Santri Qiraati

referensi metode ilmu baca al-Quran

PESAN GUS DUR…. KIAI HASYIM ASY’ARI MEMBURU GURU KHALID, KIAI ALIM NAN TAWADHU’ DARI GONDANGDIA JAKARTA

~ Dulu sewaktu KH. Hasyim Asy’ari dari Jombang ke Jakarta dan menanyakan nama Tuan Guru Khalid, di hadapan para para kiai beliau utarakan keinginannya untuk menemuinya. Dan menurut KH. Hasyim Asy’ari karena ketawadhu’annya Guru Khalid sangat enggan untuk ditemui oleh banyak orang.

Akhirnya salah seorang kiai yang bernama KH. Ali Hamidi dari Matraman angkat bicara dan bertanya pada Kiai Hasyim: “Maaf Pak Kiai, apa sudah pernah bertemu dengan Guru Khalid?”
“Belum, akan tetapi rasa ingin bertemu padanya sangat ingin.” Jawab Kiai Hasyim.

Dan KH. Ali Hamidi menyatakan pada Kiai Hasyim bahwa dirinya akan mempertemukan dengan Guru Khalid. “Biasanya Guru Khalid setiap Minggu pagi hadir di pengajiannya Habib Ali al-Habsyi Kwitang,” jelas Kiai Ali Hamidi.

Dengan penuh semangat Kiai Hasyim berkata: “Baiknya kita Minggu hadir juga di pengajiannya Habib Ali Kwitang. Dan saya juga berniat akan hadir di dalam pengajian tersebut bila ada di Jakarta.”

Lalu tibalah saatnya di hari Minggu KH. Ali Hamidi beserta KH. Hasyim Asy’ari dan rombongannya datang ke Majelisnya Habib Ali Kwitang. Sesampainya di sana Kiai Hasyim bertanya kepada Kiai Ali Hamidi: “Apa Guru Khalidnya juga hadir?”
“Ada, Kiai. Tadi saya lihat tukang sado yang mengantar Tuan Guru Khalid ada, berarti beliau sudah hadir.”

Di saat memasuki majelis, semua jamaah serempak berdiri dan ada seorang lelaki tua menyalami Kiai Hasyim Asy’ari dengan tersenyum. Melihat orang tua yang menyalami Kiai Hasyim adalah Guru Khalid, Kiai Ali Hamidi tertunduk dan terdiam.

Sesampainya di dalam majelis rombongan disambut oleh Habib Ali Kwitang. KH. Hasyim Asy’ari pun dipeluk oleh Habib Ali al-Habsyi seraya menyampaikan salam Guru Khalid untuk KH. Hasyim Asy’ari bahwa tadi sudah menemui Kiai Hasyim.

Mendengar itu lalu Kiai Hasyim bertanya kepada Kiai Ali Hamidi: “Kiai, tadi Habib bilang Guru Khalid sudah bertemu dengan saya?”

Dengan tegas Kiai Ali Hamidi menjawab: “Benar Pak Kiai, tadi yang pertama kali menyalami Kiai beliaulah orangnya.”

Lalu Habib Ali berkata: “Insya Allah hashil maqshud, qabul…”

Sekilas Mengenal KH. Ahmad Khalid (1874-1946)

KH. Ahmad Khalid, seorang ulama terkemuka asal Gondangdia Jakarta yang lebih dikenal dengan panggilan Guru Khalid.

Nama lengkapnya adalah Ahmad Khalid, anak “orang biasa” yang bukan ulama, berasal dari Bogor dan menikah dengan orang Gondangdia. Diantara anggota keluarga Kholid, hanya dialah yang menjadi ulama terkenal. Nama aslinya adalah KH. Mumammad Khalid bin H. Na’idi. Beliau mempunyai istri bernama Hj. Mamnun binti H. Jam’an.

Guru Khalid adalah salah satu dari enam guru utama di Betawi, selain lima guru lainnya yaitu Guru Marzuki, Guru Mughni, Guru Mansyur, Guru Madjid dan Guru Mahmud. Tidak ada referensi mengenai guru-guru mengajinya yang paling awal, tetapi ia diketahui bermukim dan belajar di tanah suci Mekkah selama 11 tahun.

Guru-gurunya di tanah suci antara lain Syaikh Mukhtar Atharid al-Bogori dan Syaikh Umar Bajunaid. Khalid nampaknya sangat mengagumi gurunya, khususnya Mukhtar Atharid, sehingga ketika salah seorang muridnya yang bernama Ya’qub dilihatnya tidak mencapai kemajuan dalam belajar, ia berujar: “Qub lu bebel amat, lu naik haji, ngaji ama Guru Mukhtar di Makkah” (Qub, kamu bodoh sekali, kamu naik haji, mengaji kepada Guru Mukhtar di Makkah). Nasihat itu dituruti dan kelak, Ya’qub yang asal Kebon Sirih itu menjadi ulama terpandang.

Di kalangan ulama Betawi, Guru Khalid dikenal sebagai ahli hadits dan tasawuf. Ia tidak suka banyak bicara dan kalau mengajar ia selalu menghadap kiblat, sementara muridnya duduk membuat lingkaran. Begitu selesai “ta’lim” ia langsung meninggalkan murid-muridnya tanpa basa-basi lagi.
Ia juga dikenal keras terhadap rokok dan mendengar radio. Jika dalam suatu acara Guru Khalid akan diundang, maka bagi mereka yang ingin merokok diusahakan sebelum kedatangannya. Dan ketika datang seluruh asbak rokok sudah harus hilang dari pandangan mata.

Demikian pula, ia tidak akan pernah mau masuk rumah yang terdengar di dalamnya terdengar suara radio. Ia juga sangat berhati-hati dalam memberikan fatwa, apalagi menyangkut penentuan masjid untuk shalat Jum’at.

Dalam mencetak ulama, Guru Khalid termasuk berhasil, kendati tidak ada keturunannya yang melanjutkan jejak sang ulama sebagai juru dakwah.

Diantara hasil didikannya ialah KH. Yahya Suhaimi yang diangkat mantu oleh Guru Khalid dan sempat meneruskan kegiatan ta’lim sang Guru di mushalla peninggalannya. Menantunya yang lain, Hasan Abdussalam, sebenarnya berbakat pula menjadi juru dakwah, tetapi ia rupanya lebih cenderung menjadi pedagang daripada menjadi kiai.

Muridnya yang lain yang menonjol adaalah Guru Ya’qub dari Kebon Sirih, Guru Ilyas dari Cikini, Guru Najib dari Tanah Abang, Guru Rahab Citayem, KH. Ma’mun Abdul Karim dari Rawabelong, Muallim Thabrani Paseban, KH. Mukhtar Siddik dari Kemayoran, KH. Abdurrrahman dari Bojonggede, KH. Kahmatullah Shidiq dan KH. Syafi’i Hadzami dari Kebayoran Lama.

Ketika wafat di tahun 1946 dalam usia 72 tahun, Guru Khalid dikuburkan di Tanah Abang, di lokasi yang sekarang menjadi rumah susun Perumnas. Sesudah terjadi sedikit pertikaian di antara anggota masyarakat, akhirnya jenazah Guru Khalid dipindah ke pekuburan Karet.

Iklan

Filed under: Humor Gusdur, Tokoh

*Kangen Gus Dur* *Sang Guru Bangsa*

🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹

Jangan Mudah Meremehkan Orang Lain

Pada suatu acara pengajian di dusun Mlangi Yogyakarta
Beliau sempat mengupas tentang tugas utama manusia di muka bumi ini, Lebih lanjut Beliau terus menyetir ayat dari alqur’an والعصر الأية
Dan Beliau jabarkan isinya…sebagaimana biasa ketika beliau menanamkan pendidikan pada semua rakyat indonesia…sampai pada akhirnya saya mendapatkan pencerahan dari isi Tausiyah Beliau …. mengenai hubungan sesama hamba Alloh yang kurang lebih seperti ini:

Pada hakikatnya tidak ada satupun manusia di muka bumi ini yang merasa ikhlas bila aib dan cacatnya dibuka di depan publik. Betapapun bejatnya moral dan rusaknya akhlak seseorang, ia pasti ingin selalu dipandang baik di mata orang.

Atas dasar ini, Islam melarang setiap pemeluknya agar tidak mengumbar aib orang secara serampangan.
Bahkan, sebuah hadis riwayat at-Tirmidzi menyebutkan bahwa Allah SWT akan menutup aib orang yang senantiasa menjaga aib orang selama di dunia.

ومن ستر على مسلم في الدنيا ستر الله عليه في الدنيا والاخرة

“Barang siapa yang menutupi (aib) seorang muslim selama di dunia, Allah akan menutup (aibnya) di dunia dan akhirat.” HR Abu Daud, at-Tirmidzi, dan imam lainnya”.

Begitulah janji Allah bagi orang yang mampu menjaga lisannya dari perbincangan akan kejelekan orang lain. Tetapi dalam pergaulan sehari-hari menjaga ucapan itu tidak mudah. Terlebih lagi, gunjing dan mendiskusikan keburukan orang lain itu terkadang menjadi sesuatu yang menyenangkan bagi sebagian orang.

Supaya tidak terjebak dalam sesuatu yang haram, perlu diperhatikan mana yang patut diucapkan dan mana yang tidak layak. Berikut penjelasan Ibnu Rajab al-Hanbali dalam risalahnya Al-Farqu bainan Nashihah wat Ta’yir.

اعلم أن ذكر الإنسان بما يكره محرم، إذا كان المقصود منه مجرد الذم والعيب والنقص فأما إن كان فيه مصلحة لعامة المسلمين، أو خاصة لبعضهم، وكان المقصود منه تحصيل تلك المصلحة، فليس بمحرم، بل مندوب إليه

“Ketahuilah bahwa membicarakan aib orang lain atau sesuatu yang tidak disukai orang adalah haram bila tujuannya semata mencela, membuka aib dan kekurangannya. Tetapi lain masalah bila tujuannya untuk menjaga kemaslahatan umum atau sebagian orang. Sebuah pembicaraan kejelekan untuk menjaga tujuan ini tidak termasuk perbuatan yang diharamkan, justru disunahkan

Penjelasan ini paling tidak bisa dijadikan rambu-rambu dalam pergaulan sehari-hari. Bila kita ingin mendiskusikan keburukan orang lain, timbanglah terlebih dahulu apakah ucapan itu akan memberi kemaslahatan bagi orang banyak atau tidak.

Dan berikut dibawah ini

WEJANGAN KH. ABDURRAHMAN WAHID (GUS DUR) :

1 Jika Allah memudahkan bagimu mengerjakan sholat malam, Maka janganlah memandang rendah orang-orang yang tidur.

2 Jika Allah memudahkan bagimu melaksanakan puasa, Maka janganlah memandang rendah orang-orang yang tidak berpuasa dengan tatapan menghinakan.

3 Jika Allah memudahkan bagimu membuka pintu untuk berjihad, Maka janganlah kamu memandang rendah orang-orang tidak berjihad dengan pandangan meremehkan.

4 Jika Allah memudahkan dirimu dalam mengais rezky bagimu, Maka jangan memandang rendah orang-orang yang berhutang dan kurang rizkynya dengan pandangan yang mengejek dan mencela. Karena itu semua adalah titipan Allah yang suatu saat akan kau pertanggung jawabkan kelak.

4 Jika Allah memudahkan pemahaman agama bagimu, Maka janganlah kamu meremehkan orang-orang yang belum faham agama dengan pandangan hina.

5 Jika Allah memudahkan ilmu bagimu, Maka janganlah kamu sombong dan bangga diri, Karena Allah lah yang memberimu pemahaman itu.
Boleh jadi orang yang tidak mengerjakan qiyamul lail, Puasa (sunnah) tidak berjihad dsb mereka lebih dekat Allah daripada dirimu.

berwudhuk senantiasa ia akan merasa selalu dalam keadaan solat walaupun ia belum lagi solat, dan dijaga oleh malaikat dengan dua doa, Malaikat berdoa untuknya iaitu “ampuni dosanya dan sayangi dia ya Allah SWT ”.
Hari ini tepat 9 th beliau telah meninggalkan kita semua, kami rindu Gus Dur.
*Guruku*
*Guru Bangsaku*
*Lahu Al Fatekhah:*

Filed under: Humor Gusdur, Tanda Zaman, Tokoh

TUHAN TIDAK PERLU DIBELA

Oleh Abdurrahman Wahid
(Sumber: TEMPO, 28 Juni 1982)

Sarjana X yang baru menamatkan studi di luar negeri pulang ke tanah air. Delapan tahun ia tinggal di negara yang tak ada orang muslimnya sama sekali. Di sana juga tak satu pun media massa Islam mencapainya.

Jadi pantas sekali X terkejut ketika kembali ke tanah air. Di mana saja ia berada, selalu dilihatnya ekspresi kemarahan orang muslim. Dalam khotbah Jum’at yang didengarnya seminggu sekali. Dalam majalah Islam dan pidato para mubaligh dan da’i.

Terakhir ia mengikuti sebuah lokakarya. Di sana diikutinya dengan bingung uraian seorang ilmuan eksata tingkat top, yang menolak wawasan ilmiah yang diikuti mayoritas para ilmuwan seluruh dunia, dan mengajukan ‘teori ilmu pengetahuan Islam’ sebagai alternatif.

Bukan penampilan alternatif itu sendiri yang merisaukan sarjana yang baru pulang itu, melainkan kepahitan kepada wawasan ilmu pengetahuan moderen yang terasa di sana. Juga idealisasi wawasan Islam yang juga belum jelas benar apa batasannya bagi ilmuwan yang berbicara itu.

Semakin jauh X merambah ‘rimba kemarahan’ kaum muslimin itu semakin luas dilihatnya wilayah yang dipersengketakan antara wawasan ideal kaum muslimin dan tuntutan modernisasi. Dilihatnya wajah berang di mana-mana: di arsip proses pelarangan cerpen Ki Panji Kusmin Langit Makin Mendung. Dalam desah napas putus asa dari seorang aktivis organisasi Islam ketika ia mendapati X tetap saja tidak mau tunduk kepada keharusan menempatkan ‘merk Islam’ pada kedudukan tertinggi atas semua aspek kehidupan. X bahkan melihat wajah kemarahan itu dalam serangan yang tidak kunjung habis terhadap ‘informasi salah’ yang ditakuti akan menghancurkan Islam. Termasuk semua jenis ekspresi diri, dari soal berpakaian hingga Tari Jaipongan.

Walaupun gelar Doktor diperolehnya dalam salah satu cabang disiplin ilmu-ilmu sosial, X masih dihadapkan pada kepusingan memberikan penilaian atas keadaan itu. Ia mampu memahami sebab-sebab munculnya gejala ‘merasa terancam selalu’ yang demikian itu. Ia mampu menerangkannya dari mulut dari sudut pandangan ilmiah, namun ia tidak mampu menjawab bagaimana kaum muslimin sendiri dapat menyelesaikan sendiri ‘keberangan’ itu menyangkut aspek ajaran agama yang paling inti. Di luar kompetensinya, keluhnya dalam hati.

Karena itu diputuskannya untuk pulang kampung asal, menemui pamannya yang jadi kiai pesantren. Jagoan ilmu fiqh ini disegani karena pengakuan ulama lain atas ketepatan keputusan agama yang dikeluarkannya. Si ‘paman kiai’ juga merupakan perwujudan kesempurnaan perilaku beragama di mata orang banyak.

Apa jawab yang diperoleh X ketika ia mengajukan ‘kemusykilan’ yang dihadapinya itu? “Kau sendiri yang tidak tabah, Nak. Kau harus tahu, semua sikap yang kau anggap kemarahan itu adalah pelaksanaan tugas amar ma’ruf nahi munkar,” ujar sang paman dengan kelembutan yang mematikan. “Seharusnya kaupun bersikap begitu pula, jangan lalu menyalahkan mereka.”

Terdiam tidak dapat menjawab, X tetap tidak menemukan apa yang dicarinya. Orang muda ini lalu kembali ke ibu kota. Mencari seorang cendekiawan muslim kelas kakap, siapa tahu dapat memberikan jawaban yang memuaskan hati. Dicari yang moderat, yang dianggap mampu menjembatani antara formalisme agama dan tantangan dunia modern kepada agama.

Ternyata lagi-lagi kecewa, “Sebenarnya kita harus bersyukur mereka masih mengemukakan gagasan alternatif parsial ideologis terhadap tatanan yang ada!” demikian jawaban yang diperolehnya. Ia tidak mampu mengerti mengapa kemarahan itu masih lebih baik dari kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi.

Orang muda yang satu ini tercenung tanpa mampu merumuskan apa yang seharusnya ia pikirkan. Haruskah pola berpikirnya diubah secara mendasar, mengikuti keberangan itu sendiri?

Akhirnya, ia diajak seorang kawan seprofesi untuk menemui seorang guru tarekat. Dari situlah ia memperoleh kepuasan. Jawabannya ternyata sederhana saja. “Allah itu Maha Besar. Ia tidak perlu memerlukan pembuktian akan kebesaran-Nya. Ia Maha Besar karena Ia ada. Apa yang diperbuat orang atas diri-Nya, sama sekali tidak ada pengaruhnya atas wujud-Nya dan atas kekuasaan-Nya.

Al-Hujwiri mengatakan: bila engkau menganggap Allah ada karena engkau merumuskannya, hakikatnya engkau menjadi kafir. Allah tidak perlu disesali kalau ia “menyulitkan” kita. Juga tidak perlu dibela kalau orang menyerang hakikat-Nya. Yang ditakuti berubah adalah persepsi manusia atas hakikat Allah, dengan kemungkinan kesulitan yang diakibatkannya.”

Kalau diikuti jalan pikiran kiai tarekat itu, informasi dan ekspresi diri yang dianggap merugikan Islam sebenarnya tidak perlu ‘dilayani’. Cukup diimbangi dengan informasi dan ekspresi diri yang “positif konstruktif”. Kalau gawat cukup dengan jawaban yang mendudukan persoalan secara dewasa dan biasa-biasa saja. Tidak perlu dicari-cari.

Islam perlu dikembangkan, tidak untuk dihadapkan kepada serangan orang. Kebenaran Allah tidak akan berkurang sedikit pun dengan adanya keraguan orang. Maka iapun tenteram. Tidak lagi merasa bersalah berdiam diri. Tuhan tidak perlu dibela, walaupun juga tidak menolak dibela. Berarti atau tidaknya pembelaan, akan kita lihat dalam perkembangan di masa depan.

(Sumber: TEMPO, 28 Juni 1982)

Filed under: Humor Gusdur

Kamus Lisanul Arab Online

KAMAR PENGANTIN

PEPUNDHEN

DOKUMENT

SILATURRAHIM

free counters