Santri Qiraati

referensi metode ilmu baca al-Quran

AL-QURAN KITAB SASTRA TERBESAR

 
#Sunarto

Judul tulisan ini saya pinjam dari bukunya Nur Khalis Setiawan, yang aslinya adalah disertasi beliau yang berbahasa jerman. Rekomended untuk dibaca bagi yang ingin berdiskusi tentang alquran fiksi. Bisa juga membaca buku-buku teori sastra untuk menunjang pemahaman yang lebih dalam. Karena air yang beriak adalah tanda tak dalam.

Kalau disebut alquran adalah kitab sastra, lalu kemudian di toko-toko buku disandingkan dengan buku-buku sastra yang lain sebagaimana dikhawatirkan oleh felix siau, sesungguhnya tidak masalah. Al-quran siap disandingkan dengan buku-buku bergenre apa saja, dan ia akan tetap eksis, tidak ada yang mampu menandingi. Jangan bilang hebat kalau tidak mau disandingkan dan dibandingkan.

Sesungguhnya Al-quran ini terbuka untuk didekati dengan teori-teori apa saja, termasuk teori sastra, dan ini sudah lama digaungkan oleh banyak ilmuwan, seperti Amin Khulli, Bintu Syati’, Khalafullah dll.

Langsung saja, Jadi begini, Ada 4 unsur dalam karya sastra yang bagus; khayal (imajinasi), fikrah (gagasan), ‘athifah (rasa), dan uslub (gramatika). Karena al-quran adalah kitab sastra terbesar, maka ia memiliki ke empat unsur di atas. Uslub, athifah, fikrah sudah pasti ada. Persoalannya adalah, adakah unsur imajinasi dalam al-quran?
Untuk menjawab pertanyaan ini, saya hadirkan satu contoh ayat tantang eskatologi.
واذ البحار سجرت
Ayat ini ada 2 qiraat, sujjirot (tasydid) dan sujirot (takhfif). Kedua varian qiraat ini, secara otomatis meng”on”kan imajinasi pembaca. Bagi yang membaca takhfif, maka akan tervisualkan bagaimana air laut panas dan meluap dalam satu waktu. Berbeda dengan qiraat dengan tasydid, yang dalam prespektif morfologi berfaedah lit-taksir (banyak). Silahkan imajinasikan sendiri bagaimana laut selatan dipanaskan, kemudian disusul laut utara, timur, dan barat semua dipanaskan, selanjutnya meluap dan menjadi satu lautan.

Masih banyak lagi contoh kasus seperti di atas, sebagai salah satu hikmah dari kenapa alquran menghadirkan banyak varian dalam qiraat. Allahu a’lam.

Salamun qoulan min robbirrohiim… Obat ati, moco quran angen-angen sak maknane.
Muhammad Syahrul Munir. Haqee Nabil

Iklan

Filed under: 5. MASYHAR, Uncategorized

Apakah Kitab Suci itu Fiksi?

Menurut Pak Rocky Gerung (RG), kitab suci itu fiksi, berdasarkan pengertian umumnya sebagai “prosa naratif yang bersifat imajiner, namun tetaplah masuk akal dan mengandung kebenaran”. Karena kitab suci banyak berisi berita dan janji-janji masa depan, maka, menurut Pak RG, itu bagian dari fiksi, yaitu upaya untuk mengaktifkan imajinasi.

Saya bersepakat dengan Pak RG tentang fiksi jika yang dimaksud terkait dengan teks-teks selain kitab suci. Tapi pada kitab suci, perlu dilihat aspek-aspek lain sebelum menyatakan bahwa kitab suci itu fiksi. Ketika menyatakan kitab suci itu fiksi, Pak RG—menurut sy—sebenarnya baru menyoroti kitab suci pada aspek teks saja. Padahal, di luar teks itu, ada aspek lain yang juga perlu diperhatikan, yaitu pengarang dan pembaca/penerima teks itu. Menilai sebuah teks tidak akan sempurna tanpa melihat aspek pengarang dan pembacanya, karena ada unsur “komunikasi” intensif yang tidak bisa diabaikan di antara ketiga aspek itu.

Saya ingin memberi contoh pada Alquran. Dalam keyakinan umum Muslim, Alquran itu firman Allah, dan Allah itu Dzat Yang Maha Tahu segala sesuatu, termasuk terkait masa lalu, masa kini, dan masa depan. Karena itu, ketika Allah berbicara tentang kisah-kisah masa lalu, soal-soal eskatologis seperti peristiwa kiamat, surga, neraka, dsb, Allah sebagai “pengarang” Alquran tidak sedang berimajinasi untuk menyusun karya fiksi. Allah sesungguhnya memberitakan sebuah realita, bukan fiksi, karena kisah maupun peristiwa2 eskatologis itu sudah diketahui-Nya dan ada dalam pengetahuan-Nya sebagai Dzat Yang Maha Tahu.

Begitu juga, dalam kepercayaan Muslim sebagai penerima dan pembaca Alquran, semua berita-berita Alquran, terutama yang terkait kisah maupun peristiwa2 eskatologis, itu diyakini sebagai sesuatu yang riil, berdasarkan realita, dan bersifat pasti. Tentang hari kiamat, misalnya, bagi Muslim itu sesuatu yang “pasti” terjadi, bukan “mungkin” terjadi atau tidak terjadi sebagaimana dalam karya fiksi umumnya. Surga dan neraka, contoh lain, dalam keyakinan mayoritas Muslim adalah sesuatu yang telah ada, riil, meski tidak kasat mata dan tak dapat dipastikan tempatnya.

Jadi, ketika berbicara kitab suci itu fiksi atau bukan, selain tiga aspek yang telah disebutkan tadi, ada faktor yang perlu juga dipertimbangkan, yaitu keyakinan, karena faktor ini memiliki porsi yang besar dalam komunitas agama apapun. Itulah kenapa hampir bisa dipastikan sebagian besar pemeluk agama keberatan kitab sucinya disebut atau disamakan dg fiksi. Bagi orang-orang yang cenderung bergaya pikir positivis—mugkin Pak RG termasuk di antaranya—soal keyakinan memang tidak akan terlalu diperhatikan. Tapi dalam agama, tidak semua hal bisa didekati dengan nalar ala positivisme. Agama memiliki metode dan logikanya sendiri berdasarkan kekhasannya sebagai “akumulasi” keyakinan-keyakinan. _Wallahu_ _A’la_ _wa_ _A’lam_. @romli sy-zain.

Filed under: 5. MASYHAR, Uncategorized

100 Hari Gusdur

Kabar Dari langit

Baru-baru ini para santri MQ Tebuireng akan mengadakan Khatmul Quran Kubro sebanyak 1000 majlis, tidak tanggung-tanggung niat para santri tersebut sekalian ingin memecahkan rekor Muri.  Acara ini diselenggarakan dalam rangka memperingati 100 hari sepeninggal Gus Dur (KH. Abdurrahman Wahid). Baca entri selengkapnya »

Filed under: Berita & Agenda, , , , , , ,

PEPUNDHEN

DOKUMENT

SILATURRAHIM

free counters