Santri Qiraati

referensi metode ilmu baca al-Quran

Nabi Sulaiman As Oleh Dr. KH. A. Musta’in Syafi’i, M.Ag

by Admin

Nabi Sulaiman As adalah Nabi yg dikaruniai Allah ilmu dan mukjizat yg luar biasa. Kecerdasannya pun luar biasa, sampai2 ayahnya – Nabi Daud As – mengakui keunggulan anaknya itu. Terbukti, saat Nabi Daud As kesulitan menyelesaikan kasus antara seorang penggembala dan petani yg bersengketa, adalah Sulaiman kecil yg kemudian menyelesaikannya.

“Tiga hari domba itu paman berikan kepada pak petani agar bisa dimanfaatkan susunya sebagai ganti rugi setelah domba paman makan tanaman pak petani, baru setelah itu domba paman bisa diambil lagi”, kata Sulaiman kepada mereka.

Nabi Daud As memperhatikan anaknya dengan senyum bangga. “Inilah putra mahkotaku”, barangkali demikian gumamnya dalam hati. Sementara itu, para penggembala pun puas dengan keputusan Pangeran Sulaiman. Semuanya lega dan senang, tak terkecuali Sulaiman sendiri.

فَفَهَّمْنَاهَا سُلَيْمَانَ وَكُلًّا آتَيْنَا حُكْمًا وَ عِلْمًا …الأية (الأنبياء: ٧٩)

Demikianlah penegasan al-Qur’an terhadap kecerdasan, ilmu dan hikmah yg dimiliki Nabi Sulaiman As. Maka tidak heran, jika kita di pondok dulu selalu diajarkan untuk membaca doa tersebut ketika belajar, tabarrukan ke Nabi Sulaiman As ben kecipratan lan ketularan. Amiin. Alfatihah.

—————

Mukjizat Nabi Sulaiman As yg paling terkenal adalah mampu berbicara dengan binatang. Tidak jarang Nabi Sulaiman As mengobrol dengan mereka hanya sekedar bergurau atau bahkan mendengarkan keluh kesah mereka. Sebagaimana al-Qur’an telah mengabadikan, ketika Nabi Sulaiman As bersama bala tentaranya melewati suatu lembah, lalu beliau mendengar obrolan Ratu Semut kepada rakyatnya.
“Hai para semut, masuklah ke dalam rumah kalian agar tidak terinjak Nabi Sulaiman dan tentaranya, sementara mereka tidak merasakannya”.

Nabi Sulaiman As pun tersenyum setengah tertawa. Betapa Allah Swt telah memberikan anugerah yg luar biasa kepadanya. Lantas beliau bersyukur dan berdoa:

رَبِّ أَوْزِعْنِيْ أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِيْ أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَ عَلَى وَالِدَيَّ وَ أَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضهُ وَ أَدْخِلْنِيْ بِرَحْمَتِكَ فِيْ عِبَادِكَ الصَّالِحِيْنَ (النمل: ١٩)
“Ya Robb, cipratilah aku (dengan rahmat-Mu) agar aku selalu bersyukur atas nikmat-Mu yg telah Engkau berikan kepadaku dan kedua orang tuaku, dan agar aku bisa beramal dengan yg Engkau ridhoi, dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba2-Mu yg sholih”

Pak Ta’in menjelaskan bahwa seperti inilah etika bersyukur yg baik. (1) kepada Allah (2) kepada orang tua. “Kita tidak bisa menafikan dan melupakan jasa orang tua kita dengan kesuksesan kita sekarang ini”, tandas beliau.

Nabi Sulaiman As juga diberikan anugerah mampu menaklukkan setan. Wassyayatina kulla bannain wa ghowwash. Setan dikenal ahli bangunan dan penyelam yg handal. Pernah suatu hari Nabi Sulaiman As menginginkan mutiara di dasar laut dan oleh setan diambilkannya. Arsitektur Kerajaan Nabi Sulaiman As pun terkenal megah dan indah, termasuk sharh mumarrodun min qowarir yg sempat mempermalukan Ratu Bilqis saat melewatinya. Kemegahan dan kecanggihan arsitektur yg mungkin melewati masanya.

Setan juga jago dalam perang, bala tentara yg hebat, serta pasukan yg dapat menghilang dengan tiba2. Sekalipun demikian, setan tetap terbatas dengan hal2 ghaib lainnya. Buktinya saat Nabi Sulaiman As wafat dengan posisi memegang tongkat sambil mengawasi pembangunan, setan yg juga sebagai tukang bangunannya saat itu tidak tahu, kecuali hanya rayap yg memakan tongkat Nabi Sulaiman As hingga membuatnya tersungkur dalam keadaan sudah tak bernyawa.

Selain setan dan manusia, para burung adalah barisan tentara Nabi Sulaiman As yg handal. Burung2 ini bertugas sebagai pengintai di udara. Layaknya satelit, para burung akan merekam segala gerak gerik yg mencurigakan dan melaporkannya kepada Nabi Sulaiman As.

Mungkin sudah menjadi kebiasaan Nabi Sulaiman As setiap hari untuk melakukan apel/upacara yg diikuti oleh seluruh bala tentaranya. Dan dengan jeli, Nabi Sulaiman As biasanya akan mengabsen mereka satu persatu. Sampai suatu hari, Nabi Sulaiman As mendapati masih ada seekor burung yg belum hadir di tengah2 mereka saat itu, yakni Burung Hud-Hud, seekor burung kebanggaan dan kesayangan Nabi Sulaiman As.

Disini kita bisa mengambil pelajaran, bahwa sebagai guru atau pimpinan, kita wajib untuk selalu mengabsen anak didik kita/anak buah kita. Mengapa tidak hadir? Mengapa ghaib? Ini penting sebagai bagian kepedulian dan tanggung jawab kita. Lebih dari itu, ketegasan kita menanggapinya harus ada juga. Artinya, konsekuensi ketidakhadirannya itu paling tidak harus bisa dipertanggungjawabkan.

Nabi Sulaiman As kemudian merespon ketidakhadiran burung hud-hud dengan 3 langkah: (1) lau’addzibannahu ‘adzaban syadidan. Akan dihukum dengan hukuman berat; (2) aw laadzbahannahu. Atau akan disembelih. Kalau konteks sekarang mungkin dipecat/dikeluarkan dengan tidak hormat; (3) aw laya’tiyanni bisulthonin mubin. Atau kecuali dengan alasan yg jelas dan bisa diterima.

“Disinilah sifat rahmah seorang guru/pimpinan harus lebih ditonjolkan. Jangan gampang terbawa emosi untuk menghukum siswa yg salah. Guru harus punya pertimbangan kuat dengan sandaran rahmat. Kroscek dulu, mengapa? Barangkali dia mempunyai alasan yg tidak bisa dikompromikan,” demikian jelas pak Ta’in.

Dan benar, ternyata burung Hud-hud datang dengan membawa kabar penting yg berasal dari negeri Saba’. Suatu negeri yg makmur dan maju, memiliki rakyat yg banyak dan setia, dan dipimpin oleh seorang Ratu, tetapi ia tidak menyembah Allah Swt. Wa utiyat min kulli syaiin wa laha ‘arsyun ‘adzim. Ratu Bilqis memiliki segalanya, termasuk singgasananya yg agung.

Pak Ta’in tertarik untuk membahas sedikit lafadz min kulli syaiin ini. Bahwa lafadz kull itu memang berarti segalanya, semuanya, namun ternyata bisa berarti juga sebagian (ba’dl), karena disitu ada lafadz syai’. Min kulli syaiin. “Iya Ratu Bilqis memiliki segalanya, tapi apa ia juga memiliki langit? Bulan? Gunung? Kan tidak!”, jelas beliau. Lalu dengan rona wajah yg sedikit geregetan beliau mengaitkan dengan hadits kullu bid’atin dlolalatun. “Saya pernah debat dengan Kyai masalah ini. Dia ngeyel semua bid’ah itu dlolalah, gak ada hasanah2an, gak ada pengecualian. Lha ini buktinya lafadz kull di cerita Ratu Bilqis. Dan masih banyak lagi di al-Qur’an”, kata beliau. Kami hanya cengar cengir gak jelas. Yang ada adalah i’tiqod dengan beliau. Mantap dengan ilmu dan penjelasan beliau. Sami’na wa atho’na.

Pada akhirnya Nabi Sulaiman As menerima alasan burung hud-hud. Tetapi tidak langsung diterima begitu saja, melainkan dibuktikan lebih lanjut oleh Nabi Sulaiman As. Burung Hud-hud diperintahkan untuk memberikan surat kepada Ratu Bilqis yg berisi ajakan menyembah Allah Swt atau akan diperangi jika menolak. Innahu min sulaimana wa innahu bismillahirrohmanirrohim.

Singkat cerita, Ratu Bilqis mencoba menyuap Nabi Sulaiman As dengan hadiah, namun ditolak, karena yg diterima Nabi Sulaiman As dari Allah jauh lebih baik daripada hadiahnya Ratu Bilqis. “Dalile suap menyuap iki rek, ternyata ono dalile”, jelas pak Ta’in, kami pun tertawa. Sampai kemudian singgasana Ratu Bilqis dipindah oleh seorang ‘alim dalam sekejap mata di hadapan Nabi Sulaiman As. Dan saat Ratu Bilqis berkunjung ke kerajaan Nabi Sulaiman As, ia kaget dengan singgasananya. Lalu ia dipermalukan saat melewati kolam kaca. Bayangkan, Ratu besar dipermalukan seperti itu!! Akhirnya, Ratu Bilqis pun mengakui kebesaran Nabi Sulaiman As dan menyerahkan dirinya kepada Nabi Sulaiman As. Wa qila, Ratu Bilqis kemudian menikah dengan Nabi Sulaiman As dan masuk Islam. Wallahu a’lam.

Nabi Sulaiman As lantas berdoa:
رَبِّ اغْفِرْلِيْ وَ هَبْ لِيْ مُلْكًا لَايَنْبَغِيْ لِأََحَدٍ مِنْ بَعْدِيْ إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ
“Ya robb, ampunilah hamba dan berikanlah hamba kerajaan yg tidak ada seorang pun yg menyerupainya setelahku. Sesungguhnya Engkau Dzat Yang Maha Pemberi” (QS. Shad: 35)

Dalam sejarah, tidak ada lagi kerajaan yg menandingi kemegahan Kerajaan Nabi Sulaiman As. Bala tentaranya yg terdiri dari manusia, para setan dan pasukan burung. Ini jelas melebihi angkatan darat, laut dan udara. Belum lagi harta kekayaan dan arsitektur bangunan yg jauh lebih megah dan maju melewati masanya saat itu. Lebih spesifik lagi mukjizat yg dimiliki Nabi Sulaiman As yg dapat berbicara dengan binatang, menaklukan para jin, serta menaklukkan angin sebagai kendaraannya. Sungguh Kerajaan Nabi Sulaiman As ini adalah bukti tentang kebesaran Allah Swt. Ini tidak bisa diwariskan. Ilmu dan kekayaaan Nabi Sulaiman As adalah anugerah dari Allah Swt.

——————

Nabi Sulaiman As telah mengajarkan kita untuk selalu bersyukur kepada Allah Swt dan kedua orang tua atas kesuksesan yg kita terima saat ini. Nabi Sulaiman As juga telah mengajarkan kita bagaimana menjadi pemimpin yg cerdas dan tegas. Yg tidak kalah penting, Nabi Sulaiman As juga mengajarkan kepada kita bahwa harta dan kekayaan yg notabene sering melalaikan kita kepada Allah Swt ternyata tidak jika dimiliki oleh orang sholeh. Nabi Sulaiman As ini adalah pol2e wong sogeh, pol2e Rojo, tapi tetap tawadlu’ dan bertaqwa kepada Allah Swt.

Semoga kita bisa meneladani Nabi Sulaiman As.

Semoga bermanfaat…

Filed under: Ahlul Quran, MAYA.net, Tokoh

Empat Masalah dan Solusinya

*””*

1- Jika merasa diuji dengan syahwat dan hawa nafsu. Periksalah sholat…. Sudah bagus apa belum…?

{فَخَلَفَ مِن بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ..

_”Maka datang sesudah mereka suatu keturunan yang mereka telah melalaikan sholat dan memperturutkan syahwat hawa nafsunya”_ (QS. Maryam: 59)

Orang yang meremehkan sholat gampang memperturutkan syahwat dan hawa nafsunya.

2- Jika merasa keras hati, berperangai (akhlak) buruk, sial sengsara dan tidak ada kemudahan.
Periksalah hubungan dengan orang tua terutama ibu, sudahkah benar² berbakti..?

{وَبَرًّا بِوَالِدَتِي وَلَمْ يَجْعَلْنِي جَبَّارًا شَقِيًّا}

_”Dan (Dia jadikan aku) berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka”_
(QS. Maryam: 32)

Orang yang berbakti ortunya terutama ibunya tidak akan sengsara dan celaka selamanya.

3- Jika merasa depresi, tertekan dan banyak kesempitan dalam hidup,
Periksalah interaksi kita dengan Al-Qur’an… dekat atau jauhkah dengan Al-Qur’an…?

{وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا}

_”Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku (Al-Qur’an- berdzikir), maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit”_ (QS. Thaha: 124)

Menjahui Al-Qur’an bahkan tidak mempercayai nilai²nya pasti hidupnya sempit, ruwet, dan jauh dari ketenteraman.

4- Jika merasa kurang tegar dan teguh di atas kebenaran dan di ganggu kegelisahan.
Maka periksalah bagaimana pelaksanaan serta pengalaman terhadap nasehat dan mauidzah yang sudah di dengar…

{وَلَوْ أَنَّهُمْ فَعَلُواْ مَا يُوعَظُونَ بِهِ لَكَانَ خَيْراً لَّهُمْ وَأَشَدَّ تَثْبِيتاً }

_”Sesungguhnya kalau mereka melaksanakan pelajaran yang diberikan kepada mereka, tentulah hal yang demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih meneguhkan (iman mereka)”_ (QS. Annisa: 66).

Orang yang berusaha mengamalkan nasehat kebenaran akan diberi keteguhan hati..

Semoga bermanfaat..

Filed under: Ahlul Quran

DOSAKAH MEMBAKAR BENDERA HTI?

**

Oleh Ayik Heriansyah

Bendera hitam putih yang kerap dibawa aktivis HTI merupakan simbol gerakan pemberontakan (bughat) terhadap daulah Islamiyah (NKRI). Itulah bendera Khilafah ala HTI yang terinspirasi oleh hadits-hadits Nabi Saw tentang liwa rayah. Liwa rayah merupakan bendera simbol kenegaraan kaum muslimin pada hubungan internasional saat itu. Di Indonesia umat Islam sepakat menggunakan bendera Merah Putih sebagai simbol kenegaraan mereka. Itulah liwa rayah kaum muslimin di Indonesia. Bendera pemersatu umat dari Sabang sampai Merauke.

Sebagai muslim/muslimah yang memiliki KTP, SIM dan Buku Nikah NKRI, makan minum, menggunakan mata uang Indonesia fasilitas jalan, bandara, pelabuhan, sekolah, rumah sakit, dsb udah seharusnya aktivis HTI mengusung bendera Merah Putih. Liwa rayah kita semua. Toh Nabi Saw sendiri tidak memerintahkan umatnya menggunakan liwa rayah hitam putih yang bertuliskan dua kalimat syahadat. Bukankah semua hadits tentang liwa rayah hanya bersifat khabariyah informatif tanpa ada qarinah (indikasi) wajib menggunakannya. Sesungguhnya Nabi Saw sudah tau, perihal bendera negara diserahkan kepada sepenuhnya kesepakatan umatnya.

Aksi pamer bendera HTI di wilayah NKRI menimbulkan kegaduhan, fitnah dan memecah belah umat Islam. Bukan hanya NU, Ansor dan Banser, ormas Islam lainnya pembentuk NKRI risih dengan bendera HTI. Sudah pasti tujuan HTI mendirikan Khilafah Tahririyah termasuk bughat. Setiap kegiatan dan atribut yang mengarah kepada bughat dihukumi haram. Sesuai kaidah ushul fiqih yang juga diadopsi HTI yang berbunyi: al-washilatu ila harami muharramah aw haramun.

Langkah-langkah Banser menindak peragaan bendera HTI tidak lain dan tidak bukan demi menjaga persatuan dan kesatuan umat, bangsa dan negara. Yang demikian itu sesuai dengan maqashidusy syariah yakni hifdzul umat, mujtama wa daulah. Inilah esensi dari penerapan syariah.

*Utsman Membakar al-Qur’an*
Pada saat terjadi perang irminiyah dan perang adzrabiijaan, Hudzaifah Ibnul Yaman yang saat itu ikut dalam dua perang tersebut melihat perbedaan yang sangat banyak pada wajah qiraah beberapa sahabat. Sebagiannya bercampur dengan bacaan yanag salah. Melihat kondisi para sahabat yang beselisih, maka ia melaporkannya kedapa Utsman radhiyallahu ‘anhu. Mendengar kondisi yang seperti itu, Utsman radhiyalahu ‘anhu lalu mengumpulkan manusia untuk membaca dengan qiraah yang tsabit dalam satu huruf (yang sesuai dengan kodifikasi Utsman). (lihat mabaahits fi ‘ulumil Qur’an karya Manna’ al Qaththan: 128-129. Cetakan masnyuratul ashr al hadits).

Setelah Utsman radhiyallahu ‘anhu memerintahkan kepada sahabat untuk menulis ulang al Qur’an, beliau kemudian mengirimkan al Qur’an tersebut ke seluruh penjuru negri dan memerintahkan kepada manusia untuk membakar al Qur’an yang tidak sesuai dengan kodifikasi beliau. (lihat Shahih Bukhari, kitab Fadhailul Qur’an bab jam’ul Qur’an, al Maktabah Syamilah)

Perbuatan Utsman disepakati oleh Ali Ibnu Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. Beliau dengan tegas berkata:

لو لم يصنعه عثمان لصنعته

“Jika seandainya Utsman tidak melakukan hal itu maka akulah yang akan melakukannya.” (lihat al Mashahif, Bab Ittifaaqun naas ma’a Utsman ‘ala Jam’il Mushaf, hal. 177).

Mush’ab Ibnu Sa’ad berkata, “aku mendapati banyak manusia ketika Utsman membakar al Qur’an dan aku terheran dengan mereka. Dia berkata, Tidak ada seorang pun yang mengingkari/menyalahkan perbuatan Utsman. (lihat al Mashahif: 178)

Ibnul ‘Arabi berkata tentang jam’ul Qur’an dan pembakarannya, “itu adalah kebaikan terbesar pada Utsman dan akhlaknya yang paling mulia, karena ia menghilangkan perselisihan lalu Allah menjaga al Qur’an melalui tangannya. (lihat hiqbatun min at tarikh : 57 dan lihat al ‘awashim minal qawashim: 80)

Demi menjaga persatuan dan kesatuan umat dalam hal qiraat (langgam) al-Qur’an saja, para Sahabat mujma’ akan kebolehan membakar mushaf yang tidak standar. Oleh karena itu Tentu saja membakar bendera HTI yang berisi dua kalimat demi menjaga persatuan dan kesatuan umat pasti boleh, bahkan wajib. Jadi tidak ada dosa seujung rambutpun perbuatan orang yang membakar bendera HTI.

Filed under: Ahlul Quran, MAYA.net

Kamus Lisanul Arab Online

KAMAR PENGANTIN

PEPUNDHEN

DOKUMENT

SILATURRAHIM

free counters