Santri Qiraati

referensi metode ilmu baca al-Quran

TUHAN TIDAK PERLU DIBELA

Oleh Abdurrahman Wahid
(Sumber: TEMPO, 28 Juni 1982)

Sarjana X yang baru menamatkan studi di luar negeri pulang ke tanah air. Delapan tahun ia tinggal di negara yang tak ada orang muslimnya sama sekali. Di sana juga tak satu pun media massa Islam mencapainya.

Jadi pantas sekali X terkejut ketika kembali ke tanah air. Di mana saja ia berada, selalu dilihatnya ekspresi kemarahan orang muslim. Dalam khotbah Jum’at yang didengarnya seminggu sekali. Dalam majalah Islam dan pidato para mubaligh dan da’i.

Terakhir ia mengikuti sebuah lokakarya. Di sana diikutinya dengan bingung uraian seorang ilmuan eksata tingkat top, yang menolak wawasan ilmiah yang diikuti mayoritas para ilmuwan seluruh dunia, dan mengajukan ‘teori ilmu pengetahuan Islam’ sebagai alternatif.

Bukan penampilan alternatif itu sendiri yang merisaukan sarjana yang baru pulang itu, melainkan kepahitan kepada wawasan ilmu pengetahuan moderen yang terasa di sana. Juga idealisasi wawasan Islam yang juga belum jelas benar apa batasannya bagi ilmuwan yang berbicara itu.

Semakin jauh X merambah ‘rimba kemarahan’ kaum muslimin itu semakin luas dilihatnya wilayah yang dipersengketakan antara wawasan ideal kaum muslimin dan tuntutan modernisasi. Dilihatnya wajah berang di mana-mana: di arsip proses pelarangan cerpen Ki Panji Kusmin Langit Makin Mendung. Dalam desah napas putus asa dari seorang aktivis organisasi Islam ketika ia mendapati X tetap saja tidak mau tunduk kepada keharusan menempatkan ‘merk Islam’ pada kedudukan tertinggi atas semua aspek kehidupan. X bahkan melihat wajah kemarahan itu dalam serangan yang tidak kunjung habis terhadap ‘informasi salah’ yang ditakuti akan menghancurkan Islam. Termasuk semua jenis ekspresi diri, dari soal berpakaian hingga Tari Jaipongan.

Walaupun gelar Doktor diperolehnya dalam salah satu cabang disiplin ilmu-ilmu sosial, X masih dihadapkan pada kepusingan memberikan penilaian atas keadaan itu. Ia mampu memahami sebab-sebab munculnya gejala ‘merasa terancam selalu’ yang demikian itu. Ia mampu menerangkannya dari mulut dari sudut pandangan ilmiah, namun ia tidak mampu menjawab bagaimana kaum muslimin sendiri dapat menyelesaikan sendiri ‘keberangan’ itu menyangkut aspek ajaran agama yang paling inti. Di luar kompetensinya, keluhnya dalam hati.

Karena itu diputuskannya untuk pulang kampung asal, menemui pamannya yang jadi kiai pesantren. Jagoan ilmu fiqh ini disegani karena pengakuan ulama lain atas ketepatan keputusan agama yang dikeluarkannya. Si ‘paman kiai’ juga merupakan perwujudan kesempurnaan perilaku beragama di mata orang banyak.

Apa jawab yang diperoleh X ketika ia mengajukan ‘kemusykilan’ yang dihadapinya itu? “Kau sendiri yang tidak tabah, Nak. Kau harus tahu, semua sikap yang kau anggap kemarahan itu adalah pelaksanaan tugas amar ma’ruf nahi munkar,” ujar sang paman dengan kelembutan yang mematikan. “Seharusnya kaupun bersikap begitu pula, jangan lalu menyalahkan mereka.”

Terdiam tidak dapat menjawab, X tetap tidak menemukan apa yang dicarinya. Orang muda ini lalu kembali ke ibu kota. Mencari seorang cendekiawan muslim kelas kakap, siapa tahu dapat memberikan jawaban yang memuaskan hati. Dicari yang moderat, yang dianggap mampu menjembatani antara formalisme agama dan tantangan dunia modern kepada agama.

Ternyata lagi-lagi kecewa, “Sebenarnya kita harus bersyukur mereka masih mengemukakan gagasan alternatif parsial ideologis terhadap tatanan yang ada!” demikian jawaban yang diperolehnya. Ia tidak mampu mengerti mengapa kemarahan itu masih lebih baik dari kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi.

Orang muda yang satu ini tercenung tanpa mampu merumuskan apa yang seharusnya ia pikirkan. Haruskah pola berpikirnya diubah secara mendasar, mengikuti keberangan itu sendiri?

Akhirnya, ia diajak seorang kawan seprofesi untuk menemui seorang guru tarekat. Dari situlah ia memperoleh kepuasan. Jawabannya ternyata sederhana saja. “Allah itu Maha Besar. Ia tidak perlu memerlukan pembuktian akan kebesaran-Nya. Ia Maha Besar karena Ia ada. Apa yang diperbuat orang atas diri-Nya, sama sekali tidak ada pengaruhnya atas wujud-Nya dan atas kekuasaan-Nya.

Al-Hujwiri mengatakan: bila engkau menganggap Allah ada karena engkau merumuskannya, hakikatnya engkau menjadi kafir. Allah tidak perlu disesali kalau ia “menyulitkan” kita. Juga tidak perlu dibela kalau orang menyerang hakikat-Nya. Yang ditakuti berubah adalah persepsi manusia atas hakikat Allah, dengan kemungkinan kesulitan yang diakibatkannya.”

Kalau diikuti jalan pikiran kiai tarekat itu, informasi dan ekspresi diri yang dianggap merugikan Islam sebenarnya tidak perlu ‘dilayani’. Cukup diimbangi dengan informasi dan ekspresi diri yang “positif konstruktif”. Kalau gawat cukup dengan jawaban yang mendudukan persoalan secara dewasa dan biasa-biasa saja. Tidak perlu dicari-cari.

Islam perlu dikembangkan, tidak untuk dihadapkan kepada serangan orang. Kebenaran Allah tidak akan berkurang sedikit pun dengan adanya keraguan orang. Maka iapun tenteram. Tidak lagi merasa bersalah berdiam diri. Tuhan tidak perlu dibela, walaupun juga tidak menolak dibela. Berarti atau tidaknya pembelaan, akan kita lihat dalam perkembangan di masa depan.

(Sumber: TEMPO, 28 Juni 1982)

Iklan

Filed under: Humor Gusdur

TULISAN DR. KH. MUSTAIN SYAFI’I, M.Ag DALAM KHUTBAH JUM’AT DI MASJID PONDOK TEBUIRENG

MENARIK UNTUK DIBACA !!!!!

إِنَّ الْحَمْدَلِلهِ، نَحْمَدُهُ وَ نَسْتَعِيْنُهُ وَ نَسْتَغْفِرُهُ، وَ نَعُوْذُ بِهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَ اَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا، أَمَّابَعْدُ

فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، اِتَّقُوْ اللهَ، اِتَّقُوْ اللهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ، أَعُوْذُبِالله مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا ۖ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهًا وَوَضَعَتْهُ كُرْهًا ۖ وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلَاثُونَ شَهْرًا ۚ حَتَّىٰ إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي ۖ إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ، صَدَقَ اللهُ الْعَظِيْمُ

Ini kali kesekian tentang materi khutbah bahwa kehidupan itu hakikatnya dimulai justru setelah umur 40 tahun, life begin at forty. Oleh surah al-Ahqaff, (memberi aturan) ada beberapa hal yang perlu dilakukan oleh orang yang sudah berumur 40 tahun. Kali ini, mungkin yang ke-delapan. Masuk pada poin wa an a’mala sholihan tardhohu.

Bahwa hidup di dunia ini, kita harus adaresponsibility, siap mengerjakan amanat ibadah. Amanah ibadah ini mutlak, dan nantinya akan dipertanggungjawabkan. Ada accountability di akhirat nanti, dipertanggungjawabkan. Karena itu, segalanya harus merujuk kepada Allah Swt.

Majalah Tebuireng

Memang, ada bahasa-bahasa dalam al-Quranal-Karim tentang amal saleh. Tetapi di dalam ayat ini, amal saleh tardhahu, yang Engkau ridhai. Memang susah, atau tidak semuanya amal kita itu diridhai Allah. Kita mencari amal yang diridhai. Segala hal yang menimpa diri kita, kembalikan kepada Allah. “Ya Allah, kalau Engkau senang menghendaki saya begini, maka saya juga senang.”

Seperti yang diperagakan oleh Imran ibn Husain. Dia sakit parah. Sampai 30 tahun sakit. Setiap orang yang menjenguk itu menangis, kasihan, sakit kok tidak sembuh-sembuh, padahal dia orang mulia seperti itu. Pakar di bidang hadis. Orang tabi’in ini memang hebat, setiap kali ada yang menjenguk begitu, Imran ibn Husain mengatakan, “Ya Allah, kalau Engkau senang menghendaki saya begini, maka saya juga ridha.”

Itulah hamba yang masuk pada kriteria;

رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ وَرَضُوْا عَنْهُ

Untuk itu, bisa membuat mental yang hebat, jujur, dan tidak manipulasi maka ada pendidikan-pendidikan. Dibangunlah sebuah akhlak. Disamping akhlak adalah ilmu. Tapi, sepanjang pendidikan yang disampaikanHadratu Rasul Nabiyullah Muhammad Saw. (adalah) justru akhlak. Akhlaklah yang keluar dari madrasah rumah Rasulullah.

Didikan Rasulullah, contohnya adalah Usamah. Usamah ini adalah cucu dari anak angkatnya yang berasal dari budak Usamah bin Zaid. Umur 18 tahun sudah betul-betul, mampu dia menjadi panglima perang. Sehingga kita bisa bertanya kepada diri kita, pendidikan kita, anak kita, umur 18 tahun itu bisa apa? Bisa apa anak kita ini, memang belum matang tapi kita berusaha seperti itu.

Maka kita nukil sejenak Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari dengan kisah-kisah bagaimana beliau menyikapi para santri. Yang terkenal adalahHadratussyaikh itu dalam soal akhlak; termasuk jamaah shalat, mereka yang ketahuan tidak jamaah shalat itu ditakzir dengan mencium kemaluan sapi betina. Menurut sebagian cerita, sapi juga begitu ketika dipakai untuk takzir santri yang tidak jamaah, begitu dicium itu langsung pipis atau kencing. Entah apa yang terjadi, cerita ini sudah umum (banyak yang tahu).

Hal yang saya garisbawahi bukan masalah itu. Tapi Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari ini mentakzir santri itu bukan karena masalah bodoh, tidak bisa membaca kitab, sulit diajari, dan seterusnya. Tapi (yang ditakzir) itu santri yang akhlaknya sedang kurang bagus, ibadahnya kurang bagus.

Karena itu, kita bisa bertanya pada diri kita sendiri, “Beranikah, lembaga-lembaga pendidikan di dunia ini menjadikan akhlak sebagai pedoman tolok ukur, pedoman untuk kenaikan kelas.” Dalam artian, ada anak tidak begitu rajin shalat, tidak shalat, suka berbohong, akhlaknya kurang bagus, apakah bisa lembaga pendidikan kita ini tidak meluluskan anak yang ibadahnya tidak bagus seperti itu. Yang ada (kriteria lulus), biasanya yang nilainya 9, 10 dan lain-lain.

Untuk itu, mereka yang dididik di dalam paduan akhlak dan ilmu seperti ini, menjadikan generasi itu tumbuh jujur, tumbuh eksis, tumbuh bertanggung jawab, dan tidak manipulasi atau mereka-reka. Karena nanti di bidang keilmuan, bisa saja orang itu membuat rekaan-rekaan karena ilmunya sendiri.

Bisa dibuatkan contoh bahwa dengan progam yang pernah dicanangkan Hadratu Rasul Nabiyullah Muhammad Saw. mengubah pemerintahan yang semula tertutup (dari raja-raja), kemudian hanya dengan 9 tahun mendidik pemerintahan umat Islam sudah bisa, memilih kepala negara sendiri. Lahirlahkhulafa’u ar-Rasyidun meskipun resikonya, cost-nya juga tinggi. Model musyawarah atau kalau orang sekarang mengidentikkan dengan demokrasi, walaupun tidak sama. Cost-nya juga tinggi.

 Puasa, Pendidikan Khusus dari Allah

Dari keempat khulafa’u ar-Rasyidun, seluruhnya mati dibunuh karena perbedaan tafsir dalam berpolitik. Kecuali satu, yaitu Abu Bakar. Walaupun begitu, riwayat menunjukkan bahwa Abu Bakar setahun sebelum (meninggal) pernah diracun lembut, sehingga dibiarkan karena sudah tua. Nanti akan mati sendiri. Betul, kekuasaan Abu Bakar hanya dua tahun lebih sedikit.

Umar juga wafat dalam shalat, dibunuh Abu Lu’luah. Tapi yang hebat adalah komitmen Sayyidina Umar, bertanya, “Siapa yang menusuk saya tadi.” Tertangkaplah penusuk itu, lalu Sayyidina Umar bersyukur kepada Allah. “Saya bersyukur kepada Allah, saya mati di tangan orang non-muslim.”

Pemerintahan terus bergulir, pada Sayyidina Utsman ibn Affan, yang dikeroyok di rumahnya sendiri dan kematian beliau lebih sadis lagi. Tidak langsung dibunuh. Bahkan menurut beberapa riwayat, jari-jari beliau dipotong karena termasuk penulis mushaf al-Quran dan lain-lain.

Tetapi, tidak saja berhenti disitu, diganti Sayyidina Ali ibn Abi Thalib. Inilah chaos. Inilah bermunculan persepsi-persepsi yang bersifat kepentingan. Ali ibn Abi Thalib yang pada waktu itu dalam keadaan puasa, kalau tidak salah tanggal 7 Ramadhan, hampir sama dengan tanggal wafatnya HadratussyaikhHasyim Asy’ari.

Masih dalam keadaan puasa dan pada waktu subuh dibunuh oleh Ibnu Muljam. Di sini, lagi-lagi kalimah lâ ilâha illallah menjadi rebutan. Di sini, mushaf al-Quran dijadikan dasar untuk mem-back up melindungi diri, kepentingan politiknya sendiri. Di sini kalimah thoyyibah,kalimat tauhid dipakai untuk kepuasan nafsunya, untuk menipu orang.

Pada perang Siffin tidak sekedar kalimah tauhid yang diangkat untuk mendamaikan. Ketika pasukan itu kalah, pemberontak itu kalah, oposisi itu kalah, maka dia dengan cerdiknya mengangkat mushaf di ujung tombak. Menunjukkan bahwa dia bernaung di bawah al-Quran.

Ali bin Abi Thalib yang ‘tertipu’ dengan trik mereka, akhirnya harus membayar mahal. Pembunuhnya adalah Ibnu Muljam. Tidak banyak orang tahu siapakah Ibnu Muljam. Ibnu Muljam adalah Abdurrahman Ibnu Muljam al-Muradi al-Muqri’. Dia adalah sahabat besar, hafidz al-Quran, dia muqri’ pengajar al-Quran. Disebutkan, hafidzun zahidun, orang yang zuhud betul.

Pada waktu zaman khalifah Umar, pada waktu Amr ibn Ash itu menjadi gubernur di Mesir dan meminta guru al-Quran mengajar di sana. Justru Abdurrahman Ibn Muljam inilah yang diutus Sayyidina Umar mengajarkan al-Quran di Mesir, luar negeri.

Abdurrahman ibn Muljam ini sama, berlindung di kalimah tauhid lâ ilâha illallah dengan al-Qurannya. Tetapi, “dasar” itu dipakai untuk kepentingan politik. Untuk menumbangkan khalifah Sayyidina Ali Ibn Thalib. Setelah membunuh, dia tidak lari. Justru, dengan menuding Sayyidina Ali dan mengatakan,

لاحكم إلا لله، لا لنفسك ولا لأصحابك

“Hukum hanyaAllah, tidak untuk kamu, juga tidak teman-temanmu.”

Ibnu Muljam yang sedemikian hebat memakai al-Quran al-Karim, memakai kalimah tauhid seperti itu, sudah tertangkap. Keputusan para sahabat, bagaimana ini seorang hafidz, seorang yang mengibarkan lâ ilâha illallah,bagaimana. Keputusan para sahabat, orang ini harus dieksekusi dihukum mati. Begitu dieksekusi, ia pun masih minta kepada algojo, “Hai algojo, kamu jangan memenggal kepala saya langsung. Penggallah anggota badan saya satu per satu. Tangan saya, kaki saya, satu per satu. Biar saya bisa menyaksikan tubuhku dipotong karena Allah, karena lâ ilâha illallah.” Masih begitu.

Untuk itu, disinilah penyebab orang bisa memandang dari sisi mana sesungguhnya melihat kalimat tauhid itu dihukumi sebagaipiur (Jawa: murni) hukum. Kalau kalimat tauhid itu ada pada tempatnya, pada al-Quran, kitab, dan tulisan biasa, lalu kamu bakar dan kamu injak-injak, maka menurut ulama salaf itu murtad. Sama dengan pelecehan dan penghinaan terhadap Allah.

Tetapi kalau kalimat tauhid itu sudah di-frame.Masuk pada frame. Frame kepentingan, seperti menjadi bendera ormas tertentu. Seperti menjadi simbol “iniâââââ” tertentu. Kemudian melakukan kejahatan, sama dengan Abdurrahman Ibnu Muljam. Waktu akan dieksekusi, apakah kita tidak tahu ada kalimatlâ ilâha illallah di dalam hatinya. Apakah tidak tahu, di dalam dirinya itu ada al-Quran al-Karim 30 juz. Iya, tetapi kemaslahatannya lebih bagus orang ini mati. Daripada membuat onar.

Karena itu, saya juga mau bertanya dan tidak perlu dijawab. Kalau kalimat lâ ilâha illallah itu pada frame dan bi’ah (perilaku) yang salah. Maka terjadi sebuah dua ‘illat, dilihat wadahnya maka itu fasik atau buruk tapi dilihat isinya murni lâ ilâha illallah kalimat tauhid.

Saya ambil contoh. Kita tahu ada mobil, seumpama. Di kacanya ditulisi lâ ilâha illallah muhammadun rasulullah menempel kelihatan. Tapi (mobil) dipakai untuk merampok. Karena dipakai merampok itu, maka oleh massa tertangkap lalu dibakar. Apakah itu membakar “mobil perampok” atau membakar “kalimat tauhid lâ ilâha illallah”?

Inilah, kadang-kadang orang bisa berdebat disini. Tapi dihukumi yang dhohir saja. Tanpa ada tendensi apa-apa. Maka Ibnu Muljam tetap dihukum mati walaupun dia menggunakanmushaf di dalam hatinya, 30 juz al-Quran, ada lâ ilâha illallah. Tapi karena sudah masuk dalamframe yang salah, di “tempat yang salah”. Bukan tulisan “lâ ilâha illallah”-nya yang salah. Tetapi yang menyalahgunakan itu lah yang salah.

Dengan demikian, kita ini bersikap, tidak lain adalah wa an a’mala sholihan tardhohu. Dalam bidang apapun, kita ini merujuk kepada Allah. Mudah-mudahan segala yang dilakukan oleh umat Islam, dengan segala ijtihadnya, segala perjuangannya, termasuk as-Salafu as-Shalih ini,benar-benar diridhai oleh Allah Swt.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي اْلقُرْآنِ الْعَظِيْم،وَنَفَعَنابه وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلأٓيَةِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْم،فتقَبَّلَ اللهُ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ تعالى جَوَّادٌ كَرِيْمٌ.البَرُّ الرَّؤُوْفُ الرَّحِيْمُ، و الحمد للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

#FotoGambariniAbaikan
#TidakAdaKaitan
#HanyaSajaMasalahApi
#BakarMembakar

Filed under: MAYA.net, Tokoh

Fakta Sejarah Benturan NU Dengan Ormas/Orpol (Subversif)

1. *NU* dengan Masyumi, yang bubar Masyumi
2. *NU* dengan PKI, yg bubar PKI
3. *NU* dengan PRRI/Permesta, yg bubar PRRI Permesta
4. *NU* dengan DI/TII, yg bubar DI/TII
5. *NU* dengan NII, yg bubar NII
6. *NU* dengan Gafatar, yg bubar Gafatar
7. *NU* dengan JI, yg bubar JI
8. *NU* dengan JAT, yg bubar JAT
9. *NU* dengan HTI, yg bubar HTI
_Masih Tidak Yakin Kalau NU Sebagai Penjaga Negara dan Agama….??_
_Masih Berani Benturan Dengan NU….??_
Tidak riya’, hanya mempertegas kalau *NU* itu betul2 keramat…
*ANDA DIBUBARKAN?* _UMAT YANG MINTA!_
1. _Siapa yang pasang badan ketika *Makam Rasulullah mau dimusnahkan pemerintah Arab Saudi yg Wahabi* ?_
Jawabannya: *NU*, melalui *Komite Hijaz* yang dibentuk *HadratusSyech KH.Hasyim Asy’ari* dengan mengutus *KH.Wahab Chasbullah*.
2. _Siapa yang berjuang menumpas penjajah Jepang?_
Jawabannya: *NU*, melalui barisan Hizbullah dan lainnya.
3. _Siapa yang membumikan nama Indonesia dan mengusulkan Ir. Soekarno sebagai pemimpin?_
Jawabannya: *NU*, melalui muktamar Banjarmasi sebelum kemerdekaan.
4. _Siapa yang berijtihad bahwa Indonesia adalah negara Darussalam yang harus diperjuangkan?_
Jawabannya: *NU*, melalui Bahtsul Masail dipenghujung tahun 1930-an.
5. _Siapa yang mengeluarkan resolusi Jihad?_
Jawabannya: *NU*, melalui fatwa Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari tanggal 22 Oktober. Memicu kejadian bersejarah tanggal 10 November.
6. _Siapa yang menengahi perseteruan Nasionalis dan Islamis saat membuat dasar negara?_
Jawabannya: *NU*, melalui sosok KH. Wahid Hasyim yang saat itu mengambil lima intisari Piagam Madinah.
7. _Siapa yang meminta negara tetap mengayomi umat Islam pasca penghapusan tujuh kata dalam sila pertama Pancasila?_
Jawabannya: *NU*, tatkala KH. Wahid Hasyim meminta dibentuk Departemen Agama.
8. _Siapa yang dulu menetralisir kebijakan berbau komunisnya Bung Karno?_
Jawabannya: *NU*, saat Kyai Wahab secara gesit masuk dalam barisan Nasakom untuk menghadang PKI mempengaruhi Soekarno.
9. _Siapa yang menjaga keutuhan negara dan ikut bertempur saat Komunis melajalela?_
Jawabannya: *NU*, melalui santri pondok dan barisan Pagar Nusa. Sebab waktu itu sasarannya adalah Kyai pondok.
10. _Siapa yang berijtihad saat asas tunggal diberlakukan negara?_
Jawabannya: *NU*, dimasa Kyai Ahmad Siddiq secara gesit menerima asas tunggal Pancasila dengan dalil-dalil sharih.
11. _Siapa yang meminta pemerintah mengayomi seluruh ormas Islam di Indonesia?_
Jawabannya: *NU*, melalui sosok KH. Ibrahim Hosen _(ayahnya Gus Nadirsyah Hosen yang dituduh syiah, liberal, anti-Islam, wa akhawatuha itu)_ melalui usulan dibentuknya MUI.
Beliau juga yang meletakkan dasar-dasar _ijtihad ijtima’i ala *NU*_ dalam tubuh MUI.
Sekelompok orang yang organisasinya dibubarkan berteriak lantang, _”negara jangan semena-mena membubarkan kami, ingat, umat Islamlah yang memperjuangkan negara ini dari masa ke masa!!”_
*Jangan hanya like, kopi langsung kirim ke yang lain…Biar ngerti tentang perjuangan NU*.

Filed under: Humor Gusdur, MAYA.net, Tanda Zaman

Kamus Lisanul Arab Online

KAMAR PENGANTIN

PEPUNDHEN

DOKUMENT

SILATURRAHIM

free counters