Santri Qiraati

referensi metode ilmu baca al-Quran

TUHAN TIDAK PERLU DIBELA

Oleh Abdurrahman Wahid
(Sumber: TEMPO, 28 Juni 1982)

Sarjana X yang baru menamatkan studi di luar negeri pulang ke tanah air. Delapan tahun ia tinggal di negara yang tak ada orang muslimnya sama sekali. Di sana juga tak satu pun media massa Islam mencapainya.

Jadi pantas sekali X terkejut ketika kembali ke tanah air. Di mana saja ia berada, selalu dilihatnya ekspresi kemarahan orang muslim. Dalam khotbah Jum’at yang didengarnya seminggu sekali. Dalam majalah Islam dan pidato para mubaligh dan da’i.

Terakhir ia mengikuti sebuah lokakarya. Di sana diikutinya dengan bingung uraian seorang ilmuan eksata tingkat top, yang menolak wawasan ilmiah yang diikuti mayoritas para ilmuwan seluruh dunia, dan mengajukan ‘teori ilmu pengetahuan Islam’ sebagai alternatif.

Bukan penampilan alternatif itu sendiri yang merisaukan sarjana yang baru pulang itu, melainkan kepahitan kepada wawasan ilmu pengetahuan moderen yang terasa di sana. Juga idealisasi wawasan Islam yang juga belum jelas benar apa batasannya bagi ilmuwan yang berbicara itu.

Semakin jauh X merambah ‘rimba kemarahan’ kaum muslimin itu semakin luas dilihatnya wilayah yang dipersengketakan antara wawasan ideal kaum muslimin dan tuntutan modernisasi. Dilihatnya wajah berang di mana-mana: di arsip proses pelarangan cerpen Ki Panji Kusmin Langit Makin Mendung. Dalam desah napas putus asa dari seorang aktivis organisasi Islam ketika ia mendapati X tetap saja tidak mau tunduk kepada keharusan menempatkan ‘merk Islam’ pada kedudukan tertinggi atas semua aspek kehidupan. X bahkan melihat wajah kemarahan itu dalam serangan yang tidak kunjung habis terhadap ‘informasi salah’ yang ditakuti akan menghancurkan Islam. Termasuk semua jenis ekspresi diri, dari soal berpakaian hingga Tari Jaipongan.

Walaupun gelar Doktor diperolehnya dalam salah satu cabang disiplin ilmu-ilmu sosial, X masih dihadapkan pada kepusingan memberikan penilaian atas keadaan itu. Ia mampu memahami sebab-sebab munculnya gejala ‘merasa terancam selalu’ yang demikian itu. Ia mampu menerangkannya dari mulut dari sudut pandangan ilmiah, namun ia tidak mampu menjawab bagaimana kaum muslimin sendiri dapat menyelesaikan sendiri ‘keberangan’ itu menyangkut aspek ajaran agama yang paling inti. Di luar kompetensinya, keluhnya dalam hati.

Karena itu diputuskannya untuk pulang kampung asal, menemui pamannya yang jadi kiai pesantren. Jagoan ilmu fiqh ini disegani karena pengakuan ulama lain atas ketepatan keputusan agama yang dikeluarkannya. Si ‘paman kiai’ juga merupakan perwujudan kesempurnaan perilaku beragama di mata orang banyak.

Apa jawab yang diperoleh X ketika ia mengajukan ‘kemusykilan’ yang dihadapinya itu? “Kau sendiri yang tidak tabah, Nak. Kau harus tahu, semua sikap yang kau anggap kemarahan itu adalah pelaksanaan tugas amar ma’ruf nahi munkar,” ujar sang paman dengan kelembutan yang mematikan. “Seharusnya kaupun bersikap begitu pula, jangan lalu menyalahkan mereka.”

Terdiam tidak dapat menjawab, X tetap tidak menemukan apa yang dicarinya. Orang muda ini lalu kembali ke ibu kota. Mencari seorang cendekiawan muslim kelas kakap, siapa tahu dapat memberikan jawaban yang memuaskan hati. Dicari yang moderat, yang dianggap mampu menjembatani antara formalisme agama dan tantangan dunia modern kepada agama.

Ternyata lagi-lagi kecewa, “Sebenarnya kita harus bersyukur mereka masih mengemukakan gagasan alternatif parsial ideologis terhadap tatanan yang ada!” demikian jawaban yang diperolehnya. Ia tidak mampu mengerti mengapa kemarahan itu masih lebih baik dari kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi.

Orang muda yang satu ini tercenung tanpa mampu merumuskan apa yang seharusnya ia pikirkan. Haruskah pola berpikirnya diubah secara mendasar, mengikuti keberangan itu sendiri?

Akhirnya, ia diajak seorang kawan seprofesi untuk menemui seorang guru tarekat. Dari situlah ia memperoleh kepuasan. Jawabannya ternyata sederhana saja. “Allah itu Maha Besar. Ia tidak perlu memerlukan pembuktian akan kebesaran-Nya. Ia Maha Besar karena Ia ada. Apa yang diperbuat orang atas diri-Nya, sama sekali tidak ada pengaruhnya atas wujud-Nya dan atas kekuasaan-Nya.

Al-Hujwiri mengatakan: bila engkau menganggap Allah ada karena engkau merumuskannya, hakikatnya engkau menjadi kafir. Allah tidak perlu disesali kalau ia “menyulitkan” kita. Juga tidak perlu dibela kalau orang menyerang hakikat-Nya. Yang ditakuti berubah adalah persepsi manusia atas hakikat Allah, dengan kemungkinan kesulitan yang diakibatkannya.”

Kalau diikuti jalan pikiran kiai tarekat itu, informasi dan ekspresi diri yang dianggap merugikan Islam sebenarnya tidak perlu ‘dilayani’. Cukup diimbangi dengan informasi dan ekspresi diri yang “positif konstruktif”. Kalau gawat cukup dengan jawaban yang mendudukan persoalan secara dewasa dan biasa-biasa saja. Tidak perlu dicari-cari.

Islam perlu dikembangkan, tidak untuk dihadapkan kepada serangan orang. Kebenaran Allah tidak akan berkurang sedikit pun dengan adanya keraguan orang. Maka iapun tenteram. Tidak lagi merasa bersalah berdiam diri. Tuhan tidak perlu dibela, walaupun juga tidak menolak dibela. Berarti atau tidaknya pembelaan, akan kita lihat dalam perkembangan di masa depan.

(Sumber: TEMPO, 28 Juni 1982)

Iklan

Filed under: Humor Gusdur

Fokus

Ada sebuah cerita…siapapun yg melakukan dgn sungguh-sungguh pasti bisa…

Kenapa orang Islam tidak pernah menggangu dan terganggu dgn umat agama lain?
Karena mereka yakin dgn kepercayaannya.

“FOKUS”
Ada seorang anak yang setiap hari rajin sembahyang ke Masjid lalu suatu hari ia berkata kepada ayahnya,
“Yah mulai hari ini saya tidak mau ke Masjid lagi”

“Lho kenapa?” sahut sang ayah.

“Karena di Masjid saya menemukan orang² yang kelihatannya Baik tapi sebenarnya tidak, ada yang sibuk dengan Temannya, sementara yang lain membicarakan keburukan orang lain”.

Sang ayah pun berpikir sejenak dan berkata, “Baiklah kalau begitu, tapi ada satu syarat yang harus kamu lakukan setelah itu terserah kamu”.

“Apa itu?”

“Ambillah air satu gelas penuh, lalu bawa keliling di sekitar Masjid ingat jangan sampai ada air yang tumpah”.

Si anak pun membawa segelas air berkeliling Masjid
dengan hati², hingga tak ada setetes air pun yang jatuh.

Sesampai di rumah sang ayah bertanya, “Bagaimana sudah kamu bawa air itu keliling Masjid ?”,

“Sudah”.

“Apakah ada yang tumpah?”

“Tidak”.

“Apakah di Masjid tadi ada orang yang sibuk dengan Bawahannya ?”.

“Wah, saya tidak tahu karena pandangan saya hanya tertuju pada gelas ini”, jawab si anak.

“Apakah di Masjid tadi ada orang² yang membicarakan kejelekan orang lain?”, tanya sang ayah lagi.

“Wah, saya tidak dengar karena saya hanya konsentrasi menjaga air dalam gelas”.

Sang ayah pun tersenyum lalu berkata, “Begitulah hidup anakku, jika kamu fokus pada tujuan hidupmu, kamu tidak akan punya waktu untuk menilai kejelekan orang lain. Jangan sampai kesibukanmu menilai kualitas orang lain membuatmu lupa akan kualitas dirimu”.

Marilah kita fokus pada diri sendiri dalam beribadah, bekerja dan untuk terus menerus berbenah menjadi positif.

Semoga kita menjadi lebih baik dan lebih bermanfaat.

*NASIHAT UNTUK KITA ”

Simpan rahasiamu berdua saja:
1. Dirimu
2. Tuhan

Jagalah di dunia ini dua orang:
1. Ibumu
2. Bapamu
Mohonlah bantuan ketika susah dengan dua hal:
1. Sabar
2. Berdoa
Jangan risau dua hal ini:
1. Rezeki
2. Kematian

*Karena keduanya berada di bawah kekuasaan Sang Pencipta

Dua hal yg tak perlu diingati selamanya:
1. Kebaikanmu terhadap orang lain.
2. Kesalahan orang lain terhadapmu.

*Tiga hal yang memperindah dirimu 😗
1. Sabar
2. Tabah
3. Dermawan

Tiga orang yang hendaknya kamu dekati:
1. Orang yg Ikhlas
2. Orang yg setia
3. Orang yg jujur

Filed under: Tasawuf

HUKUM SALAT REBO WEKASAN

*Tanya:*

Pak K.H.A. Mustofa Bisri, di tempat saya ada sebagian kaum muslimin yang menjalankan salat Rebo Wekasan (tolak balak) dan sebagian lagi tidak menjalankan salat tersebut, bahkan melarangnya. Mohon Pak Kiai menjelaskan bagaimana hukumnya salat Rebo Wekasan tersebut? Apakah masing-masing pihak yang melaksanakan dan tidak itu, mempunyai dasar hukum?

Sekian dan terima kasih.

(Ar. Kurniawan-Baledono Rt V Rw IV Purworejo)

*Jawab:*

Saudara Kurniawan, memang sudah sejak lama ada orang dalam masyarakat kita (orang Islam Indonesia) yang melaksanakan salat Rebo Wekasan. Boleh jadi mereka mendasarkan kepada kitab yang kesohor di Jawa, yaitu kitab Mujarrabat (Mujarrabaat, bentuk jamak dari Mujarrabah atau mujarrab. Asal arti harfiyahnya: hal-hal yang sudah dicoba. Kira-kira maksudnya ya manjur atau mujarrab. Kitab yang berjudul demikian tidak hanya satu versi. Ada yang melulu berisi doa-doa, suwuk, rajah, azimat dan sebagainya. Ada juga yang dirangkai dengan cara-cara beribadah seperti salat, haji, dan sebagainya. Yang versi Jawa, tulisan pegon, ada “unsur-unsur Jawa”-nya. Seperti weton, nogo dino, keduten, dan sebagainya. Doa-suwuknya pun banyak yang gabungan Arab-Jawa).

Rebo Wekasan konon adalah hari Rabu terakhir bulan Shafar. Dan memang di Mujarrabat-nya Syekh Ahmad Ad-Dairaby, di akhir bab XVIII, antara lain disebutkan: “Dari kalangan orang-orang arif dan ahli kasyf ada yang menurutkan bahwa setiap tahun turun 320.000 balak, dan itu semua di hari rabu terakhir bulan Shafar. Maka barangsiapa yang hari itu salat empat rekaat….. dan seterusnya.”

Kalau memang mereka yang mengerjakan salat Rebo Wekasan itu mendasarkan kepada kitab Mujarrabaat tersebut, ya tidak benar. Wong ini bukan Al-Qur’an, bukan Al-Hadits, dan bukan kitab fikih yang mu’tabar. Bahkan kitab ini lebih mirip dengan “tuntunan perdukunan” belaka. Kalau tidak mendasarkan kepada kitab itu, lalu mendasarkan kepada apa? Di kitab-kitab fikih kuning yang tidak lepas dari dasar Al-Quran dan As-sunnah, mulai dari Taqrib, Fathul Mu’in, Tahrir sampai Tuhfah An-Nihayah, Muhadzadzab, Ihya Ulumiddin dan sebagainya tidak ada keterangan mengenai Rebo wekasan itu.

Lalu bagaimana hukumnya salat Rebo Wekasan itu? Menurut keputusan musyawarah ulama NU Jawa Tengah tahun 1978 di Magelang, upacara Rebo Wekasan adalah ghairu masyruu’, tidak disyariatkan oleh Islam. Mengenai salatnya sendiri, salat rebo wekasan, hukumnya haram, kecuali apabila yang mengerjakan salat itu berniat salah sunnah muthlaqah (pokoknya salat sunnah), atau niat salat hajat, tidak berniat mengkhususkan hari tersebut.

Hadratus Syekh K.H.M. Hasyim As’ary (1871-1947) rahimahullah, pernah ditanya masalah salat Rebo Wekasan ini dan beliau antara lain menjawab: “Ora wenang fatwa, ajak-ajak, lan ngelakoni salat ‘Rebo Wekasan’ lan salat Hadiah kang kasebut ing soal, kerono salat loro iku mahu dudu salat masyruu’ah fis-syar’i lan ora ono asale fis-syar’i” (bukan salat yang disyariatkan dan tidak ada dasarnya dalam agama, AMB).

Kalau salat Rebo Wekasan itu disyariatkan, masak seperti Imam Nawawi, Imam Ghazaly dan fukaha (ulama fikih) besar yang lain tidak mengetahuinya, kok tidak pernah menuturkan dalam kitab-kitab mereka.

Mungkin orang akan mengatakan: “Lha itu ada hadits yang mempersilahkan orang memperbanyak atau mempersedikit salat, dengan mengerjakan salat Rebo Wekasan kan memperbanyak salat namanya?!” Kiai Hasyim Asy’ari menjawab: “Tentu saja yang dimaksud salah di situ adalah salat masyruu’ah, salah yang disyariatkan!”

Nah, supaya tidak geger-geger, kalau masih ada yang tetap ingin mengerjakan salat di hari Rebo Wekasan, ya niatnya saja diubah. Jangan niat salat Rebo Wekasan, tapi niat salat hajat (hajatnya adalah menolak balak, misalnya) atau niat salah sunnah begitu saja. Mereka yang jadi panutan, mesti menjelaskan hal ini kepada jamaah mereka.

Wallahu A’lam bishbhawaab.

Dikutip dari:

Bisri, M. (2008). Fikih Keseharian Gus Mus. Surabaya: Khalista

Filed under: Ilmu Fiqh, Tokoh

Kamus Lisanul Arab Online

KAMAR PENGANTIN

PEPUNDHEN

DOKUMENT

SILATURRAHIM

free counters