Santri Qiraati

referensi metode ilmu baca al-Quran

Membangun Kembali Peradaban Dunia: Kontribusi Nahdlatul Ulama

Yang hendak dibangun oleh Muhammad Rasulullah Saw itu adalah

1. Masyarakat yang cerdas alias well-educated -> Perintah Iqra sebagai ayat pertama. Apresiasi terhadap orang berilmu yang ditinggikan beberapa derajat (QS 58:11). Dengan demikian, Al-Qur’an memandang penelitian itu sesuatu yang wajib, berfikir itu suatu ibadah, mencari kebenaran itu suatu cara taqarub ilallah, mempergunakan metode dan alat ilmu pengetahuan itu sebagai cara bersyukur terhadap nikmat Allah, sementara mengabaikan hal itu semua sebagai jalan menuju neraka Jahannam.

2. Masyarakat yang etis -> Hadits menegaskan misi Rasul untuk menyempurnakan akhlak mulia. Maka etika Islam harus dijunjung tinggi dalam relasi sosial. Tidak berguna Ilmu dan amal, tanpa akhlak. Inilah masyarakat yang meneladani Rasulullah secara substantif, bukan semata asesoris.

3. Masyarakat yang menghormati keragaman -> sejumlah ayat menegaskan hal ini: La Ikraha fid din (QS 2:256); lakum dinukum waliyadin (QS 109:6). Mengakui keberadaan umat beragama dalam sebuah masyarakat adalah keniscayaan. Ini pernah dicontohkan langsung oleh Nabi Muhammad Saw lewat Perjanjian Madinah. Ini artinya, sejak awal Nabi Muhammad hendak hidup berdampingan secara damai dalam keragaman masyarakat.

4. Masyarakat yang lepas dari penjajahan/perbudakan -> Prinsip tauhid bukan saja menghilangkan berhala di luar manusia, tapi juga yang berwujud manusia. Islam bertujuan menghapus perbudakan secara gradual. Bahkan penegasan al-Qur’an “yang paling mulia adalah orang yg bertakwa” (QS 49:13), bukan saja menghapus strata sosial berdasarkan keturunan, warna kulit maupun etnik, tapi ayat ini juga didahului pernyataan bahwa semua diciptakan berbangsa dan bersuku untuk saling mengenal; bukan saling menjajah atau menaklukkan. Mengenal adalah syarat untuk bekerjasama dan berkasih sayang.

5. Masyarakat Dakwah alias mengajak kepada kebaikan, bukan kerusakan -> yang mengajak pada jalan Allah dengan nasehat yg baik dan diskusi yg lebih argumentatif (QS 16:125) bukan menegakkan emporium kekuasaan yang memaksa semua orang menjadi Muslim (QS 10:99)

6. Masyarakat yang berkeadilan sosial —> al-Qur’an menegaskan agar harta itu jangan hanya beredar diantara orang-orang kaya (QS 59:7); Itu sebabnya perintah shalat seringkali digandeng dengan perintah berzakat. Nabi Muhammad Saw juga mengajarkan bahwa tidak dianggap beriman mereka yang tidur nyenyak tetapi tetangganya kelaparan. Begitu juga al-Qur’an menegaskan untuk berbuat baik kepada tetangga (QS 4: 36). Lawan dari adil adallah zhalim. Maka menegakkan keadilan, meski terhadap mereka yang tak kita sukai, adalah perintah Allah. Kezhaliman harus dihilangkan, apapun bentuk dan siapapun pelakunya.

7. Masyarakat yang mengedepankan musyawarah sebelum mengambil keputusan -> Nabi Muhammad pun gemar bermusyawarah dengan para sahabatnya. Ayat Qur’an juga menegaskan perintah untuk bermusyawarah (QS 3: 159). Artinya, pemimpin sekalipun —baik di rumah, tempat kerja, komunitas atau negara— harus mendengar masukan dan saran dari orang lain, serta berkonsultasi dengan para ahli sebelum mengambil keputusan. Di sisi lain, rakyat pun harus terlibat aktif dalam bermusyawarah untuk menghasilkan keputusan yang terbaik.

Inilah kontribusi umat Islam dalam sejarah peradaban dunia. Islam datang untuk melengkapi dan menyempurnakan, bukan menghancurkan peradaban yang sudah ada. Ketujuh ciri Masyarakat yang Islami ini bisa tumbuh dan berkembang dimanapun, dan dalam sistem serta tradisi yang beraneka-ragam.

Saat ini peradaban dunia tengah porak-poranda akibat kerusakan tangan manusia, keserakahan nafsu berkuasa, ketimpangan sosial, dan satu sama lain saling menegasikan. Maka para ulama, dan da’i, serta cerdik cendekia harus kembali mendidik masyarakat untuk memahami dan melaksanakan ketujuh point di atas, agar peradaban dunia kembali berada di jalur yang benar.

Nahdlatul Ulama (NU) sebagai ormas terbesar Islam, bukan saja di Indonesia, tapi juga di dunia, harus terus berupaya mewujudkan ketujuh point di atas sebagai bagian dari masyarakat dunia. Sejak awal, lambang NU berisikan bola dunia, dimana wawasan para kiai tidak hanya bersifat lokal, tapi juga global. NU bisa mendunia lewat tujuh point di atas, sesuai dengan misi yang diemban oleh Rasulullah Saw.

Pada era milenial, merupakan sebuah tantangan tersendiri untuk NU mengajarkan dan menyebarluaskan ketujuh point di atas, di tengah gempuran berbagai paham dan ideologi yang tidak sesuai dengan manhaj Aswaja. NU harus bisa masuk ke dalam dakwah medsos berinteraksi dengan generasi milenial, untuk melengkapi dakwah yang selama ini dikembangkan lewat pesantren, madrasah diniyah, dan majelis ta’lim.

Tabik,

Nadirsyah Hosen
Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama Australia dan New Zealand
Dan Dosen Senior Monash Law School

Iklan

Filed under: Hikmah, MAYA.net

Testimoni Kader PKS

**

Prabowo, Islam, dan Glory-Glory Haleluya

Saya mantap memilih Prabowo Subianto sebagai calon presiden. Setelah melihat video Prabowo merayakan Natal 25 Desember 2018, sambil berjoged dan bernyanyi, saya jadi ragu memilihnya. Lebih baik saya golput ketimbang memilih orang yang kadang Islam kadang Kristen.

Namun saya pastikan, bukan karena saya ragu ke Bapak Prabowo, lantas mendukung Jokowi. Sori-sori-sori jek, pendukung Jokowi jangan ge-er. Saya tidak akan beralih dan memilih rezim yang didukung partai penista agama. Bagi saya: Pilih Prabowo atau Golput. Titik.

Kembali kepada kekecewaan saya atas Pak Prabowo yang merayakan natal. Bagi saya merayakan natal ini sudah melewati batas toleransi.

Saya harus akui terlebih dulu, bahwa saya menjadikan Natal sebagai salah satu ukuran dalam ber-Islam, minimal bagi diri saya sendiri. Awalnya saya termasuk muslim yang meyakini mengucapkan natal adalah haram. Mengucap aja haram apalagi ikut merayakan.

Pandangan ini berubah seiring bertambahnya usia dan juga mendengarkan pandangan beberapa ulama. Jujur saja, dalam hal Natal, saya lebih condong ke pandangan Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) ketimbang ulama lain. Saya menilai mengucapkan selamat natal tidak membatalkan aqidah saya sebagai muslim.

Pandangan ini berbeda dengan sodara saya di Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dan sebagian besar teman-teman dari Tarbiyah atau PKS. Ustadz-ustadz HTI masih istiqomah. Mereka memvonis haram ucapan selamat natal atau selamat hari raya kepada agama lain selain Islam.

Adapun di Tarbiyah atau PKS sebagian besar masih mengharamkan mengucap selamat natal. Namun belakangan ini mulai muncul kader PKS yang membolehkan mengucap “selamat natal” meski ragu-ragu dan atau mungkin takut. Keragu-raguannya itu terlihat dari keengganan menulis kata “natal”. Mereka akan memilih menuliskan: “Selamat Berhari Raya untuk sodaraku Umat Nasrani” daripada “Selamat Natal untuk Umat Nasrani”. Bagi mereka menuliskan Natal berarti sama saja mengakui kelahiran Yesus sebagai Anak Tuhan sehingga bisa membatalkan aqidah. Inilah yang membuat kader PKS takut.

Meski berbeda pandangan, saya tetap menghormati teman-teman di HTI dan PKS. Apalagi akhir-akhir ini, dengan suasana politik rezim yang kurang adil kepada beberapa ulama, Umat Islam bersatu. Lihat saja Gerakan Aksi Bela Islam 212 pada 2016 juga Reuni 212 pada 2018 yang bertambah besar. 212 membuktikan bahwa perbedaan pandangan diantara umat Islam, tidak membuat umat ini terpecah belah, malah bertambah solid.

Gerakan 212 tidak terlampau tajam mempersoalkan boleh atau tidak mengucap selamat natal. Lalu, bagaimana terkait merayakan natal bersama, seperti yang ditunjukkan Pak Prabowo, calon presiden favorit saya?

Sudah jelas pandangan-pandangan yang saya tulis sebelumnya. Merayakan natal bersama, adalah haram atau dilarang keras. Ini aqidah. Sikap kita tidak bisa bergeser sedikitpun. Tetap haram.

Awalnya saya tidak percaya dengan video Prabowo merayakan natal. Saya berprasangka video tersebut sengaja diembuskan relawan Jokowi buat mendiskreditkan Pak Prabowo.

Saya meyakini bahwa ulama-ulama 212 sudah memverifikasi keislaman Pak Prabowo. Saya meyakini Pak Prabowo memang pantas menyandang wakil umat Islam dalam pentas politik nasional.

Ketika ada yang mempertanyakan Pak Prabowo, tidak bisa membaca surat alfatihah, tidak bisa menjadi imam shalat. Saya masih mafhum dan tetap berprasangka baik: Mungkin beliau, Pak Prabowo, tengah belajar Islam yang benar dan syumul, serta tidak mau riya’.

Namun semakin hari, prasangka baik saya mulai memudar. Kalau urusan shalat beliau tidak mau mempublikasi agar tidak riya. Kenapa ketika Pak Prabowo ikut ibadah agama lain beliau malah tak melarang untuk dipublikasi, agar tidak riya’ juga? Di sini saya mulai sedih dan berpikir keras.

Puncak keraguan saya terjadi pada Natal 25 Desember 2018. Melihat Pak Prabowo merayakan natal bersama keluarga. Saya tahu betul adik Pak Prabowo, Bapak Hashim Djojohadikusumo, wakil Ketua Gerindra, adalah seorang Nasrani taat. Ketaatan Pak Hashim pada kristennya bahkan pernah bersinggungan dengan PKS di era Presiden SBY.

Pak Hashim pernah menuding PKS, yang kadernya menjabat sebagai Menteri Pertanian, melakukan diskriminasi karena memecat pegawai Kementerian Pertanian yang beragama Kristen. Tudingan Pak Hashim beredar luas di youtube.

Tapi kekristenan Pak Hashim tak membuat saya luntur mendukung Pak Prabowo. Saya berasumsi kedekatan Pak Prabowo dengan ulama-ulama 212 akan membuat Pak Prabowo bisa mengislamkan Pak Hashim dan keluarganya. Saya yakin itu.

Namun keyakinan saya itu buyar. Saya mulai meragu karena makin ke sini Pak Prabowo ini terlihat kadang Islam kadang Kristen. Apalagi baru-baru ini tersiar kabar mars kemenangan Prabowo –Sandi yang lirik awal berbunyi “Solidarity Forever” melodinya menjiplak persis lagu rohani umat Kristen “Glory-Glory Haleluya”.

Awalnya saya menilai mars itu menjiplak official anthemnya klub bola Manchester United. Untuk menebalkan keyakinan saya mulai meriset. Saya memang gemar meriset hal apapun. Jadi menelusuri sejarah lagu “Glory-Glory” bukan pekerjaan sulit.

Hasil riset saya bikin terperangah. Kata “Glory Glory” berasal dari lirik lagu Battle Hymn of the Republic yang ditulis penulis Amerika Serikat, Julia Ward Howe pada 1861. Liriknya pertama kali muncul dalam tulisan Howe di majalah The Atlantic Monthly pada 1862. Lagu tersebut menceritakan mengenai pertolongan dan keagungan Tuhan Yesus kepada umatnya dengan reff berbunyi “Glory Glory Hallelujah (Haleluya).”

Tambahan informasi juga saya dapatkan dari ceramah seorang pendeta wanita Indonesia: Jacqline Celosse di youtube. Pendeta Jacqline Celosse menjelaskan sejarah lagu Glory-Glory Haleluya. Pendeta itu mengatakan lagu ini menceritakan kisah Tentara (Kristen) yang mau maju berperang. Para tentara ini belum berperang dan belum menang. Namun dengan lagu ini mereka sudah menyanyikan lagu kemenangan.

Dari dua informasi ini saya mengambil kesimpulan bahwa Glory-Glory Haleluya adalah lagu rohani umat Nasrani. Banyak umat Nasrani fans sepak bola di Inggris Raya mengambil semangat lagu ini digubah menjadi anthemnya klub bola favorit mereka. Fans bola yang pernah menggubah Glory-Glory Haleluya adalah pendukung Tottenham Hotspur dan Manchester United.

Setali tiga uang, rupanya para elit Tim Pemenangan Prabowo – Sandi mengikuti jejak umat Nasrani pendukung klub bola di Inggris Raya. Para Elit Tim Pemenangan Prabowo terinspirasi Glory-Glory Haleluya lalu menggubahnya menjadi Mars Pemenangan Prabowo Sandi.

Pertanyaan saya: Apakah para elit Tim Kampanye Prabowo-Sandi ini lupa kacang sama kulitnya?
Siapa yang habis-habisan mendukung Prabowo, yang berperang melawan penista agama?

Mereka lupa bahwa kita, umat Islam, yang berjuang. Tentu tanpa menyombongkan diri bahwa ini semua Takdir Allah. Tapi menggunakan lagu rohani kristiani untuk mars capres yang didukung Umat Islam, bagi saya, meminjam lagu Cita Citata “Sakitnya, tuh, di sini.”

Mbok, ya, tahu diri, kalau mau bikin lagu kemenangan Prabowo Sandi sebaiknya terinspirasi dari lagu-lagu perjuangan Islam: Ada “Merah Saga” milik group nasyid Shoutul Harokah, atau “Hai Mujahid Muda” milik group nasyid Izzatul Islam.

Kedua lagu nasyid itu sesuai kondisi umat Islam Indonesia saat ini. Dan saya yakin jika dua lagu itu digubah menjadi Mars Kemenangan Prabowo, gairah umat Islam yang berjihad di jalur politik Pilpres 2019 akan semakin menggelora. Allahu Akbar!!!

Tapi apa lacur, Tim Pemenangan Prabowo lebih memilih Glory-Glory Haleluya. Apa maksud Anda?

Saya berjam-jam bermuhasabah memikirkan ini dalam setiap kesendirian. Saya terus terang kecewa. Akhirnya saya mendapatkan firasat dalam hati: Mungkin ini (video Mars Prabowo) adalah cara Allah menunjukkan kelompok yang ingin memanfaatkan dan menunggangi Umat Islam.

Saya tak akan sudi membiarkan kemenangan agama lain dengan memanfaatkan umat islam, apalagi memanfaatkan suara saya. Biarlah saya mengambil sikap berbeda dengan sodara-sodara saya umat Islam, khususnya 212. Bagi saya lebih baik Golput ketimbang memilih Prabowo. Kemenangan politik praktis bukan tujuan akhir politik Islam. Engga demokrasi engga patheken.

Saya teringat nasihat Habib Salim Segaf, Ketua Majelis Syuro PKS. Bahwa aktivitas atau dakwah politik kita hanya bertujuan untuk mendatangkan barakah Allah bukan kemenangan suara semata. Maka anjuran-anjuran agar tidak golput tidak berlaku bagi saya.

“Lebih baik Golput ketimbang memenangkan calon yang membawa misi agama lain.”

Saya tidak mengajak yang lain golput, saya menunjukkan sikap dan keyakinan bahwa kebarakahan Allah tidak diukur lewat kemenangan demokrasi semata. Lebih baik lama berjuang dan berdakwah ketimbang menyesal dan kecewa lebih cepat.

(AF)

Filed under: MAYA.net, Tanda Zaman

TULISAN DR. KH. MUSTAIN SYAFI’I, M.Ag DALAM KHUTBAH JUM’AT DI MASJID PONDOK TEBUIRENG

MENARIK UNTUK DIBACA !!!!!

إِنَّ الْحَمْدَلِلهِ، نَحْمَدُهُ وَ نَسْتَعِيْنُهُ وَ نَسْتَغْفِرُهُ، وَ نَعُوْذُ بِهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَ اَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا، أَمَّابَعْدُ

فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، اِتَّقُوْ اللهَ، اِتَّقُوْ اللهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ، أَعُوْذُبِالله مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا ۖ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهًا وَوَضَعَتْهُ كُرْهًا ۖ وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلَاثُونَ شَهْرًا ۚ حَتَّىٰ إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي ۖ إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ، صَدَقَ اللهُ الْعَظِيْمُ

Ini kali kesekian tentang materi khutbah bahwa kehidupan itu hakikatnya dimulai justru setelah umur 40 tahun, life begin at forty. Oleh surah al-Ahqaff, (memberi aturan) ada beberapa hal yang perlu dilakukan oleh orang yang sudah berumur 40 tahun. Kali ini, mungkin yang ke-delapan. Masuk pada poin wa an a’mala sholihan tardhohu.

Bahwa hidup di dunia ini, kita harus adaresponsibility, siap mengerjakan amanat ibadah. Amanah ibadah ini mutlak, dan nantinya akan dipertanggungjawabkan. Ada accountability di akhirat nanti, dipertanggungjawabkan. Karena itu, segalanya harus merujuk kepada Allah Swt.

Majalah Tebuireng

Memang, ada bahasa-bahasa dalam al-Quranal-Karim tentang amal saleh. Tetapi di dalam ayat ini, amal saleh tardhahu, yang Engkau ridhai. Memang susah, atau tidak semuanya amal kita itu diridhai Allah. Kita mencari amal yang diridhai. Segala hal yang menimpa diri kita, kembalikan kepada Allah. “Ya Allah, kalau Engkau senang menghendaki saya begini, maka saya juga senang.”

Seperti yang diperagakan oleh Imran ibn Husain. Dia sakit parah. Sampai 30 tahun sakit. Setiap orang yang menjenguk itu menangis, kasihan, sakit kok tidak sembuh-sembuh, padahal dia orang mulia seperti itu. Pakar di bidang hadis. Orang tabi’in ini memang hebat, setiap kali ada yang menjenguk begitu, Imran ibn Husain mengatakan, “Ya Allah, kalau Engkau senang menghendaki saya begini, maka saya juga ridha.”

Itulah hamba yang masuk pada kriteria;

رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ وَرَضُوْا عَنْهُ

Untuk itu, bisa membuat mental yang hebat, jujur, dan tidak manipulasi maka ada pendidikan-pendidikan. Dibangunlah sebuah akhlak. Disamping akhlak adalah ilmu. Tapi, sepanjang pendidikan yang disampaikanHadratu Rasul Nabiyullah Muhammad Saw. (adalah) justru akhlak. Akhlaklah yang keluar dari madrasah rumah Rasulullah.

Didikan Rasulullah, contohnya adalah Usamah. Usamah ini adalah cucu dari anak angkatnya yang berasal dari budak Usamah bin Zaid. Umur 18 tahun sudah betul-betul, mampu dia menjadi panglima perang. Sehingga kita bisa bertanya kepada diri kita, pendidikan kita, anak kita, umur 18 tahun itu bisa apa? Bisa apa anak kita ini, memang belum matang tapi kita berusaha seperti itu.

Maka kita nukil sejenak Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari dengan kisah-kisah bagaimana beliau menyikapi para santri. Yang terkenal adalahHadratussyaikh itu dalam soal akhlak; termasuk jamaah shalat, mereka yang ketahuan tidak jamaah shalat itu ditakzir dengan mencium kemaluan sapi betina. Menurut sebagian cerita, sapi juga begitu ketika dipakai untuk takzir santri yang tidak jamaah, begitu dicium itu langsung pipis atau kencing. Entah apa yang terjadi, cerita ini sudah umum (banyak yang tahu).

Hal yang saya garisbawahi bukan masalah itu. Tapi Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari ini mentakzir santri itu bukan karena masalah bodoh, tidak bisa membaca kitab, sulit diajari, dan seterusnya. Tapi (yang ditakzir) itu santri yang akhlaknya sedang kurang bagus, ibadahnya kurang bagus.

Karena itu, kita bisa bertanya pada diri kita sendiri, “Beranikah, lembaga-lembaga pendidikan di dunia ini menjadikan akhlak sebagai pedoman tolok ukur, pedoman untuk kenaikan kelas.” Dalam artian, ada anak tidak begitu rajin shalat, tidak shalat, suka berbohong, akhlaknya kurang bagus, apakah bisa lembaga pendidikan kita ini tidak meluluskan anak yang ibadahnya tidak bagus seperti itu. Yang ada (kriteria lulus), biasanya yang nilainya 9, 10 dan lain-lain.

Untuk itu, mereka yang dididik di dalam paduan akhlak dan ilmu seperti ini, menjadikan generasi itu tumbuh jujur, tumbuh eksis, tumbuh bertanggung jawab, dan tidak manipulasi atau mereka-reka. Karena nanti di bidang keilmuan, bisa saja orang itu membuat rekaan-rekaan karena ilmunya sendiri.

Bisa dibuatkan contoh bahwa dengan progam yang pernah dicanangkan Hadratu Rasul Nabiyullah Muhammad Saw. mengubah pemerintahan yang semula tertutup (dari raja-raja), kemudian hanya dengan 9 tahun mendidik pemerintahan umat Islam sudah bisa, memilih kepala negara sendiri. Lahirlahkhulafa’u ar-Rasyidun meskipun resikonya, cost-nya juga tinggi. Model musyawarah atau kalau orang sekarang mengidentikkan dengan demokrasi, walaupun tidak sama. Cost-nya juga tinggi.

 Puasa, Pendidikan Khusus dari Allah

Dari keempat khulafa’u ar-Rasyidun, seluruhnya mati dibunuh karena perbedaan tafsir dalam berpolitik. Kecuali satu, yaitu Abu Bakar. Walaupun begitu, riwayat menunjukkan bahwa Abu Bakar setahun sebelum (meninggal) pernah diracun lembut, sehingga dibiarkan karena sudah tua. Nanti akan mati sendiri. Betul, kekuasaan Abu Bakar hanya dua tahun lebih sedikit.

Umar juga wafat dalam shalat, dibunuh Abu Lu’luah. Tapi yang hebat adalah komitmen Sayyidina Umar, bertanya, “Siapa yang menusuk saya tadi.” Tertangkaplah penusuk itu, lalu Sayyidina Umar bersyukur kepada Allah. “Saya bersyukur kepada Allah, saya mati di tangan orang non-muslim.”

Pemerintahan terus bergulir, pada Sayyidina Utsman ibn Affan, yang dikeroyok di rumahnya sendiri dan kematian beliau lebih sadis lagi. Tidak langsung dibunuh. Bahkan menurut beberapa riwayat, jari-jari beliau dipotong karena termasuk penulis mushaf al-Quran dan lain-lain.

Tetapi, tidak saja berhenti disitu, diganti Sayyidina Ali ibn Abi Thalib. Inilah chaos. Inilah bermunculan persepsi-persepsi yang bersifat kepentingan. Ali ibn Abi Thalib yang pada waktu itu dalam keadaan puasa, kalau tidak salah tanggal 7 Ramadhan, hampir sama dengan tanggal wafatnya HadratussyaikhHasyim Asy’ari.

Masih dalam keadaan puasa dan pada waktu subuh dibunuh oleh Ibnu Muljam. Di sini, lagi-lagi kalimah lâ ilâha illallah menjadi rebutan. Di sini, mushaf al-Quran dijadikan dasar untuk mem-back up melindungi diri, kepentingan politiknya sendiri. Di sini kalimah thoyyibah,kalimat tauhid dipakai untuk kepuasan nafsunya, untuk menipu orang.

Pada perang Siffin tidak sekedar kalimah tauhid yang diangkat untuk mendamaikan. Ketika pasukan itu kalah, pemberontak itu kalah, oposisi itu kalah, maka dia dengan cerdiknya mengangkat mushaf di ujung tombak. Menunjukkan bahwa dia bernaung di bawah al-Quran.

Ali bin Abi Thalib yang ‘tertipu’ dengan trik mereka, akhirnya harus membayar mahal. Pembunuhnya adalah Ibnu Muljam. Tidak banyak orang tahu siapakah Ibnu Muljam. Ibnu Muljam adalah Abdurrahman Ibnu Muljam al-Muradi al-Muqri’. Dia adalah sahabat besar, hafidz al-Quran, dia muqri’ pengajar al-Quran. Disebutkan, hafidzun zahidun, orang yang zuhud betul.

Pada waktu zaman khalifah Umar, pada waktu Amr ibn Ash itu menjadi gubernur di Mesir dan meminta guru al-Quran mengajar di sana. Justru Abdurrahman Ibn Muljam inilah yang diutus Sayyidina Umar mengajarkan al-Quran di Mesir, luar negeri.

Abdurrahman ibn Muljam ini sama, berlindung di kalimah tauhid lâ ilâha illallah dengan al-Qurannya. Tetapi, “dasar” itu dipakai untuk kepentingan politik. Untuk menumbangkan khalifah Sayyidina Ali Ibn Thalib. Setelah membunuh, dia tidak lari. Justru, dengan menuding Sayyidina Ali dan mengatakan,

لاحكم إلا لله، لا لنفسك ولا لأصحابك

“Hukum hanyaAllah, tidak untuk kamu, juga tidak teman-temanmu.”

Ibnu Muljam yang sedemikian hebat memakai al-Quran al-Karim, memakai kalimah tauhid seperti itu, sudah tertangkap. Keputusan para sahabat, bagaimana ini seorang hafidz, seorang yang mengibarkan lâ ilâha illallah,bagaimana. Keputusan para sahabat, orang ini harus dieksekusi dihukum mati. Begitu dieksekusi, ia pun masih minta kepada algojo, “Hai algojo, kamu jangan memenggal kepala saya langsung. Penggallah anggota badan saya satu per satu. Tangan saya, kaki saya, satu per satu. Biar saya bisa menyaksikan tubuhku dipotong karena Allah, karena lâ ilâha illallah.” Masih begitu.

Untuk itu, disinilah penyebab orang bisa memandang dari sisi mana sesungguhnya melihat kalimat tauhid itu dihukumi sebagaipiur (Jawa: murni) hukum. Kalau kalimat tauhid itu ada pada tempatnya, pada al-Quran, kitab, dan tulisan biasa, lalu kamu bakar dan kamu injak-injak, maka menurut ulama salaf itu murtad. Sama dengan pelecehan dan penghinaan terhadap Allah.

Tetapi kalau kalimat tauhid itu sudah di-frame.Masuk pada frame. Frame kepentingan, seperti menjadi bendera ormas tertentu. Seperti menjadi simbol “iniâââââ” tertentu. Kemudian melakukan kejahatan, sama dengan Abdurrahman Ibnu Muljam. Waktu akan dieksekusi, apakah kita tidak tahu ada kalimatlâ ilâha illallah di dalam hatinya. Apakah tidak tahu, di dalam dirinya itu ada al-Quran al-Karim 30 juz. Iya, tetapi kemaslahatannya lebih bagus orang ini mati. Daripada membuat onar.

Karena itu, saya juga mau bertanya dan tidak perlu dijawab. Kalau kalimat lâ ilâha illallah itu pada frame dan bi’ah (perilaku) yang salah. Maka terjadi sebuah dua ‘illat, dilihat wadahnya maka itu fasik atau buruk tapi dilihat isinya murni lâ ilâha illallah kalimat tauhid.

Saya ambil contoh. Kita tahu ada mobil, seumpama. Di kacanya ditulisi lâ ilâha illallah muhammadun rasulullah menempel kelihatan. Tapi (mobil) dipakai untuk merampok. Karena dipakai merampok itu, maka oleh massa tertangkap lalu dibakar. Apakah itu membakar “mobil perampok” atau membakar “kalimat tauhid lâ ilâha illallah”?

Inilah, kadang-kadang orang bisa berdebat disini. Tapi dihukumi yang dhohir saja. Tanpa ada tendensi apa-apa. Maka Ibnu Muljam tetap dihukum mati walaupun dia menggunakanmushaf di dalam hatinya, 30 juz al-Quran, ada lâ ilâha illallah. Tapi karena sudah masuk dalamframe yang salah, di “tempat yang salah”. Bukan tulisan “lâ ilâha illallah”-nya yang salah. Tetapi yang menyalahgunakan itu lah yang salah.

Dengan demikian, kita ini bersikap, tidak lain adalah wa an a’mala sholihan tardhohu. Dalam bidang apapun, kita ini merujuk kepada Allah. Mudah-mudahan segala yang dilakukan oleh umat Islam, dengan segala ijtihadnya, segala perjuangannya, termasuk as-Salafu as-Shalih ini,benar-benar diridhai oleh Allah Swt.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي اْلقُرْآنِ الْعَظِيْم،وَنَفَعَنابه وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلأٓيَةِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْم،فتقَبَّلَ اللهُ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ تعالى جَوَّادٌ كَرِيْمٌ.البَرُّ الرَّؤُوْفُ الرَّحِيْمُ، و الحمد للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

#FotoGambariniAbaikan
#TidakAdaKaitan
#HanyaSajaMasalahApi
#BakarMembakar

Filed under: MAYA.net, Tokoh

Kamus Lisanul Arab Online

KAMAR PENGANTIN

PEPUNDHEN

DOKUMENT

SILATURRAHIM

free counters