Santri Qiraati

referensi metode ilmu baca al-Quran

Keelokan Politik Ulama Buya Hamka dan Transformasi Teologis

Oleh Dr. Husain Heriyanto Pariamani

Buya Hamka (1908-1981) adalah seorang ulama cendekia yang berwawasan luas dan juga seorang aktivis yang sempat memasuki dunia politik. Hamka dicalonkan Masyumi pada pemilu 1955 dan berhasil terpilih sebagai anggota Konstituante yang membahas perumusan konstitusi negara.

Yang menarik untuk disimak adalah bagaimana Hamka memosisikan agama dan politik serta hubungan di antara keduanya. Sikapnya yang menempatkan peran agama dan politik – dua bidang yang memang sulit dipisahkan dalam praksis Islam modern- secara proporsional sungguh elok dipelajari oleh para politisi dan atau tokoh agama kontemporer yang membawa isu agama dalam dunia politik. Sangat menarik pula dicermati bagaimana seorang Hamka yang pada awalnya bersikokoh dengan ideologi negara Islam sesuai dengan visi dan misi partai Masyumi namun kemudian mengalami transformasi teologis menjadi tokoh Islam yang toleran, inklusif, dan turut membangun persatuan antar komponen bangsa sehingga dipercaya menjadi Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) pertama tahun 1975.

Ketika Masyumi dibubarkan Bung Karno menyusul keluarnya Dekrit Presiden 5 Juli 1959, Hamka tak serta merta panik atau murka. Hamka lalu menerbitkan majalah Panji Masyarakat untuk menyalurkan visi dan buah pemikirannya. Majalah ini pun berumur pendek karena tahun 1960 ia dibredel setelah memuat esai Bung Hatta yang mengkritik gagasan “Demokrasi Terpimpin” Bung Karno. Hamka tetap sabar dan tak kehilangan akal untuk menyampaikan gagasan-gagasanya melalui penerbitan majalah lain.

Akhirnya ketika dipenjara pun karena menentang politik “ganyang Malaysia” tahun 1964-1966, Hamka tidak kehilangan kewarasan nalarnya sebagai ulama-cendekiawan. Penanya pun aktif menyinari penjaranya karena dia menggunakan waktunya untuk menulis tafsir Al-Quran yang lalu dikenal dengan Tafsir Al-Azhar 30 juz dalam 9 jilid, sebuah karya monumental Hamka sekaligus menjadi salah satu tafsir lengkap berbahasa Indonesia yang berpengaruh hingga kini.

Lalu, bagaimana sikap Buya Hamka terhadap Bung Karno yang menjadi lawan politiknya? Apakah Hamka membenci Bung Karno dengan sumpah serapah mengatasnamakan agama? Apakah dia memusuhi sang proklamator dengan memobilisasi dan memprovokasi umat Islam dengan mengorbankan persatuan bangsa? Apakah dia mendendam kepada Bung Karno karena telah memenjarakan dirinya dua tahun empat bulan tanpa tuduhan subversif yang terbukti? Apakah dia melabel pengalaman dirinya sebagai bentuk “kriminalisasi ulama” untuk menyulut permusuhan umat Islam terhadap pemerintah ketika itu?

Tidak sama sekali. Buya Hamka sejak awal perkenalannya dengan Bung Karno pada tahun 1941 hingga akhir usianya selalu menghormati Bung Karno sebagai proklamator bangsa. Dalam ceramah-ceramahnya, Hamka kerap memuji Bung Karno sebagai tokoh besar bangsa yang visioner dan berjiwa besar. Dia tidak pernah memusuhi Bung Karno secara pribadi apalagi mencercanya, yang memang jauh sekali dari budi pekertinya yang humanis dan rendah hati. Hamka juga sama sekali tidak mengungkit-ungkit perselisihan politiknya dari perspektif agama an sich yang bersifat mutlak atau membuat stigma pertikaian Islam versus nasionalis. Hamka tak tampak menggunakan argumen sakralitas agama sebagai alat perlawanan pendirian politiknya karena dia menyadari bahwa pandangan politiknya merupakan salah satu bentuk ijtihadnya dan itu tidak identik dengan agama itu sendiri.

Itulah sebabnya mengapa Bung Karno pun tetap menyimpan rasa hormat yang dalam kepada Buya Hamka dan meminta Hamka mengimami shalat jenazahnya. Dan Buya Hamka pun dengan hati terbuka dan ikhlas menyambut permintaan itu seraya mendoakan sang proklamator dengan penuh kekhidmatan. Ketika sebagian kawannya mengingatkan beberapa tindakan permusuhan Bung Karno kepada dirinya dan pandangan politiknya, Hamka menjawab, “Hanya Allah yang tahu keimanan seseorang. Yang jelas, beliau (Bung Karno) adalah tokoh bangsa yang jasa dan amalnya tak terhitung. Saya sendiri justru harus berterima kasih karena dalam penjara saya dapat kesempatan menulis tafsir Al-Quran 30 juz.”

Itulah sepenggal kisah Buya Hamka, seorang ulama yang bijak menempatkan politik pada tempatnya. Baginya, agama adalah tujuan, sedangkan politik hanyalah salah satu sarana untuk menyampaikan nilai-nilai agama. Agama berkaitan dengan prinsip-prinsip hidup dan nilai-nilai universal sementara politik berhubungan dengan pengelolaan kehidupan bermasyarakat yang dinamis dan rentan perubahan. Atas dasar pandangan seperti itu, Hamka tidak pernah tergoda untuk mempolitisasi agama dalam pengertian mengkapitalisasi (memanfaatkan) posisinya sebagai salah seorang tokoh terkemuka agama untuk kepentingan politiknya.

Satu karakteristik yang abadi pada diri Buya Hamka dan perhatian utamanya adalah bagaimana menyampaikan nilai-nilai Islam kepada masyarakat Indonesia; bagaimana menggembleng budi pekerti dan karakter umat Islam untuk bisa meniru akhlak mulia Rasulullah SAW.

Karakteristik Hamka tersebut tampak kian mengemuka memasuki dekade 1970-an. Ketika pemerintah Orde Baru menggagas pembentukan sebuah majlis ulama, berbeda dengan sikap kawan-kawan Masyuminya seperti Mohammad Natsir dan Kasman Singodimedjo yang menolak mentah-mentah, Buya Hamka menyambutnya dengan hati-hati. Hamka berpendapat bahwa jika majelis itu ditujukan untuk menjembatani pemerintah dengan umat Islam dan pada saat yang sama majelis itu independen – baik dari pemerintah maupun umat -, maka dia mendukung pembentukannya.

Sejarah memang membuktikan bahwa Buya Hamka dapat menjaga kewibawaan dan independensi MUI selama kepemimpinannya (1975-1981). Ada sebuah pernyataan Buya Hamka yang menggambarkan watak independensi dan keadilannya, “Majelis ini harus berani mengkritik perbuatan pemerintah yang salah walaupun karena ketegasan pendirian tersebut, ia akan dibenci oleh penguasa. Sebaliknya ia pun harus berani membela langkah pemerintah yang dianggapnya menempuh jalan yang benar, walaupun karena itu ia pun akan dibenci oleh rakyat.” (Panji Masyarakat, 1 Juli 1974).

Transformasi teologis pada diri Buya Hamka menuju pemahaman yg inklusif dan moderat (Islam wasathiyyah) tidak terpisahkan dari dua hal, yaitu karakter kecendekiaannya yang berwawasan luas dan kepribadiannya yang rendah hati dan humanis. Meski berlatar belakang Muhammadiyah dengan gerakan pembaharuan dan Islam modernis, Buya sejak dini tertarik dengan ilmu budi pekerti dan pembinaan jiwa dan karakter. Dia juga banyak membaca karya-karya filsafat dan tasawuf serta karya-karya ilmuwan Barat. Dengan wawasan luas dan mindset yang terbuka kepada ilmu pengetahuan, tentu secara alamiah perkembangan pemikiran seseorang akan sangat dimungkinkan terjadi.

Menyimak ceramah-ceramah Buya Hamka pada akhir 1970-an yang banyak membahas masalah-masalah keseharian umat menyangkut budi pekerti, nilai-nilai kehidupan (living values) dan pembentukan karakter serta pemuliaan jiwa… dan mendengar kuliah-kuliah Shubuh beliau yang secara antusias berbicara tentang mahabbah (cintah ilahi), kerinduan ilahi, rasa syukur yang tak terbatas kepada Allah, maka sesungguhnya Hamka telah mengembangkan karakter khasnya sejak dini yang sangat concern dengan masalah budi pekerti yang mulia. Dalam bukunya “Lembaga Budi”, Hamka mengutip pantun Melayu yang menggambarkan pandangan moral-agamanya,

Tegak rumah karena sendi

Runtuh sendi rumah binasa

Sendi bangsa ialah budi

Runtuh budi runtuhlah bangsa

Iklan

Filed under: MAYA.net, Tokoh, , , , , , , , , ,

Korelasi Doa Ibrahim dan Ismail yang “Halim”

Khutbah jumat yang kebetulan relevan dengan idul qurban, oleh kyai Ahli tafsir saya Dr. KH. Musta’in Syafi’i, M. Ag semoga banyak memberi manfaat pda kita selamat mrmbaca..

Khutbah Tebuireng

September 1, 2017

Oleh: KH. A. Musta’in Syafi’ie

إِنَّ الْحَمْدَلِلهِ، نَحْمَدُهُ وَ نَسْتَعِيْنُهُ وَ نَسْتَغْفِرُهُ، وَ نَعُوْذُ بِهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَ اَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا، أَمَّابَعْدُ

فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، اِتَّقُوْ اللهَ، اِتَّقُوْ اللهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ، وَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ، أَعُوْذُ بِالله مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِيْنَ، فَبَشَّرْنَاهُ بِغُلاَمٍ حَلِيْمٍ ، صَدَقَ اللهُ الْعَظِيْمُ

Pernah terjadi pada zaman Hadratu Rasul Nabiyullah Muhammad Saw. Hari id bertepatan pada hari Jumat. Setelah acara id selesai memang nabi mempersilahkan orang-orang yang menginginkan tidak perlu kembali lagi ke masjid, dalam artian, menjalankan salat Jumat. Menjadi berbagai tanggapan di kalangan fuqoha’.Pertama, itu bersifat umum, tidak memandang apakah tetangga masjid atau orang yang jauh dari masjid. Sehingga boleh, tadi pagi sudah salat Id kemudian cuma salat zuhur saja.

Tidak sama dengan Imamuna as-Syafi’imemandang bahwa statement Hadratu Rasul itu hanya diperuntukkan bagiahlul bawad, orang-orang yang jauh untuk ke masjid dari pelosok-pelosok. Sedangkan orang-orang yang ada di sekitar masjid, tetap kembali salat Jumat. Terserah mau pilih yang mana, di kitab-kitab fikih biasa disebut dengan judul tawaqu’ul ‘idaini ada dua hari raya terjadi di satu hari.

Kita bisa memetik pelajaran-pelajaran yang ada pada Iduladha. Setiap kali Idul Adha, aktornya sama saja.Nabiyullah Ibrahim, Nabiyullah Ismail, dan ibunda Hajar. Kurban memang tradisi kuno yang sangat beresiko besar. Nabiyullah Ibrahim yang diperkirakan hidup pada 1400 tahun SM, jauh sebelumnya memang tradisi kurban nyawa manusia itu ada. Seperti di Mesir, yang dikurbankan adalah gadis yang paling cantik. Sedangkan di Iraq, yang dikurbankan adalah orang saleh. Di Skandinavia, yang dikurbankan dipilih seorang bayi.

Bahasa kurban, idz qorroba qurbana.Kurban, qoruba yaqrubu. Al Quran tidak menggunakan bentuk fi’il mudhori’yaqrubu tapi menggunakan bentuk yaqrobu. Tidak sama denganqurbah, itu bermakna dekat. Kalauqurban yang mengikuti ziyadah alif dannun, itu bermakna mubalaghoh yang berarti dekat sungguhan. Qira’ah,bacaan. Quran, bacaan sungguhan. Dan lain-lain.

Bahwa begitulah cara mereka untuk berdekat-dekat dengan Allah, menggunakan media-media materi. Menurut persepsi masing-masing. Skandinavia kenapa memilih bayi, karena dianggap bersih. Belum ada dosa. Berarti akses ke Allah itu lebih mudah. Allah Maha Suci dan bayi adalah perantara yang digunakan orang-orang Skandinavia.

Iraq menggunakan (kurban) orang saleh. Karena orang salehlah, yang betul-betul mendekat. Sudah dewasa dengan religious experience, pengalaman keagamaan yang tinggi.Spiritluage ritual. Bagaimana dia bisa suluk, bagaimana ‘irfan, bagaimana menangkap emanasi Tuhan, pancarannur Tuhan. Maka orang saleh inilah yang harus dijadikan media. Mereka dipilih dan sedia untuk dikurbankan.

Tidak sama dengan budaya Mesir yang memang dipenuhi budaya indah. Belum ada wanita-wanita di dunia ini yang bisa bersolek, Mesir sudah pandai menata rambut. Bahkan, kisah-kisah seksual yang disebut dalam al Quran, itu terjadi di Mesir. Penggodaan Zulaikha kepada Nabi Yusuf.

Untuk itu, persepsi masyarakat Mesir untuk mendekati Tuhan itu diambil indahnya. Tuhan itu Maha Indah. Maka media yang paling cocok untuk men-download keindahan Tuhan adalah mempersembahkan yang terindah, itulah gadis cantik atau miss universe di Mesir.

Tibalah era Ibrahim di kabilah Jurhum. Allah mengoreksi seluruh persepsi masyarakat, yang mau mendekat kepada-Nya. Mau mendekat kepada Allah menggunakan kurban anak manusia, oleh Allah dipandang terlalu mahal. Terlalu besar resikonya. Dan Tuhan sendiri immateri, tidak mau menerima yang materi.

Oleh sebab itu al Quran menunjuk, Allah tidak menerima dagingnya tidak juga menerima darahnya. Tetapi yang dipandang dan diterima Allah adalahwalakin yanaluhu at-taqwa minkum.Bagaimana kehebatan bertakwa yang bisa dijadikan untuk mengunduh rahmat Tuhan.

Untuk itu, media yang diambil disini adalah media (padang pasir) yang sangat gersang. Bisa dibayangkan, seorang ibu yang baru melahirkan anak. Tiba-tiba, ditinggal tanpa bekal apapun. Kenapa Tuhan setega itu. Kenapa Ibrahim setega itu. Itu pasti melanggar HAM, mana ada anak yang mau disembelih. Tetapi dahulu tidak ada HAM, yang ada itu tauhid, Allah.

Juga, dahulu tidak ada kekerasan terhadap wanita. Koreksi terhadap wanita-wanita sekarang yang cinta dunia. Belanja sedikit, telat sedikit, langsung menggerutu. Hendaklah mencontoh ibunda Hajar. Punya anak kecil, ditinggal begitu saja dan ditanya, “mas, apakah ini kehendakmu sendiri atau perintah Allah?”. Dan Ibrahim menjawab dengan isyarat, “Allah”. Langsung Hajar mengatakan idzan lan yudhoyyi’ana, kalau begitu, tidak mungkin ditelantarkan. Allah tidak akan menelantarkan hamba-Nya jika Allah benar-benar diperankan.

Sangat mustahil. Tetapi tidak mustahil bagi Allah. Media tidak cukup memenuhi syarat. Jangankan rumah, air saja tidak ada (di padang pasir). Tapi kan ada Allah.

Andaikan peristiwa ini terjadi di Jawa, itu tidak mengherankan. Karena banyak tumbuh-tumbuhan, buah-buahan, dan mesti mendapat makanan. Tetapi dipilih media yang gersang, ghoiri dzi zar’i. Bisa dibayangkan, bergeraklah kaki Ismail menendang-nendang ke dataran pasir kemudian muncrat air. Begitu meluap, Hajar mendekati lalu mengatakan zam zam, stop stop (berhenti). Kata stop stopitu menjadi kontrol otomatis bagi sumur zam-zam yang kedalam dari permukaan tanah hanya 10,6 kaki. Sekitar 3-4 meter sudah menyumber seperti itu. Dan pada saat-saat yang kritis dipompa per detik itu menghasilkan 8000 liter per detik.

Menjaga Iman dan Takwa

Meskipun dikuras dengan lima kali kecepatan, andaikan itu berkurang banyak. Tapi cukup 11 menit sudah pulih kembali. Karena ada kontrol otomatis dari Hajar, dengan password, zam-zam. Dan jika dibiarkan dipompa terus, sangat mungkin seantero Arab bahkan dunia ini bisa tenggelam.

Tidak masuk akal? Iya. Bagaimanapun tidak masuk akal. Hajar tidak tahu, apa yang terjadi, service yang diberi Tuhan, setelah Tuhan diperankan. Burung-burung yang mempunyai penciuman jauh, begitu ada air yang meluap mereka menghampiri dan terbang di atas sumber itu. Berputar-putar, semakin banyak dan semakin banyak.

Burung-burung yang berputar tersebut, bisa dilihat oleh kafilah-kafilah yang melintas dari kejauhan. “Oh, disana ada burung berputar-putar, pasti disana ada sumber air dibawahnya.” Maka para kafilah dan para pedagang padang pasir itu berangkat dan menuju ke tempat itu.

Disitulah Allah mentakdirkan, bagaimana cara memberikan makanan karena tawakkal (pasrah total). Ada yang datang membawa apel, jeruk, dan yang lain, semua ditukarkan dengan air. Semua yang dibutuhkan oleh Hajar dan Ismail itu dipenuhi oleh Allah. Cukup duduk manis. Karena ketawakkalan.

Ismail besar umur 13 tahun. Ibrahim datang. Tapi ingat pada saat itu, anak yang lama didoakan oleh bapaknya agar Allah segera memberi keturunan, diberikanlah ghulamin halim. Anak yang betul-betul pangerten (mengerti). Meskipun di surah lain dengan redaksibi ghulamin ‘alim, tetapi pada konteks ini menggunakan ghulamin halim.

Peristiwa Ibrahim dan Ismail ini sebagai koreksi. Sekaligus peringatan kepada kita, apakah betul-betul kita dalam mendidik anak. Itu apa tujuannya. Mencetak anak yang pintar murni, atau anak yang berprilaku benar. Ini persoalannya.

Rabbi habliy min ash-sholihin, kemudian diberitahu dengan informasi, iya Kami beri bi ghulamin halim. Seperti apa kriteria anak yang benar. Hasil pendidikan yang benar itu seperti apa. Yaitu kira-kira seperti Ismail. Karena perintah Allah, “nak, aku tadi malam bermimpi menyembelihmu, fandhur ma dza tara, pikirkanlah apa pandanganmu”. Ismail umur 13 tahun sanggup berkata totalitas tanpa ada catatan. “Ya abati, if’al ma tu’mar,monggo”.

Sungguh minta maaf. Kita sama-sama mempunyai anak. Sama-sama hidup di alam modern. Perhatikan anak kita, kalau dipanggil orang tua itu segera memenuhi panggilan atau tidak. Menurut hasil seminar nasional dulu di Bali tentang fulldays. Salah satu direkomendasikan untuk anak fulldaysyang terlalu capek di sekolah. Satu, cenderung uring-uringan. Tiba dirumah sudah capek. Melakukan apa sedikit sudah tidak mau, minta dilayani.

Memang disekolahan diguyur pengetahuan banyak, tapi mohon maaf terkadang menyiapkan pakaian sendiri saja tidak mau. Memakai sepatu sendiri tidak mau. Melepas baju sendiri ogah-ogahan. Apakah seperti itu hasil pendidikan kita kedepan.

Tidak ada, khutbah itu ditujukan kepada siapa dan siapa. Kewajiban khatib adalah menyampaikan. Apa yang dimaksud dengan ghulamin halim.Silahkan orang tua ingin memodernkan diri. Dengan memberikan anak mainan-mainan yang sesungguhnya merusak. Ada game, iPad, tablet, dan sebagainya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa anak yang suka bermain begitu itu, cenderung tidak memperdulikan lingkungan. Perhatikan anak-anak kita, waktu makan apakah mereka mau mencuci piringnya sendiri. Apakah ditaruh begitu saja, dan orang tua disuruh untuk mencuci. Apakah begitu, hasi pendidikan kita?Saya tidak membicarakan soal kepintaran, karena al Quran disini tidak bicara pintar tetapihalim.

Untuk itu, mereka-mereka yang maingame seperti itu, cenderung ingin menang sendiri. Suka emosi. Bagaimana tidak emosi, bermain gameyang sering kalah karena diciptakan (oleh game developer) dengan setengah kalah. Begitu gagal dalam game,seketika membanting barang-barang. Itu menunjukkan, bahwa dia betul-betul sudah mulai agak rusak.

Tidak sama, dengan permainan-permainan orang pedesaan. Permainan petak umpet, gobak sodor, “silahkan kalian bersembunyi”, setelah itu, “dor, kamu kena, kamu kena”. Mereka tahu bagaimana cara bersembunyi, dan mereka punya konsekuensi ketika gagal (kena) dan menjadi yang jaga. Belajar menerima konsekuensi kekalahan. Belajar dari lingkungannya sendiri. Belajar bermain taktik, tapi menerima resiko dari taktik yang diperankan.

Jangan coba-coba, anak desa bermain petak umpet begitu kena tidak mau jaga. Akan dihukum oleh lingkungannya sendiri meskipun sanksi-sanksi itu tidak tertulis. “Jangan mau bermain dengan anak itu, dia kalah tidak mau jaga.” Akan disanksi menurut lingkungannya sendiri. Bukankah yang begini ini justru lebih mendidik.

Imamuna as-Syafi’i rahimahullah, ketika awal kali mau nyantri kepada imamuna Malik bin Anas, ditanya dahulu. Namamu siapa, Muhammad. Apa komentar Imam Malik, nur fi qolbika.Aku melihat cahaya dihatimu. Wa la tu’fi’hu bi al-ma’ashi. Jangan padamkan cahaya itu dengan maksiat. Untuk itu di pesantren, al-aadab qobla ‘ulum,mendidik anak itu dengan tata krama dahulu sebelum pintar.

Pertanyaan, sekolah siapa yang berani tidak menaikkan kelas terhadap anak yang tidak salat. Yang suka berkata kotor dan berakhlak tidak baik. Apakah ada sekolahan yang menggunakan kriteria itu. Terkadang, ada yang jelas-jelas menyalahi aturan pondok, dikeluarkan dari pondok tapi masih diikutkan ujian negara.

Itu artinya yang dibidik dari lembaga itu hanya nilai saja. Apa artinya sebuah angka. Tapi kalau dirinya sendiri tidak bisa dibentuk seperti ghulamin halim.Inilah PR kita sebagai pendidik. Didik dulu anak kita sebaik mungkin dengan adab, al aadab qobla ‘ulum. Semoga bermanfaat

Filed under: 5. MASYHAR, Ahlul Quran

Bom Waktu Tayangan Hafidz Televisi

Televisi memilih anak belia sebagai objek tayangan karena kecenderungan orang lebih netral (suka) ketika melihat anak-anak dengan polahnya yang menggemaskan. Al-Quran diseret-seret ke dalam arus pasar yang sangat pragmatis.

Tahun-tahun belakangan muncul program televisi yang menayangkan anak kecil penghafal Al-Quran. Label hafiz Al-Quran pun disematkan oleh pihak penyiar kepada anak-anak lucu nan belia ini. Tiket surga bagi orang tuanya, syafaat dari api neraka. Penerus generasi emas Islam di masa mendatang.

Gambaran sempurna kemuliaan dan keagungan Al-Quran yang mudah diamalkan dan dilantunkan, sebagai representasi Islam hakiki yang menjunjung tinggi Al-Quran sebagai idola penyejuk hati nurani. Setidaknya frame seperti ini yang menjadi kerangka bingkai program televisi dengan tajuk pencarian bakat tersebut.

Padahal sejak masa Syaikh Shaleh Darat, kaum santri di pesantren-pesantren salafdihimbau agar tidak memperjual-belikan Al-Quran dengan harga murah. Tidak melantunkannya untuk hanya sekedar mencari harta, apalagi popularitas.

Hal ini bisa kita temukan dalam kitab ilmu Al-Quran karangannya yang berjudul al-Mursyid al-Wajiz fi Ilm Al-Quran al-Aziz. Dilanjutkan oleh muridnya yakni Kiai Moenawwir Krapyak yang sangat bersahaja. Kemudian diteruskan oleh Kiai Arwani Kudus yang melarang setiap santrinya unjuk gigi di ajang MTQ.

Tak mengherankan apabila doa Kiai Arwani mustajab, setiap muridnya yang lancang ikut MTQ selancar apapun hafalannya akan rontok begitu naik podium, ini karena beliau adalah sosok Kiai yang tulus. Para Kiai menempatkan Al-Quran sebagai semulia-mulianya petunjuk dari Allah, bukan sekedar alat untuk mencari harta benda apalagi popularitas.

Idealitas para Kiai di atas adalah cerminan dari sikap hati-hati atas peringatan Rasulullah saw agar jangan sampai Al-Quran hanya ditempatkan di kerongkongan. Al-Quran hanya dijadikan alat, teks kering yang meskipun indah namun menjadi kosong tak hidup.

Keindahan Al-Quran dimanfaatkan hanya untuk kepentingan pribadi bukan untuk kepentingan Al-Quran itu sendiri. Para Kiai khas Nusantara anti akan hal semacam ini, ulama kita cenderung lebih bijaksana dan berhati-hati.

Ajang hafiz televisi adalah bentuk paling ekstrem dari gerakan materialisasi Al-Quran, lebih berbahaya dari MTQ. Nalar penyiaran televisi yang akrobatik-dramatis disusupkan dalam bakat hafalan Al-Quran. Mengubah Al-Quran hanya menjadi tontonan semata, sarana untuk unjuk kebolehan mencapai popularitas.

Televisi memilih anak belia sebagai objek tayangan karena kecenderungan orang lebih netral (suka) ketika melihat anak-anak dengan polahnya yang menggemaskan. Sementara di sisi lain si anak akan termotivasi menghafal Al-Quran karena hendak dipentaskan semata.

Intinya, Al-Quran diseret-seret ke dalam arus pasar yang sangat pragmatis. Bagaimana tayangan hafiz terlihat menghibur bahkan membius penontonnya. Terlebih pada bagian umbar-umbaran amal dan pujian yang mendapatkan porsi cukup banyak di samping pertunjukan hafalan.

Orang tua si anak diajak maju ke panggung untuk menceritakan bagaimana kisah pilunya hingga anaknya bisa jadi hafiz macam itu. Dari amalan kecil hingga besar, dari yang wajib hingga yang sunnah tidak luput ia ceritakan.

Sedangkan mengumbar amal keseharian adalah hal yang sangat dihindari oleh ulama kita, karena riskan akan timbul riya’ di dalamnya. Sementara riya’ adalah perbuatan syirik khafiy atau tersembunyi yang jelas ini dibenci karena akan menggugurkan amal.

Hal ini sebenarnya sudah sangat masyhur dan kurang elok jika disinggung, namun apa boleh buat nilai normatif ini nampak sudah semakin tergerus oleh zaman.

Selanjutnya si anak dipuji-puji sampai senyumnya berubah tidak lagi lugu seperti dulu. Pujian yang tidak pada tempatnya itu mengandaikan senyum anak manusia menjadi senyum malaikat penjaga surga.

Ia kehilangan senyum manusianya sedari dini karena mulai merasa hanya ia yang pantas menjadi tiket orang tuanya menuju surga dan penyelamat dari api neraka.

Jangan harap si anak mendapatkan pelajaran ideal dari ajang ini karena yang ia dapat hanya bagaimana caranya menjadi penampil Al-Quran, bukan ‘pembawa’ Al-Quran.

Akhirnya Al-Quran hanya ada di kerongkongan semata, hanya menjadi ujaran-ujaran tak bermakna bagi mereka.

Televisi tidak akan menayangkan, pada ajang ini, nilai-nilai anti radikalisme, prinsiptawazun, tawasuth, dan tasamuh. Alasannya sederhana, karena nilai-nilai tersebut adalah obat bagi umat Islam agar dapat berpikir logis dan karena itu obat, pasti akan terasa sedikit pahit dan menjemukan.

Sementara bagi televisi setiap yang menjemukan adalah najis dan patut dihindari meskipun subtansinya baik. Mereka hanya mengejar rating, tayangan jelek bisa anjlok tak ditonton orang. Harusnya nalar pragmatis macam ini diwaspadai dan disadari oleh umat. Agar tak mudah kagum, tak gampang kena sihir oleh nalar layar kaca.

Selanjutnya mereka akan membela diri bahwa kegiatannya tersebut termasuk bagian dari dakwah. Sudah saatnya umat muslim merajai segmen yang lebih luas, dakwah di layar kaca tentu lebih efektif dan progresif. Itu kata mereka.

Semestinya mereka paham bagaimana idealitas dakwah. Bahwa tidak ada yang instan dalam berdakwah, jalan dakwah instan hanya dilakukan oleh ekstrimis untuk merekrut anggota teroris. Dakwah instan hanya membius, menyajikan hanya hak-hak yang indah-indah tanpa disertai kewajiban yang harus ditanggung.

Semestinya mereka mengerti bedanya merajai dan dirajai. Begitu mereka sudah bisa masuk menjadi bagian dari program televisi mereka merasa sudah dapat menguasainya, menakhlukkannya. Padahal yang terjadi mereka dipaksa untuk tunduk pada nalar pragmatis layar kaca. Didekte bagaimana caranya bicara, bercerita, menjawab, menghadapkan wajah, ekspresi, hingga memakai busana. Mereka terjerumus dalam alur setting layar kaca, celaka.

Beruntung para santri tak hendak dan tak ingin mengikuti ajang pencarian bakat macam itu. Nalar santri adalah nalar penjaga khazanah keilmuan yang termasuk di dalamnya ilmu Al-Quran.

Sedangkan tayangan macam itu sangat riskan menjadi tradisi meletakkan Al-Quran di kerongkongan. Riskan menjadi ajang kaderisasi dan pembibitan sosok Abdullah bin Muljam di Nusantara. Dikhawatirkan menjadi bom waktu yang akan mengahancurkan tradisi ilmu Al-Quran yang telah dibangun oleh para ulama dengan karya dan usaha sepanjang hayatnya.

https://islami.co/bom-waktu-tayangan-hafiz-televisi/

Filed under: Ahlul Quran, MAYA.net, , , , , , , ,

KAMAR PENGANTIN

PEPUNDHEN

DOKUMENT

SILATURRAHIM

free counters