuk melibas Dunia Islam.
Pada Dzulhijjah 653 H/Januari 1256 M pasukan Mongol di bawah komando sang jenderal mulai menyeberangi Sungai Oxus (Amu-Darya). Selepas merontokkan Benteng Alamut, yang menjadi pusat pertahanan sangat tangguh kelompok Hasysyâsyûn (dalam khazanah ilmiah Barat disebut kelompok Assasins) yang sangat ditakuti kala itu, pada awal 1258 M pasukan yang terkenal sangat garang dan kejam itu mulai mengepung Baghdad Madinah Al-Salam. Akhirnya, kota yang dibangun Abu Ja‘far Al-Manshur, penguasa ke-2 Dinasti Abbasiyah, itu pun diluluhlantakkan pada Ahad, 4 Shafar 656 H/10 Februari 1258 M dan penguasa Dinasti Abbasiyah kala itu, Al-Mu‘tashim, dibunuh. Kota yang pernah memendarkan puncak peradaban dunia itu “banjir dengan darah dan berbau sangat anir”. Jutaan manusia dilibas dengan sangat brutal. Dan, entah berapa juta buku diinjak-injak dan dibuang ke sungai. Tanpa kenal rasa hormat sama sekali.
Kejatuhan Baghdad Madinah Al-Salam dengan korban kaum Muslim yang sangat besar itu, membuat seorang panglima militer Dinasti Saljuq, termangu dan sangat masygul. Panglima yang satu ini lahir pada 620 H/1223 M, sebagai seorang mamlûk (yang berarti budak, tapi kemudian menjadi nama dinasti), asal Kipchak, Kaukasus, wilayah pegunungan di perbatasan Rusia dan Turki. Kala masih kecil, ia dijual dengan harga murah bersama para budak itu dan direkrut Al-Malik Al-Shalih (karena itu mendapat sebutan Al-Shalihi) dari Dinasti Ayyubiyah di Mesir, untuk diberi pendidikan militer dan dijadikan sebagai pengawal sultan karena mereka dikenal gagah dan kuat. Mereka diberi kedudukan sehingga kedudukan mereka meningkat. Akhirnya, mereka memberontak dan mendirikan Dinasti Mamluk.

Menolak Permintaan Sultan
Nah, mendengar laporan demikian, sang sultan pun termangu dan sangat masygul. Kemudian, selepas merenung, merenung, dan merenung, sang sultan akhirnya menyadari, tidak mudah menghadang gerak maju pasukan musuh. Maka, selepas mendapat masukan dari berbagai pihak, sang sultan pun mengundang para ulama ke istana di Damaskus. Sang sultan mengharapkan, kiranya para ulama berkenan menggunakan seluruh pengaruhnya terhadap masyarakat luas untuk mendanai sang sultan dalam usahanya menghadang gerak maju pasukan musuh yang mulai mengarahkan geraknya menuju Damaskus, Suriah.
Menerima permintaan demikian, para ulama menyepakati langkah sang sultan. Namun, ada seorang ulama yang menentang keras permintaan sang sultan. Ulama itu tidak lain adalah Muhyiddin Abu Zakariyya Yahya Al-Nawawi.
“Tidak boleh!” ucap lantang sang ulama. Malah, sangat lantang.
“Mengapa Tuan Guru tidak membolehkan kami menghimpun harta kaum Muslim untuk kami gunakan berjuang di jalan Allah sebagaimana yang difatwakan para ulama yang lain?” sergah sang sultan. Sangat geram dan penasaran.
“Sultan!” jawab sang ulama, sangat lugas dan tegas. “Dahulu, engkau adalah seorang budak belian. Kini, engkau adalah seorang sultan. Kini, engkau memiliki tidak kurang dari 1.000 budak. Setiap budak engkau lengkapi dengan pelbagai pakaian kebesaran, untuk kemegahanmu, penuh bertabur emas. Engkau juga mempunyai 100 dayang. Sekujur badan mereka penuh pula dengan hiasan emas dan permata. Jikalau engkau bersedia menanggalkan pakaian emas 1.000 budak dan 100 dayang itu, menggantinya dengan baju biasa, selama perang ini, saya akan mendayagunakan pengaruh saya kepada rakyat agar mereka bersedia berkorban!”
Mendengar ucapan ulama dengan kepribadian yang penuh integritas yang demikian itu, sang sultan yang sangat menyukai olah raga polo itu pun sangat murka dan mengusir sang ulama dari Damaskus, “Keluar kau dari kota ini! Aku tidak ingin kau tinggal di sini!”
“Sultan! Siapa pula yang menginginkan aku berada di satu tempat bersamamu. Aku akan pergi dari kota ini!”
Mendengar sergahan penuh wibawa dan tanpa perasaan gentar sama sekali itu, sultan yang sebelumnya terkenal sebagai panglima yang piawai memimpin pasukan di medan pertempuran itu pun menundukkan kepala beberapa saat. Tidak lama kemudian, ia menarik kembali ucapannya sebelumnya. Ia merasa khawatir termaktub sebagai penguasa yang berperangai buruk. Maka, ia pun berucap pelan dan santun kepada sang ulama, “Tuan Guru. Untuk apa Tuan Guru keluar dari negeri ini. Kuizinkan Tuan Guru tinggal di sini.”
Namun, nasi telah menjadi bubur.
Selepas pertemuan antara sang ulama dengan sang sultan tersebut, baliklah sang ulama yang satu itu ke desa kelahirannya, Nawa, Jawlan. Ya, ia tinggalkan kota penuh gemerlap kala itu, Daamaskus, dan kembali ke tempat kelahirannya yang sunyi dan sepi.
Kini, siapakah ulama yang berani “menantang” penguasa ke-4 Dinasti Mamluk yang berkuasa di Mesir dan Suriah dengan nama lengkap Al-Malik Al-Zhahir Ruknuddin Baibars Al-Bunduqdari Al-Shalihi itu?
Ulama tersebut tidak lain adalah seorang ulama terkemuka pada abad ke-7 H/13 M. Muhyiddin Abu Zakariyya Yahya bin Syaraf bin Murri bin Al-Hasan bin Al-Husain bin Hizam bin Muhammad bin Jum‘ah Al-Nawawi Al-Syafi’i, itulah nama lengkapnya. Ia lahir pada Ahad, 10 Muharram 631 H/16 Oktober 1233 M di Nawa, Jawlan di selatan Damaskus, Suriah. Sebagaimana tradisi yang berkembang di Dunia Islam kala itu, ia pertama-tama menimba ilmu kepada ayahnya yang terkenal saleh dan jujur. Selepas itu, ia belajar di kuttâb, untuk belajar Al-Quran dan menghapalnya. Ia berhasil menjadi penghapal Kitab Suci itu pada usia sekitar 10 tahun.
Pada 649 H/1251 M, ketika Al-Nawawi berusia sekitar 18 tahun, ia pergi ke Damaskus untuk menimba ilmu kepada sederet ulama terkemuka. Di Damaskus, ia bermukim di Perguruan Rawahiyah, sebuah perguruan yang lokasinya tidak jauh di Masjid Umawi, sebuah masjid raya di kota itu.
Selama berada di Damaskus, Al-Nawai sangat tekun dalam menimba ilmu. Di antara para gurunya adalah Jamaluddin ‘Abdul Kafi bin ‘Abdul Malik bin ‘Abdul Kafi Al-Dimasyqi, Abu Al-Baqa’ Khalid bin Yusuf Al-Nablusi, ‘Abdul ‘Aziz bin Muhammad Al-Ausi, Radhiyyuddin Abu Ishaq Ibrahim bin ‘Umar Al-Muradi, Abu Al-Faraj ‘Abdurrahman bin Muhammad bin Ahmad bin Qudamah Al-Maqdisi, Abu Ibrahim Ishaq bin Ahmad Al-Maghribi, Naqib Al-Syafi‘i, Abu Al-‘Abbas Ahmad bin Salim Al-Mishri, dan Ibn ‘Abd Al-Hadi.
Syeikh Yasin bin Yusuf Al-Marakasyi, tentang kehidupan Al-Nawawi muda, menulis,
“Saya melihat Imam Al-Nawawi di Nawa ketika ia masih remaja berusia sepuluh tahun. Kala itu, anak-anak lelaki lain seusianya kerap memaksa ia bermain dengan mereka. Tetapi, Imam Al-Nawawi selalu menghindari permainan dan tetap sibuk membaca Al-Quran Mulia. Ketika mereka mencoba melecehkan dan mendesaknya untuk bergabung dalam permainan mereka, ia tetap menolaknya dan menyatakan bahwa ia tidak tertarik dengan tindakan bodoh mereka.
Ketika mengamati kearifan dan kedalaman ilmunya, rasa cinta dan kasih sayang khusus pun berkembang dalam hati saya terhadap Al-Nawawi muda. Saya pun mendekati gurunya dan mendesaknya untuk mendidik anak ini dengan sangat baik, karena kelak ia akan menjadi seorang ulama besar dan tokoh paling saleh di masa depan. Gurunya bertanya kepada saya, apakah saya seorang peramal atau ahli nujum. Saya mengatakan kepadanya bahwa saya bukan peramal atau ahli nujum. Tetapi, Allah membuatku mengucapkan kata-kata ini. Gurunya kemudian menyampaikan kejadian ini kepada ayah Imam Al-Nawawi. Sang ayah pun, sejak itu, yang kian menaruh perhatian atas jejak langkah putranya dalam menimba ilmu, memutuskan untuk mendedikasikan hidup putranya berkhidmat dan mengembangkan akidah Islam.
Dalam waktu singkat, Al-Nawawi belajar membaca Al-Quran. Kala itu, ia hampir memasuki masa pubertas. Menimbang Kota Nawa tidak memiliki suasana akademis atau ilmiah, juga tidak ada akademi atau institut keagamaan di mana orang bisa meraih kemahiran dalam menimba ilmu-ilmu agama, ayahnya pun membawa Al-Nawawi ke Damaskus: sebuah kota yang kala itu dipandang sebagai pusat pendidikan dan pengajaran serta para siswa dari jauh berkumpul. di sana untuk menimba ilmu.
Selama periode itu, ada lebih dari tiga ratus institut, akademi, dan universitas di Damaskus. Imam Al-Nawawi bergabung dengan Pergurua Rawahiyah yang berafiliasi dengan Universitas Umawi. Dia memilih mengikuti Mazhab Syafi‘i. Namun, hal itu tidak membatasi ia untuk memelajari ajaran empat mazhab utama secara mendalam. Imam Al-Nawawiberkata, ‘Saya belajar di lembaga ini selama dua tahun. Selama saya tinggal di Perguruan Rawahiyah, saya tidak pernah beristirahat penuh dan hidup dengan makanan terbatas yang disediakan oleh lembaga itu.’
Dalam kehidupan sehari-hari ia biasa tidur sangat sedikit di malam hari. Ketika kantuk tidak tertahankan olehnya, sebagai manusia, ia pun bersandar di dinding dan terlelap sejenak untuk mengabaikan buku-buku (tanpa berbaring, sehingga tidur tidak sepenuhnya menguasai dirinya). Ia melakukan ini setidaknya selama dua tahun. Setelah tidur dalam waktu yang singkat, ia akan belajar keras kembali.”

Sangat Teliti dan Cermat
Kemudian, karena keluasan ilmu dan wawasannya, ulama yang menganut Mazhab Syafi‘i ini diangkat sebagai staf pengajar Perguruan Dar Al-Hadits Al-Asyrafiyah. Tidak aneh jika ia memiliki sederet murid. Mereka, antara lain, adalah ‘Ala’uddin bin ‘Aththar, Ibn ‘Abbas Ahmad bin Ibrahim, Abu Al-‘Abbas Al-Ja‘fari, Abu Al-‘Abbas Ahmad bin Farah, Rasyid Isma‘il bin Mu‘allim Al-Hanafi, Abu ‘Abdullah Al-Hanbali, Abu Al-‘Abbas Al-Wasthi, Jamaluddin Sulaiman bin ‘Umar Al-Zar‘i, Badr Muhammad bin Ibrahim, Syamsuddin Muhammad bin Abu Bakar, Al-Syihab Muhammad bin ‘Abdul Khaliq, Hibatullah Al-Barizi, dan Abu Al-Hajjaj Yusuf bin Al-Zaki.
Selain itu, Al-Nawawi juga mencurahkan perhatiannya terhadap dunia literasi. Sehingga, lahir sederet karya-karya tulisnya. Antara lain Raudhah Al-Thâlibîn, Al-Minhâj, Daqâ’iq Al-Minhâj, Al-Manâsik Al-Sughrâ, Al-Isyârât li Bayan Asma’ Al-Mubhimat, Al-Tibyan, Al-Adzkar, Al-Fatawa, Tahdzib Al-Asma’ wa Al-Lughah, Syarh Shahih Muslim, Al-Arba‘un Haditsan, di samping karya terkenalnya Riyadh Al-Shalihin yang berada di tangan pembaca ini.
Di antara karya-karya ulama terkemuka yang satu ini, yang paling terkenal adalah Kitâb Riyâdh Al-Shâlihîn. Kitab Riyadh Al-Shalihin yang disusun Al-Nawawi tersebut semula terdiri dari 1.896 hadis. Menurut Al-Nawawi sendiri, seperti telah dikemukakan di muka, kitab yang satu kitab yang usai penyusunannya pada hari Senin, 14 Ramadhan 670 H merupakan “sebuah kitab yang berisi hadis-hadis sahih yang mencakup bagaimana caranya seseorang dapat sampai ke akhirat dengan selamat. Juga, bagaimana caranya seluruh tata-krama seseorang, lahir maupun batin, dapat sempurna,” dan “dapat menjadi penuntun bagi orang yang mengharapkan berbagai kebajikan. Juga, kiranya dapat menjadi pencegah dari berbagai ragam kejahatan dan kebinasaan.”
Nah, setiba di Nawa, desa kelahirannya, ulama yang hidup sangat sederhana ini kemudian menetap di sana. Di desa itu pula ia menetap hingga berpulang ke hadirat Allah Swt. pada Rabu malam, 24 Rajab 676 H/22 Desember 1277 M dalam usia sekitar 45 tahun. Jenazah ulama yang terkenal sangat teliti dan cermat serta tidak meninggalkan keturunan ini dimakamkan di rumah ayahnya dan kuburnya masih terpelihara hingga kini.@

Filed under: Tokoh

Kamus Lisanul Arab Online

KAMAR PENGANTIN

PEPUNDHEN

DOKUMENT

SILATURRAHIM

free counters