Santri Qiraati

referensi metode ilmu baca al-Quran

*Kangen Gus Dur* *Sang Guru Bangsa*

🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹

Jangan Mudah Meremehkan Orang Lain

Pada suatu acara pengajian di dusun Mlangi Yogyakarta
Beliau sempat mengupas tentang tugas utama manusia di muka bumi ini, Lebih lanjut Beliau terus menyetir ayat dari alqur’an والعصر الأية
Dan Beliau jabarkan isinya…sebagaimana biasa ketika beliau menanamkan pendidikan pada semua rakyat indonesia…sampai pada akhirnya saya mendapatkan pencerahan dari isi Tausiyah Beliau …. mengenai hubungan sesama hamba Alloh yang kurang lebih seperti ini:

Pada hakikatnya tidak ada satupun manusia di muka bumi ini yang merasa ikhlas bila aib dan cacatnya dibuka di depan publik. Betapapun bejatnya moral dan rusaknya akhlak seseorang, ia pasti ingin selalu dipandang baik di mata orang.

Atas dasar ini, Islam melarang setiap pemeluknya agar tidak mengumbar aib orang secara serampangan.
Bahkan, sebuah hadis riwayat at-Tirmidzi menyebutkan bahwa Allah SWT akan menutup aib orang yang senantiasa menjaga aib orang selama di dunia.

ومن ستر على مسلم في الدنيا ستر الله عليه في الدنيا والاخرة

“Barang siapa yang menutupi (aib) seorang muslim selama di dunia, Allah akan menutup (aibnya) di dunia dan akhirat.” HR Abu Daud, at-Tirmidzi, dan imam lainnya”.

Begitulah janji Allah bagi orang yang mampu menjaga lisannya dari perbincangan akan kejelekan orang lain. Tetapi dalam pergaulan sehari-hari menjaga ucapan itu tidak mudah. Terlebih lagi, gunjing dan mendiskusikan keburukan orang lain itu terkadang menjadi sesuatu yang menyenangkan bagi sebagian orang.

Supaya tidak terjebak dalam sesuatu yang haram, perlu diperhatikan mana yang patut diucapkan dan mana yang tidak layak. Berikut penjelasan Ibnu Rajab al-Hanbali dalam risalahnya Al-Farqu bainan Nashihah wat Ta’yir.

اعلم أن ذكر الإنسان بما يكره محرم، إذا كان المقصود منه مجرد الذم والعيب والنقص فأما إن كان فيه مصلحة لعامة المسلمين، أو خاصة لبعضهم، وكان المقصود منه تحصيل تلك المصلحة، فليس بمحرم، بل مندوب إليه

“Ketahuilah bahwa membicarakan aib orang lain atau sesuatu yang tidak disukai orang adalah haram bila tujuannya semata mencela, membuka aib dan kekurangannya. Tetapi lain masalah bila tujuannya untuk menjaga kemaslahatan umum atau sebagian orang. Sebuah pembicaraan kejelekan untuk menjaga tujuan ini tidak termasuk perbuatan yang diharamkan, justru disunahkan

Penjelasan ini paling tidak bisa dijadikan rambu-rambu dalam pergaulan sehari-hari. Bila kita ingin mendiskusikan keburukan orang lain, timbanglah terlebih dahulu apakah ucapan itu akan memberi kemaslahatan bagi orang banyak atau tidak.

Dan berikut dibawah ini

WEJANGAN KH. ABDURRAHMAN WAHID (GUS DUR) :

1 Jika Allah memudahkan bagimu mengerjakan sholat malam, Maka janganlah memandang rendah orang-orang yang tidur.

2 Jika Allah memudahkan bagimu melaksanakan puasa, Maka janganlah memandang rendah orang-orang yang tidak berpuasa dengan tatapan menghinakan.

3 Jika Allah memudahkan bagimu membuka pintu untuk berjihad, Maka janganlah kamu memandang rendah orang-orang tidak berjihad dengan pandangan meremehkan.

4 Jika Allah memudahkan dirimu dalam mengais rezky bagimu, Maka jangan memandang rendah orang-orang yang berhutang dan kurang rizkynya dengan pandangan yang mengejek dan mencela. Karena itu semua adalah titipan Allah yang suatu saat akan kau pertanggung jawabkan kelak.

4 Jika Allah memudahkan pemahaman agama bagimu, Maka janganlah kamu meremehkan orang-orang yang belum faham agama dengan pandangan hina.

5 Jika Allah memudahkan ilmu bagimu, Maka janganlah kamu sombong dan bangga diri, Karena Allah lah yang memberimu pemahaman itu.
Boleh jadi orang yang tidak mengerjakan qiyamul lail, Puasa (sunnah) tidak berjihad dsb mereka lebih dekat Allah daripada dirimu.

berwudhuk senantiasa ia akan merasa selalu dalam keadaan solat walaupun ia belum lagi solat, dan dijaga oleh malaikat dengan dua doa, Malaikat berdoa untuknya iaitu “ampuni dosanya dan sayangi dia ya Allah SWT ”.
Hari ini tepat 9 th beliau telah meninggalkan kita semua, kami rindu Gus Dur.
*Guruku*
*Guru Bangsaku*
*Lahu Al Fatekhah:*

Iklan

Filed under: Humor Gusdur, Tanda Zaman, Tokoh

Testimoni Kader PKS

**

Prabowo, Islam, dan Glory-Glory Haleluya

Saya mantap memilih Prabowo Subianto sebagai calon presiden. Setelah melihat video Prabowo merayakan Natal 25 Desember 2018, sambil berjoged dan bernyanyi, saya jadi ragu memilihnya. Lebih baik saya golput ketimbang memilih orang yang kadang Islam kadang Kristen.

Namun saya pastikan, bukan karena saya ragu ke Bapak Prabowo, lantas mendukung Jokowi. Sori-sori-sori jek, pendukung Jokowi jangan ge-er. Saya tidak akan beralih dan memilih rezim yang didukung partai penista agama. Bagi saya: Pilih Prabowo atau Golput. Titik.

Kembali kepada kekecewaan saya atas Pak Prabowo yang merayakan natal. Bagi saya merayakan natal ini sudah melewati batas toleransi.

Saya harus akui terlebih dulu, bahwa saya menjadikan Natal sebagai salah satu ukuran dalam ber-Islam, minimal bagi diri saya sendiri. Awalnya saya termasuk muslim yang meyakini mengucapkan natal adalah haram. Mengucap aja haram apalagi ikut merayakan.

Pandangan ini berubah seiring bertambahnya usia dan juga mendengarkan pandangan beberapa ulama. Jujur saja, dalam hal Natal, saya lebih condong ke pandangan Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) ketimbang ulama lain. Saya menilai mengucapkan selamat natal tidak membatalkan aqidah saya sebagai muslim.

Pandangan ini berbeda dengan sodara saya di Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dan sebagian besar teman-teman dari Tarbiyah atau PKS. Ustadz-ustadz HTI masih istiqomah. Mereka memvonis haram ucapan selamat natal atau selamat hari raya kepada agama lain selain Islam.

Adapun di Tarbiyah atau PKS sebagian besar masih mengharamkan mengucap selamat natal. Namun belakangan ini mulai muncul kader PKS yang membolehkan mengucap “selamat natal” meski ragu-ragu dan atau mungkin takut. Keragu-raguannya itu terlihat dari keengganan menulis kata “natal”. Mereka akan memilih menuliskan: “Selamat Berhari Raya untuk sodaraku Umat Nasrani” daripada “Selamat Natal untuk Umat Nasrani”. Bagi mereka menuliskan Natal berarti sama saja mengakui kelahiran Yesus sebagai Anak Tuhan sehingga bisa membatalkan aqidah. Inilah yang membuat kader PKS takut.

Meski berbeda pandangan, saya tetap menghormati teman-teman di HTI dan PKS. Apalagi akhir-akhir ini, dengan suasana politik rezim yang kurang adil kepada beberapa ulama, Umat Islam bersatu. Lihat saja Gerakan Aksi Bela Islam 212 pada 2016 juga Reuni 212 pada 2018 yang bertambah besar. 212 membuktikan bahwa perbedaan pandangan diantara umat Islam, tidak membuat umat ini terpecah belah, malah bertambah solid.

Gerakan 212 tidak terlampau tajam mempersoalkan boleh atau tidak mengucap selamat natal. Lalu, bagaimana terkait merayakan natal bersama, seperti yang ditunjukkan Pak Prabowo, calon presiden favorit saya?

Sudah jelas pandangan-pandangan yang saya tulis sebelumnya. Merayakan natal bersama, adalah haram atau dilarang keras. Ini aqidah. Sikap kita tidak bisa bergeser sedikitpun. Tetap haram.

Awalnya saya tidak percaya dengan video Prabowo merayakan natal. Saya berprasangka video tersebut sengaja diembuskan relawan Jokowi buat mendiskreditkan Pak Prabowo.

Saya meyakini bahwa ulama-ulama 212 sudah memverifikasi keislaman Pak Prabowo. Saya meyakini Pak Prabowo memang pantas menyandang wakil umat Islam dalam pentas politik nasional.

Ketika ada yang mempertanyakan Pak Prabowo, tidak bisa membaca surat alfatihah, tidak bisa menjadi imam shalat. Saya masih mafhum dan tetap berprasangka baik: Mungkin beliau, Pak Prabowo, tengah belajar Islam yang benar dan syumul, serta tidak mau riya’.

Namun semakin hari, prasangka baik saya mulai memudar. Kalau urusan shalat beliau tidak mau mempublikasi agar tidak riya. Kenapa ketika Pak Prabowo ikut ibadah agama lain beliau malah tak melarang untuk dipublikasi, agar tidak riya’ juga? Di sini saya mulai sedih dan berpikir keras.

Puncak keraguan saya terjadi pada Natal 25 Desember 2018. Melihat Pak Prabowo merayakan natal bersama keluarga. Saya tahu betul adik Pak Prabowo, Bapak Hashim Djojohadikusumo, wakil Ketua Gerindra, adalah seorang Nasrani taat. Ketaatan Pak Hashim pada kristennya bahkan pernah bersinggungan dengan PKS di era Presiden SBY.

Pak Hashim pernah menuding PKS, yang kadernya menjabat sebagai Menteri Pertanian, melakukan diskriminasi karena memecat pegawai Kementerian Pertanian yang beragama Kristen. Tudingan Pak Hashim beredar luas di youtube.

Tapi kekristenan Pak Hashim tak membuat saya luntur mendukung Pak Prabowo. Saya berasumsi kedekatan Pak Prabowo dengan ulama-ulama 212 akan membuat Pak Prabowo bisa mengislamkan Pak Hashim dan keluarganya. Saya yakin itu.

Namun keyakinan saya itu buyar. Saya mulai meragu karena makin ke sini Pak Prabowo ini terlihat kadang Islam kadang Kristen. Apalagi baru-baru ini tersiar kabar mars kemenangan Prabowo –Sandi yang lirik awal berbunyi “Solidarity Forever” melodinya menjiplak persis lagu rohani umat Kristen “Glory-Glory Haleluya”.

Awalnya saya menilai mars itu menjiplak official anthemnya klub bola Manchester United. Untuk menebalkan keyakinan saya mulai meriset. Saya memang gemar meriset hal apapun. Jadi menelusuri sejarah lagu “Glory-Glory” bukan pekerjaan sulit.

Hasil riset saya bikin terperangah. Kata “Glory Glory” berasal dari lirik lagu Battle Hymn of the Republic yang ditulis penulis Amerika Serikat, Julia Ward Howe pada 1861. Liriknya pertama kali muncul dalam tulisan Howe di majalah The Atlantic Monthly pada 1862. Lagu tersebut menceritakan mengenai pertolongan dan keagungan Tuhan Yesus kepada umatnya dengan reff berbunyi “Glory Glory Hallelujah (Haleluya).”

Tambahan informasi juga saya dapatkan dari ceramah seorang pendeta wanita Indonesia: Jacqline Celosse di youtube. Pendeta Jacqline Celosse menjelaskan sejarah lagu Glory-Glory Haleluya. Pendeta itu mengatakan lagu ini menceritakan kisah Tentara (Kristen) yang mau maju berperang. Para tentara ini belum berperang dan belum menang. Namun dengan lagu ini mereka sudah menyanyikan lagu kemenangan.

Dari dua informasi ini saya mengambil kesimpulan bahwa Glory-Glory Haleluya adalah lagu rohani umat Nasrani. Banyak umat Nasrani fans sepak bola di Inggris Raya mengambil semangat lagu ini digubah menjadi anthemnya klub bola favorit mereka. Fans bola yang pernah menggubah Glory-Glory Haleluya adalah pendukung Tottenham Hotspur dan Manchester United.

Setali tiga uang, rupanya para elit Tim Pemenangan Prabowo – Sandi mengikuti jejak umat Nasrani pendukung klub bola di Inggris Raya. Para Elit Tim Pemenangan Prabowo terinspirasi Glory-Glory Haleluya lalu menggubahnya menjadi Mars Pemenangan Prabowo Sandi.

Pertanyaan saya: Apakah para elit Tim Kampanye Prabowo-Sandi ini lupa kacang sama kulitnya?
Siapa yang habis-habisan mendukung Prabowo, yang berperang melawan penista agama?

Mereka lupa bahwa kita, umat Islam, yang berjuang. Tentu tanpa menyombongkan diri bahwa ini semua Takdir Allah. Tapi menggunakan lagu rohani kristiani untuk mars capres yang didukung Umat Islam, bagi saya, meminjam lagu Cita Citata “Sakitnya, tuh, di sini.”

Mbok, ya, tahu diri, kalau mau bikin lagu kemenangan Prabowo Sandi sebaiknya terinspirasi dari lagu-lagu perjuangan Islam: Ada “Merah Saga” milik group nasyid Shoutul Harokah, atau “Hai Mujahid Muda” milik group nasyid Izzatul Islam.

Kedua lagu nasyid itu sesuai kondisi umat Islam Indonesia saat ini. Dan saya yakin jika dua lagu itu digubah menjadi Mars Kemenangan Prabowo, gairah umat Islam yang berjihad di jalur politik Pilpres 2019 akan semakin menggelora. Allahu Akbar!!!

Tapi apa lacur, Tim Pemenangan Prabowo lebih memilih Glory-Glory Haleluya. Apa maksud Anda?

Saya berjam-jam bermuhasabah memikirkan ini dalam setiap kesendirian. Saya terus terang kecewa. Akhirnya saya mendapatkan firasat dalam hati: Mungkin ini (video Mars Prabowo) adalah cara Allah menunjukkan kelompok yang ingin memanfaatkan dan menunggangi Umat Islam.

Saya tak akan sudi membiarkan kemenangan agama lain dengan memanfaatkan umat islam, apalagi memanfaatkan suara saya. Biarlah saya mengambil sikap berbeda dengan sodara-sodara saya umat Islam, khususnya 212. Bagi saya lebih baik Golput ketimbang memilih Prabowo. Kemenangan politik praktis bukan tujuan akhir politik Islam. Engga demokrasi engga patheken.

Saya teringat nasihat Habib Salim Segaf, Ketua Majelis Syuro PKS. Bahwa aktivitas atau dakwah politik kita hanya bertujuan untuk mendatangkan barakah Allah bukan kemenangan suara semata. Maka anjuran-anjuran agar tidak golput tidak berlaku bagi saya.

“Lebih baik Golput ketimbang memenangkan calon yang membawa misi agama lain.”

Saya tidak mengajak yang lain golput, saya menunjukkan sikap dan keyakinan bahwa kebarakahan Allah tidak diukur lewat kemenangan demokrasi semata. Lebih baik lama berjuang dan berdakwah ketimbang menyesal dan kecewa lebih cepat.

(AF)

Filed under: MAYA.net, Tanda Zaman

DELAPAN UCAPAN AJAIB UNTUK MEMBENTUK KARAKTER ANAK

Berikut ini 8 ucapan atau kata-kata ajaib yang penting diajarkan kepada anak-anak sejak kecil. Ucapan ini akan membentuk karakter positif anak.

*1. Salam*
Ajarkan dan biasakan ucapan “Assalamu ‘alaikum” kepada anak agar terbiasa dengan salam yang Islami. Tiap masuk rumah atau masuk kamar orangtua atau ketemu orang lain, ucapannya selalu salam. Ucapan ini membentuk *jiwa penuh kedamaian* pada diri anak.

*2. Dzikir*
Biasakan ucapan yang mengandung muatan dzikir kepada Allah dalam merespon segala sesuatu. Misalnya astaghfirullah, subhanallah, alhamdulillah, masyaallah, insyaallah, barakallah, dan lain sebagainya. Bukan ucapan: Astaga! Gila! Bego! Dzikir menciptakan karakter *taqwa* pada diri anak.

*3. Tolong*
Biasakan anak untuk mengucapkan kata ‘tolong’ setiap ia meminta bantuan kepada orang lain. Jika terbiasa dengan kata ini, akan tumbuh karakter *rendah hati dan tidak sombong.*

*4. Terimakasih*
Biasakan mengucapkan kata terimakasih untuk berbagai hal yang positif, sebagai apresiasi kepada orang lain yang telah memberikan pertolongan bagi dirinya. Anak yang tumbuh dengan *menghargai orang lain akan menumbuhkan kebesaran jiwa.*

*5. Maaf*
Ajarkan anak untuk mudah meminta maaf walaupun ia tidak melakukan kesalahan. Apalagi jika ia memang melakukan kesalahan. Anak yang terbiasa meminta maaf akan tumbuh sikap *empati dan kasih sayang.*

6. *Iya / Siap / Baik*
Ajarkan anak untuk mengucapkan kata “iya” atau “siap” sebagai respon dari nasihat atau perintah dari orangtua. Kadang saat ibu atau ayah meminta anak untuk melakukan sesuatu, ia hanya mengangguk atau bahkan diam saja. Ungkapan ini membentuk karakter *peduli dan menghargai.*

*7. Izin*/Permisi
Biasakan anak untuk meminta izin dalam berbagai kondisi. Misalnya minta izin untuk menggunakan benda yang bukan miliknya.
Hal ini membentuk karakter *tertib.*

*8. Bisa*
Ajarkan anak berpikir dan bersikap optimistik. *”Aku bisa”* adalah ungkapan optimistik.
Membuat anak tumbuh dengan *percaya diri*

*#GENERASI EMAS YANG BERKARAKTER*

Filed under: Tanda Zaman

Kamus Lisanul Arab Online

KAMAR PENGANTIN

PEPUNDHEN

DOKUMENT

SILATURRAHIM

free counters