Santri Qiraati

referensi metode ilmu baca al-Quran

Bagus untuk membaca peran Islam Jawa..

Khasebul Katolik dan Runtuhnya Islam-Tradisi Jawa

Judul : Islam Jowo Bertutur Sabdaraja: Pertarungan Kebudayaan, Khasebul, dan Kerja Misi
Penulis : Bray Sri Paweling
Penerbit : Anonimouse
Tahun : I, Januari, 2016
Tebal : 200 halaman

“Kalau teman-teman Katolik mau meringankan beban sejarah di Indonesia, mereka harus berani menulis sejarah kelam mereka”.
(Ben Anderson)

Genderang perang kebudayaan telah ditabuh, meski tidak tampak, cenderung di bawah tanah. Kali ini momentumnya adalah Sabdaraja Sultan Hamengku Buwono X yang dibacakan pada 30 April 2015. Keputusan Sultan yang menghapus gelar kalipatullah memicu reaksi keras dari sejumlah kalangan, terutama dari kelompok Islam tradisionalis-Jawa. Bukan hanya persoalan politik dan ekonomi, tetapi yang jauh lebih “mengerikan”, menurut Bray Sri Paweling, penulis buku ini, adalah mengobrak-abrik sampai menghancur-leburkan tatanan kosmologi Islam Jawa.

Sepintas mungkin sederhana, tetapi tidak bagi Bray, yang dalam buku setebal 200 halaman ini tersaji data-data yang sebenarnya “sangat rahasia” bersumber dari informan internal keraton Yogyakarta, yang kemudian dianalis berdasarkan fakta-fakta dan diramu dengan jejaring pengetahuan sosial, khas disiplin antropologi. Buku ini bertumpu pada penelusuran tentang siapakah “pembisik” yang menskenarionakan terjadinya Sabdaraja itu?

Bray menuding kelompok yang disebutnya sebagai “Khasebul” merupakan penyebab malapetaka bagi keraton Yogyakarta dan Islam Jawa. Apa itu Khasebul? Memang tidak banyak literatur yang mengurai terminologi ini. Selain Bray, terdapat nama B. Suryasmoro Ispandrihari, seorang mantan Khasebul yang menulis untuk kepentingan skripsi di UGM dan diterbitkan secara terbatas berjudul Penampakan Bunda Maria: Counter Discourse atas Hegemoni Gereja dan Rezim Orde Baru (2000).

Khasebul adalah singkatan dari “kaderisasi sebulan” atau dalam pemahaman Suryasmoro sebagai “khalwat (retret) sebulan”, suatu program pendidikan kader Katolik secara nasional, yang menjalankan kerja misi doktrin agamanya. Pola pendidikan yang dikembangkan menganut cara-cara inteljen, mulai dari seleksi atau perekrutan maupun operasionalnya. Pater Beek, penggagas dan ideolog program ini, diduga agen CIA yang ditanamkan Amerika di Indonesia untuk melawan komunisme di masa orde baru.

Beek menularkan virus Islamfobia kepada agen-agen Khasebul, yang puncaknya setelah komunisme tumbang tahun 1965, terjadi kolaborasi Gereja Katolik, CSIS (Centre for Strategic and International Studies, yang personelnya banyak alumni-alumni Khasebul), dan Soeharto yang memandang bahwa lawan berat pada masa itu dari kalangan Islam. Sejak itulah alumni-alumni Khasebul melakukan kerja misi di semua sektor, baik politik, ekonomi, dan termasuk kebudayaan.

Nah, dalam konteks itulah, Keraton di Yogyakarta tidak luput dijadikan target misi oleh Khasebul. Tidaklah berlebihan jika kemudian ada keyakinan di kalangan misionaris katolik sendiri bahwa Yogyakarta dianggap sebagai daerah misi “paling subur”, yang tidak jarang menihilkan etika dalam toleransi, persahaban, dan hidup berdampingan secara damai. Mareka terkadang jumawa telah mampu membuat cetak biru benteng papat limo pancer, menggantikan konsep sedulur papat limo pancer-nya Kanjeng Sunan Kalijaga.

Hal itu bisa diamati dengan berbagai macam simpul yang menunjukkan ke arah tersebut. Di antaranya lewat pintu utama sang ratu, yang oleh Bray disebut sebagai sosok yang memainkan berbagai tekanan kuat di Keraton atas pengaruh dan kendali para fundamentalis alumni Khasebul. Komentar-komentar ratu yang terlihat lembut, melayani dan nderek sultan, sesungguhnya tak lebih sebagai unggah-ungguh dalam tradisi Jawa, tetapi kenyataanya dialah yang berperan aktif mengegolkan “proyek” Sabdaraja (hlm. 37).

Ada banyak data dan bukti yang ditunjukkan di buku ini, meski terkadang bernuansa konspiratif, mulai dari pelemahan peran ormas-ormas Islam seperti Muhammadiyah, NU, kelompok garis keras, LSM, dan lain-lain, sehingga mereka abai tidak melakukan kontrol ketat terhadap apa yang terjadi di lingkungan Keraton. Lemahnya peran dan kontrol kelompok-kelompok civil society ini kemudian dimanfaatkan oleh jaringan Khasebul untuk mencongkel simbol-simbol Islam dari lubuk hati Keraton melalui Sabdaraja.

Sekadar menyebutkan dari keberhasilan kelompok Khasebul yang sukses “meng-Katolik-kan” Keraton bisa diamati, misalnya, pada teks pembukaan Sabdaraja yang dibacakan oleh Sultan Hamengku Buwono X dengan kalimat: Gusti Allah, Gusti Agung, Kuoso Cipto, yang dapat dipahami sebagai terjemahan dari Trinitas Katolik (Tuhan Allah, Tuhan Yesus, dan Ruh Qudus) (hlm. 22). Atau berdasarkan informan Bray, yang menyatakan bahwa terdapat simbol-simbol Katolik, seperti simbol salib yang dipasang di beberapa ruangan di Keraton, tetapi kemudian dicopot kembali karena menjadi pembicaraan kalangan Islam Jawa.

Ada juga kesaksian alumni Khasebul yang disarikan dari obrolan lisan dengan informan yang kemudian dikutip juga oleh Bray. “Saya jangan diikut-ikutkan soal pembuat Sabdaraja ini. Saya masih yunior. Desain Sabdaraja itu, urusan senior-senior saya di kalangan alumni Khasebul… Saya sendiri tidak setuju dengan senior-senior alumni Khasebul, yang sampai terlalu jauh melakukan hal demikian. Ini jelas akan mencelakakan berbagai hubungan dan persahabatan yang selama ini dibangun di kalangan sesama anak bangsa” (hlm. 26).

Kerja misi Khasebul yang demikian memang sangat rapi, halus, dan terkoordinir sangat baik melalui beberapa jaringannnya. Tengoklah, ketika kisruh Sabdaraja yang memicu kontroversi dan polemik publik, tiba-tiba muncul tokoh-tokoh Khasebul: analis politik J. Kristiadi (CSIS), wartawan senior James Luhulima, dan budayawan Radhar Panca Dahana, yang memainkan opini publik dengan menulis di media mainstrem¸bahwa Sabdaraja dengan segala konsekuensinya merupakan keniscayaan atas nama demokrasi dan kemodernan.

Alhasil, babak baru Keraton Yogyakarta pasca-Sabdaraja menampilkan hal-hal modern, yang justru keluar dan menyimpang dari tradisi sakral yang sebelumnya terpelihara. Akhir Juni 2015, untuk pertama kalinya dalam sejarah keraton, menyelenggarakan grebeg gunungan yang tidak lazim, yaitu berisi 4000 batu akik.
Padahal menurut Bray, menjadikan akik sebagai simbol kesejahteraan rakyat Yogyakarta betul-betul merendahkan nilai luhur keraton dengan simbol yang banal, dangkal makna, dan hanya tren sesaat. Ini mengingkari simbol-simbol yang teratur sangat sistematis dalam gunungan grebeg keraton sesuai paugeran, yakni komoditas yang mencerminkan kesejahteraan rakyat Yogyakarta seperti bahan-bahan makanan pokok.

Setelah ditelusuri, ternyata otak dari ide gunungan batu akik itu adalah Widi Hasto Wasana Putra, direktur operasional dan pemasaran PT. Jogjatama Vishesa. Dia adalah alumni Khasebul yang menjadi mata rantai level bawah untuk operasi di DIY, dari jaringan yang melakukan kerja-kerja misi Katolik dengan cara yang canggih (hlm. 102).

Atas fenomena itulah, Bray yang merepresentasikan sebagai kelompok Islam Jawa menyatakan prihatin, dan menganggap pertarungan kebudayaan ini belum selesai dan akan terus diperjuangkan sampai titik darah penghabisan. Para generasi Islam Jawa perlu mencatat, tulis Bray, fundamentalisme Katolik adalah racun mematikan dalam memelihara hubungan perdamaian dan toleransi di Indonesia, khususnya di Yogyakarta: bermuka musang, berbulu domba; manis cangkemnya, busuk agendanya; menawarkan madu di tangan, menyelipkan racun lewat tangan kiri; kaki kanan melangkah, kaki kiri menjegal.
*peresensi adalah Pecinta Islam Jowo dan Keseimbangan Jagad Raya, kolektor dan pembaca buku

**Terimakasih “pengirim misterius” yang telah mengirimkan buku ini, dan berhasil menggoda saya untuk meresensi lagi setelah sebelumnya cukup lama vakum. Dan saya tidak menyebarkan buku ini, sebagaimana amanat penulis dan penerbitnya, tetapi hanya mereview 🙃🙊

Filed under: 7. KELUARGA, Berita & Agenda, Hukum, Humor Sufi, Ilmu Fiqh, Tokoh

Menang

Baru-baru ini saya bertemu dengan seorang sarjana adik kelas saya yang baru lulus. Obrolan kami mulai dari hal-hal ringan tentang kabar dan basa basi tentang rencana masa depan setelah lulus.

Pada akhirnya mulailah pada satu diskusi tentang harapan dia tentang masa depan. Intinya harapannya ingin hidup sejahtera secara bathiniah dan lahiriah, dunia wal akherat.

Dia seorang sarjana baru yang tergolong cerdas dan sangat aktif dalam berbagai kegiatan organisasi. Termasuk aktif sebagai relawan di koperasi yang kami dirikan sekira 10 tahun lalu.

Dia paham apa itu pengorganisasian dan bahkan pengalamannya saya pikir cukup untuk menjadi seorang profesional berbayar.

Diskusi kami mulai membahas soal serius tentang rencana untuk menghasilkan pendapatan. Demi menopang masa depan yang gemilang.

Sekarang dia sudah bergaji. Masih sangat kecil. Sekitar UMR di kampung saya. Gajinya 2 juta rupiah.

Saya mulai mencerca dengan pertanyaan adakah penghasilan tambahan dia selain dari gajinya?. Dia bilang ya. Dari kegiatan proyek yang tak tentu. Tidak terencana dan lebih banyak nihilnya.

Saya tanya secara terbuka berapa tabungan dia dan bilangnya 10 jutaan. Tanpa adanya investasi lain selain dalam bentuk tabungan itu.

Saya sarankan cobalah mulai berfikir tentang bagaimana menggali sumber-sumber penghasilan sebanyak banyaknya.

Di dunia ini ada banyak sumber penghasilan yang bisa membuat seseorang menjadi kaya raya secara materi. Lalu, dengan harta yang kita miliki itu bisa untuk membeli apapun. Kesenangan, kekuasaan.

Di negeri ini harta kekayaan bisa digunakan untuk menguasai dan mengendalikan semuanya, hukum, politik, kebijakan, aturan dan lain sebagainya.

Hukum tumpul ke atas dan tajam ke bawah. Politik itu tujuanya untuk berkuasa dan menguasai orang lain. Siapa yang tak punya cukup harta kekayaan semakin jauh dari kekuasaan.

Dunia politik hanya bisa direbut dengan cara dibeli. Kalau tidak punya uang itu hanya mimpi. Lihatlah apa yang menjadi perangai para politisi itu, mereka itu lebih banyak mengejar elektabilitasnya atau obsesi kemenanganya daripada memikirkan kearifan dan kebajikan politik.

Kebijakan hanya akan memihak kepada mereka yang telah kaya. Bahkan orang kaya raya itu yang menentukan kebijakan bagi warga negara yang berkategori lebih banyak yang miskin papa. Aturan dibuat agar memperlancar hegemoni itu semua.

Saya katakan, kalau ingin kaya maka pertama-tama perlu mengenal sumber-sumber pendapatan. Kalau tidak mengenal sumber penghasilan maka sudah pasti sulit untuk menjadi kaya. Kamu harus menjadi seorang kapitalis yang lincah.

Pertama, sumbernya adalah gaji. Ini jenisnya ada gaji tetap maupun variabel. Gaji tetap itu seperti UMR itu. Gaji variabelnya adalah kalau kamu dapat proyek. Selanjutnya, tinggal bagaimana usahamu agar kemampuan dan ketrampilanmu itu dihargai dengan gaji tinggi. Kemudian bagaimana caranya agar dapat penghasilan gaji atau bonus yabg sifatnya variabel seperti bonus harian, bulanan, dan tahunan.

Kedua, kalau mau berpenghasilan seperti pengusaha maka investasikan uangmu untuk mendapatkan keuntungan dari bisnis seperti halnya majikanmu di tempat kerjamu. Mulai dari hal-hal kecil. Jual makanan dengan gerobak dorong yang bisa kamu kerjakan dengan mengangkat orang lain untuk bekerja seperti dirimu.

Ketika mulailah berfikir seperti kapitalis untuk mengejar selisih bunga dari tabungan atau deposito. Kalau ada suku bunga yang tinggi ditawarkan oleh bank maka kejarlah…

Kemudian cobalah beli saham perusahaan di pasar modal. Kamu akan mendapatkan pendapatan dari ‘gain’ atau selisih dari harga sahammu ketika kamu jual. Atau beli mata uang dan jual ketika pas membaik. Selisihnya itulah sumber pendapatan.

Selain itu belilah emas, rumah, tanah, dan asset lainya. Beli dan jual bukan untuk semata dibeli untuk dipakai. Saat harganya meningkat jual. Belikan asset lagi di saat harga berjatuhan.

Kalau mau kaya raya, jadilah seorang kapitalis sejati..kàpitalis esketis yang hidupnya sangat sederhana dengan makan bubur dan lauk tahu tempe saja serta kecap.

Biarlah hartamu adalah hanya baju murah meriah tidak bermerek yang melekat di badanmu. Sebab dengan demikianlah kamu akan menjadi seorang yang kaya raya.

Prinsip esketis itu harus kamu camkan betul-betul dan jangan sampai lupa diri!!! inilah yang membuat banyak orang Indonesia itu banyak yang tidak bisa kaya raya.

Pesan yang berlaku umum dalam investasi adalah, jangan taruh investasimu itu di dalam satu keranjang. Sebab kalau ada kerugian di satu portofolio invetasimu maka tidak akan membuatmu total bangkrut. Kalau kamu pintar-pintar dalam memilih investasi bahkan akan hasilkan keuntungan yang maksimum. Semakin jeli kamu membuat perhitungan dan gunakan insting kayamu maka semakin sering kamu akan beruntung.

Dari seluruh harta kekayaanmu itu kamu bisa gunakan untuk bersenang senang dan menjadi penguasa. Mau zalim atau kemudian berubah baik seperti malaekat itu pilihanmu. Bukan urusanku!

Sekian sudah pertemuan itu. Kami tutup dengan sruputan kopi susu terakhir dengan sebutan Vietnam Drip…😘

Poertoriko, 26 Desember 2018

Kakaroto

Filed under: Berita & Agenda, Hikmah, Tokoh

TIDAK USAH MEMPERHATIKAN ISTRI TETANGGA…

Sexy atau Tidak…..!!!!
Oleh : Emha Ainun Nadjib

Dalam suatu forum saya bertanya, ”Apakah anda punya tetangga ?”

Dijawab serentak, “Tentu punya”

“Punya istri enggak tetangga Anda ?”

“Yaa, punya doong”

“Pernah lihat kaki istri tetangga Anda itu ?”

“Secara khusus tak pernah melihat” kata hadirin di forum,

“Jari-jari kakinya lima atau tujuh ?”

“Tidak pernah memperhatikan”

“Body-nya sexy atau enggak ?”

Hadirin tertawa lepas.

Dan saya lanjutkan tanpa menunggu jawaban mereka, “Sexy atau tidak bukan urusan kita, kan ?”

Tidak usah kita perhatikan, tak usah kita amati, tak usah kita dialogkan, diskusikan atau perdebatkan. Biarkan saja.

Keyakinan keagamaan orang lain itu yaa ibarat istri orang lain. Ndak usah diomong-omongkan, ndak usah dipersoalkan benar salahnya, mana yang lebih unggul atau apa pun.

Tentu, masing-masing suami punya penilaian bahwa istrinya begini begitu dibanding istri tetangganya, tapi cukuplah disimpan di dalam hati.

Bagi orang non-Islam, agama Islam itu salah.
Dan itulah sebabnya ia menjadi orang non-Islam.

Kalau dia beranggapan atau meyakini bahwa Islam itu benar, ngapain dia jadi non-Islam ?

Demikian juga, bagi orang Islam, agama lain itu salah.

Justru berdasar itulah maka ia menjadi orang Islam.

Tapi, sebagaimana istri tetangga. Itu disimpan saja di dalam hati, jangan diungkapkan, diperbandingkan atau
dijadikan bahan seminar atau pertengkaran.

Biarlah setiap orang memilih istri sendiri-sendiri dan jagalah kemerdekaan masing-masing orang untuk menghormati dan mencintai istrinya masing-masing, tak usah rewel bahwa istri kita lebih mancung hidungnya karena Bapaknya dulu
sunatnya pakai calak dan tidak pakai dokter, umpamanya.

Dengan kata yang lebih jelas, teologi agama-agama tak usah dipertengkarkan, biarkan masing-masing pada keyakinannya.

Sementara itu orang muslim yang mau melahirkan padahal motornya gembos, silahkan pinjam motor tetangganya yang beragama Katolik untuk mengantar istrinya ke rumah sakit.

Atau Pak Pastor yang sebelah sana karena baju misanya kehujanan, padahal waktunya mendesak, ia boleh pinjam baju koko tetangganya yang NU mau pun yang Muhamadiyah.

Atau ada orang Hindu kerjasama bikin warung soto dengan tetangga Budha, kemudian bareng-bareng bawa colt bak ke pasar dengan tetangga Protestan untuk kulakan bahan-bahan jualannya.

Tetangga-tetangga berbagai pemeluk agama, warga berbagai parpol, golongan, aliran, kelompok atau apa pun, silakan bekerja sama di bidang usaha perekonomian, sosial,
kebudayaan, sambil saling melindungi koridor teologi masing-masing.

Bisa memperbaiki pagar bersama-sama, bisa gugur gunung membersihi kampung, bisa pergi mancing bareng, bisa main gaple dan remi bersama.

Bisa ngumpul nge WA, BB-an & Facebookan,.. & media sosial lainnya,.. bersama.

Tidak ada masalah lurahnya Muslim, cariknya Katolik, kamituwonya Hindu, kebayannya Gatholoco atau apa pun.

Jangankan kerja sama dengan sesama manusia, sedangkan dengan kerbau dan sapi pun kita bekerja sama nyąngkul dan olah sawah.

Itulah lingkaran tulus hati dengan hati.

Semoga… kita makin sadar akan pentingnya Toleransi… Solidaritas & Kerukunan.
Bahwa semuanya itu indah nan Fitri… !!!

Tolong diforward ke sahabat dan saudara2 kita, agar timbul ketenangan dan kedamaian, pasca peristiwa di Paris.
Damai dihati…damai di bumi 😊🙏

Filed under: 7. KELUARGA, Berita & Agenda, Humor Gusdur, Humor Sufi

Kamus Lisanul Arab Online

KAMAR PENGANTIN

PEPUNDHEN

DOKUMENT

SILATURRAHIM

free counters