Santri Qiraati

referensi metode ilmu baca al-Quran

Cinta ala Ushul Fiqih

Meski kata cinta yang ku berikan berlafaz umum, tapi cintaku tertuju khusus untukmu (al-‘am urida bihi al-khas)

Cintaku tidak pernah berubah karena ia bukan sesuatu yang bisa di-nasikh-mansukh

Cintaku tidak membutuhkan ta’wil karena ia bukan sesuatu yg mutasyabihat. Ini cinta yang muhkamat

Cintaku itu qath’i bukan zanni karena ia tidak membutuhkan lagi ‘illat yg mustanbathah

Rasa sayangku padamu sudah masuk kategori ma’lum minad din bidh dharurah. Aksioma!

Saat kamu bimbang apakah cintaku ini termasuk qaul qadim atau qaul jadid, ingatlah bahwa al-yaqin la yuzal bi al-syak

Usah kamu gelisah jikalau ada yang mencoba mencegah cinta kita karena an-nahyu ‘anis sya’i la yadulu ‘alal fasad

Bahkan meskipun kamu ketar-ketir dan akhirnya “terpaksa” mencintaiku ingatlah al-dharurah tubihul mahzurat

Sudahlah tak perlu meng-qiyaskan cinta aku dengan yang lain, Illat cintaku dan dia jelas berbeda. Ini namanya qiyas ma’al fariq

Jatuh bangun aku mencintai kamu, tapi segala nestapa akan membawa pada kemudahan kelak: al-masyaqqah tajlibut taysir

Tak usah kamu tanya lagi dengan sebab apa aku mencintaimu karena al-‘ibrah bi umumil lafz la bi khususis sabab

Kamu sudah milikku selamanya, maka tutuplah semua celah dan jalan yang membawa kemudaratan. Ini sadd al-zariah!

Duhai cintaku, ikhtilaf ummati rahmat, tapi ikhtilaf akibat cinta bisa jadi laknat buat kita. Jadi, gak usah berbantah-bantahan yah

Hukum boleh saja berubah ditelan zaman dan tempat (bi taghayur al-azman wa al-makan) tapi itu tdk berlaku utk cintaku padamu. Cintaku tak pernah berubah

Kalau kamu terus saja diam saat ku ungkapkan rasa cintaku, apakah ini artinya kamu setuju dalam diam (ijma’ sukuti)?

Cintaku itu utk menjaga agama, diri, akal, keturunan & harta benda kita (kulliyatul khams). Inilah maqashid cintaku

Usah lagi mikirin pacar mu yg dulu karena yg berlaku skr itu cinta kita: syar’u man qablana laysa syar’an lana

Kalau banyak yg juga merayu dirimu aku minta kamu segera memakai metode tarjih saja mana cinta yg tulus & mana yg akal bulus. Masak mau pakai al-jam’u wat taufiq?

Cinta itu merupakan wasilah menujuNya karena lil wasa’il hukmul maqashid

Cinta tulus itu seharusnya menolak mafsadah ketimbang mendahulukan menarik maslahah; daf’ul mafasid muqaddamun ‘ala jalbil mashalih

Kalau ternyata aku salah mencintai kamu, aku dapat satu pahala. Kalau benar, aku dapat dua pahala. Ini ijtihad!

Iklan

Filed under: Ilmu Fiqh, , , , , , ,

Gus Mus Menjawab

Apakah sah dan tidak bid’ah untuk mengucapkan niat shalat padahal mestinya niat dengan hati?

Niat itu tempatnya di hati, dan memang seharusnya niat itu dengan hati, akan tetapi saya dengar orang-orang bersembahyang di Masjid, niatnya dengan ucapan Usholli fardlo dzuhri dst. Sahkah itu?

Niat itu memang tempatnya di hati. Kalau hanya ucapan Usholli fardlo dzuhri dan seterusnya saja itu namanya bukan niat.

Kalau demikian, lalu apa gunanya baca Usholli?

Gunanya untuk menolong agar hati kita itu ingat mensahajakan, sebab manusia itu tempatnya lupa. Apalagi di dalam niat itu, kita harus Ta’ridh danTa’yin. Untuk ingat mensahajakan sholat berikutta’ridh dan Ta’yin adalah tidak mudah. Baca entri selengkapnya »

Filed under: Hukum, , , , , , ,

Jihad Menurut Kitab Fathul Muin

Jakarta (GP-Ansor): Jihad, kata yang oleh sebagian orang diidentikkan dengan perang melawan non muslim sehingga kata ini sudah identik dengan arti kekerasan dan merusak, meskipun makna sebenarnya tidaklah begitu. Kalau dilihat dari makna jihad yang terungkap dalam kitab Fathul Muin, salah satu kitab kuning yang menjadi rujukan di kalangan pesantren, makna jihad sangat luas, termasuk pembelaan terhadap non-Muslim.

Ketua PBNU KH Said Agil Siradj dalam sebuah acara di gedung PBNU baru-baru ini menjelaskan, terdapat empat kategori jihad seperti yang dijelaskan dalam kitab Fathul Muin tersebut. Baca entri selengkapnya »

Filed under: Hukum, , , , , ,

KAMAR PENGANTIN

PEPUNDHEN

DOKUMENT

SILATURRAHIM

free counters