Santri Qiraati

referensi metode ilmu baca al-Quran

Nasab Pancer/Sayyid KH Maimun Zubair melalui sunan giri al hasani

1. *RASULULLAH SAW*
2. *Sayyidatina Fatimah al-Batul*
3. *Sayyidina Hasan as-Sibth*
4. Sayyid Hasan al-Mutsanna
5. Sayyid Abdullah al-Mahd
6. Sayyid Musa al-Jawn
7. Sayyid Abdullah
8. Sayyid Musa
9. Sayyid Daud
10. Sayyid Muhammad
11. Sayyid Yahya az-Zahid
12. Sayyid Abdullah
13. Sayyid Janki Dausat
14. Sayyid Musa
15. *Sayyid Syaikh Abdul Qodir al-Jilani*
16. Sayyid Shalih
17. Sayyid Abdul Jabbar
18. Sayyid Abdullah Hazim
19. Sayyid Abdul Aziz
20. Sayyid Ibrahim
21. Sayyid Ya’qub (Maulana Ishaq)
22. *Sayyid Muhammad ‘Ainul Yaqin (Sunan Giri)*
23. R. Ali Panembahan Kulon
24. Pangeran Pakabunan
25. R. Abdulloh Karang Jarak Gresik
26. R. Husain Mentaras Dukun Gresik
27. R. Muhammad Macan Putih Gresik
28. K. Imam Qomaruddin
29. K. Puteh Podang Tuban
30. K. Munandar
31. K. Carik Waridjo
32. K. Dahlan
33. K. Zuber
34. K. Maimun Sarang

Filed under: Berita & Agenda, Hikmah, Tasawuf, Tokoh

Mbah Maemon

Tulisan Gus Luthfi Tomafi

PAGI menjelang siang, di Pondok Pesantren Al Hidayat, Lasem Rembang, sekitar tahun 1950. Para Kiai berkumpul di ruang tamu ndalem Mbah Ma’shum, sang pengasuh, untuk suatu acara. Seperti umumnya, para Kiai saling beramah tamah.

“Putra Kiai Zubair Sarang datang dari Mekkah”, seorang Kiai mengabarkan kepada segenap tamu. Ramah tamah yang awalnya “biasa-biasa saja” seperti berubah menjadi sesuatu yang luar biasa.

“Siapa namanya?”, Mbah Ma’shum bertanya. Beliau perlu bertanya sebab orang yang dibicarakan belum masuk lingkaran Kiai khos di lingkungan Mbah Ma’shum–yang saat itu telah berusia 80 tahun.

“Gus Maimun…”, Kiai pemberi kabar menjawab.

Para Kiai di ndalem itu, sebenarnya, masih banyak yang belum mengenal putra Mbah Zubair yang bernama Gus Maimun itu. Akan tetapi, … setelah hening beberapa waktu, ada respon ………..

“Dia orang ‘alim…”, Mbah Ma’shum memuji.

“Dia seorang faqih…”, Kiai lain memujinya.

“Dia seorang sufi…”, ungkap Kiai lainnya lagi.

Para Kiai secara bergantian terus memuji Gus Maimun itu, seolah pernah berguru kepadanya, atau berteman. Masing-masing Kiai, yang semuanya keramat, menyebutkan sifat, karakter serta kelebihan seorang Gus Maimun–dan beliau semuanya manggut-manggut. Seperti ada kesepakatan batin.

Setelah masing-masing Kiai menyampaikan ungkapannya, hening sebentar. Lalu…

Kiai Hamid Pasuruan, yang hadir di ndalem Mbah Ma’shum, menutup pujian-pujian para Kiai atas Gus Maimun itu dengan kalimat berbahasa Arab ;

انّه ذكيّ عالم صالح مفسّر محدّث فقيه صوفيّ وليّ من أولياء الله….

Pernyataan pujian Kiai Hamid di atas, yang diungkapkan hampir 70 tahun lalu, adalah yang paling valid mengenai Gus Maimun alias Simbah Maimun Zubair. Ringkasan dari ungkapan Kiai Hamid Pasuruan tadi, kurang-lebihnya, “Simbah Maimun Zubair adalah Maha Kiai”.

Kini, sang Maha Kiai telah meninggalkan kita.

إنا لله و إنا إليه راجعون. اللهم اغفر له و ارحمه و عافه و اعف عنه.

Selamat jalan, Maha Kiai Simbah Maimun Zubair, mohon doanya semoga kami bisa melaksanakan pesan dan nasehatmu…

سعدنا في الدنيا * فوزنا في الأخرى
بخديجة الكبرى * وفاطمة الزهرا
يا أهيل المعروف* والعطاء المألوف
غارة للملهوف * إنكم به أدرى

Sarang, 6 Agustus 2019

________________
الرواية بالمعنى من الوالد

Filed under: Berita & Agenda, Mutiara Kata, Tasawuf, Tokoh, Uncategorized

Bagus untuk membaca peran Islam Jawa..

Khasebul Katolik dan Runtuhnya Islam-Tradisi Jawa

Judul : Islam Jowo Bertutur Sabdaraja: Pertarungan Kebudayaan, Khasebul, dan Kerja Misi
Penulis : Bray Sri Paweling
Penerbit : Anonimouse
Tahun : I, Januari, 2016
Tebal : 200 halaman

“Kalau teman-teman Katolik mau meringankan beban sejarah di Indonesia, mereka harus berani menulis sejarah kelam mereka”.
(Ben Anderson)

Genderang perang kebudayaan telah ditabuh, meski tidak tampak, cenderung di bawah tanah. Kali ini momentumnya adalah Sabdaraja Sultan Hamengku Buwono X yang dibacakan pada 30 April 2015. Keputusan Sultan yang menghapus gelar kalipatullah memicu reaksi keras dari sejumlah kalangan, terutama dari kelompok Islam tradisionalis-Jawa. Bukan hanya persoalan politik dan ekonomi, tetapi yang jauh lebih “mengerikan”, menurut Bray Sri Paweling, penulis buku ini, adalah mengobrak-abrik sampai menghancur-leburkan tatanan kosmologi Islam Jawa.

Sepintas mungkin sederhana, tetapi tidak bagi Bray, yang dalam buku setebal 200 halaman ini tersaji data-data yang sebenarnya “sangat rahasia” bersumber dari informan internal keraton Yogyakarta, yang kemudian dianalis berdasarkan fakta-fakta dan diramu dengan jejaring pengetahuan sosial, khas disiplin antropologi. Buku ini bertumpu pada penelusuran tentang siapakah “pembisik” yang menskenarionakan terjadinya Sabdaraja itu?

Bray menuding kelompok yang disebutnya sebagai “Khasebul” merupakan penyebab malapetaka bagi keraton Yogyakarta dan Islam Jawa. Apa itu Khasebul? Memang tidak banyak literatur yang mengurai terminologi ini. Selain Bray, terdapat nama B. Suryasmoro Ispandrihari, seorang mantan Khasebul yang menulis untuk kepentingan skripsi di UGM dan diterbitkan secara terbatas berjudul Penampakan Bunda Maria: Counter Discourse atas Hegemoni Gereja dan Rezim Orde Baru (2000).

Khasebul adalah singkatan dari “kaderisasi sebulan” atau dalam pemahaman Suryasmoro sebagai “khalwat (retret) sebulan”, suatu program pendidikan kader Katolik secara nasional, yang menjalankan kerja misi doktrin agamanya. Pola pendidikan yang dikembangkan menganut cara-cara inteljen, mulai dari seleksi atau perekrutan maupun operasionalnya. Pater Beek, penggagas dan ideolog program ini, diduga agen CIA yang ditanamkan Amerika di Indonesia untuk melawan komunisme di masa orde baru.

Beek menularkan virus Islamfobia kepada agen-agen Khasebul, yang puncaknya setelah komunisme tumbang tahun 1965, terjadi kolaborasi Gereja Katolik, CSIS (Centre for Strategic and International Studies, yang personelnya banyak alumni-alumni Khasebul), dan Soeharto yang memandang bahwa lawan berat pada masa itu dari kalangan Islam. Sejak itulah alumni-alumni Khasebul melakukan kerja misi di semua sektor, baik politik, ekonomi, dan termasuk kebudayaan.

Nah, dalam konteks itulah, Keraton di Yogyakarta tidak luput dijadikan target misi oleh Khasebul. Tidaklah berlebihan jika kemudian ada keyakinan di kalangan misionaris katolik sendiri bahwa Yogyakarta dianggap sebagai daerah misi “paling subur”, yang tidak jarang menihilkan etika dalam toleransi, persahaban, dan hidup berdampingan secara damai. Mareka terkadang jumawa telah mampu membuat cetak biru benteng papat limo pancer, menggantikan konsep sedulur papat limo pancer-nya Kanjeng Sunan Kalijaga.

Hal itu bisa diamati dengan berbagai macam simpul yang menunjukkan ke arah tersebut. Di antaranya lewat pintu utama sang ratu, yang oleh Bray disebut sebagai sosok yang memainkan berbagai tekanan kuat di Keraton atas pengaruh dan kendali para fundamentalis alumni Khasebul. Komentar-komentar ratu yang terlihat lembut, melayani dan nderek sultan, sesungguhnya tak lebih sebagai unggah-ungguh dalam tradisi Jawa, tetapi kenyataanya dialah yang berperan aktif mengegolkan “proyek” Sabdaraja (hlm. 37).

Ada banyak data dan bukti yang ditunjukkan di buku ini, meski terkadang bernuansa konspiratif, mulai dari pelemahan peran ormas-ormas Islam seperti Muhammadiyah, NU, kelompok garis keras, LSM, dan lain-lain, sehingga mereka abai tidak melakukan kontrol ketat terhadap apa yang terjadi di lingkungan Keraton. Lemahnya peran dan kontrol kelompok-kelompok civil society ini kemudian dimanfaatkan oleh jaringan Khasebul untuk mencongkel simbol-simbol Islam dari lubuk hati Keraton melalui Sabdaraja.

Sekadar menyebutkan dari keberhasilan kelompok Khasebul yang sukses “meng-Katolik-kan” Keraton bisa diamati, misalnya, pada teks pembukaan Sabdaraja yang dibacakan oleh Sultan Hamengku Buwono X dengan kalimat: Gusti Allah, Gusti Agung, Kuoso Cipto, yang dapat dipahami sebagai terjemahan dari Trinitas Katolik (Tuhan Allah, Tuhan Yesus, dan Ruh Qudus) (hlm. 22). Atau berdasarkan informan Bray, yang menyatakan bahwa terdapat simbol-simbol Katolik, seperti simbol salib yang dipasang di beberapa ruangan di Keraton, tetapi kemudian dicopot kembali karena menjadi pembicaraan kalangan Islam Jawa.

Ada juga kesaksian alumni Khasebul yang disarikan dari obrolan lisan dengan informan yang kemudian dikutip juga oleh Bray. “Saya jangan diikut-ikutkan soal pembuat Sabdaraja ini. Saya masih yunior. Desain Sabdaraja itu, urusan senior-senior saya di kalangan alumni Khasebul… Saya sendiri tidak setuju dengan senior-senior alumni Khasebul, yang sampai terlalu jauh melakukan hal demikian. Ini jelas akan mencelakakan berbagai hubungan dan persahabatan yang selama ini dibangun di kalangan sesama anak bangsa” (hlm. 26).

Kerja misi Khasebul yang demikian memang sangat rapi, halus, dan terkoordinir sangat baik melalui beberapa jaringannnya. Tengoklah, ketika kisruh Sabdaraja yang memicu kontroversi dan polemik publik, tiba-tiba muncul tokoh-tokoh Khasebul: analis politik J. Kristiadi (CSIS), wartawan senior James Luhulima, dan budayawan Radhar Panca Dahana, yang memainkan opini publik dengan menulis di media mainstrem¸bahwa Sabdaraja dengan segala konsekuensinya merupakan keniscayaan atas nama demokrasi dan kemodernan.

Alhasil, babak baru Keraton Yogyakarta pasca-Sabdaraja menampilkan hal-hal modern, yang justru keluar dan menyimpang dari tradisi sakral yang sebelumnya terpelihara. Akhir Juni 2015, untuk pertama kalinya dalam sejarah keraton, menyelenggarakan grebeg gunungan yang tidak lazim, yaitu berisi 4000 batu akik.
Padahal menurut Bray, menjadikan akik sebagai simbol kesejahteraan rakyat Yogyakarta betul-betul merendahkan nilai luhur keraton dengan simbol yang banal, dangkal makna, dan hanya tren sesaat. Ini mengingkari simbol-simbol yang teratur sangat sistematis dalam gunungan grebeg keraton sesuai paugeran, yakni komoditas yang mencerminkan kesejahteraan rakyat Yogyakarta seperti bahan-bahan makanan pokok.

Setelah ditelusuri, ternyata otak dari ide gunungan batu akik itu adalah Widi Hasto Wasana Putra, direktur operasional dan pemasaran PT. Jogjatama Vishesa. Dia adalah alumni Khasebul yang menjadi mata rantai level bawah untuk operasi di DIY, dari jaringan yang melakukan kerja-kerja misi Katolik dengan cara yang canggih (hlm. 102).

Atas fenomena itulah, Bray yang merepresentasikan sebagai kelompok Islam Jawa menyatakan prihatin, dan menganggap pertarungan kebudayaan ini belum selesai dan akan terus diperjuangkan sampai titik darah penghabisan. Para generasi Islam Jawa perlu mencatat, tulis Bray, fundamentalisme Katolik adalah racun mematikan dalam memelihara hubungan perdamaian dan toleransi di Indonesia, khususnya di Yogyakarta: bermuka musang, berbulu domba; manis cangkemnya, busuk agendanya; menawarkan madu di tangan, menyelipkan racun lewat tangan kiri; kaki kanan melangkah, kaki kiri menjegal.
*peresensi adalah Pecinta Islam Jowo dan Keseimbangan Jagad Raya, kolektor dan pembaca buku

**Terimakasih “pengirim misterius” yang telah mengirimkan buku ini, dan berhasil menggoda saya untuk meresensi lagi setelah sebelumnya cukup lama vakum. Dan saya tidak menyebarkan buku ini, sebagaimana amanat penulis dan penerbitnya, tetapi hanya mereview 🙃🙊

Filed under: 7. KELUARGA, Berita & Agenda, Hukum, Humor Sufi, Ilmu Fiqh, Tokoh

Kamus Lisanul Arab Online

KAMAR PENGANTIN

PEPUNDHEN

DOKUMENT

SILATURRAHIM

free counters