Santri Qiraati

referensi metode ilmu baca al-Quran

Kiai Sepuh Pendukung Kubu 01 & 02 di Jatim Berkumpul Bersatu : Tidak Ada Lagi 01 dan 02

Jumat: 19 April 2019 : 19:50:25

jatimnow.com – Para kiai sepuh di Jawa Timur pendukung paslon presiden dan wakil presiden nomor urut 01 dan 02 berkumpul dengan Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Saifullah Yusuf atau Gus Ipul di Surabaya, Jumat (19/4/2019). Mereka menyikapi dinamika Pemilu 2019.

“Hari ini kiai-kiai berkumpul setelah kemarin proses pilihan presiden. Ibaratnya ini adalah melupakan 01-02 untuk bermusyawarah dalam menyikapi dinamika paska pilpres,” ujar Gus Ipul kepada wartawan usai pertemuan dengan para kiai sepuh, Jumat (19/4/2019).

Dalam pertemuan tersebut, para kiai berpengaruh di Jawa Timur diantaranya Pengasuh Pesantren Lirboyo, Kediri, KH Anwar Manshur dan KH Abdullah Kafabihi. Pengasuh Pesantren Miftachussunnah, Surabaya, KH Miftahul Ahyar. Pengasuh Pesantren Ploso, Kediri, KH Zainuddin Djazuli dan KH Nurul Huda Djazuli. Pengasuh Pesantren Sidogiri, Pasuruan, KH Nawawi Abdul Djalil.

Pengasuh Pesantren Al-Ihsan Jrangoan, Sampang KH Mahrus Malik. Pengasuh Pesantren Salafiyah, Pasuruan, KH Idris Hamid. Pengasuh Pesantren Gersempal, Sampang, KH Syafiuddin Wahid. Pengasuh Pesantren Al-Hikam Tunjung, Burneh, Bangkalan, KH Nuruddin Rahman. Pengasuh Pesantren Langitan, Tuban, KH Maksum Faqih. Pengasuh Pesantren Panji Kidul Situbondo KH Zakky Abdullah, serta beberapa kiai Pengasuh Pesantren besar di Jawa Timur lainnya.

Pertemuan kali ini, kata Gus Ipul, sangat penting karena para kiai yang bertemu sebelumnya ada yang mendukung pasangan Jokowi-Ma’ruf dan ada yang mendukung Prabowo-Sandi.

“Mereka mengganggap proses dukung mendukung telah usai dan saatnya kini menatap ke depan demi keutuhan dan kemajuan bangsa,” tuturnya.

Pengasuh Pesantren Miftachussunnah, KH Miftahul Ahyar menambahkan, para kiai ingin mendinginkan suasana pascapilpres.

“Mari kita bersama-sama menjaga situasi aman dan damai. Menjauhi segala bentuk provokasi dan menurunkan tensi-tensi ,” ujarnya.

KH Miftahul Ahyar yang juga Rois Aam PBNU meminta tidak ada lagi kubu 01 dan 02, serta menunggu keputusan KPU.

“Bersabar, menunggu dan mengawasi proses penghitungan suara yang dilakukan oleh KPU secara profesional, menghasilkan pemilu yang berkualitas,” terangnya.

KH Mahrus Abdul Malik dari Sampang yang juga pendukung paslon 02 mengatakan, para kiai di Madura terus turun ke bawah untuk mengimbau kepada masyarakat agar ikut serta menjaga situasi keamanan yang kondusif.

“Saya sebagai orang Madura. Alhamdulillah para ulama terus turun ke bawah, dan di Madura tidak ada apa apa,” tuturnya.

Dari pertemuan tersebut, menghasilkan seruan kiai sepuh Jawa Timur. Berikut ini isi seruan para kiai:

1. Bersyukur kehadirat Alloh SWT atas terselenggaranya pemilu 2019 yang aman, tertib dan lancar dan bersedia menerima siapapun yang ditakdirkan Allah SWT untuk menjadi pemimpin Negara Kesatuan Republik Indonesia atas dasar keputusan resmi KPU.

2. Terima kasih kepada masyarakat yang telah menggunakan hak pilihnya secara tertib dan bertanggung jawab. Dan terimakasih juga Kepada segenap aparat negara yang telah bertugas dengan baik.

3. Menjaga suasana masyarakat yang aman dan kondusif, menjauhi segala bentuk provokasi dan ujaran kebencian yang berpotensi memecah belah ummat, sesuai kaidah: Dar’ul mafasid muqoddamun ala jalbil masholih.

4. Bersabar menunggu dan mengawasi proses penghitungan suara yang dilakukan oleh KPU secara profesional, adil dan amanah dalam menjalankan tugasnya sesuai undang-undang yang berlaku untuk menghasilkan pemilu yang berkualitas.

https://jatimnow.com/baca-15016-kiai-sepuh-di-jatim-berkumpul-tidak-ada-lagi-01-dan-02

*para kyai sepuh yang berbeda dalam pilihan saja dapat besilaturrahim bersatu kembali, apalagi kita.. semoga kita yang mungkin maqomnya masih sangat jauh dari beliau2 mendapatkan barokahnya sehingga dapat besilaturrahim bersatu kembali dan turut mendinginkan suasana saat ini 🙏

#viralkan

Filed under: MAYA.net, Tokoh

Tentang KAFIR

Pernahkah Rasul Memanggil Pamannya dengan Sebutan Kafir?

Oleh Ahmad Sarwat, Lc., MA. | Islami.co

Kira-kira ketika Nabi Muhammad SAW berbicara kepada paman Beliau, yaitu Abu Thalib, apakah memanggilnya kayak gini,”Pir, pir, woi paman kapir, sini luh, pir”.

Kebayang gak sih punya paman belum masuk Islam, lagi diproses gitu. Terus kita tiap ketemu langsung bilang,”Hei kapir. Apa kabar? Masih kapir aja luh?”.

Jelas gak mungkin mau masuk Islam lah si paman. Kita lagi baik-baikin biar mau masuk Islam. Eh, kok kudu sebut kekafirannya. Kan gak logis.

Kalau tidak percaya, coba sesekali buka Al-Quran terkait konteks seperti ini. Ternyata justru Al-Quran menyapa mereka dengan sangat santun.

Misalnya orang yahudi dan nasrani itu seringkali disapa dengan santu,”Wahai ahli kitab”. Atau menyebutkan dinasti dan klan merrka,”Wahai Bani Israil”.

Padahal kita tahu kebanyakan mereka pada kafir semua sebenarnya. Tapi rasanya beda antara disebut kafir dengan ahli kitab atau Bani Israil.

Maka orang kafir itu meski kafir, tidak harus selalu ditonjolkan kekafirannya dalam setiap event. Kadang bisa saja disebut nama kaumnya, nama keluarga bahkan bisa disapa dengan yang lebih santun,”Wahai anak-anak Adam”.

Malah kalau yang kafir itu bapaknya sendiri, tetap saja dipanggil sebagai Bapak. Bukan pir, pir, kapir, nggak kayak gitu juga. Gak sopan amat nyebut bapak sendiri dengan sapaan kafir. Meski memang kafir, tapi pasti gak suka lah.

Begitulah akhlaq seorang Nabi Ibrahim kepada ayahnya sendiri yang kafir, penyembah berhala. Ibrahim ini nabi lho, jangan sembarangan main tuduh. Simak ayat berikut ini dan coba bertadabbur dengan ayat ini :

إِذۡ قَالَ لِأَبِيهِ يَٰٓأَبَتِ لِمَ تَعۡبُدُ مَا لَا يَسۡمَعُ وَلَا يُبۡصِرُ وَلَا يُغۡنِي عَنكَ شَيۡـٔٗا

(Ingatlah) ketika dia (Ibrahim) berkata kepada ayahnya, “Wahai ayahku! Mengapa engkau menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat, dan tidak dapat menolongmu sedikit pun? (QS. Maryam : 42)

يَٰٓأَبَتِ إِنِّي قَدۡ جَآءَنِي مِنَ ٱلۡعِلۡمِ مَا لَمۡ يَأۡتِكَ فَٱتَّبِعۡنِيٓ أَهۡدِكَ صِرَٰطٗا سَوِيّٗا

Wahai ayahku! Sungguh, telah sampai kepadaku sebagian ilmu yang tidak diberikan kepadamu, maka ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus. (Qs. Maryam : 43)

يَٰٓأَبَتِ لَا تَعۡبُدِ ٱلشَّيۡطَٰنَۖ إِنَّ ٱلشَّيۡطَٰنَ كَانَ لِلرَّحۡمَٰنِ عَصِيّٗا

Wahai ayahku! Janganlah engkau menyembah setan. Sungguh, setan itu durhaka kepada Tuhan Yang Maha Pengasih. (Qs. Maryam :44)

Tiga kali berturut-turut Ibrahim menyebut ayahnya dengan ungkapan ‘ya abati’. Sebuah panggilan sayang, lebih mesra dari sebedar ya abi. Kira-kira kalau disetarakan jadi ‘wahai ayahanda terkasih’.

Ibrahim tidak merasa perlu menonjolkan kekafiran ayahnya yang memang kafir itu. Beliau tidak menyapanya dengan,”Wahai ayah yang kafir”. Kata kafirnya dimahdzuf tidak ditampilkan. Apa Ibrahim jadi munafik? Tidak!. Apa Ibrahim terkena pahan Islam Liberal? Tidak!!!

So, santai dulu jangan grasa grusu. Janganlah kebencianmu pada suatu kaum membuatmu berlaku tidak adil. Berlaku adil lah, karena itu lebih dekat kepada taqwa.

Apalagi main tuduh kesusupan lah, ini lah itu lah. Sabar saudaraku, kita masih sesama orang beriman, masih muslim. Jangan tunjukkan wajah masam bagaikan melihat Firaun. Bahkan Musa pun diperintah untuk bertutur kata yang lembut kepada Firaun sekalipun.

Saudara kita itu bukan Firaun pastinya. Berlemah lembut lah kepada sesama muslim. Hindari cara-cara kurang santun. Semoga Allah memafkan kita semua.

Wallahu A’lam.

https://islami.co/pernahkah-rasul-memanggil-pamannya-dengan-sebutan-kafir/

Filed under: MAYA.net, Tanda Zaman

Tentang kafir

Saya sangat senang dengan salah satu keputusan Munas NU di Banjar, Jawa Barat, Non Muslim di Indonesia dalam konteks negara bukan Kafir, tapi muwathinun (موطنون), warga negara;

“Dalam sistem kewarganegaraan pada suatu negara bangsa (muwathonah, citizenship) tidak dikenal istilah kafir. Setiap warga negara memiliki kedudukan dan hak yang sama di mata konstitusi”.

Definisi kafir yang ada dalam kitab fikih mengacu kepada klasifikasi Negara Darul Islam (دار الاسلام) dan Darul Harbiy (دار الحربي). Sehingga tidak relevan memasukan non muslim Indonesia kedalam kelompok “Kafir Dzimiy (ذمي)”, non muslim dalam perlindungan, atau kafir Muahad ( معاهد), non muslim dengan perjanjian damai, atau kafir musta’man (مستأمن) non muslim dalm jaminan keamanan, apalagi kafir harbiy (حربي), non muslim yang melakukan atau berpotensi melakukan serangan.

Non Muslim di Indonesia bukan Kafir tapi warga Negara. Karena klasifikasi diatas tidak relevan di Indonesia, bukan darul Islam, bukan pula darul harbiy, tapi nation state, negara bangsa. Yang sedari awal disadari menjadi sebuah negara yang mengakomodasi ragam etnis, agama dan budaya.

Sama halnya dengan Kafir, terminologi munafiq dalam al-Quran walaupun berangkat dari teologis, seseorang yang menampakan keislaman padahal tidak beriman kepada Allah dan Nabi Muhammad, tetapi penyebutannya di banyak tempat dalam al-Quran selalu sebagai subjek politik dalam ‘negara’

أَلَمْ تَر إِلَى الَّذِينَ نَافَقُوا يَقُولُونَ لِإِخْوَانِهِمُ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَئِنْ أُخْرِجْتُمْ لَنَخْرُجَنَّ مَعَكُمْ وَلَا نُطِيعُ فِيكُمْ أَحَدًا أَبَدًا وَإِن قُوتِلْتُمْ لَنَنصُرَنَّكُمْ

Dalam ayat 11 surat al-Hasyr, mereka menyatakan dukungan kepada orang kafir, “Jika kalian diusir (karena perlawanan kalian) kami akan pergi beserta kalian, kami tidak akan bersekongkol dengan siapapun selain kalian, jika kalian diperangi kami akan menolong.”

وَلَوْ أَرَادُواْ الْخُرُوجَ لأَعَدُّواْ لَهُ عُدَّةً
Dalam surat al-Taubat ayat 46, “Jika kaum muslim akan ke medan perang, kami akan mempersiapkan diri untuk mendukung mereka dengan persiapan yang matang”.

Padahal mereka tidak ikut serta berperang dengan berbagai alasan. Oleh karena itu Rasulullah saw tidak pernah memberi mereka akses ke penjagaan benteng, dan peran penting lain dalam ‘negara’

Jadi baik terminologi kafir, maupun munafiq keduanya dipergunakan dalam dimensi politik umat Islam saat itu, meskipun berangkat dari teologis.

Sebenarnya bukam hal baru, original, karena teksnya jelas dari dahulu begitu, tapi umat Islam dalam hal ini para tokoh NU, perlu waktu dan kelapangan hati untuk menerima kesimpulan-kesimpulan ini.

Seperti dalam masalah perbankan, mayoritas ulama memasukan ijarah, wadiah, mudorabah, qard dll untuk menelaah transaksi perbankan. Tapi menurut Syekh Ali Jumah, perbankan adalah sebuah sistem baru, diluar transaksi diatas.

Ini yang disebut tajdid, mengembalikan diktum-diktum syariat pada relnya. Keputusan NU sangat visoner. Seperti dalam penerimaan Pancasila sebagai asas tunggal dll, NU selalu beberapa langkah didepan dalam menjaga NKRI.

Filed under: MAYA.net, Tanda Zaman

Kamus Lisanul Arab Online

KAMAR PENGANTIN

PEPUNDHEN

DOKUMENT

SILATURRAHIM

free counters